Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 277


__ADS_3

Diana turun dari pohon membawa banyak bunga, dia tidak mempedulikan tatapan Ivan, Dillah, Yudha, dan Tony yang terus tertuju padanya


Diana berjalan ke sisi kebun yang lain, dia mengambil beberapa daun dan segera membawanya ke dalam rumah. Diana meracik bahan-bahan itu kedalam satu wadah, dan menyiramnya dengan air mendidih.


Aroma herbal yang sangat menenangkan tercium, Ivan, Yudha, Dillah, dan Tony segera mendekati Diana untuk mencari tahu hal itu.


“Apa itu, Diana?” tanya Tony.


“Ramuan Herbal untuk Ivan, Dillah, dan Yudha. Malam ini mereka dapat undangan minum dengan Profesor,” sahut Diana.


“Aku menyebut itu anti mabuk, oh kenapa aku lupa dengan aromanya,” ucap Tony.


Diana menuangkan minuman yang dia racik ke dalam gelas, dan memberikan gelas-gelas itu pada Tony, Ivan, Yudha, dan Dillah.


“Herbal ini memberi kekebalan pada kalian, walau kalian, walau kalian minum minuman beralkohol dalam jumlah banyak, kalian tidak mabuk.”


Mereka berempat segera meminum minuman herbal itu, rasanya juga enak, membuat mereka sangat mudah menghabiskannya.


Ivan teringat akan hadiahnya untuk guru Diana. “Dillah, barang yang aku pesan kamu bawa?”


“Ada Tuan, dalam kamar saya.”


“Saat kita mengunjungi rumah Profesor Hadju, bawa semuanya.”


“Baik Tuan.”


**


Langit semakin gelap, Ivan, Yudha, dan Dillah tengah bersiap menuju kediaman Profesor Hadju.


“Yakin tidak mau aku temani?” tawar Diana.


“Biarkan para laki-laki ini menjalankan tugas mereka, Profesor Hadju memanggilku hanya memastikan, apakah aku laki-laki yang tepat buatmu atau tidak. Biarkan beliau melihat siapa aku dari mata beliau sendiri, bukan dari pandangan orang lain.”


Diana tersenyum melepas kepergian Ivan dan kedua temannya.


“Aku sangat suka sopan santun laki-laki itu, Nyonya tidak salah pilih pemuda untuk menjadi pendampingmu,” ucap bibi Makhaya.


“Temanku yang satunya mana bi?” Diana mencari keberadaan Tony.

__ADS_1


“Kalau aku tidak salah dengar, tadi Kepala Suku mengajaknya keluar.”


“Semua pengawal Ivan?” Diana melihat keadaan terasa sepi.


“Mereka pergi dengan kepala suku, dan Tony.”


“Ya sudah, ayo bi kita makan malam berdua.”


*


Yudha, Ivan, dan Yudha sampai di kediaman Profesor Hadju. Di sana mereka di jamu oleh pelayan-pelayan Profesor Hadju. Tidak ada pembicaraan serius, hanya pertanyaan kecil dari Profesor Hadju tentang perjalanan mereka menuju desa.


Makan malam selesai, kini tinggal mereka berempat. Pandangan Profesor Hadju tertuju pada box yang ada di dekat Ivan.


“Kamu membawa bom kemari?” tanya Profesor Hadju pada Ivan.


“Ini ….” Ivan terlihat salah tingkah saat Profesor Hadju menyadari barang bawaannya. “Ini hanya hadiah kecil saya untuk Anda.”


“Untukku?”


Ivan membuka kotak pertama, isinya beberapa botol anggur


"Cheval Blanc 1947, selain terkenal deng kwalitas Wine yang sempurna, botol elegan ini membuatku tertarik." Ivan memberikan botol anggur yang baru dia keluarkan pada box, dan memberikannya pada Profesor Hadju.


Profesor Hadju mengamati botol yang dia pegang. "Penfolds Grange Hermitage 1951. Wine yang satu ini berasal dari Australia dan menjadi salah satu anggur merah termahal didunia. Hermitage ini dipercaya memiliki rasa yang sangat luar biasa, karena sudah disimpan sejak tahun 1951 di Australia."


Profesor Hadju berpindah ke botol yang lain. ". Screaming Eagle Cabernet 1992


Wine yang memiliki rasa spesial dan berbeda dari anggur merah pada umumnya. Harga yang fantastis ini membuatnya menjadi masuk urutan Wine termahal di dunia, dan Screaming Eagle Cabernet memang memiliki kualitas anggur terbaik yang pernah ditemukan."


Profesor Hadju mengambil botol terakhir. "Shipwrecked Heidsieck 1907. Wine yang memiliki umur sekitar 300 tahun ini memang memiliki harga yang sangat fantastis. Wine yang satu ini memiliki kualitas terbaik dan dipercaya memiliki rasa yang manis."


Profesor Hadju menatap tajam pada Ivan. "Kenapa membawakanku minuman-minuman mahal ini? Kau ingin pamer padaku kalau kamu mampu melakukan apa saja?"


"Tidak ada maksud seperti itu Prof, aku mendengar dari Anton, kalau Anda sangat suka minum anggur, sebab itu aku berusaha mencari Anggur untuk bawa sebagai hadiah buat Anda. Aku hanya ingin membawakan apa yang Anda suka."


"Sayangnya kamu telah membawakan hal yang tidak aku suka ke depan mataku!" ucap Profesor Hadju tegas.


"Maafkan aku Prof," sesal Ivan.

__ADS_1


"Bukan hal ini yang tidak aku suka." Profesor Hadju menepis semua anggur yang berbaris di meja, sehingga botol Anggur itu jatuh dan pecah. "Tapi dirimu."


Mendengar perkataan Profesor Hadju, Ivan tetap menunduk sopan, sedang Yudha dan Dillah sangat kesal, keduanya memperlihatkan raut kemarahan mereka.


"Kamu tidak pantas untuk Diana!" ucap Profesor Hadju.


Yudha menggebrak meja dan langsung berdiri. "Anda tidak tahu siapa Ivan?!" sela Yudha.


"Yudha! Jaga bicaramu! dan hormati beliau!" tegur Ivan.


"Tapi--"


"Dari didikan beliau, terlahir para manusia-manusia hebat, selain beliau seorang guru besar, beliau orang yang sangat dicintai Diana. Tolong besikap sopan pada orang-orang penting dalam hidup Diana," pinta Ivan.


Yudha diam dan duduk kembali. Ivan menoleh pada Profesor Hadju.


"Maafkan sikap temanku, Prof."


Berulang kali Ivan menarik napasnya begitu dalam. "Membicarakan siapa yang pantas atau tidak untuk Diana, ku rasa satu pun laki-laki di dunia ini tidak ada yang pantas, Anda masih ingat pembicaraan ketika di panggung?"


"Murid terbaik Anda di sini pun, menurutku tidak ada yang pantas untuk Diana. Aku hanya beruntung karena mendapatkan cinta darinya."


Ivan meraih hadiahnya yang lain, dia memberikannya pada Profesor Hadju. "Semua hadiahku, tidak ada yang pantas untuk Anda, tapi aku memberikannya pada Anda dengan rasa cinta. Anda mau terima aku sangat tersanjung, Anda buang juga itu hak Anda."


Melihat bagaimana Ivan berani menegur sahabatnya, dia tersenyum. Dia mulai memahami kenapa Zelin memilih Ivan.


"Kau benar, tidak ada yang pantas untuk Diana, kau beruntung karena dia mau memilihmu. Karena dia juga sangat percaya padaku, tidak ada alasan bagiku untuk tidak memberi restu pada kalian."


Ivan bisa bernapas lega, saat ini pandangan Profesor Hadju sangat bersahabat. Profesor Hadju memanggil pelayan untuk menyediakan anggur. Beberapa pelayan pun datang.


"Ini bukan Anggur mahal, ini hanya anggur yang dibuat secara traditional di sini." Profesor Hadju memberikan mereka minuman.


Ivan menyesap sedikit anggur itu. "Sangat nikmat, aku baru menemukan rasa ini."


Profesor Hadju tersenyum dan menambah isi gelas anggur Ivan.


"Maafkan sikap menyebalkanku, aku hanya mengetes mentalmu," ucap Profesor.


"Tidak masalah Prof, aku memahami itu, Andai aku berada di posisi Profesor, mungkin aku akan melakukan hal lebih, sangat sulit mempercayakan permata terindah seperti Diana untuk dimiliki seseorang.

__ADS_1


Ivan kembali fokus pada anggur yang dia minum. "Bukan hanya Diana yang memikat hatiku, namun kejeniusan kalian yang ada di desa ini sangat luar biasa," puji Ivan.


Malam itu empat lelaki tersebut membicarakan banyak hal sambil minum anggur.


__ADS_2