
Cemburu? Entah apa yang membuat dada Ivan terasa sesak melihat Diana tertawa lepas kala berbicara dengan Anton. Senyuman Diana, kebahagiaan Diana adalah tujuannya, namun dia merasa tidak rela jika Diana tersenyum karena orang lain. Ivan berharap Diana bahagia hanya karena dirinya.
Ivan mencoba mengusir keegoisannya, dia menoleh pada Dillah. “Dillah.”
“Iya Tuan.”
“Kamu pesan makanan untuk kita semua, siapkan di semuanya di sini.”
“Baik, Tuan.” Dillah langsung menarikan jemarinya diatas keayboard handphoenya menunaikan titah Ivan.
“Apa aku boleh mandi dulu? Tubuhku terasa gerah,” ucap Anton.
“Kamu boleh melakukan apa saja, Anton. Apartemen ini saat ini milikmu,” sahut Ivan.
“Kalau begitu aku izin mandi dulu,” pamit Anton.
“Aku juga mau ke kamarku,” ucap Diana.
Langkah Anton terhenti mendengar ucapan Diana. “Kamarmu? Di sini?”
“Bukan, kamarku ada di Apartemen Ivan,” sahut Diana.
“Apa? Kalian tinggal satu atap?” Anton terlihat syok.
“Diana, apa kamu tidak memikirkan penilaian orang, tidak baik laki-laki dan perempuan tinggal satu atap tanpa ada ikatan,” ucap Anton.
“Kami tinggal satu atap di kamar yang berbeda,” jelas Diana.
“Tetap saja tidak baik Diana.”
Diana mendekati Anton dan berbisik di terlinga Anton. “Saat ini kami sudah menikah, tapi kami meyembunyikan ikatan kami dari semua orang,” bisik Diana.
“Benarkah? Bagaiamana Nenekmu?”
Melihat Diana sedekat itu dengan Anton, Ivan semakin dibakar api cemburu, dia langsung keluar dari Apartemen Anton tanpa pamit pada siapa pun.
“Nenekku bilang, selama keputusanku membuatku bahagia, dia selalu mendukungku.”
“Ada niat membawa Ivan bersamamu menemui Nenekmu?” tanya Anton.
“Mungkin aku akan membawanya saat aku pulang nanti, sekaligus memberitahu berita bahagia ini.”
Mendengar ucapan Diana, Dillah tersenyum, dia turut bahagia karena cinta Tuannya bersambut.
“Dillah, mana Ivan?” Diana baru menyadari Ivan tidak ada di Apartemen Anton.
“Munkin Tuan kembali ke Apartemen kalian, seharian ini dia sibuk di kantor,” sahut Dillah.
“kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi nanti.” Diana segera menyusul Ivan ke Apartemennya.
Sesampai di Apartemen Ivan, Diana langsung menuju kamar Ivan, mendengar suara percikan air dari kamar mandi, Diana langsung membuka pintu kamar mandi itu. Sangat jelas Diana melihat Ivan berdiri di bawah guyuran air shower dan tidak mengenakan apapaun. Begitu nyamannya Diana menanggalkan pakainannya dan langsung memeluk Ivan dari belakang. “Tidak rindu padaku?”
__ADS_1
Mereka berdua berada di bawah guyuran air yang terus menyembur dari shower. Ivan mengabaikan sentuhan manja dari tangan halus Diana.
“Itu pertanyaan yang sangat konyol!” ucap Ivan sinis.
Ivan menyudahi kegiatan mandinya, dia meraih handuk dan melingarkan handuk di pinggangnya. Tanpa memperdulikan Diana, Ivan keluar dari kamar mandi.
“Ivan ….” Diana langsung meraih handuk.
“Kenapa ke sini? Kembali saja sana ke Apartemen Anton dan lupakan aku!”
Diana menahan langkah Ivan, dan berdiri di depan laki-laki itu. “Bagaimana aku bisa melupakan kamu? Kalau ada caranya tolong ajarkan aku, kamu tahu betapa sakitnya melewati detik demi detik tanpa dirimu.” Diana mendaratkan bibirnya diatas bibir Ivan, namun Ivan tidak membalas ciumannya
Diana merasa tidak ada perlawanan dari Ivanz dia menyudahi ciumannya. “Anton hanyalah teman masa kecilku, dia hanya teman, seperti Nizam, Russel, tidak lebih. Dalam hidupku laki-laki yang lebih dari segalanya hanya kamu.” Diana kembali mendaratkan ciumannya. “Jangan marah, suamiku. Sumpah demi apapun aku sangat mencintaimu, jangan siksa aku dengan kemarahanmu. Aku sudah sangat tersiksa dengan kerinduanku padamu.”
Ivan luluh mendengar ungkapan Diana, dia membalas ciuman Diana menggendong Diana menuju tempat tidur, bukan hanya melepaskan rindu yang tertahan namun melepaskan handuk yang menempel pada Diana, dan kembali melepaskan peternakan kecebongnya.
**
Di Apartemen yang di tempati Anton.
Anton keluar dari kamarnya dengan wajah segar. Dia memandangi menu makanan yang ada di meja makan. “Wah banyak sekali makanan.”
“Tuan Anton lapar? Kalau lapar ayo nikmati dulu, sepasang kekasih yang baru bertemu itu tidak bisa di tunggu,” ucap Dillah.
“Kita tunggu mereka saja,” ucap Anton.
“Tidak usah menunggu, ayo kita makan,” ajak Dillah.
Widih, cepat sekali makannya, dasar orang kampung! Batin Darwin.
“Anton memperhatikan semua makanan yang ada di atas meja. “Diana dan Ivan bisa menghabiskan makanan ini?”
“Sepertinya tidak,” sahut Dillah.
“Terus di apakan makanan ini kalau tidak?”
“Ya di buang.”
"Mudah sekali kalian membuang makanan, kalian tahu, di luar sana banyak orang mempertaruhkan nyawa hanya demi sepiring nasi untuk bertahan hidup."
"Maafkan aku, aku hanya ingin menyambutmu," Dillah merasa malu.
Dasar miskin! Dia belum tahu bagaimana kekayaan Tuan Ivan, batin Darwin.
Anton menoleh pada pelayan. “Setelah makan malam selesai, apa yang belum dimakan, semuanya masukan kulkas, nanti buat makan besok untuk di hangatkan.”
Sudah jelek, kampungan, pelit pula! Batin Darwin.
Perhatian Anton tertuju pada tangan pelayan yang berdarah. “Kamu terluka?”
“Tidak parah, nanti sembuh sendiri,” sahut Darwin.
__ADS_1
“Luka akan lambat sembuh jika tidak di tangani dengan benar, ayo berikan kotak obat padaku, aku obati lukamu.” Pelayan itu tidak bergeming, merasa pelayan itu tidak peduli dengan permintannya, Anton langsung kembali ke kamarrnya mencari kotak p3k yang selalu dia bawa.
Sedang di meja makan pelayan itu mendekati Dillah. “Ternyata bukan Cuma wajahnya aja yang jelek, makannya cepat seperti orang kelaparan, di tambah pelit pula!” adunya.
“Hati-hati bicaramu! Kalau Tuan mendengarnya aku jamin kamu akan di cincang-cincang Tuan!”
Darwin terlihat takut.
“Jangan pernah menilai seseorang dari luar, di matamu Anton jelek, tapi hatinya sangat mulia, dia mengabdikan hidupnya untuk kepentingan banyak orang, sedang kamu apa yang kamu lakukan selain untuk dirimu sendiri!?”
“Ada apa ini? Kenapa kamu sangat marah, Dillah?” Anton baru saja keluar dari kamarnya sambil membawa kotak obat.
“Aku hanya kesal, dia tidak memperhatikan pekerjaan, masa hanya mengupas buah dia terluka,” Dillah berkilah.
“Ini hanya kecelakaan, siapa juga yang mau terluka.” Anton langsung mengobati luka pelayan, membuuat pelayan itu tdak nyaman dan menyesal dengan segala hinannya.
Saat Anton selesai mengobati lukanya, pelayan itu izin undur pergi.
“Sebelum pergi, bisa isikan gelasku dulu,” ucap Dillah.
Pelayan itu kembali kepada Dillah dan mengisi gelas Dillah dengan air putih.
Dillah mendekatkan wajahnya pada pelayan itu. “Lihat betapa baiknya dia?” bisik Dillah.
Darwin hanya bisa menunduk malu, dan pergi setelah melakukan pekerjaannya.
Dillah menoleh pada Anton. “Anton, boleh aku bertanya?”
“Silakan, Dillah.”
“Menurut informasi yang aku terima, Diana pernah di suntik keluarga Ayahnya dengan vaksin beracun, bagaimana keadaan Diana saat ini?”
“Bagaimana kamu tahu cerita itu?” Anton balik bertanya.
“Tuanku sangat mencintai Diana, dia ingin melindungi Diana dari berbagai hal. Hingga kami menemukan fakta kalau Diana pernah di suntik agar dia mati saat mencapai usia yang mereka targetkan.”
“Semua virus yang masuk kedalam tubuh Diana sudah hilang, kamu lupa siapa Neneknya?”
“Bukan aku tidak tahu siapa dokter Zelin, tapi mengingat cerita masa lalu, ibu Diana meninggal karena virus itu, jadi aku hanya khawatir.”
“Tenang saja, Diana sudah aman. Aku bisa menciptakan T779 juga karena bantuan penelitian dari Diana. Bagiku penemu sesungguhnya T779 adalah Diana, karena dia yang bekerja keras melakukan penelitian.”
***
Bersambung.
***
Pengumuman:
Kalau besok tidak update, aku mohon maaf ya, saat ini ku lagi nggak fit, maag aku lagi kumat, jadi belum punya waktu untuk nulis. Mohon maaf mungkin bolong update beberapa hari kedepan.
__ADS_1