
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Lo gak apa apa bro??" tanya Bimo cemas melihat kepala Levi yang berdarah.
Levi tadi kebetulan tidak memakai seat belt sehingga saat ada benturan mobil kepalanya terbentur. Bimo tidak mengalami luka luka dan hanya shock saja.
"Gue pusing bro." sahut Levi lemah.
"Sabar ya,, Gue cari pertolongan dulu. Sialan siapa sih main tabrak aja. Ada dendam apaan tuh orang ma kita,,," omel Bimo berusaha membuka pintu mobil dan keluar.
Beruntung ada beberapa kendaraan yang kebetulan lewat dan berhenti lalu membantu mereka. Dengan bantuan orang orang itu Bimo bisa membawa Levi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Begitu Levi dibawa masuk ke UGD Bimo langsung menghubungi Darren menggunakan ponsel Levi yang di pegangnya.
"Assalamualaikum Levi,,,Kok belum pulang nak??" suara Darren terdengar di seberang.
"Halo,,,Halo om,,," Bimo panik.
"Halo,,,Siapa ini??" tanya Darren.
"Om ini Bimo om,,," jawab Bimo.
"Oh Bimo,,,Mana Levi? Kok bukan dia yang ngomong?" tanya Darren.
"Anu om,,,Levi anu,,, Anu om,,,"Bimo masih panik.
"Levi kenapa Bim?? Anu anu apa?? Tarik napas dulu Bim,,, biar kamu tenang." kata Darren mulai bisa menebak terjadi sesuatu pada Levi.
Bimo menuruti kata Darren dan ketika dirinya merasa sudah tenang dia pun mulai bicara lagi.
"Om,, Kita kecelakaan. Ini saya bawa Levi ke rumah sakit terdekat. Om bisa kesini?? Bimo bingung om harus gimana." kata Bimo.
"Kecelakaan??Di mana,,,??Kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang Bimo. Om segera kesana." titah Darren sembari menyambar kunci mobilnya.
Bimo menutup telpon dan segera membagi lokasinya saat ini. Darren tau itu di mana dan hendak langsung pergi.Tapi ingat Rayya tidak bisa langsung ditinggal begitu saja.
Darren pun masuk kembali ke rumah dan menemui Rayya di kamarnya.
"Rayya,,,anak ayah. Boleh ayah minta tolong sama Rayya??" tanya Darren.
"Minta tolong apa ayah??" tanya Rayya.
"Ayah cuma minta Rayya jaga diri ya nak. Jangan aneh aneh lagi. Demi ayah sama kak Levi. Ayah gak bisa nemenin Rayya di rumah sekarang karena ayah harus susul kak Levi ke rumah sakit sayang. Kak Levi kecelakaan sayang." kata Darren pelan pelan agar Rayya tidak shock mendengarnya.
__ADS_1
"Dimana ayah?? Rayya ikut ayah saja kalau begitu ya,,," pintanya.
"Rayya yakin mau ikut?? Nanti gak sakit lagi nak??" tanya Darren cemas.
"Ayah,,, Rayya itu sudah sehat dan ini sekarang kak Levi butuh kita. Ayo ayah buruan. Kasihan kak Levi." ganti Rayya yang panik mau cepat cepat pergi.
"Lebih baik memang aku mengajaknya saja daripada meninggalkannya di rumah sendirian membuatku juga cemas dan pikiranku bercabang. Kalau dia ikut aku tetap bisa mengawasinya dan mengurus Levi juga." pikir Darren.
"Ayah kok bengong?? Ayoooo!!!" Rayya menarik tangan Darren yang masih berdiri mematung.
"Iya nak iyaa,,,Kita berangkat." Darren segera tersadar dan keluar rumah.
Mengunci pintunya dan masuk ke mobil. Rayya sudah terlebih dulu masuk ke mobil. Darren pun segera tancap gas. Tak banyak bicara sepanjang perjalanan dan hanya fokus di jalan agar tidak terjadi apa apa juga.
Sesampainya di rumah sakit Bimo sudah menyambut dengan wajah lega karena melihat Darren.
"Om,,," sapanya.
"Gimana Levi?? Sudah selesai ditangani??" tanya Darren cemas.
"Masih belum selesai om. Katanya perlu untuk dilakukan CT scan juga karena takut ada luka di dalam kepala akibat benturannya."kata Bimo berusaha menjelaskan sebisanya.
"Terima kasih Bimo masih mau menemani Levi di sini. Oh ya kamu sendiri bagaimana??Ada luka serius??" tanya Darren.
"Tidak apa apa om. Tadi kebetulan Bimo yang nyetir dan pake seat belt jadi pas benturan airbagnya langsung ngembang. Levi tadi gak pake seatbelt om jadi ya bablas deh,,, kepentok deh." jawab Bimo dengan logat kocaknya.
"Ini siapa om??" tanyanya.
"Oh ini,,, Kenalkan ini Rayya. Adiknya Levi." kata Darren.
"Rayya." Rayya mengulurkan tangannya pada Bimo.
"Halo Rayya. Kenalin,,, gue Bimo. Sohibnya abang lo. Wah busyet pantesan Levi gak pernah mau nunjukin foto kalian. Pasti dia takut adiknya kita samber heheheh,,," ucap Bimo.
"Geledek kali main samber,,," sahut Rayya.
Bimo tertawa meski terkejut ternyata Rayya selain cantik juga nyambung dengannya.
"Ceritakan kronologinya Bim." pinta Darren.
"Baik om. Jadi gini,,,,"Bimo pun mulai menceritakan semuanya berawal dari kepergiannya ke rumah pak Herman untuk mencari Tiara hingga peristiwa tabrakan itu.
"Jadi kamu curiga yang menabrak kalian itu ada hubungannya dengan tamu pak Herman itu??" tanya Darren.
"Sepertinya sih gitu om." jawab Bimo cukup yakin.
Darren manggut manggut lalu menelpon pengacara dan polisi kenalannya untuk mengurus dan melacak kasus ini. Termasuk mengurus mobil Levi yang masih berada di TKP.
"Terima kasih ya Bim. Om sudah urus semuanya. Kita akan segera tau siapa pelakunya dan apa motifnya. Apa murni kecelakaan biasa atau ada faktor kesengajaan." kata Darren.
__ADS_1
"Keren om." sahut Bimo mengacungkan dua jempolnya membuat Darren tak berhenti menepuk bahunya.
Bertepatan dengan itu dokter yang menangani Levi pun keluar.
"Yang mana keluarga pasien??" tanya dokter.
"Saya ayahnya dok." Darren menjawab.
"Bisa ikut saya ke ruangan saya? Ada yang ingin saya sampaikan." kata dokter.
"Baik dok. Sebentar ya." ucap Darren lalu menghampiri Bimo dan Rayya.
"Bim,, Om boleh minta tolong dan merepotkan kamu sekali lagi??" tanya Darren.
"Jangan sungkan sungkan om. Bimo bisa bantu apa nih om??" tanya Bimo.
"Tolong temani Rayya sebentar ya. Om mau ke ruangan dokter." kata Darren.
"Ahsiaaap om. Jangankan sebentar,, lama juga ok kok om." jawab Bimo.
"Terima kasih Bimo." Darren menepuk bahunya.
"Rayya sama kak Bimo dulu ya. Ayah masuk sebentar. Jangan buat kak Bimo kewalahan." pesan Darren.
"Iya ayah. Rayya tunggu di luar ya." jawab Rayya.
Darren mengangguk lalu menghampiri dokter yang sudah menunggunya. Mereka masuk ke ruangan dokter dan menutup pintunya.
"Jadi bagaimana dok? Apa ada luka serius??" tanya Darren.
"Benturan di kepala putra bapak memang lumayan keras dan mengakibatkan adanya sedikit pembekuan darah di dalam. Tapi bapak jangan khawatir karena itu bisa disembuhkan dan kembali normal lagi. Putra bapak hanya butuh waktu beberapa hari untuk istirahat." kata dokter.
"Terima kasih dok.Lalu apa sudah bisa dijenguk??" tanya Darren lagi.
"Sudah pak. Tapi satu persatu saja dulu ya masuknya." pesan dokter.
Darren mengangguk mengiyakan dan keluar langsung menuju ke kamar inap Levi. Dipandanginya Levi yang masih berada dalam pengaruh obat bius.
"Maafkan ayah ya nak. Bahkan ayah tidak becus menjagamu. Jika benar apa kata Bimo bahwa ini ada kaitannya dengan pak Herman itu,,,Maka ayah sangat merasa bersalah telah melibatkanmu dalam urusan masa lalu ayah." batin Darren sedih.
Dibelainya kepala Levi yang dibalut dengan perban melingkar. Hatinya terasa perih.
"Ya Rabb,, Berikan kesembuhan pada putra hamba. Jangan biarkan dia mengalami sakit lebih lama. Bahkan jika boleh,,, biarkan hamba yang menggantikan sakitnya." doanya.
"Chaira sayang,,, Bidadariku,, Ampuni aku karena aku telah teledor dan membiarkan putra kita terluka begini. Sungguh aku belum mampu juga menunjukkan bahwa aku adalah ayah yang baik untuk mereka." Tangis Darren pun pecah.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹🌹
__ADS_1