Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 225


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu kembali terdengar, Dillah langsung membukakan pintu itu. Saat pintu terbuka, Dillah melihat sosok pegawai SW Group yang gay.


"Kenapa kembali?" tanya Dillah.


"Aku ingin berbincang sebentar dengan Nona Diana, boleh?" ucapnya.


"Masuk saja," sahut Diana dari dalam.


Laki-laki itu langsung menerobos masuk kedalam ruang rapat. "Nona ... bagaimana aku bicaranya ya?" Laki-laki itu terlihat salah tingkah.


"Katakan saja langsung," ucap Diana.


"Bolehkah aku meminta cairan ajaib yang Nona racik sendiri?"


Diana tertawa mendengar permintaan pegawai SW Group itu. "Kamu tidak takut? Ini kan tidak ada sertifikat keamanannya."


"Mengetahui siapa Anda, apa saja yang Anda pakai, aku ingin memakainya."


Diana tersenyum dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Aku hanya memberimu kali ini saja." Diana memberikan satu botol utuh cairan putih susu yang biasa dia gunakan untuk merawat kulitnya.


"Terima kasih Nona, semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda." Dia mengambil botol itu dari Diana, dan segera pergi meninggalkan ruang rapat.


Sedang Ivan tidak menyimak obrolan Diana dan pegawai SW Group, mata Ivan memandangi layar komputernya, tapi pikirannya terbang entah kemana.


Walau pengakuan Yama hanya menghormati Diana, karena Diana menolong ibunya, hati Ivan ragu, dia sangat takut Yama berusaha menarik perhatian Diana. Ivan merasa ragu untuk meneruskan proyek mereka. Ingin sekali Ivan keluar dari proyek yang ada SW Group di dalamnya, dia takut kerjasama dengan SW Group, membuat Diana dan Yama menjadi sering bertemu.


Ivan ingin memberi jarak antara Diana dan Yama, seperti dia memberi jarak antara Diana dan Freedy. Walau Freedy tetap melindungi Diana dari kejauhan, tapi batin Ivan tidak perlu menjerit seperti saat ini, karena dia cemburu pada Yama.


Namun kalau memutuskan untuk mundur hanya memperburuk citra perusahaannya, beberapa bulan lalu terus menghubungi SW Group, saat mereka menerima dirinya malah ingin mundur.


Kamu jangan merendahkan Diana dengan tidak percaya padanya Van, bukan salah Diana jika banyak orang hebat yang jatuh cinta padanya. Saat ini Diana istrimu, tidak ada seorang pun yang bisa menjauhkan Diana dari dirimu, Diana adalah napasmu, dan kamu adalah detak jantung Diana.


Nasihat yang muncul dari dalam diri Ivan, seakan memberinya kekuatan baru. Ivan menyudahi lamunannya, dia menatap kearah Diana dan Yama yang sangat asyik berbicara.


Ivan mendekati Diana, dan duduk di samping wanita itu sambil melingkarkan tangannya di pinggang Diana, seakan mengatakan pada Yama, kalau dirinya pemilik permata terindah itu. "Jadi ... Yama memproduksi organ buatan karena bermula dari kasus ibunya?" ucap Ivan lembut.

__ADS_1


"Saat ibuku membutuhkan beberapa organ buatan, aku sangat kesusahan mencarinya, sejak itu aku tidak ingin orang lain berada dalam posisi sepertiku, di mana uang yang aku punya tidak bisa menyelamatkan ibuku, hingga keajaiban datang, Diana datang dengan organ buatannya, dan berhasil menyelamatkan ibuku."


Yama melanjutkan ceritanya. "Melihat bagaimana kemampuan Diana, aku ingin orang lain merasakan keajaiban yang aku rasa, aku mengajaknya bekerjasama untuk memproduksi organ buatan, dan usaha kami maju. Di sini aku kembali terpukau dengan budi luhur seorang Diana, di mana dia tidak pernah mengambil keuntungannya, dia malah memberikan keuntungannya untuk siapa saja yang butuh organ, tapi tidak ada dana, maka kami harus memberikannya gratis, biaya penggantinya dari keuntungan yang seharusnya menjadi hak dokter Diana."


"Aku adalah laki-laki yang sangat beruntung, selain kamu cantik dan cerdas, hatimu sangat mulia." Ivan tidak bisa lagi menahan diri, dengan nyamannya dia mencium pipi Diana di depan semua orang."


"Yama berlebihan, yang berbuat baik di muka bumi ini bukan aku saja."


"Dari dulu aku selalu penasaran, bagaimana masa depan dokter Diana, laki-laki seperti apa yang beruntung yang bisa memegang tangannya, ternyata laki-laki beruntung itu Anda. Tuhan tidak pernah tidur, sepertinya Tuhan menyatukan kalian karena perbuatan baik Agung Jaya 15 tahun yang lalu."


Perbincangan hangat itu terus berlangsung lama. Hari semakin sore, Yama pun izin pamit pada semua orang, dan menyerahkan semua keputusan pada Agung Jaya.


Setelah meninggalkan ruang rapat, Diana dan Ivan kembali ke ruang kerja Ivan. Ivan masih sangat tertarik dengan perusahaan Yama yang memproduksi organ buatan. Hingga setelah sampai di ruangannya, Ivan membuka komputer dan melihat informasi perusahaan itu, namun yang Ivan dapatkan hanya serangkaian kode.


Diana bingung melihat Ivan begitu sibuk dengan komputernya. "Kamu sedang apa, Van?"


"Bisa jelaskan padaku kode-kode ini?" tanya Ivan.


Diana segera mendekati Ivan, dan melihat layar komputer Ivan. "Owh ini kode untuk organ-organ yang di produksi. Perusahaan tidak menulis detil, karena yang membutuhkan ini hanya dunia kedokteran, maka mereka memberi kode pada setiap produk." Diana menyebutkan kode-kode itu dan menerangkan apa saja itu digunakan untuk apa.


"Boleh aku berinvestasi di perusahaan ini?" tanya Ivan.


Ivan menarik wajahnya, hingga panguyan mereka terlepas. "Jangan memancingku sayang." Suara Ivan bergetar.


"Siapa yang memancing, kalau kamu mau lakukan saja." Diana membuka kancing hem yang dia kenakan, hingga menampakan pemandangan yang sangat indah.


Melihat hal itu Ivan tidak bisa menahan diri, dia mengangkat Diana dan menempatkannya diatas meja kerjanya. Tanpa buang waktu lagi Ivan menenggelamkan wajahnya di dada indah Diana.


Ceklak!


Mendengar pintu terbuka Ivan menegakan wajahnya, dia sangat kesal melihat Yudha mematung melihat pemandangan di depan matanya.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian sibuk, silakan lanjutkan." Yudha kembali menutup pintu ruang kerja Ivan.


"Argggggttt!" Ivan sangat geram.


Diana menyentuh wajah Ivan dengan lembut. "Hei, bukan salah Yudha, tapi salah kita karena melakukannya di tempat yang salah. Ini tempat kerjamu untuk perusahaanmu, bukan tempat kerja kita berdua."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita lakukan di tempat yang benar." Ivan langsung menggendong Diana ala bridal style, dan membawanya ke ruangan khusus miliknya.


***


Di luar ruangan.


Langkah Yudha terlihat gontai, melihat hal itu Dillah sangat bersemangat menggodanya.


"Ada apa Tuan? Jangan bilang Anda cemburu saat melihatku di peluk Farhan," goda Dillah.


"Diam kau!" bentak Yudha.


Dillah tertawa puas. "Memangnya ada apa?"


"Aku merasa lemas, saat melihat live seorang bayi besar sedang menempel pada sumbernya." Yudha mengisyaratkan gerak dengan tangannya.


"Anda baru dari ruangan Tuan Ivan?" tebak Dillah.


"Hu'um, saat pintu terbuka mataku yang suci jadi ternoda."


"Anda beruntung, karena Anda hanya melihat tanpa tahu rasanya, hanya ada rasa penasaran yang menyelimuti jiwa Anda, Penasaran bukan?" goda Dillah.


Yudha ingin mengelak, namun benar adanya ada rasa penasaran, ingin tahu rasa itu, kenapa Ivan sangat menikmatinya.


"Andai aku melihat itu, tidak hanya rasa penasaran, tapi keinginan, karena aku tahu rasanya, sebab aku pernah melalakukannya." Dillah memandang kosong kedepan.


"Tapi saat ini aku tidak bisa melakukannya, ini seperti sebuah penyiksaan, aku ingin tapi dengan siapa?" keluh Dillah.


"Jangan katakan kamu ingin melakukannya denganku, ih .... geli!" Sekujur tubuh Yudha menggidik.


"Itu ide yang bagus, bagaimana kalau kita coba?" goda Dillah.


Yudha memukul dinding di sebelahnya. "Amit! Amit!" Dia segera pergi dari sana.


Melihat kekesalan Yudha, Dillah tertawa puas. Saat yang sama Barbara baru keluar dari lift, dia heran meluhat Dillah tertawa terbahak-bahak.


"Kamu masih normal Dillah?" tanya Barbara.

__ADS_1


"Masih normal, eh aku punya pesan untukmu, jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan Tuan, gunakan otakmu untuk menghalangi orang yang ingin masuk ya." Tanpa menunggu jawaban Barbara, Dillah melenggang menuju ruangannya.


__ADS_2