
Setelah keluar dari lift, Ivan berjalan lebih dulu di depan.
Drttttt! Drttttt! Drttttt!
Diana merasakan handphonenya bergetar. Dia menghentikan langkahnya, dan melihat siapa yang menghubunginya, ternyata panggilan dari nomer yang tidak dikenal. Diana mengabaikan panggilan itu dan meneruskan langkahnya. Getaran handphone itu tidak terasa lagi.
Tink!
Sebuah pesan masuk ke handphone Diana.
...Hai Diana, ini aku Fredy. Maafkan aku karena sebelumnya aku mengganggumu dan mengajakmu makan siang waktu itu....
Kedua alis Diana tertaut mencoba mengingat ajakan makan siang dari nomor asing, dia pun teringat mendapat ajakan makan siang dari dua nomor asing yang berbeda diwaktu yang sama.
“Diana ….”
Panggilan Ivan menyadarkan Diana, dia menegakkan wajahnya memandang kearah Ivan.
“Apakah memainkan game kesukaanmu tidak bisa dilanjutkan di dalam?”
Diana segera menghapus pesan dari Fredy, dan memacu langkah kakinya lebih cepat berjalan kearha Ivan, Diana dan Ivan pun masuk ke dalam Apartemen mereka. Ivan menghempaskan bobot tubuhnya di sofa empuk, satu tangannya tampak sibuk mengotak-atik layar handphonenya, sedang Diana langsung ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Diana keluar dengan wajah yang lebih segar. Rasa lelahnya seakan hilang dengan guyuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya. Tujuan Diana dapur, dia ingin mengisi gelas air minumnya.
“Diana.”
Panggilan Ivan menghentikan langkah kaki Diana. Dia menoleh kearah Ivan.
“Ada paket untukmu.” Arah mata Ivan mengisyarat pada paket yang diletakan di atas meja.
__ADS_1
Diana segera melangkah mendekati Ivan, dan mengambil paket itu. Diana membaca jeli pengirim paket tersebut.
“Dari desa. Apa itu dari nenekmu?” tanya Ivan.
Mengingat neneknya seketika senyuman kecil menghiasi wajah Diana, membuat Ivan terpana melihat keindahan senyuman itu. Diana menoleh kearah Ivan, hingga pandangan mereka beradu tatap. Diana hanya menganggukkan kepalanya.
Anggukkan kepala Diana menyadarkan Ivan, dia berusaha memasang wajah dingin lagi, sedang Diana membuka paket yang diterima, dia mengambil salah satu dari bermacam isi paket yang dikirim neneknya. Diana berjalan kearah dapur membawa isi paket yang yang dia ambil. Beberapa saat kemudian Diana berjalan kearah Ivan dengan membawa dua cangkir minuman. Diana memberikan satu cangkir minuman yang dia bawa pada Ivan.
Ivan menerima cangkir yang Diana sodorkan padanya. Ivan menghirup aroma dari minuman yang Diana buat untuknya. Ada aroma khas dari ramuan-ramuan traditional. “Teh Herbal?” pandangan mata Ivan kembali tertuju pada Diana.
Diana duduk di sofa yang tidak jauh dari Ivan, dia perlahan menyesap isi cangkirnya. Sesaat Diana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ivan. Diana menaruh cangkirnya diatas meja, kemudian mengambil handphone yang dia simpan di saku celananya. Dia mulai mengetik ….
^^^Iya, ini teh Hebal, dan sangat bagus untuk Kesehatan.^^^
“Apakah ini nenekmu yang meraciknya?”
Diana ingin mengatakan kalau itu racikannya, tapi dia yakin Ivan tidak akan percaya khasiat teh herbal tersebut jika dia katakan itu hasil racikannya, dengan santai Diana menganggukkan kepalanya, meng-iya ‘kan kalau teh itu di racik oleh neneknya. Ivan pasti percaya akan khasiat ramuan herbal itu, kalau dikatakan neneknya yang meraciknya.
***
Malam berlalu begitu saja, kini matahari pagi mulai menyapa bagian bumi itu. Ivan dan Diana sibuk bersiap di kamar mereka masing-masing. Ivan keluar lebih dulu dari kamar, dia berjalan kearah pintu, saat membukanya dengan senyuman kecil di wajahnya, dia menerima pesanannya untuk sarapan bersama Diana. Ivan segera menyiapkan semuanya. Saat semua telah tersaji di meja makan, Diana juga terlihat keluar dari kamarnya.
“Sarapan dulu,” ajak Ivan. Tapi, Ivan sudah menikmati sarapannya lebih dulu.
Dengan santai Diana mendekat dan meraih mangkoknya, dia pun mulai menikmati sarapan paginya. Keduanya hanya fokus dengan sarapan mereka, hanya ada suara sendok yang bergesekkan dengan permukaan mangkok. Sarapan mereka pun habis. Sesaat pandangan mata Ivan tertuju pada tangan Diana, tanpa berkata apapun, dia berjalan menuju lemari tempat dia menyimpan kotak P3K miliknya. Ivan kembali dengan kotak P3K di tangannya.
“Saatnya ganti perbanmu,” ucap Ivan,.
Diana pun hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Dengan tenang dan sangat hati-hati, Ivan mengganti perban Diana. Setelah semuanya selesai. Ivan langsung menjauh dari Diana. Walau hatinya ingin berlama-lama dengan posisi sedekat itu dengan Diana, sambil mengobati telapak tangan Diana. “Jangan lupa minum obatmu tepat waktu.” Ivan berusaha menstabilkan perasaannya.
Diana hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Ivan. Tugas keduanya selesai, Ivan dan Diana keluar dari Apartemen mereka bersama-sama. Ivan dan Diana sampai di lobi, karena pagi ini Ivan dijemput oleh supir kantor.
“Selamat pagi Tuan Ivan, selamat pagi Nona Diana,” sapa Barbara halus, kala melihat Ivan dan Diana keluar dari pintu utama Gedung Apartemen.
“Selamat pagi, Barbara,” sahut Ivan.
"Agenda pagi ini, setelah mengantar Nona ke kampus, hanya ada rapat di kantor Tuan," laporan Barbara.
Ivan hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Ketiganya berjalan menuju mobil yang sedari tadi menunggu mereka.
Shutss!
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mobil kantor Ivan. Hal itu menyita perhatian Ivan, Diana, juga Barbara. Saat pintu mobil terbuka, tampaklah seorang Wanita paruh baya keluar dari mobil itu. Dengan senyuman yang terasa dibuat-buat, dia terus melangkah mendekat kearah Ivan.
“Selamat pagi Nak Ivan …, perkenalkan nama saya Aridya Helmina, saya adalah—”
“Ariddya Hemina Bramantyo, Ibu tiri Diana,” potong Ivan.
"Ternyata Diana sudah menceritakan siapa aku, aku turut bahagia." Aridya berusaha bersikap tenang, walau dia merasa serba salah karena tatapan mata Ivan yang begitu dingin.
"Sebagai keluarga Diana yang ada di kota ini--"
“Anda hanyalah ibu tiri, jadi jangan merasa Anda berkuasa atas Diana!"
Aridya merasa canggung karena ucapan Ivan. Senyuman kaku masih menghiasi wajahnya. “Iya, memang aku hanyalah ibu tiri. Tapi, kewajibanku memberi perhatian pada anak suamiku.” Aridya berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya yang buyar karena ucapan Ivan. “Oh, ya, aku ada urusan dengan kamu Diana, apa boleh dia pergi bersamaku?” Sesaat pandangan Aridya tertuju Diana.
Ivan memandang kearah Diana, dia menunggu tanggapan, apakah Diana setuju dengan permintaan dan ajakan ibu tirinya, atau tidak. Pandangan mata Ivan di balas Diana dengan tatapan yang datar. Diana memberi sedikit senyuman pada Ivan, senyuman yang Diana beri seakan menjawab segala pertanyaan yang tersimpan dalam sorot mata Ivan. Diana juga langsung masuk kedalam mobil Aridya.
__ADS_1
Aridya tersenyum melihat Diana masuk ke mobilnya. “Permisi nak Ivan, kami duluan.” Aridya sangat senang, karena anak tirinya begitu patuh, dirinya tidak perlu drama lebih extra di hadapan Ivan, dia pun segera masuk ke dalam mobilnya.