
Fredy bisa melihat bagaimana kecemasan Aridya karena kasus ini. “Tenang saja Nyonya, kalau masih ada masalah yang menimpa Diana setelah ini, aku sendiri yang akan menanganinya.”
“Saya sangat senang melihat Anda peduli pada Diana, yah walau sebenarnya dibalik ini semua Anda hanya peduli pada diri Anda sendiri, dan ini lebih baik, daripada Anda mengganggu Diana."
Setelah mengutarakan semuanya, Aridya segera pulang, pikirannya masih berputar tentang Diana, kenapa Rektor begitu memperhatikan Diana.
Hari berlalu begitu saja, tidak terasa malam menyapa. Di sebuah Club malam keadaan terlihat begitu ramai, di tengah hiruk pikuk dentuman musik DJ, di salah satu meja VIP, terlihat sosok Qiara bersenang-senang di sana.
Qiara pesta sendirian, merayakan rencananya yang sukses dan mulus untuk menjebak Diana. Korban tabrak lari meninggal, yang menabrak meninggal, dan yang membunuh tersangka sebenarnya sudah dilarikan ke luar Negri
“Wow!” Qiara terlihat begitu bahagia, karena mustahil bagi Diana untuk lepas dari jerat hukum nanti. Sambil menggoyangkan kepalanya mengikuti dentuman musik, Qiara kembali meraih gelas minumannya.
Tiba-tiba kesenangannya terusik karena ada seseorang yang merebut gelasnya, kala Qiara menatap jelas sosok yang merebut gelasnya, Qiara terkejut. “Mama?!”
“Kenapa mama ke sini?”
Wilda sangat geram, dia langsung memperlihatkan isi email yang membuktikan kalau Qiara terlibat dalam kasus tabrak lari. “Sebelum pengacara itu mengendus keterlibatan kalian, lebih baik kita bereskan sisanya!”
Qiara sangat ketakutan melihat bukti kejahatannya. Dia tidak tahu harus berkomentar apa.
“Selain mereka yang sudah kita bayar, apa ada lagi yang terlibat untuk melakukan aksi ini?"
"Tidak ada lagi mama, semua rencana sudah berjalan mulus."
"Ingat baik-baik Qiara! Biar mama turun langsung untuk membereskan sisanya.”
"Setahuku tidak ada mama, kami hanya membayar kakak beradik itu, terus pembunuh itu urusan mama, bukan?"
"Iya, pembunuh tersangka utama memang bagianku, tapi hal itu sudah aman. Tapi ini!? Kenapa bukti kejahatanmu meninggalkan jejak?!"
"Kamu kenal baik dengan adik kakak yang kamu bayar untuk menabrak itu?"
“Aku tidak tahu mama, ini urusan Veronica, dia yang menemukan dua orang yang kesusahan, yang rela melakukan apa saja demi uang. Bahkan Nazta siap andai Diana benar-benar menabraknya, semua itu Nazta terima karena ingin melunasi hutang judi kakaknya yang sangat besar pada rentenir, sampai-sampai semua keluarganya putus asa memikirkan pelunasan hutang itu, aku hanya tahu cerita ini, sisaya aku tidak tau, bahkan aku tidak pernah bertemu dengan pelaku penabrak itu, aku hanya membayarnya untuk melakukan tugas itu.”
“Bohong!” Wilda sangat tidak percaya dengan jawaban Qiara. “Kamu berani membayarnya, bagaimana mungkin kamu tidak mengetahui siapa dia?!”
Qiara menceritakan rencananya dan Veronica, dia membayar kakak-beradik untuk menjebak Diana. Malangnya kedua pelaku penjebakan meninggal di hai yang sama karena aksi mereka.
"Kalau petugas kebersihan itu mati, itu bukan salah kami, karena yang menabrak kakaknya sendiri, harusnya dia bisa mengatur strategi untuk menabrak sekedar meyakinkan keadaan saja, karena CCTV sudah di rancang sebelum itu," ucap Qiara.
__ADS_1
Wilda berusaha memahami cerita Qiara. “Terus apa tujuan Veronica mengirim ini sama mama?”
“Mana aku tau mama!”
"Tunggu mama, sepertinya ada yang janggal. Apa dengan email ini Veronica mengancam kita?"
Qiara segera mengajak ibunya pergi dari sana, saat mereka berada di tempat yang tenang, Qiara langsung menelepon Veronica.
"Iya Qiara," sapaan di ujung telepon sana.
"Ve, kamu sibuk?"
"Saat ini belum Ra."
"Bisa kita bertemu?"
"Di mana Qi?"
"Di mana mah?" tanya Qiara pada Wilda.
"Di Restoran milik Ivan." Wilda menyebut nama Restoran .dan alamat Restoran itu.
Sesampainya Veronica di sebuah tempat yang Qiara janjikan, ternyata mobil Qiara sudah terpakir di sana. "Waw cepat sekali mereka." Veronica segera bergegas turun dan melangkah cepat menuju ruangan VIP yang Qiara sewa untuk pertemuan mereka.
“Maaf tante, maaf Qi, aku baru—”
Plakkk!
Veronica belum selesai mengucapkan kata-katanya, salam 5 jari dari Qiara sudah menyambutnya.
“Aku Membantu kamu menjebak Diana, dan membantumu menjalankan semua rencana ini, karena aku ingin menyelamatkanmu, dan ingin membersihkan namamu! Tapi apa balasanmu!?” Maki Qiara.
“Qiara sudah! Pertemuan kita ini sebaiknya kita membahas rencana lanjutan saja, biar semua tuntutan pada Diana terbukti tanpa bisa disangkal lagi, dan Diana menjadi tersangka atas semua ini.” Wilda berusaha menengangkan Qiara.
"Rencana kita sudah hampir berhasil, hujatan di dunia maya tertuju pada Diana, bahkan kini orang-orang taunya Diana dan Ivan sudah tidak bertunangan lagi," sambung Wilda.
Wilda berusaha menenangkan Qiara dan Veronica yang masih terlihat disulut emosi. “Yang kalian rencanakan itu sudah berhasil, karena hal ini reputasi Veronica kembali bersih, dan tinggal langkah akhir, mendepak Diana agar benar-benar pergi jauh kehidupan kita juga dari kehidupan Ivan."
Ketiganya terdiam membayangkan rencana lanjutan supaya Diana semakin tenggelam dalam kasus ini.
__ADS_1
“Kamu ada ide Qi? Kalau ada katakan saja,” usul Wilda.
“Apakah aman berbicara di sini?” tanya Qiara.
“Mama sangat percaya keamanan di tempat ini, bahkan dengan privasi dari hotel ini sangat dijaga, apalagi Restoran ini milik keluarga kita. Jika ada sesuatu katakan saja apa idemu.”
Qiara mulai menjelaskan tentang rencananya untuk membuat Diana lebih terjebak lagi.
Veronica merasa ada yang janggal dengan kemarahan Qiara sebelumnya. “Tunggu, kalian marah karena email yang aku kirim pada kalian bukan?”
“Iya! Apa maksudmu mengirim email itu pada kami?” tanya Qiara.
“Aku tidak mengirimkan email apapun pada kalian, justru kamu yang mengirim email ini padaku!" Veronica memperlihatkan email yang dia terima. "Apa maksutmu?!”
“Aku tidak mengirim apapun padamu Ve!” jawab Qiara.
“Tenang anak-anak.” Wilda berusaha menangkan Veronica dan Qiara yang mulai tersulut emosi lagi.
“Kalian berdua sama-sama tidak mengirim email satu sama lain?” tanya Wilda pada Qiara dan Veronica.
Keduanya menganggukkan kepalanya bersamaan.
Wilda berusaha memahami keadaan ini. “Jika kalian berdua sama-sama tidak mengirim email, jadi mungkin yang mengirim email itu adalah—” Wilda sengaja menahan ucapannya, namun Qiara dan Veronica memiliki dugaan yang sama.
“Kenapa hanya diam? Rencana kalian sangat sempurna, ayo lanjutkan lagi. Kapan kalian akan melakukannya? Jangan lama-lama yaaa, jangan sampai semua rahasia ini terbongkar kalau kalian lah yang melakukan semua kejahatan ini.”
Ucapan yang terdengar tidak diketahui datang dari arah mana, hal ini membuat Wilda, Qiara dan Veronica jadi panik.
“Kapan eksekusi rencana kedua? Ide ini sangat mahal, ayo cepat realisasikan.”
Wilda, Qiara dan Veronica semakin gemetaran, sedang suara itu terus memprovokasi agar merealisisakan secepatnya rencana mereka.
**
Bersambung.
**
Kalau ada yang merasa janggal kenapa Aridya tidak tahu siapa Rektor Universitas, bagian bab sebelumnya yang itu aku revisi.
__ADS_1
Maaf ya, karena jawaban dari teka-teki pada bab lalu mulai ada titik terang di akhir-akhir. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana cerita ini kedepannya. 🙏