
Ray terbangun saat dia mendengar tangisan Levi yang tak biasa. Segera dia bangkit dan membuka pintu kamarnya. Segera dicarinya keberadaan Levi.
"Ray,,, badan Levi panas sekali" Chaira yang panik langsung menyampaikan hal itu
Ray menyentuh kening Levi.
"Kita bawa dia kerumah sakit saja" ajaknya setelah merasa suhu badan Levi tinggi.
Chaira segera mengangguk. Rosa segera membantunya menyiapkan keperluan Levi. Ray tanpa mengganti bajunya dan dengan rambut yang acak acakan langsung masuk ke mobil dan disusul Chaira.
Mereka menuju rumah sakit ibu dan anak yang terdekat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setibanya di rumah sakit Levi langsung ditangani. Mereka diminta menunggu di luar. Ray mondar mandir di depan pintu ruang tindakan.
"Ray,, duduklah. Lebih baik kita berdoa semoga Levi baik baik saja" Chaira memintanya tenang.
Ray menurut. Dia duduk di sebelah Chaira. Hampir setengah jam menunggu akhirnya dokter keluar juga.
"Dengan orang tua Levi?" tanya dokter
"Iya dok,, kami orang tuanya" Ray dengan mantap menjawab.
"Bagaimana keadaan putra kami dok?" tanya Ray tidak sabar
Dokter tersenyum.
"Tidak apa apa pak,, bu,,, demam yang dialami oleh putra bapak ibu hanya demam biasa yang ditimbulkan saat bayi akan mulai tumbuh gigi. Memang tidak terjadi hal serupa pada setiap bayi tapi itu keadaan normal. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." ucap dokter
"Alhamdulillah" Chaira mengucap syukur.
Ray juga melakukan hal serupa. Berkali kali dia mengelus dadanya tanda lega.
"Apa putra kami perlu dirawat dok?" tanya Ray
"Tidak perlu pak,, putra bapak bisa dibawa pulang. berikan saja nanti obat dan vitamin yang saya berikan sesuai dosisnya" pesan dokter
Ray segera berterima kasih sebelum dokter meninggalkan mereka. Setelah selesai mengurus administrasi dan menebus obat yang diresepkan dokter mereka berjalan berdampingan.
Ray yang menggendong Levi dan Chaira berjalan disampingnya. Sesekali Ray terlihat menciumi Levi yang saat itu masih tidur karena pengaruh obat penurun panasnya.
"Jagoan abi sudah mau tumbuh gigi rupanya. Sebebtar lagi abi akan sering dengar bunda yang teriak kesakitan saat menyusuimu ya nak,,, Gigit saja bunda ya nak" bisik Ray di telinga Levi sembari menggoda Chaira.
"Jangan mengajarinya seperti ituuuuu,,, cukup kamu saja yang jahil kepadaku. Jangan ajari Levi juga!!!" tukas Chaira yang mulai terpancing
"Hahahahha jangan hiraukan bunda nak,,,," Ray masih saja menggodanya.
Chaira yang kesal terlihat beberapa kali memukuli lengan Ray karena gemas Jika dilihat mereka tampak seperti pasangan muda yang bahagia.
__ADS_1
Saat berjalan hendak keluar dari rumah sakit mereka berpapasan dengan para suster yang tergesa gesa membawa seorang wanita yang tampaknya akan segera melahirkan.
Wanita itu tampak kesakitan sekali. Dia memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri berkali kali sambil menahan rasa sakitnya. Wanita itu menoleh saat melewati kami.
"Chairaaaa" Serunya sambil masih menahan sakitnya
"Febby???" Chaira terkejut.
Segera disusulnya dan mengikuti suster yang setengah berlarian mendorong ranjang Febby. Ray pun mengikuti Chaira.
"Febby bertahanlah" kata Chaira sambil menggenggam tangan Febby
Febby yang terlihat sangat kesakitan mulai tak sadarkan diri. Chaira memberitahukan kondisi itu pada suster yang langsung mempercepat langkah mereka menuju ruang operasi.
"Kita tunggu disini ya Ray" pinta Chaira begitu Febby telah dibawa masuk.
Ray mengangguk. Dia duduk di samping Chaira yang terlihat agak panik dan terus melihat ke arah pintu ruang operasi. Ray memberanikan diri bertanya padanya.
"Chai,, jika aku tidak salah kamu memanggilnya Febby. Bukankah Febby itu istri kedua Darren?" tanya Ray hati hati
Chaira mengangguk.
"Bukankah dia memusuhimu?" tanya Ray lagi
Chaira kembali mengangguk.
"Ray,, aku paham arah pertanyaanmu. Yang kulakukan disini adalah apa yang harus ku lakukan sebagai sesama wanita. Memberi dukungan dan semangat karena aku juga pernah merasakan sakitnya melahirkan. Terlepas dari siapa wanita itu,,, apa hubungan kami,,, masalah apa yang terjadi diantara kamu,,, aku hanya lebih mengutamakan rasa kemanusiaanku saja. Lagipula apa pun yang pernah dilakukannya padaku,,, aku sudah memaafkannya" ucap Chaira
"Tapi aku heran,, kenapa Febby bisa berada disini juga? Bukankah dia masih istri Darren? Atau jangan jangan Darren juga ada disini?" seru Ray
Chaira yang tak memikirkan hal itu agak terkejut mendengarnya. Dia berpikir mungkin sebaiknya mereka segera pergi dari sana. Tapi dia tak ingin meninggalkan Febby sebelum tau keadaannya.
Chaira bimbang. Ray mengerti akan kebimbangannya itu. Dia minta ijin ke kamar mandi sebentar. Diserahkannya Levi pada Chaira.
Diam diam dia menelpon asistennya untuk segera berpura pura ingin mencari jadwal bertemu dengan Darren hari ini. Jika Darren bisa ditemui hari ini berarti dia tidak sedang berada disini.
Ray segera kembali pada Chaira begitu asistennya mengatakan bahwa Darren bisa ditemui hari ini. Ray yakin dia tak sedang berada disini.
Ray melihat dokter yang dengan wajah tak baiknya menyampaikan berita buruk. Bayinya selamat namun Febby kritis dan kehilangan banyak sekali darah.
"Tidak ada data suami dan keluarga lengkap dari pasien. Kami tidak bisa menghubungi suami atau pun keluarganya. Jika anda memang mengenal pasien mungkin anda bisa membantu kami untuk mengabarkan pada keluarga pasien" ucap dokter.
"Baik dok terima kasih" ucap Ray mewakili
Chaira yang diam tampak bingung.
"Kenapa tidak ada data suami? Bagaimana bisa? Kemana Darren? " Chaira bertanya tanya dalam hati
Sedang asyik tenggelam dalam pikirannya Chaira tersentak saat suster mengatakan bahwa Febby telah sadar dan ingin menemuinya.
__ADS_1
Chaira segera masuk didampingi Ray. Mereka tak membawa Levi turut serta karena Levi telah pulang bersama Rosa yang sempat ditelpon oleh Ray dan segera datang menjemputnya kerumah sakit itu.
Ray tak ingin Levi berlama lama berada dirumah sakit.
Chaira menghampiri Rosa yang sangat lemah.
Febby bersusah payah menyimpan tenaganya untuk memberitahukan pada Chaira apa yang terjadi padanya dan Darren selama ini.
"Cha,,, Chaaaiiraaa,,, Aa,, aa,, aku min,, ta maaf. Aku su,,, dah,, ter,, lalu banyak me,,, nyakiti,,, mu. Aku,, titip anak,, ku. Dia putri Darren juga,,," Suara Febby terhenti seiring dengan bunyi tiiiiiiiiitttttttttttt
"Febbyyyy,,, Febbyyy,,," Chaira mencoba mengguncangkan tubuh Febby yang sudah lemas.
Ray mencoba memanggil dokter agar memeriksa apa yang terjadi. Dokter dan suster yang datang meminta mereka keluar dulu.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dan menyampaikan berita duka. Febby telah meninggal dunia akibat komplikasi yang dialaminya dan kehilangan banyak darah.
Chaira terduduk lemas mendengarnya. Ray menyentuh bahunya perlahan.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Chai?" tanyanya
Chaira menggeleng lemah. Semua ini terlalu mengejutkan dirinya. Dia butuh waktu untuk berpikir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku membuka lampiran foto yang dikirim anak buahku melalui email. Mataku terbelalak saat melihat foto foto itu.
Tampak latar belakang foto itu adalah sebuah rumah sakit. Banyak wanita hamil dan beberapa wanita yang menggendong bayi disana. Tak salah lagi itu adalah rumah sakit ibu dan anak.
Tampak Foto Febby sedang terbaring di ranjang yang didorong oleh beberapa suster. Sepertinya Febby akan melahirkan. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku.
Wanita bercadar yang terus menggenggam tangan Febby itulah yang menjadi perhatianku.
"Chaira??? Apa benar itu dia? Bagaimana bisa dia bersama Febby??" pikirku
Aku senang menemukan dirinya. Aku sangat yakin itu memang Chaira saat melihat Rosa juga ada di beberapa foto.
Namun Otakku kembali berputar keras ketika melihat slide foto berikutnya.
Chaira tampak akrab dengan seorang pria yang pakaiannya biasa biasa saja bahkan rambutnya tak disisir sama sekali. Tak tampak hal mewah di diri pria itu. Aku tak bisa mengenalinya apalagi tak ada foto yang menampakkan wajahnya jelas.
"Siapa pria itu? Kenapa Chaira tampak dekat dengannya? Dan bayi yang digendongnya?? Siapa bayi itu??" otakku terus berputar.
Mataku tambah membulat saat melihat sebuah foto yang menampakkan Chaira yang masuk ke ruangan menyusui bersama bayi itu.
"Kenapa Chaira masuk ke ruangan menyusui? mungkinkah dia akan menyusui bayi itu? Tapi mana mungkin dia menyusui bayi jika dia bukan ibunya?" aku semakin bingung.
"Atau jangan jangan,,,,, " aku tak sanggup melanjutkan apa yang ku bayangkan.
Aku terlalu takut jika apa yang kubayangkan memang terjadi.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍