BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Dia pun mencari tau


__ADS_3

"Pagi pa,,, pagi ma" sapaku pada kedua orang tuaku yang duduk di taman depan rumah megah kami.


"ya ya pagi" sahut papa yang sepertinya keheranan melihat aku sepagi ini sudah rapi


"mau kemana nak sepagi ini?" tanya mama menyelidik


"kampus ma" jawabku semangat dan dengan segera mencium pipi mama dan melambaikan tangan pada papa yang masih memperhatikan tingkahku


"eeeiiittsss tunggu dulu,,, bukan seperti itu cara yang mama ajarkan padamu. Hayooo lakukan dengan benar" perintah mama


Aku menghentikan langkahku dan dengan lesu kembali menghampiri mereka. Ku cium tangan keduanya bergantian.


"Begitu dong,,, itu baru anak mama" ujar mama menepuk bahuku


"apa kamu tidak menunggu kedua sahabatmu itu?" tanya papa


"Tidak pa,,, Darren ada urusan penting di kampus jadi tidak bisa menunggu mereka." sahutku seraya beranjak menjauh


Papa dan mama hanya menggeleng gelengkan kepala mereka melihat tingkahku.


"Memangnya urusan apa ya pa sepagi dan sepenting itu Darren berangkat? " mama coba membahas dengan papa


"anak seusia dia itu susah ditebak ma, Sebentar lagi kuliahnya akan segera berakhir dan dia harus segera ku bawa ke kantor. Harus mulai ku kenalkan dengan beberapa relasi pentingku. Banyak yang harus dia pelajari ma,,, Mama jangan terlalu mengijinkan dia melakukan apa pun yang dia mau. Mama harus mulai mengajari mengatur waktu dimana saatnya dia harus mulai memikirkan masa depannya" titah papa yang disambut mama dengan anggukan dan senyumnya.


Membayangkan putra mereka satu satunya memegang kendali pada perusahaan perusahaannya membuat mereka bangga.


Di kampus,,,


Aku melangkahkan kakiku ke gedung fakultas hukum yang berada tepat di belakang gedung fakultas manajemen bisnisku. Ada koridor panjang yang menghubungkan kedua gedung itu dengan pemandangan taman di sisi kanan kirinya. Aku dengan gaya cool melangkah pasti. Bisa kulihat beberapa wanita minggir melihatku karena takut membuat kesalahan yang akan membuatku marah. Ada juga beberapa yang nekad menyapaku dengan genitnya walau sama sekali tak ku hiraukan.


Mendekati fakultas hukum aku menghentikan langkah kakiku. Aku melihat sosok Febby disana bersama beberapa geng pertemanannya yang di dominasi perempuan perempuan cantik dan modis seperti dirinya. Ya,,, Febby adalah perempuan modis kekinian yang tidak pernah ketinggalan gaya fashion terbaru. Dia dan gengnya sering menghabiskan waktu di salon sekedar untuk mengubah model rambut mereka. Tapi bukan penampilan mereka yang mengusikku. Aku hanya ingin tahu siapa perempuan yang mereka kerumuni itu. Sepertinya perempuan itu sedang dalam ancaman mereka.


Mataku terbelalak saat salah satu teman Febby menggeser posisi berdirinya hingga aku bisa melihat Chaira disana. Ya,,, Chaira lah yang mereka kerumuni. Aku segera berjalan dan mendekati mereka. Aku melihat Febby yang masih terus berbicara pada Chaira sembari mendorong dorong tubuhnya ke dinding. Salah satu temannya yang menyadari kehadiranku berusaha menghentikan perbuatannya.


"Apa apan ini??!!" tanyaku ketus


Febby yang terlambat menyadari kehadiranku terkejut dan menoleh padaku


"hey honey,,, sedang apa kamu disini?" dia dengan suara manisnya mendekatiku dan mencoba memeluk lenganku namun segera ku tepis

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu!!!" titahku dingin. Febby merengut.


"sekali lagi aku tanya sedang apa kalian semua disini" aku memandang tajam pada setiap perempuan itu yang langsung menundukkan wajahnya tak berani menatapku


"Tidak ada honey,, kami hanya mengunjungi teman kami ini" Febby segera menghampiri dan menarik lengannya. Chaira tampak sedikit kesakitan ditarik seperti itu.


"Lepaskan dia!!! dan enyah kalian semua dari sini. Sepagi ini sudah berani membuat keonaran di kampus ini. Kalian mau di DO??? " ancamku


Salah satu teman Febby menarik tangannya dan segera mengajaknya pergi. Febby tampak tidak suka melihat aku yang tampak melindungi Chaira. Dia dengan langkah beratnya terpaksa menuruti ajakan teman temannya.


"Apa kamu terluka?" tanyaku pada Chaira


Dia hanya menggelengkan kepalanya dan segera menangkupkan kedua tangannya kembali. Dia ingin segera pergi dari sana.


"Assalamu'alikum" ucapnya seraya langsung meninggalkan aku tanpa menunggu jawabanku


Aku yang menyadari langkahnya begitu cepat meninggalkanku hanya bisa menjawab lirih salamnya tadi. Sepertinya Febby dan teman temannya berhasil membuatnya menjauhiku. Tanganku mengepal saking kesalnya pada Febby. Berani sekali wanita itu mencampuri urusanku. Ternyata diam diam dibelakangku Febby juga mencari tau siapa Chaira. Dia curiga sejak melihat aku yang tak berkedip memandangnya. Dia memperingatkan Chaira agar tak genit menggodaku. Padahal Chaira tidak seperti itu. Aku lah sendiri yang terpesona padanya.


Dari balik Pohon di taman Febby puas melihat Chaira yang meninggalkan Darren dengan terburu buru. Rupanya wanita itu gampang diancam. Darren tampak kesal dibuatnya. Dia meminta agar Chaira mengacuhkan Darren. Sebenarnya dalam hatinya dia tidak yakin Darren menyukai Chaira yang sama sekali jauh dari kata modis. Gamis panjang dan hijab lebar serta cadarnya itu mana mungkin bisa mengalahkan pesona dan keseksian tubuhnya itu.


"Aku akan membuatmu menyerah padaku cepat atau lambat Dare,, " batin Febby


"Hai Chaira" sapaku


Chaira terkejut dan menoleh.


Ya tuhan mata itu,,, tajam dan teduh,,,


"sebagai seorang muslim sebaiknya kamu menggunakan salam" sahutnya


Aku tergagap dengan teguran lembut namun mengenanya itu.


"A,,, as,, assalamu'alaikum Chaira" aku terbata bata


"Waalaikumsalam" jawabnya


"Boleh aku duduk?" aku meminta ijinnya


Dia hanya mengangguk pelan dan sedikit menggeser duduknya agar tak terlalu dekat denganku. Beberapa saat kami hanya terdiam.

__ADS_1


" aku ingin bertanya apa maksud perkataanmu kemarin di halte bus" Chaira tiba tiba bersuara


"perkataan yang mana Chai? " tanyaku sembari berusaha mengingat ingat apa saja yang ku katakan kemarin padanya


"oohhh,,, ya,,, itu,,, itu,,, eehhh,,, aku,,, aku se,,, sengaja mengikutimu. Aku hanya ingin mengenalmu" lanjutku cepat agar tak keburu copot jantungku ini


Chaira keheranan dengan jawabanku itu. Dia menatapku tajam dengan sepasang mata indahnya itu. Aku baru menyadari bulu mata Chaira yang lebat dan lentik. Dia memoleskan eye liner di sekeliling matanya membuat mata itu terkesan semakin tajam.


"Be,, begini Chai,,, aku hanya ingin mengenalmu, berteman denganmu. Aku ingin belajar agama padamu" jawabku sedikit berbohong karena aku tak mungkin langsung memintanya menjadi kekasihku.


"kalau kamu ingin belajar agama,,, aku bukan orang yang tepat karena aku juga masih perlu belajar banyak. Tapi kalau kamu hanya ingin mengenalku,,, kamu sudah melakukannya. Dan untuk berteman denganku,,,,, " Chaira tak melanjutkan ucapannya. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya ragu


Dengan cepat aku memahami keraguannya itu.


"Febby??? jangan khawatir Chai,,, aku dan Febby tidak seperti yang kamu pikirkan." jelasku


Chaira menoleh dan menatap mataku mencari jika ada kebohongan terselip disana. Lama sekali dia menatapku dengan pandangan menyelidiknya


"eheem gak baik lho memandangku terlalu lama" godaku


Chaira segera tersadar lalu menundukkan wajahnya. Ingin sekali rasanya aku buka cadarnya dan melihat seperti apa rona wajahnya saat itu. Sejurus kemudian dia mengangkat wajahnya lagi dan matanya menyiratkan perasaan senang.


"Baiklah Dare,,, Kamu boleh menjadi temanku tapi dengan satu syarat! "


"Apa Chai?" tanyaku semangat


"Jangan pernah dengan sengaja menyentuhku atau menggodaku" suara Chaira kali ini terdengar sangat bersahabat.


"hahahahha apa kamu takut tergoda padaku yang tampan ini" aku malah menggodanya


Kami tertawa bersama. Suasana semakin terasa cair dan kami memanfaatkannya itu saling mengobrol. Sebagai teman baru kami ingin tahu banyak hal tentang diri kami masing masing. Chaira dengan suara lembutnya begitu mempesona. Dia tak menolak saat aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Namun dia hanya tidak memperbolehkan aku mampir kerumahnya. katanya gak enak sama tetangga. Aku tak keberatan. bagiku yang jelas dia sudah mau menjadi temanku. Ini awal yang baik untukku agar bisa semakin dekat dengannya.


Febby kesal meremas kemudi mobilnya melihat aku mengantarkan Chaira sendiri dengan mobilku. Padahal selama ini aku tak pernah mau menyetir sendiri untuk mengantarnya pulang. Tidak pernah kami berdua berada di mobilku. Selalu ada Dion dan Angga bersama kami.


Ponselku berbunyi, seorang anak buahku memberitahuku bahwa ada mobil yang menguntitku dan saat ini berhenti tak jauh dari tempatku. Aku melirik kaca mobil mencari keberadaan mobil yang dimaksud.


"Febby!!! rupanya dia juga mencari tau banyak hal tentang Chaira. Aku harus menjauhkannya dari Chaira" batinku


Jangan lupa vote dan like nya ya para pembaca

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2