
Chaira kembali menempati rumahnya yang di Jakarta.
Selama masa iddahnya Ray menepati janjinya untuk tidak menemuinya dulu. Ray bahkan tak pernah menelpon. Dia hanya memantau Chaira dari kejauhan.
Bahkan saat masa iddah telah berlalu,, Ray tetap menjaga jarak. Dia tak ingin Chaira berpikir bahwa dia sedang berusaha mengisi celah kosong dalam hidup Chaira.
Dia hanya sesekali melakukan panggilan video agar bisa melihat perkembangan Levi dan Putri. Ray lega karena kedua anak itu tumbuh sehat.
Dia bangga pada Chaira yang walau menjadi single parent Chaira tetap berusaha memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk putra putrinya. Dia bersyukur tuhan telah begitu baik menghadirkan 2 makhluk lucu yang mampu menjadi pelipur laranya.
Hubungan kerja Ray dengan Darren telah diputusnya secara sepihak. Hal itu cukup membuat pihak Darren terkejut namun setelah tau alasan Ray yang tidak bisa menerima sikap Darren yang tidak profesional mau tidak mau membuat mereka menelan ludah saat harus kehilangan sebuah proyek besar.
Dion dan Angga tak lagi bisa banyak membantu Darren karena mereka diserahi perusahaan oleh orang tuanya masing masing. Mereka sudah lebih sering sibuk dengan perusahaan keluarganya.
Akibat pemutusan kontrak kerja dengan perusahaan Ray,,, Perusahaan Darren mengalami kerugian besar. Bahkan beberapa pengusaha yang berniat menjalin kerja sama dengannya atau sudah mulai bekerjasama juga banyak yang mundur setelah mendengar rumor tentang alasan pemutusan kontrak kerja itu.
Para pengusaha yang kebanyakan saling mengenal itu tau sepak terjang Ray di dunia bisnis. Dia bukan orang yang tiba tiba saja memutuskan kontrak tanpa mempedulikan kerugian yang diderita rekan bisnisnya jika tak ada alasan yang sangat mengganggu.
Perusahaan Darren di ambang kehancuran. Kedua sahabatnya sudah pernah berusaha mencarikan pinjaman modal untuknya namun sekarang mereka tidak lagi mau melakukan hal itu karena merasa bantuan yang mereka berikan tak lantas membuat Darren bangkit. Darren malah suka mabuk mabukan.
Darren bahkan jarang ke kantor. Sejak menceraikan Chaira hidupnya terasa hampa. Dia sering mendapat kesulitan dan masalah. Tapi dia tak pernah mau mengaitkan semua kesialannya itu dengan perceraiannya.
"Aku hanya sedang tak beruntung"
Kata kata itu saja yang keluar dari bibirnya saat dia mengalami kegagalan.
Berbanding terbalik dengan Chaira,,,
ia bahkan kembali mengelola butik. Butik baru yang dibukanya di salah satu kawasan perbelanjaan di ibukota.
Para pelanggannya menyambut kabar baik itu dengan antusias. Mereka sudah rindu untuk kembali mengoleksi busana rancangan Chaira.
Rosa masih membantu Chaira di butik namun tidak tinggal bersamanya. Rosa dan suaminya telah mampu membeli sebuah rumah kecil yang nyaman.
Hidup bagai roda yang terus berputar. Ada kalanya diatas dan ada kalanya di bawah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa kamu selamanya akan seperti ini Ray?" tanya mama Ray.
"Ma, baru saja kembali dari luar negeri sudah langsung mulai membahas itu" Ray tak tertarik
"Pikirkan berapa usiamu. Apa kamu tak ingin memberi mama cucu?" Tanya mamanya
"Cucu yang sebenarnya" pungkas mamanya sebelum Ray menjawab.
Mamanya tau seperti apa perasaan putranya itu pada Chaira. Mama bukan tak mengenal nama itu. Nama yang sering disebut oleh putranya sejak masih kuliah dulu.
Mamanya juga tau semua masalah Chaira. Sebenarnya dia tak merasa keberatan jika suatu saat mereka berjodoh. Mamanya tak keberatan menerima Chaira dengan kedua anaknya.
Hanya saja mamanya tetaplah seperti mama mama yang lain yang pasti mengharapkan cucu dari keturunannya sendiri.
__ADS_1
"Apa seorang Rayhan yang tampan ini benar benar tak bisa mencari wanita lain?" tanya mamanya lagi
"Mama,, please,, mama tau kan bagaimana dan seperti apa perasaan Ray pada Chaira" Ray menegaskan
"Mama sangat tau dan paham Ray,,, tapi apa kamu sudah berusaha untuk benar benar mendapatkannya? Melamarnya? Belum kan,,, kamu hanya menunggu dan menunggunya. Perjelas hubungan kalian" tegas mamanya
Ray terdiam sejenak dan berpikir.
"Mama benar. Jangan hanya karena dulu dia pernah menolakku sekali itu membuat nyaliku ciut. Dulu mungkin dia memang belum siap mengubah status persahabatan kami. Tapi sekarang aku harus kembali memastikan apakah dia sudah bisa menerimaku" pikir Ray
"Tapi apa yang akan ku lakukan jika ternyata jawabannya masih sama?" Ray ragu
"Jangan lama lama mikir nanti keburu diduluin orang loh Ray" mamanya membuyarkan lamunan Ray
Ray tertawa mendengar candaan mamanya yang juga jahil seperti dirinya. Sepertinya bakat jahil turun dari mamanya.
Ray segera berpamitan untuk berangkat kerja pada mamanya. Diciumnya pipi mamanya dan tangannya.
"Ray,,, " panggil mama saat Ray hendak masuk ke mobil.
"Cepat bawa calon menantu mama kesini!!!!!" titah mama
Ray kesal karena mengira mama akan menyampaikan hal penting lainnya. Mama hanya terkekeh melihat wajah kesal Ray.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pak,,, diminum dulu teh hangatnya" Suara Sinta membangunkanku.
"Terima kasih Sinta" ucapku mulai meneguk teh hangat buatan Sinta.
Sinta segera keluar dan meninggalkanku.
"Lu harus dengarin gue!!!!!" Dion yang sudah lama tak mengunjungiku datang dan langsung masuk ke ruanganku.
Aku yang masih menikmati teh hangatku hampir tersedak dibuatnya.
"Ada apa sih?" sungutku sambil mengelap tumpahan teh di kemejaku
"Febby bro,, Febby,,," Dion sangat tidak sabar
"Ahhh sudah hampir setahun tuh nama gak disebut kenapa sekarang muncul lagi?? Gue udah malas bro" aku tak tertarik mendengarkan
"Dia meninggal setahun lalu" kata Dion
Aku yang kembali hendak meminum tehku mengurungkan niatku. Ku letakkan cangkirku di meja.
"Serius?" tanyaku
"Iyaaa,,, setelah sekian lama kita cari,,, kita baru bisa menemukan jejaknya. Ternyata dia meninggal di rumah sakit yang lu datangin dulu di Bali" tukasnya
Aku memutar ingatanku ke masa itu. Masa dimana aku datang ke Bali hendak menemui Febby dan Chaira. Aku memang sempat melaporkan kasus itu ke polisi namun aku menutup kasus itu kembali.
__ADS_1
Seperti biasa dengan uangku waktu itu aku bisa berbuat semauku. Namun teryata tanpa sengaja Dion yang masih saja suka bermain dengan wanita mendapat teman kencan yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu saat dia berlibur ke Bali beberapa hari yang lalu.
Dari wanita itulah Dion berhasil mendapatkan informasi tentang Febby.
Febby masuk ke rumah sakit di hari itu dan tak menggunakan nama aslinya. Dia memakai nama Febiola sehingga saat aku menanyakan nama aslinya waktu itu petugas mengatakan tak ada nama tersebut.
"Dia meninggal karena mengalami pendarahan hebat saat proses melahirkan. Tapi bayinya selamat bro. Perempuan." kata Dion
"Lalu dimana bayi itu?" tanyaku
"Nah ini nih yang menarik. Bayi itu diadopsi oleh wanita yang menandatangani persetujuan pengambilan tindakan oleh pihak rumah sakit" kata Dion sembari membaca teks panjang di ponselnya.
Wanita teman kencannya itu mengiriminya pesan melalui ponselnya.
"Namanya Chaira Fajira" Dion seperti tersedak saat membaca kalimat terakhir itu.
Deeegggggg,,,,,
Wajahku mendadak panas karena jantungku seperti tak berhenti memompa.
Terbayang kembali saat aku mendatangi vila tempat Chaira tinggal di Bali waktu itu. Dia tampak menggendong bayi yang memang tampak baru berusia beberapa hari saja.
Aku hanya tak yakin apa jenis kelamin bayi itu karena aku memang tak ingin memperhatikannya dulu.
"Mungkinkah bayi itu adalah bayi Febby yang di adopsinya? Jika benar itu bayi Febby,,, apa itu berarti dugaanku terhadapnya salah?" Pikiranku mulai kacau
"Jika benar dugaanku salah dan ternyata anak itu bukan anak hasil selingkuhnya dengan pria lain,,, melainkan anak Febby yang diklaim Febby sebagai anakku,,, Apa Chaira masih mau memaafkanku setelah aku kembali menuduhnya?" pikirku
"Bahkan aku terlanjur menceraikannya" batinku
Aku mulai sedikit menyesal telah melupakan pesan kedua sahabatku agar aku tak terbawa emosi waktu itu.
"Ceroboh!!!!" aku kesal pada diriku sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa ada kesempatan untukku Chai?" tanya Ray yang siang itu menemui Chaira di butiknya
"Bukalah pintu hatimu untukku. Karena kali ini aku siap menjadi pelindungmu. Menjadi imammu. Aku siap menjadi abi yang sesungguhnya untuk putra putrimu Chai,,, " lanjutnya
"Ray,,, berikan aku waktu untuk kembali memikirkan jawaban yang tepat untukmu." pinta Chaira
Ray berbinar. Setidaknya Chaira mau mempertimbangkannya kali ini.
"Tentu Chai,,, bertahun tahun aku sanggup menunggumu. Kali ini pun aku tak akan mengeluh untuk memberimu waktu lagi" Ray tersenyum
"Terima kasih Ray" ucap Chaira
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1