Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 256


__ADS_3

Di Pondok Arli.


Istirahat Arli dan Rativa terganggu karena deringan Handphone Arli. Arli terpaksa bangun memeriksa siapa yang meneleponnya di Handphone khususnya, melihat nama Ayahnya, Arli langsung menerima panggilan itu.


“Halo papa?”


“Arli, Perusahaan Papa dalam bahaya. Para penanam modal tiba-tiba menarik semua modal dan membatalkan investasi mereka. Apa ini berkaitan dengan perceraianmu dengan Archer?”


Sesaat Ayah Arli diam, di ujung telepon sana dia menemukan berita yang pastinya sangat berkaitan dengan kebangkrutan Perusahaannya, “Ternyata berita itu.”


Arli sangat faham apa yang Ayahnya maksud, diamnya sang Ayah sebelumnya pasti karena menemukan berita tentang pengkhiantan IMO.


“Maafku tidak akan merubah apapun, Pah. Apa yang bisa Papa bantu papa untuk saat ini."


"Apa rencanamu?'


"Saat ini juga, selamatkan apa saja yang bisa papa bawa. 1 jam dari sekarang, Papa langsung ke Bandara. Rativa akan mengurus keberangmatan kalian, dia aka membawa kalian ketempat aman.”


“Kamu sendiri bagaimana?”


“Aku akan tentukan nasibku nanti, Papa. Saat ini aku tidak bisa meninggalkan negara ini, tapi kalian bertiga bisa.”


Ayah Arli langsung menyudahi sambungan telepon mereka, dan segera mempersiapkan keberangkatanna dengan istrinya ke luar Negri. Sedang Arli langsung mendekati Rativa.


“Penerbangan malam ini biarkan saja, sekarang kamu cari tiket untuk penerbangan sore ini, terserah negara mana dulu, yang penting kamu beli 3 tiket untuk keluar dari Negara ini.”


“Kenapa 3 tiket, Tante?”


“Untukmu, Kakekmu juga Nenekmu. Bersiaplah, satu jam lagi mereka menunggumu di Bandara.”


“Tante bagaimana?”


“Jangan pikirkan aku, aku akan menentukan nasibku nanti.”


Rativa segera meninggalkan hutan, dia terpaksa meninggalkan bibinya di sana.


Di sisi lain.


Salah satu sekretaris Archer berlari ke ruangan Archer, tanpa mengetuk pintu dia langsung menerobos masuk kedalam ruangan Atasannya itu. “Tuan Muda, Istri Anda akan mengirim kedua orang tuanya ke luar Negri.”


“Mereka sudah berangkat?” tanya Archer.


“Belum, penerbangan mereka 2 jam lagi.”


“Biarkan saja mereka meninggalkan Negara ini.” Archer kembali meneruskan pekerjaannya.


“Ada lagi?” tanya Archer.


“Tidak ada Tuan.”


“Kalau tidak ada, lanjutkan pekerjaanmu.”


Sekretaris itu terpaksa pergi meninggalkan ruangan Archer, dia sangat heran karena Tuan Mudanya itu tidak mencegat kepergian kedua orang tua Arli.

__ADS_1


***


Semua pekerjaan Diana di kota selesai, Diana bersiap menuju Gedung Agung Jaya, dia ingin menyusul Ivan ke desa. Perjalanan Diana pun lancar, dia sampai di desa saat sinar matahari sudah menghilang di ufuk barat. Helikopter yang membawa Diana mendarat di area perusahaan Ivan yang ada di desa itu. Saat Diana turun dari helicopter, Ivan menyambutnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


“Bagaimana perjalananmu, permataku?”


“Semua lancar, bagaimana transaksimu yang pertama?” Diana balik bertanya.


“Yang pertama lancar, kini kami akan melakukan transaksi yang kedua, mau ikut?” tawar Ivan.


“Transaksinya di mana?”


“Di kota yang tidak jauh dari sini.”


“Kalau begitu aku ikut, aku lapar dan ingin menikmati kuliner di sini.”


Ivan mengambil ransel Diana, dan melemparnya kearah pelayan yang berdiri di dekatnya. “Taruh tas Nona di kamarku,” titahnya.


Sedang Ivan dan Diana langsung menuju mobil yang sedari tadi menunggu mereka. Di dalam mobil Diana duduk bersandar di dada Ivan.


“Mana Dillah, Anton, dan Yudha?”


“Anton kembali ke desanya, Dillah dan Yudha sudah ada di kota.”


Sepanjang perjalanan Diana tidak merubah posisinya, 1 jam berlalu akhirnya mereka sampai di sebuah kota kecil yang sangat berkembang.


“Dillah dan Yudha menunggu kita di Restoran itu.” Ivan menunjuk salah satu bangunan yang ada di depan mereka.


“Kamu masuk duluan, aku ingin membeli kembang gula sebentar.” Diana menunjuk ke salah satu stand yang menjual gula kapas.


“Tidak perlu, kamu duluan saja.” Diana mendaratkan ciumannya di pipi Ivan, dan segera berlari kearah penjual gula kapas.


Di stand penjual gula kapas antrian lumayan Panjang. Diana mengambil nomor Antrian dan ikut mengantri bersama anak-anak dan juga beberapa remaja yang tergoda dengan gula kapas yang di tawarkan.


Diana ikut tersenyum saat melihat keceriaan anak-anak yang mendapatkan gula kapas keinginan mereka. Mereka bisa memesan dengan bentuk yang mereka inginkan, sebesar apapun gula kapas yang mereka mau, sang penjual membuatkan sesuai keinginan mereka.


Gadis remaja di depan Diana memesan gula kapas dengan bentuk bunga raksasa, saat kembang gula itu selesai tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap merebut gula kapas itu.


“Hei om! Itu punyaku!” protes remaja cantik itu.


“Ini punyaku, kamu mau apa?” tantang laki-laki itu.


“Hei Nona, kenapa kamu menyerobot antrian?” sela Diana.


Laki-laki itu sangat marah karena Diana memanggilnya Nona. “Aku bukan pria terhormat yang mengecualikan tidak memukul perempuan!” ucapnya geram.


“Owh … laki-laki? Aku kira tadi perempuan.” Ledek Diana.


Laki-laki itu mengembalikan gula kapas pada penjualnya. “Pegang Itu! Jangan kau berikan pada orang lain!” ucap laki-laki itu.


“Kakak cantik, biarkan saja om itu mengambil gula kapasku.” Remaja cantik itu tidak mau Diana dapat masalah.


“Dia harus diberi pelajaran, agar bisa menghormati orang lain.”

__ADS_1


"Tapi Kak, dia orang berpengaruh di sini." Remaja cantik meminta Diana agar merelakan gula kapasnya.


"Siapa pun dia, bukan berarti kerajaan bumi ada di tangannya." Diana tersenyum dan mengedipkan matanya pada remaja itu.


Diana kembali menoleh kearah laki-laki itu, “Jika kamu bisa mengalahkanku, maka aku akan bersujud padamu dan minta maaf padamu, tapi jika aku menang, kamu pergi dari sini!” gertak Diana.


“Siapa takut, kamu ingin kita bertanding apa?” tantang laki-laki itu.


“Kakak … mana gula kapasku ….”


Rengekan seorang gadis yang baru datang menyita perhatian Diana.


“Ingin gula kapas, antri dengan benar Nona, bukan merebut punya orang!” tegur Diana.


“Sabar dek, setelah mengalahkan gadis songong ini, kakak akan mendapatkan apa yang kamu mau.” Laki-laki itu menoleh pada Diana. “Katakan, kita harus bertanding apa? Waktuku tidak banyak bosku menungguku.”


"Sebenarnya aku ingin langsung menghajarmu, sayang sekali kali ini aku sedang dalam mode manis imut, kalem, dan lucu. Kalau aku menghajarmu, tidak sesuai dengan penampilanku yang semanis gula kapas itu." Diana memperbaiki penampilannya dan berpose imut.


"Jangan banyak bicara anak kecil!"


Diana memperhatikan keadaan sekitar, hingga dia melihat sebuah mesin tinju. Seketika ide muncul di kepala Diana. “Kita bermain itu, tinjuan siapa lebih unggul, dia menang.”


Laki-laki itu menatap sinis tubuh Diana yang kecil. “Ayo, siapa takut.”


Orang-orang yang menyimak perselisihan Diana dengan preman setempat, melupakan tujuan mereka, mereka mengikuti Diana dan preman itu menuju game tinju yang tidak jauh dari mereka.


“Silakan kamu duluan,” ucap Diana.


“Yakin aku duluan?” laki-laki itu menatap Diana dengan tatapan meremehkan.


“Ladies first tidak berlaku untukmu, makanya aku menyuruhmu duluan.”


Laki-laki itu tersenyum sinis, dia mulai bersiap mengayunkan tinjunya.


Bagggggg!


Sretttttt! Teng!


Angka 6,8 tertera di layar permainan tinju itu.


“Lihat angkaku berapa itu!" Laki-laki itu semakin percaya diri, "ayo sekarang giliranmu manis,” ucapnya.


Diana mendekati mesin permainan tinju itu, dia terlihat santai.


Bagggggg!


Pukulan yang sangat kencang, membuat mesin tinju itu sedikit bergoyang.


Srettttt! Teng!


Angka 8,9 tertera di layar, seketika suara tepuk tangan bergumuruh di sana. Lawan Diana sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ada, berulang kali dia mengucek matanya memastikan kalau dia tidak salah.


“Bagaimana? Mau mengalah atau 8,9 itu mendarat di wajahmu?” Diana menatap sinis adik dan Kakak itu. "Bisa bayangkan bagaimana rasanya jika pukulanku mendarat di rahangmu?"

__ADS_1


“Kakak, mengalah saja, aku tidak bisa membayangkan wajah Kakak terkena pukulan itu,” rengek adik laki-laki itu.


Laki-laki dan adik perempuannya meninggalkan tempat itu, sedang Diana kembali mengantri gula kapas bersama warga yang lain. Mereka hanya memandang Diana dengan tatapan kekaguman, ternyata ada kekuatan besar di balik wajah cantik dan sikap lembutnya.


__ADS_2