
Berbagai portal berita online mulai mempertanyakan sosok Diana, aksi Diana dalam video dengan durasi 50 detik yang beredar, adegan dalam video itu membuat mereka sulit mempercayai hal itu. Dillah semakin frustasi melihat keadaan dunia maya yang semakin ramai membahas Diana.
Tidak terasa matahari semakin memperlihatkan cahayanya. Wanita yang berbalut selimut itu mulai menggeliat, dia meraba sisi tempat tidur, merasa sisi tempat tidur lain kosong dia langsung membuka kedua matanya. “Baby ….” Ucapnya.
“Aku di sini.” Dillah melepaskan handphonenya, dia berjalan mendekati Qiara. Dillah naik keatas tempat tidur dan memeluk Qiara.
“Aku kira kamu pergi begitu saja setelah mendapatkanku,” rengek Qiara.
“Selama aku masih bisa bernapas, aku tidak akan meninggalkanmu.” Dillah semakin mengeratkan pelukannya.
**
Di kediaman Agung Jaya.
Pagi-pagi Ivan duduk santai di kursi taman yang ada di pekarangan rumahnya. Di dekatnya ada Yudha dan Narendra. Ivan dan Yudha terlihat sangat serius menyimak penjelasan Narendra tentang laporan terbarunya. Narendra menceritakan cerita tentang Diana yang sangat mudah mengalahkan 100 orang tadi malam, dia memperlihatkan video yang dia rekam sendiri saat kejadian.
Kedua tangan Ivan mengepal menonton Video yang Narendra perlihatkan, rasanya dia ingin menghabisi Wilda saat ini juga.
"Kenapa tadi malam tidak kamu katakan tentang kejadian ini!"
"Maaf Tuan, saya rasa waktunya tidak tepat." sesal Narendra.
“Saya hampir keluar dari tempat persembunyian, saat ada yang memukul Nona Diana dari belakang. Tapi, melihat bagaimana aksi Nona, saya bisa menahan diri. Maafkan saya Tuan, karena saya tidak membantu Nona melawan 100 orang preman itu.” lanjutnya.
“Yudha!”
“Iya Van?” sahut Yudha.
“Panggil Dillah ke sini.”
“Baik Van.” Yudha segera menelepon Dillah, dan meminta Dillah datang ke kediaman Ivan.
Setelah berbicara dengan Dillah via telepon. Yudha kembali menoleh pada Ivan.
“Anda bilang, Nona Diana hanyalah seorang mahasiswi biasa. Bagaimana saya percaya kalau dia mahasiswi biasa setelah melihat lansung bagaimana Nona mengalahkan 100 orang laki-laki dengan tubuh besar mereka. Skip! Bukan 100 tapi 101. Karena ketuanya juga dibantai oleh Nona Diana," ucap Narendra.
Ivan tidak merespon perkataan Narendra.
**
Di kamar hotel yang di tempati Wilda dan suaminya. Ramasta memjiat pelipisnya mendengar rencana terbaru Wilda untuk Diana. Dia tidak habis pikir kenapa istrinya tidak jera sedikit pun. Bahkan sekarang memikirkan rencana lain.
__ADS_1
“Ivan sudah menelantarkan kita karena Diana, jadi memberi perhitungan dengan gadis desa itu tidak merugikan apa-apa pada kita, karena kita mengganggu Diana atau tidak, Ivan tetap meninggalkan perusahaan kita!”
Ramasta memikirkan ucapan istrinya. “Saat ini, bagaimana keadaan Qiara?”
“Saat ini dia baik-baik saja, dengan rencana terbaruku, Ivan tidak akan berani macam-macam dengan Qiara.” Wilda terus berusaha meyakinkan suaminya, kalau rencananya yang baru tidak membahayakan perusahaan mereka.
“Bagaimana kalau Fredy seperti Ivan?” tanya Ramasta. “Maksudku, bagaimana kalau Fredy juga akan melakukan hal yang sama seperti Ivan, dia akan memberi perhitungan pada kita karena kita mengganggu Diana.”
Wajah Wilda terlihat masam mendengar ucapan suaminya. “Memangnya Diana siapa? Diana hanyalah gadis desa, mana mungkin Fredy mengenal Diana, apalagi memiliki hubungan dengan gadis kampungan itu.”
“Tunangan Ivan sangat misterius, aku hanya khawatir kalau dia memiliki tempat istimewa di kehidupan Fredy.”
“Itu sangat mustahil!” Wilda tersenyum masam mendengar presepsi suaminya tentang Diana yang menurutnya ini terlalu jauh. “Untuk masalah Qiara, sepertinya semua akan selesai, maksimal dalam waktu dua hari.”
**
Saat yang sama di hotel yang lain yang ada di kota itu.
Bougghh!
Fredy mendaratkan tijuannya pada meja yang ada di depannya setelah dia menonton video viral tentang Diana. Kemarahan terpancar dari sepasang matanya, sepasang mata itu terlihat memerah seakan hendak menyemburkan api.
“Tidak perlu.”
Athar bingung dengan jawaban Fredy. Yang dia tahu Tuannya akan pasang badan demi melindungi Diana. “Kenapa Tuan?”
“Ada orang lain yang akan mengurus masalah ini.”
“Baik Tuan.”
**
Di kediaman Ivan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dillah segera keluar dari mobil. Dillah menautkan kedua alisnya melihat bagasi mobil Narendra terbuka, laki-laki itu terus menyesap batang rokonya, dan dia memberi senyuman kecil pada Dillah. Dillah membalas senyuman Narendra, dirinya segera berlari mendekati Ivan.
Melihat wajah Ivan begitu arrogant, bulu kuduk Dillah berdiri, apalagi dia menyadari kesalahannya karena telah mengkhianti Ivan. Dillah berusaha bersikap santai. “Selamat pagi Tuan,” sapanya.
Tapi yang dia sapa sama sekali tidak menoleh padanya, Ivan terus menyesap rokoknya dan menghembuskan asap putih ke udara, dia melakukan hal itu berulang kali. Dillah tetap berdiri tegak di dekat Ivan. Dari arah belakang Narendra berjalan kearah mereka.
Tiba-tiba Narendra langsung membekap mulut Dillah dengan sapu tangan. Entah apa yang Narendra oleskan pada saputangan itu, Dillah masih sadar, tapi seketika tubuhnya tidak berdaya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan padaku, Narendra?” tanya Dillah.
“Di-apakan dia, Tuan?” tanya Narenda pada Ivan.
“Kubur dia hidup-hidup!” perintah Ivan pada Narendra.
Dillah hanya bisa menatap Ivan, dia mampu untuk berbicara, tapi Dillah menyadari kesalahannya, dia pasrah dan tidak meminta belas kasihan pada Ivan atas hukuman yang Ivan berikan padanya. Sebelum dirinya mengkhianati Ivan lebih parah, dia sudah sadar apa konsikuensi yang akan dia terima.
Bougght!
Narendra memukul kepala Dillah begitu keras, hingga membuat laki-laki itu kehilangan kesadarannya. Narendra memasukkan Dillah ke dalam bagasi mobilnya, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Agung Jaya.
“Sejak kapan kamu menyadari kalau Dillah mulai mengkhianatimu?” tanya Yudha.
“Sejak lama, tapi aku sengaja memberi dia kesempatan, aku sengaja memperlihatkan bagaimana kejamnya aku, agar dia takut dan berhenti mengkhianatiku. Tapi dia malah semakin mengkhianatiku.”
“Apa pengkhiantannya karena dia tahu kalau posisinya akan di gantikan Narendra?”
“Dia berkhianata jauh sebelum itu, dia menyukai Qiara. Dia sangat memuja Qiara, dan aku yakin dia akan melakukan apa saja yang tante Wilda minta, dan dugaanku benar.” Ivan kembali menyesap rokoknya. “Om Ramasta berhasil meminjam uang dengan jaminan aset Agung Jaya karena bantuan Dillah. Sejak aku tahu hal itu, aku bertekat akan menendangnya saat yang tepat!”
“Seperti kamu menendang Amanda,” sela Yudha.
“Tepat sekali. Aku menghukum seseorang sesuai dengan kesalahan mereka, dan Dillah sudah sangat kelewatan! Bahkan dia telah memberikan video rahasia pada tante Wilda.”
“Kamu mengambil keputusan kejam ini pastinya karena kesalahan Dillah tidak bisa kamu maafkan lagi, tapi, untuk masalah Qiara, apa yang akan kamu lakukan pada mereka?” tanya Yudha.
“Keinginanku, aku ingin membereskan mereka seperti aku membereskan Dillah. Tapi ada sesuatu, hingga aku tidak bisa menghukum mereka dengan cepat.”
Yudha menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. Pikiran Yudha, Ivan ingin melindungi bibi dan adik sepupunya. “Mereka keluargamu, jangan terlalu sadis, Van. Kalau kamu mau, aku saja yang membereskan tante Wilda dan Qiara.”
“Kenapa kamu sangat bersemagat, Yudha?”
“Tidak apa-apa, aku menganggap Diana adikku, dan aku ingin memberi perhitungan pada orang yang telah mengganggu adikku.”
“Saat ini, aku hanya bisa memberi tante Wilda dan Qiara pilihan, karena aku tidak bisa memberi mereka pelajaran saat ini.”
Bilang saja kamu ingin melindungi mereka, Van. Batin Yudha.
“Kau jangan menuduhku melindungi anggota keluargaku” Ivan seperti memahami pemikiran Yudha padanya. “Hal ini yang membuatku tidak bisa bertindak cepat.” Ivan memutar video rahasia pada tabletnya, dia melempar tabletnya kearah Yudha.
Yudha tidak berhasil menangkap tablet yang dilempar Ivan padanya, hingga tablet itu mendarat di tanah. Mata Yudha tertuju pada Video yang saat ini masih berputar pada tablet itu. Yudha terlihat ketakutan melihat tayangan video itu, dia hanya bisa menelan salivanya.
__ADS_1