
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Jaga diri baik baik ya nak,,, Jangan pernah tinggalkan kewajibanmu sebagai muslimah." pesan Darren sambil memeluk Rayya dengan pandangan sendu.
Bertahun tahun dirinya bisa melihat langsung tumbuh kembang putri cantiknya itu tapi kini mau tidak mau dia harus melepas putrinya untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Memang Darren juga ikut andil memilih sekolah mana yang paling baik untuk Rayya,,Darren juga yang memberi dukungan penuh untuk bakat memasak Rayya,,, Namun berpisah dengan putri cantiknya itu membuatnya merasa sesak.
"Iya ayah,,, Ayah tenang saja. Rayya akan jaga diri,,, Rayya akan baik baik saja di sana. Rayya tidak akan pernah lupa semua pesan ayah,,, Meski tidak bersama ayah tapi selalu ada Rabb kita yang mengawasi Rayya. Jadi pergi jauh dari ayah bukan berarti Rayya bisa bertindak semaunya." Rayya mengulas senyum.
"Kamu benar nak,,, Ayah masih tidak menakutkan untul dilanggar perintahnya,,, Tapi yang diatas,,, Jangan pernah kamu abaikan." ucap Darren sambil menunjuk ke atas.
"Rayya gantian pamit sama kak Levi dulu ya ayah,,,"pamit Rayya karena dirasanya tangan Darren seperti enggan melepaskan dirinya.
Darren memang merasa berat ditinggalkan putri cantiknya itu.
"Iya nak,,," Akhirnya dengan lirih Darren melepaskannya.
Rayya menggeser tubuhnya menghadap ke kakak yang pernah membuatnya patah hati itu. Rayya tersenyum meski hatinya pahit mengingat itu. Ditambah lagi sesaat lagi dia akan pergi jauh meninggalkan kakaknya itu juga.
Dada Rayya bertambah sesak.
"Mau berdiri disitu terus?? Gak mau peluk kakak??" tegur Levi yang heran melihat Rayya malah melamun.
Rayya tergagap dan tersenyum kembali lalu menghambur ke dalam pelukan Levi yang sudah membuka lebar kedua tangannya.
"Hmmm adik kecil kakak mau ninggalin kakak." ucap Levi sedih.
"Kan juga cuma buat sementara saja perginya. Lagian kakak kan sudah ada kak Ara yang bisa kakak gangguin sekarang,,," ucap Rayya dengan manjanya.
__ADS_1
Tiara yang berada di samping Levi dan turut mengantar Rayya ke bandara hanya senyum senyum ketika namanya disebut. Tiara juga mengelus elus bahu Levi yang sepertinya berusaha tegar melepas kepergian adik kesayangannya itu.
Terdengar suara operator bandara yang memperingatkan agar calon penumpang bersiap siap karena pesawat akan berangkat sebentar lagi.
"Itu pesawat Ayya,,, Ayya masuk dulu ya kak,,," Rayya mengingatkan Levi untuk melepas genggaman tangannya yang makin terasa erat.
"Sayang,,, Lepasin Ayya nanti dia ketinggalan pesawatnya loh,,," tegur Tiara.
"Eh iya,,,Hati hayi ya Ayya,,," akhirnya Levi melepaskannya.
Rayya mengangguk dan mengerling dengan sebelah matanya. Senyuman manisnya mengembang menutupi kesedihan hatinya berpisah untuk pertama kalinya dengan keluarga.
Rayya pun melambaikan tangannya dan berjalan mundur agar tetap bisa memandangi wajah keluarganya. Namun ketika pandangannya tertuju pada Darren,,, Langkahnya terhenti sejenak.
Darren dan Levi berpandangan. Mereka tak mengerti apa yang tengah dipikirkan Rayya. Mereka makin heran ketika Rayya kembali melangkah mendekat lagi.
"Ada apa nak??" tanya Darren begitu Rayya di hadapannya.
"Bukankah bunda dulu selalu berhijab ayah? Bunda bahkan bercadar,,," ucap Rayya.
"Lalu kenapa ayah sama sekali tak pernah menyuruh Rayya melakukan hal yang sama??" protes Rayya.
Levi agak sedikit tertegun mendengar pertanyaan adiknya itu. Lain dengan Darren yang tersenyum mendengarnya.
"Ayah bukan tak ingin menjadikanmu wanita sholeha seperti bunda. Ayah bahkan sangat menginginkannya." ucap Darren.
"Lalu??" tanya Rayya tak sabar.
"Ayah tidak mau menjadi ayah yang egois. Ayah paham mengajari anak-anak untuk menutup aurat sejak dini adalah lebih baik dalam rangka membiasakan perbuatan baik sejak kecil. Memakaikan jilbab untuk anak memang bukan hal asing bagi sejumlah orang tua. Apalagi sekarang marak perkembangan tren dan gaya hidup islami membuat banyak perempuan berlomba-lomba memakai hijab." lanjutnya.
"Tapi Ayah tidak mau kamu memakainya karena alasan bunda melakukannya apalagi hanya karena ini jadi tren atau gaya hidup saja. Ayah ingin kamu melakukannya karena kesadaran dan tulus ikhlas semata semata karena kecintaanmu pada Rabb mu." jawab Darren.
Rayya tertegun.
"Kamu masih akan melewati beberapa fase pertumbuhan di mana akan tiba masanya kamu di fase mencari jati diri nak. Memasuki masa remaja seperti dirimu sekarang,,, Kamu mengalami banyak perkembangan yang signifikan, mulai dari perubahan fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Ayah tidak ingin membuatmu mengalami krisis identitas diri dengan ayah memaksakan apa yang ayah mau padamu." ucap Darren.
__ADS_1
"Kamu boleh ikut mendengarkan ini nak,,," pandangan Darren tertuju pada Tiara yang tampaknya juga tertarik mendengarkan.
"Iya ayah,,," jawab Tiara senang.
"Mungkin cara ayah mendidik anak berbeda dengan orang tua lainnya. Tapi masing masing orang tua berhak mendidik anak anaknya dengan nilai nilai tersendiri sesuai dengan kepercayaannya masing masing. Ayah tidak pernah mencela cara orang tua lain mendidik anaknya karena ayah menghargai mereka." Darren kembali berbicara.
"Dan yang terpenting,,, Ayah paham bahwa setiap orang memiliki kesiapan yang berbeda-beda untuk berhijab. Termasuk kalian,, Anak anak cantik ayah. Ayah hanya wajib menanamkan pondasi kuat dalam diri kalian dan selanjutnya ayah akan menunggu hingga kalian siap."lanjutnya.
"Ayah juga tidak ingin melihat suatu saat karena kamu berhijab lantas lingkungan sekitarmu tak bisa menerima dengan baik dan kamu disisihkan. Lalu karena alasan berhijabmu tidak kuat kamu akan kembali melepaskannya." Darren tersenyum memandangi putri dan menantu yang juga selalu dianggapnya putrinya sendiri.
"Kamu sudah paham alasan ayah nak??" tanya Darren pada Rayya yang masih diam termenung memikirkan setiap perkataannya.
"Jangan paksakan dirimu. Pelan pelan pahami dan pikirkan baik baik. Seorang putri adalah penghalang bagi ayahnya masuk neraka,,, tapi bisa juga jadi penariknya masuk neraka. Putuskan ingin menjadi putri ayah yang mana kamu nantinya nak,,," Darren memegang kedua bahu Rayya.
Suara operator wanita dengan suara khasnya kembali terdengar memperingatkan semua calon penumpang pesawat.
"Itu pesawatmu,,," ucap Darren.
"Iya ayah,,, Terima kasih atas semua penjelasan ayah. Rayya akan sangat mempertimbangkannya. Rayya ingin ayah tau,, Ayah adalah ayah terbaik yang pernah Rayya miliki,," Rayya mengatakannya dengan mata berkaca kaca.
"Ayah tetaplah ayah nak,,, Jangan lupa kamu masih punya abi yang tak kalah hebat dan baiknya dari ayah." Darren ikut terharu.
"Terima kasih ayah sudah dengan sangat baik menjaga Rayya." Rayya memeluk erat sosok pengganti abinya itu.
Levi menitikkan airmata melihat pemandangan itu. Dirinya pun lantas ikut memeluk Rayya dan Darren sebelum Rayya melepaskan pelukannya pada Darren.
Tiara ikut terharu dan menghapus airmata yang diam diam juga jatuh membasahi wajahnya. Dalam diamnya Tiara juga kagum akan sosok ayah mertuanya yang mendidik anak anaknya dengan cara yang mungkin berbeda dengan kebanyakan orang tua lainnya namun tetap bertujuan baik.
Ayah mertuanya itu sangat detail memikirkan segala aspeknya. Berbeda jauh dengan ayahnya sendiri yang malah belum pernah mengajarkannya tentang pemahaman agama. Selama ini Tiara lebih banyak belajar agama dari internet atau dari Levi.
Tapi Tiara tak menyalahkannya karena dia tau selama ini Orang tuanya cukup sibuk bekerja untuk mereka bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya.
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹
__ADS_1