
Jerman.
Diana mengajak Dillah jalan-jalan keliling komplek di wilayah lainnya.
"Di sini ku lihat banyak tumbuhan obat." Dilah memandangi taman yang ada di bagian belakang Konsorsium.
"Iya, sebagian di pakai untuk penelitian, kemudian akan di kembangkan di wilayan lain untuk kebutuhan produksi obat skala besar," terang Diana.
“Kalian sedang apa?” tanya Jennifer.
"Jalan-jalan," sahut Dillah.
"Terus, sekarang mau ke mana?" tanya Jennifer.
“Mau ke Lab komputer, aku ingin melakukan tugasku di sana,” jawab Diana.
“Aku ikut ….”
“Ayo, kita ke sana," ajak Diana.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju salah satu ruangan khusus. Ruangan khusus itu hanya bisa terbuka dengan kode rahasia, saat pintu besi itu terbuka, Dillah pangling melihat keadaan di sana, segala perangkat canggih versi terbaru sangat banyak di sana.
Diana dan Jenni langsung duduk di depan komputer, jemari mereka menari begitu lincah diatas keayboard. Keduanya terlihat sangat asyik dengan kumputer mereka, sedang Dillah mulai merasa bosan hanya melihat dan berdiam diri. Dillah memilih bersantai di sofa yang ada di ruangan itu menunggu kedua gadis itu selesai, lama menunggu, di luar kemampuannya, Dillah tertidur di sofa itu.
**
Indera penciuman Dillah menangkap aroma yang sangat menggoda, perlahan dia membuka matanya, saat kedua matanya terbuka sempurna di depannya sangat banyak menu makan siang.
__ADS_1
Memangnya aku tertidur berapa jam? Kenapa makanan sebanyak ini sudah ada di sini?
Dillah langsung melirik jam tangannya. “Apa?! Sudah siang?”
“Iya, sudah siang, lebih baik kamu ambil makanan yang kamu suka,” sela Jennifer.
“Maafkan aku, ternyata aku tidur sangat lama,” sesal Dillah.
"Harusnya aku yang minta maaf padamu, karena aku yang membuatmu tidak bisa tidur nyenyak selama 2 malam.” Diana beranjak dari posisinya, dia mengambil satu piring kosong dan mengisinya dengan beberapa menu makan siang. Dengan santainya dia duduk di salah satu sofa yang dekat dengan Jenni.
“Itu sudah tugasku, Nona,” sahut Dillah.
Dillah memandangi layar komputer yang masih menyala. "Kenapa masih dibiarkan menyala?"
"Pekerjaan kami belum selesai," sahut Jennifer.
“Ini kami rehat, karena lapar,” sahut Jenni.
“Wow, apa yang kalian kerjakan hingga betah mojok sama komputer selama itu?” Dillah terlihat sangat penasaran.
“Kepo memperpendek umurmu kata-kata di sebuah novel. Daripada umurmu pendek karena kepo, kalau kamu penasaran, lebih baik kamu lihat saja sendiri,” ucap Diana.
Dillah tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia langsung berjalan mendekati kumputer yang sebelumnya di gunakan Diana. Dia sama sekali tidak mengerti tulisan yang ada di layar kumputer itu. Jangankan memahami, melihatnya saja membuat kepalanya pusing.
Dillah berpindah menengok kumputer yang sebelumnya digunakan Jennifer. Dillah memahami jejak yang ada, Jenifer sebelumnya berusaha mencaritahu tentang seseorang. 'No Name' Dillah membaca jejak yang ada. “Hampir setengah hari ini, Anda berusaha melacak seseorang dengan julukan No Name, apa Anda menemukannya?” tanya Dillah.
Jennifer menggelengkan kepalanya. “Aku sudah lama berusaha mencari tahu tentang Hacker handal yang di juluki No Name itu.”
__ADS_1
“No Name, itu artinya tanpa nama. Nah nama saja dia tidak ada, bagaimana Anda melacaknya?” tanya Dillah.
“Kalau kita berusaha keras, Tuhan akan membantu kerja kerasku,” ucap Jennifer.
"Berhasil?" tanya Dillah.
Jennifer menggelengkan kepalanya. "Belum, tapi aku tetap berusaha."
Jennifer melirik kearah Diana. “Kamu kan banyak kenalan hacker handal, bisa bantu aku mencari No Name?”
“Untuk apa kamu bersikeras mencari NO NAME, benar kata Dillah, nama saja dia tidak punya, bagaimana melacaknya?"
"Aku yakin, pasti bisa melacak No Name, kalau aku menemukan orang yang hebat," ucao Jennifer.
"Kamu hanya tahu julukan dia. NO NAME.” Diana berusaha membuat Jennifer untuk berhenti mencari No name.
“Kita pasti bisa menemukannya, Diana. Karena dia punya ciri khas. Dia selalu menggunakan sebuah symbol, yaitu topeng badut dengan expresi menangis dan tertawa,” ucap Jenifer.
“Itu saja tidak cukup, kenapa Anda sangat bersemangat mencari Hacker yang dijuluki No Name itu?” tanya Dillah.
“Aku berhutang banyak hal padanya, bahkan aku berhutang nyawa. Sewaktu aku kecil, aku selalu disiksa ibu tiriku, untuk mengisi perut saja aku melakukan aksi di pinggir jalan dengan mempertontonkan bela diriku, itu demi mencari uang untuk makan. Hidupku sangat menderita, bela diri yang aku miliki tidak cukup untuk melindungiku dari pengawal ibu tiriku, mereka sangat hebat. Hingga suatu hari aku terlepas dari cengkraman ibu tiriku. Lepas dari cengkraman ibu tiriku, ternyata itu masih belum menjamin aku bebas darinya. No Name mengantarkanku ke sebuah Lembaga perlindungan anak, dan merahasiakan identitasku,” jelas Jenifer.
Jennifer terbayang masa kecilnya yang sangat menyedihkan. "Aku bisa ada di sini, dan menikmati hidup dengan nyaman, ini karena No name."
Dillah memahami kenapa Jennifer sangat berambisi untuk menemukan No name. “Anda 'kan sudah lepas dari cengkraman ibu tiri Anda, kenapa identitas masih di sembunyikan?” tanya Dillah.
“Ibu tiriku masih berambisi untuk membunuhku, sebab itu identitasku di rahasiakan. Hingga aku bisa bebas tanpa dikenali siapa aku, bermula dari jalanan aku bertemu Diana, tanpa kuduga, di sana juga aku juga bertemu dia, bahkan kami menjadi dekat dengan. Aku merasakan hidup indah, nyaman dan damai ini berkat seorang hacker yang ku kenal dengan sebutan No Name itu,” ucap Jenifer.
__ADS_1