
Hari mulai sore, Diana menghabiskan beberapa menu di Restoran itu, tapi dia belum menemukan hal yang dia cari. Diana segera pergi dari sana, dan memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit. Sesampai di sana, Diana langsung menuju kamar perawatan Lucas.
Ceklak!
Suara pintu yang terbuka membuat seorang pemuda di dalam sana tersadar akan kehadiran Diana.
“Diana.” Lucas terlihat sangat senang.
“Aku hanya membawakan buah dan makanan untukmu.” Diana meletakan barang yang dia bawa di lemari kecil yang ada di sana.
“Kamu ingin buah?” tawar Diana.
“Terima kasih, Diana. Tadi aku sudah menikmati cemilan soreku.”
Diana mengangguk santai, dia berjalan mendekati Lucas dan menarik kursi yang ada di dekat ranjang yang Lucas tempati. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sangat baik, kata perawat aku beruntung karena operasiku dilakukan oleh dokter hebat yang diinginkan banyak orang. Tapi sayang dia hanya mau mengambil kasus yang darurat saja.”
“Kalau semua kasus dia tangani maka semua dokter tidak punya kesempatan untuk bekerja,” sahut Diana.
“Kamu benar juga.” Lucas tersenyum kecil.
“Ibumu sudah kamu kabari?” tanya Diana.
Lucas menggelengkan kepalanya. “Ku harap Ayah atau Ibu juga Nenek belum tahu hal ini.”
“Ya … untuk saat ini mereka belum tahu,” ucap Diana.
__ADS_1
“Sebelum aku kecelakaan, kamu terus meneleponku. Ada apa, Diana?”
"Jadi, kamu ingin bilang kecelakaan itu karena aku? Kan handphonemu terus berdering karena panggilanku," ucap Diana.
"Bukan, kecelakaan itu karena kecerobohanku. Kamu terus meneleponku ada hal apa?"
“Tadinya aku ingin memarahimu, kenapa kamu begitu nakal, dan berani-beraninya mengatur kamar asramaku, melihat keadaanmu sekarang, marahku ku pending dulu.”
“Izinkan aku membantumu Diana, sudah terlalu banyak pertolongan yang kamu beri padaku dan ibuku, dan semua itu tanpa sepengatahuan kami.”
"Aku membantumu karena kamu keluargaku," ucap Diana.
"Tapi aku malah selalu berbuat baik padamu."
"Tidak ada jaminan berbuat baik pada seseorang akan mendapat balasan cinta dari yang kita tolong."
“Keadaanmu baik-baik saja, bukan?” tanya Diana.
Lucas membuang napasnya karena Diana merubah topik bahasan mereka. “Iya aku baik-baik saja, dan sampaikan rasa terima kasihku pada dokter hebat itu.”
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
Urusannya di Rumah Sakit selesai, Diana langsung pulang ke Asrama, setelah sampai Asrama, Diana langsung membersihkan diri.
Beberapa Tugas kuliah Diana kerjakan, fokusnya mengerjakan semua tugas, membuat Diana tidak menyadari kalau sore sudah berganti malam.
Drtttttt ….
__ADS_1
Drtttttt ….
Suara getaran handphone menyita perhatian Diana, dia langsung mencari benda itu dan menerima panggilan di sana.
“Iya Tony?”
“Diana, bisakah kamu malam ini makan malam dengan kami?”
“Kami?” Diana bingung dengan kata-kata kami.
“Siapa saja nanti yang aku maksud kami, kamu akan melihatnya saat sampai di Restoran. Kami menunggu kamu, aku akan kirimkan alamat Restorannya. Sampai jumpa."
Mata Diana memandangi layar handphonenya, dia terus memandangi nama Restoran yang Tony kirim padanya. Diana segera membereskan semua tugasnya dan bersiap menuju Restoran tempat pertemuan. Diana menumpangi taksi online yang akan mengantarkannya ke tujuan. Sesampai di sana, Diana memperlihatkan kode VIP ruangan yang ingin dia tuju. Pelayan segera mengantar Diana menuju ruangan VIP tujuan Diana.
Sesampai di sana, Diana sangat terkejut melihat Tuan Muda Archer, Tonny, dan juga Sekretarisnya.
“Hadhif?” Diana fokus pada sekretaris Tony. “kenapa kalian di sini?”
“Ada masalah darurat, Ketua,” sela Hadhif.
“Masalah darurat?” Diana meraih salah satu kursi dan menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
“Informasi tentang IMO terus bocor, ketua.” Adu Hadhif.
“Efek bocornya informasi kita, saat ini perusahaan ED Farmasi mengincar obat T779.” tambah Tony.
Diana membisu, dia mulai sadar ada pengkhianat dalam organisasinya, karena bocornya informasi IMO, Diana mulai ada mengaitkan tragedy kecelakaan Lucas, dan semakin menguatkan dugaannya kalau itu memang suatu peringatan untuknya.
__ADS_1
“Bangsattt! Ada pengkhianat di organisasi kita!” wajah Tonny terlihat begitu kesal.