BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S part 113


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Lo yakin ini rumah saudara Ray??" tanya Dion begitu dia menghentikan mobil yang dinaikinya bersama Darren.


"Cuma ini satu satunya keluarga yang bisa gue lacak. Jika informasi yang gue dapat benar,, maka orang ini adalah hhmmm,,, apa ya sebutannya?? Rumit sekali,, Pokoknya ini orang punya darah yang sama dengan Ray. Gitu lah pokoknya." ucap Darren.


Darren bingung harus menyebut pria yang mau dikunjunginya itu dengan sebutan apa untuk Rayya. Pria itu adalah sepupu dari ayahnya Ray. Hanya pria itu saja satu satunya yang terlacak oleh Darren.


"Ah mungkin ini alasan kenapa.orang orang dulu suka punya anak banyak banyak. Ya biar gak susah gini nyari wali. Bayangin,,, Ray anak tunggal,,, bapaknya Ray anak tunggal juga,,, Untung kakeknya Ray punya saudara kandung dan keponakan laki laki walau cuma satu juga." kata Darren.


"Gue pusing ngikutin alurnya. Udah yang penting kita samperin dulu ini orang dan kita pastikan kebenaran dari informasi lo itu." ujar Dion langsung saja membuka pintu mobil.


Darren menyusul keluar lalu merapikan sedikit pakaiannya sebelum memencet bel di pagar. Butuh waktu beberapa saat sampai ada orang yang keluar dari rumah itu.


Seorang gadis berhijab keluar dengan mata memicing berusaha mengenali siapakah dua pria yang mengunjungi rumahnya itu.


"Cari siapa ya??" tanyanya.


"Apa benar ini kediaman tuan Adi Saswita?" tanya Darren sopan.


"Iya benar. Anda siapa ya??" tanya gadis itu curiga karena tamunya mengenali ayahnya.


"Perkenalkan nama saya Darren,,, dan ini sahabat saya,Dion." ucap Darren memperkenalkan diri.


Gadis itu hanya mengangguk bersamaan dengan Dion.


"Jadi tujuan Kami berdua datang kemari adalah ingin menemui tuan Adi Saswita untuk membenarkan apakah beliau adalah keluarga daripada almarhum Rayhan Putra?" Darren menjelaskan tujuannya datang ke rumah itu.


"Siapa??" tanya gadis itu.


"Rayhan Putra." jawab Darren.


Mata gadis itu membulat menyiratkan rasa terkejut yang begitu dalam saat kembali mendengar dengan jelas nama yang disebut oleh Darren itu.

__ADS_1


Untuk beberapa saat matanya berputar kesana kemari seperti tengah berpikir keras.


"Nona,,," Tegur Darren karena dia belum mendapat jawaban selain wajah tegang gadis itu.


"Mmm,,, Sebaiknya kalian pulang saja. Tuan Adi Saswita tidak ada di rumah. Permisi." ucap gadis itu cepat lalu masuk kembali ke rumahnya.


"Mm tunggu nona,,, Setidaknya beri saya jawaban atas pertanyaan saya tadi. Apa benar tuan Adi punya hubungan saudara dengan mendiang Rayhan??" pertanyaan Darren itu hanya dijawab dengan langkah gadis itu yang terhenti di pintu.


Gadis itu menoleh kembali,,, Hanya diam tak menjawab. Darren masih memandanginya berharap mendapat jawaban.


Tapi harapan Darren pupus saat gadis itu hanya menutup pintu rumahnya.


"Sebaiknya kita pulang aja. Dasar gak punya tata krama. Percuma dia berhijab begitu tapi gak tau cara perlakukan orang lain." gerutu Dion.


"Jangan buruk sangka dulu. Kita kan gak pernah tau apa yang dipikirkan gadis itu. Apa masalah yang dia hadapi hari ini sampai dia tak bisa tersenyum pada orang lain. Satu lagi,,, Hijab juga bukan acuan untuk kita bisa menilai seberapa baik dan buruk seseorang. Hijab bukan alasan untuk kita menuntut si pemakai selalu bersikap sempurna. Mereka juga manusia sama seperti kita,,, punya rasa marah, emosi, sedih, bahagia." Darren menasehati Dion.


"Ya tapi Dare,,, Jawab kek setidaknya." sungut Dion.


"Sudah kita coba lagi nanti. Siapa tau benar yang dikatakannya bahwa tuan Adi tidak ada di rumah." Darren menenangkan Dion yang mulai emosi.


Dion memang berbeda dengan Darren yang lebih banyak berubah jadi penyabar. Dion masih gampang tersulut emosinya.


Darren mengangguk mengiyakan.


"Bagus. Kita tunggu saja dulu. Malas kalau harus bolak balik ke hotel dan ke sini lagi. Belum lagi anak anak lo pasti akan tanya kita mau kemana lagi." kata Dion.


"Ok kita tunggu saja di sini." Darren setuju.


Diambilnya ponselnya lalu ditelponnya Levi. Darren hanya mengatakan bahwa urusannya dengan Dion belum selesai jadi dia mungkin akan pulang ke hotel sedikit terlambat.


"Kalian makan saja dulu nanti kalau sudah lapar. Katakan pada Rayya juga ya nak."pesan Darren pada Levi.


"Baik ayah. Rayya juga masih jalan jalan sama Bimo tadi. Katanya sih mau cari souvenir buat dibawa pulang." kata Levi.


"Iya nak. Telpon Rayya kalau dia sekiranya terlambat pulang ya. Meski Bimo bersamanya tapi tetap saja malah tidak baik berlama lama pergi berdua saja begitu." ucap Darren.


Darren menutup telponnya setelah Levi mengiyakan perkataannya.


Pandangannya tertuju kembali pada rumah itu. Darren bisa melihat gadis berhijab tadi mengintipnya dari balik tirai jendela ruang tamunya dan ketika Darren menangkap gerakannya dengan cepat ditutupnya kembali tirai itu.

__ADS_1


"Gue jadi curiga." ucap Dion yang rupanya juga ikut melihat gerakan gadis itu.


"Siapa sebenarnya gadis itu dan apa hubungannya dengan Adi Saswita dan Rayhan?? Kenapa dia begitu terkejut mendengar lo sebut nama Rayhan tadi?? Seperti mendengar sesuatu yang mengancamnya saja." Dion yang ahli membaca gerak gerik orang itu mulai memicingkan mata dan memegangi dagunya.


Darren tertawa melihat sikap Dion itu.


"Gue lagi konsentrasi keras,,, Lo malah ketawa gak jelas. Apanya yang lucu??" tanya Dion kesal.


"Gaya lo tuh sudah kayak detektif aja." cetus Darren.


"Lah emang gue ahli kan urusan beginian." sang detektif abal abal menyombong.


"Ya ya ya,,, Terserah lo deh. Gue lapar. Gue pesan makanan dulu." ucap Darren mengeluarkan ponselnya hendak menelpon salah satu restoran cepat saji terdekat.


"Burger keju lapisnya tiga,,, French fries medium juga tiga, minumannya satu aja." Dion mendikte Darren tanpa menoleh sama sekali pada Darren karena dia masih fokus melihat rumah itu.


"Lo lapar apa rakus??" tanya Darren.


"Jangan salah,,, Pas lagi konsen gini gue harus makan lebih banyak. Udah jangan bawel deh. Pesenin buat gue itu semua." titahnya pada Darren.


Darren hanya mencebik kesal tapi tetap menuruti kemauan sahabatnya itu.


🌹🌹🌹


"Apa?? Siapa katamu?? Rayhan Putra??" kata pria itu.


"Iya papa. Mereka tanya apa papa benar saudara dari om Ray??" jawab gadis berhijab yang rupanya adalah putri dari Adi Saswita.


"Kamu jawab apa??" tanya Adi.


"Cuma kusuruh mereka pulang karena papa sedang tidak ada di rumah." jawab gadis itu.


"Bagus." jawab Adi.


"Masalahnya mobil mereka masih di depan rumah pa. Sepertinya mereka menunggu papa pulang." gadis itu bicara sambil mengintip lagi memastikan mobil Darren masih terparkir di depan rumah mereka.


"Sial!!" Adi kesal dan bingung harus bagaimana.


\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹


__ADS_2