
...Selamat membaca πΈ...
...Maaf banyak typo ππ...
...πΈπΈπΈ...
Kamar hotel untuk Rayya dan Bimo rupanya sudah dihias sedemikian rupa hingga sesuai untuk kamar pengantin. Taburan bunga mawar merah hampir memenuhi ranjang dan lantainya. Wewangian khas mawar juga membuat suasana kamar itu makin terasa romantis.
"Masyaallah Ay,,," ucap Bimo saat membuka kamar itu.
"Kenapa bang??" tanya Rayya.
"Abang jadi gak tahan." Bimo nyengir.
"Ih abang ini." Rayya mencubit pinggangnya dengan gemas lalu hendak mendahului melangkah masuk.
"Eh ntar dulu Ay." Bimo menghela tangannya.
"Kenapa lagi bang??"
"Gak gitu caranya. Ada cara yang wajib kita lakukan sebagai suami istri." ucap Bimo meyakinkan.
Rayya mengernyitkan dahinya berpikir keras ada sunnah atau adab adab apalagi bagi suami istri setelah masuk ke kamar pengantin. Setau dia hanya mandi atau membersihkan diri,,, menyikat gigi,,, berhias dan memakai wewangian,,, sholat sunnah dua rakaat,, beri salam pada istri,,,bergurau,,, berdoa untuk istri,,, dan baca niat atau doa sebelum berhubungan.
"Apa lagi sih bang?? Perasaan tidak ada cara khusus masuk ke kamar." Protes Rayya setelah benar benar tidak mendapat jawaban dari ingatan akan buku buku yang pernah dibacanya.
"Eh ini bukan dari buku buku yang pernah Ayya baca." kata Bimo sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Lah terus dari mana asal muasal adab itu?? Rayya gak mau ya ikut melakukan hal hal yang sebenarnya tidak pernah diajarkan nabi kita." sela Rayya.
"Ini adab abang sendiri yang buat. Sebagai suami Ayya,,, Abang mau buat aturan dan adab,,, Saat memasuki kamar abang harus,,,," Bimo menghentikan bicaranya dan detik kemudian Rayya sudah ada di gendongannya.
"Akan selalu gendong Ayya seperti ini." ucap Bimo sambil tersenyum begitu Rayya sudah sadar sepenuhnya bahwa Bimo tengah membopongnya menuju ke ranjang pengantin mereka.
"Abang,,," Rayya tersipu.
Dengan perlahan Bimo meletakkan tubuh Rayya ke tepi ranjang. Keduanya saling berpandangan dengan tatapan penuh cinta. Kali ini boleh sepuasnya karena sudah sah dan halal.
__ADS_1
Dari tatapan mata itu,,,Bimo memberanikan diri menyentuh cadar Rayya. Meski sudah pernah tau seperti apa wajah Rayya dulunya tapi tetap saja baginya membuka cadar istri di malam pertama itu adalah hal yang mendebarkan,,, Apalagi itu akan diiringi dengan membuka bagian lain lainnya yang selama ini ditutup Rayya dengan sangat rapi.
Wuuaahhh,,,, Deg deg deg,,, Jantung Bimo berlompatan.
"Ay,,, Abang boleh jujur gak??" tanya Bimo sebelum semua yang dipikirkannya itu dilakukannya.
"Ada apa bang?? Silahkan bicara. Rayya senang kalau semua selalu diawali dengan kejujuran." ucap Rayya yang mendadak merasa sesak napas menunggu kejujuran apakah yang akan didengarnya dari Bimo di malam pengantin mereka.
Akankah itu hal yang buruk??
Atau hal baik??
Rayya bersiap dengan segala kemungkinan.
"Jujur Ay,,," Bimo berhenti bicara.
Rayya makin penasaran dan memandang lekat lekat mata suaminya itu seolah berusaha menerawang kedalamnya dan masuk ke dalam otak suaminya agar dia bisa tau tanpa suaminya mengatakan apa apa.
"Jujur,,,Abang grogi." Bimo nyengir sambil garuk kepala.
Rayya terhenyak sejenak. Jantungnya tadi yang berasa hampir lepas dari sangkutannya kini kembali ke posisi semula dan hanya gelak tawa gemas yang akhirnya dikeluarkannya.
"Lah beneran kok abang grogi. Emang Ayya mikir abanga bakalan ngomong apaan sih??" tanya Bimo polos karena dia sama sekali tak berpikir Rayya akan sangat khawatir dengan apa pun kejujurannya.
"Rayya kira abang akan mengakui satu hal buruk yang selama ini gak Rayya tau." sungut Rayya.
"Hahaha,,, Mana ada hal begitu?? Kan selama ini mau baik mau buruk udah selalu abang ceritakan sama kamu Ay. Abang gak punya rahasia lagi yang tersisa apalagi untuk dibahas di malam bahagia kita begini." ucap Bimo menenangkan hati Rayya.
"Bener ya??"
"Bener lah sayangnya abang. Eh tapi tunggu. Kayaknya emang ada sih satu yang belum abang beritahukan,,," kata Bimo mendadak serius.
"Apa bang??" wajah Rayya jadi ikut serius lagi dan jantungnya mulai cepat memompa.
"Sini deh,,," Bimo meminta Rayya mendekatkan telinganya.
Rayya menurut saja demi bisa tau dengan cepat apa rahasia itu.
__ADS_1
"Junior udah tegang nih,,," bisik Bimo.
Mata Rayya membulat dan seketika wajahnya memerah di balik cadar putihnya itu.
"Abaaaanggg,,,,"
Pukulan penuh cinta dan bertubi tubi akhirnya mendarat lagi di tubuh Bimo. Ritual dan adab bergurau pun sudah dilakukan keduanya tanpa sadar.
"Ok cukup berguraunya. Kalau memang Mr J udah bangun dan tegang,, ayo mandi dulu." ucap Rayya.
"Lah kok mandi?? Nanti Mr J mengkerut dong Ay." protes Bimo.
"Nanti dibangunin lagi dong. Ayo mandi sama Ayya. Mau gak??" Rayya mengedipkan matanya.
Tapi bukannya benar benar mandi,,, Bimo hanya menahan tubuh istrinya itu dan memeluknya dengan erat. Membuka cadar pelan pelan dan menikmati semua keindahan yang dimiliki istrinya satu persatu.
"Bang,,Mandi dulu,,," ucap Rayya pelan.
"Tadi kan udah mandi sayang. Abang gak tahan lagi nih,,," rengek Bimo.
"Ya sudah kalau gitu,,,ambil wudhu dan sholat dulu ya. Dua rakaat saja." ucap Rayya.
"Ay,,, malam ini,, biarkan abang miliki Ayya seutuhnya. Biarkan semalam ini saja abang curi Ayya dari segala adab dan aturan." pinta Bimo.
"Tapi jangan lupa berdoa ya bang. Biar makin berkah,,," ucap Rayya yang sudah kehabisan akal menunda hasrat suaminya itu.
"Siap,,," Bimo membopong tubuh Rayya dengan cepat dan kembali membaringkan tubuh itu di ranjang. Bimo kemudian menutup tirai tipis di ranjang itu seolah tak ingin membagi momen intimnya bersama Rayya walau hanya dengan meja kursi yang ada di kamar itu.
Usai sebuah doa dibacakan,,,
Bimo pun melakukan tugas pertamanya sebagai suami di ranjang pengantin mereka dengan segala keterbatasa dan pengalaman yang benar benar tidak ada karena dia dan Rayya sama sama belum pernah melakukannya.
Surga dunia yang diciptakan keduanya terasa begitu indah hingga tak cukup bagi keduanya melakukannya hanya sekali dua kali saja di malam itu.
Bimo ngebut.
...πΈπΈπΈ...
__ADS_1
...Terima kasih atas vote, like dan komennya πΈβ€οΈπΉ...