
Ivan tidak tahu berapa lama dia berlayar di alam mimpi, saat perlahan dia membuka matanya, dia tersenyum melihat Diana tidur dengan nyaman sambil memeluknya. Suara deringan handphone yang memecah kesunyian membuat Ivan langsung menyambar benda pipih persegi Panjang itu, Ivan tidak ingin tidur Diana terusik dengan suara nada dering handphphonenya. Ivan melihat layar Handphonenya, ternyata pemanggilnya adalah Yudha.
“Ada apa Yudh?”
“Van, beberapa jam lalu kita terlalu sibuk dengan urusan penculikan, hingga kita tidak tahu berita besar saat yang saat ini viral,” ucap Yudha.
“Berita apa?”
“Coba kamu buka media sosial, masukan kata pencarian ‘Hujan Bintang di Langit Siang.”
Ivan segera melakukan apa kata Yudha, saat dia selesai memasukan kata pencarian, sangat banyak video pendek saat ribuan drone beterbangan di langit kota mereka.
“Sudah lihat?”
Pertanyaan Yudha membuyarkan konsentrasi Ivan. “Iya aku melihatnya, itu mimpi Dianaku, Yudh! Akhirnya Diana mewujudkan salah satu mimpinya.”
Yudha menjelaskan tentang T779 yang akan di bagikan. Ivan sangat bahagia, hingga dia mendekati Diana dan terus menghujani wajah Diana dengan ciumannya. Namun Ivan teringat kejadian 15 tahun yang lalu, di mana terjadi kerusuhan dan perselisihan, saat pemerintah memaksakan kehendak untuk mewajibkan setiap anak-anak sekolah untuk divaksin.
“Apakah mereka akan memaksakan T779?”
“Pemerintah hanya menyediakan, untuk keinginan masyarakat terserah mereka, tidak ada pemaksaan sama sekali. Karena kepercayaan dan keyakinan setiap orang harus di hormati bukan? Itu Sebagian kata-kata Anton saat dia naik podium.”
“Berarti untuk T779 sudah beres?” tanya Ivan.
“Sudah, bahkan tanpa promo apapun, masyarakat antusias mengantri di klinik Kesehatan terdekat untuk mendapatkan jadwal kapan mereka bisa mendapatkan obat itu.”
“T779 terkenal khasiatnya, tentu saja masyarakat sangat antusias, aku hanya takut ada pemaksaan saja.
“Tidak ada pemaksaan Van, tenang saja.”
“Sudah selesai laporanmu?” tanya Ivan.
“Belum, masih ada 2 berita lagi.”
“Apa itu?”
“Kamu buka televisi sekarang, pinta Yudha.
Ivan meraih remot TV dan Ivan langsung di sambut dengan kabar kecelakaan seorang CEO ED Group. Dalam tayangan berita mobil Fablo hancur parah, melihat mobil seperti itu, kecil harapan mengira Fablo masih hidup. Tapi tim penyelamat tetap menjalankan tugas mereka. Hingga mereka menemukan jasad Fablo dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Keamanan pun mengumumkan kalau Fablo meninggal di tempat.
Ivan ingin mematikan televisi, namun berita tentang kecelakaan kerja di Pabrik Farmasi menyita perhatian Ivan.
__ADS_1
"Berita baru lagi Yudh!" ucap Ivan
"ED Group?"
"Kita lihat nanti, apakah ada bukti kalau pabrik itu milik ED Group, karena dari dulu ED Group tidak mengakui pabrik itu miliknya, sebab virus yang mewabah 15 tahun lalu, terbukti di produksi dari pabrik itu."
"Pabrik itu memang milik ED Group, hanya saja banyak pihak yang melindunginya, termasuk pemerintahan yang berkuasa kala itu." Yudha sangat geram jika teringat pandemi 15 tahun yang lalu. Kehidupannya tidak tenang, hanya karena kewajiban Vaksin yang dipaksakan, dia harus mengungsi jauh, agar tidak divaksin.
Di tempat yang berbeda Ivan dan Yudha terus menyimak berita itu, hingga mereka dikejutkan saat Reporter menyebutkan ada korban seorang wanita, dari indentitasnya adalah Veronica.
Yudha dan Ivan detik itu sama-sama bertepuk tangan, mereka sangat bahagia akhirnya wanita busuk itu lenyap dari dunia mereka.
"Kerja Nizam sangat bagus, dia membuat kematian Veronica sebab kecelakaan pabrik," ucap Ivan.
"Pekerjaan Narendra juga keren, dia membuat kematian Fablo seolah kecelakaan mobil."
"Ada apa? Kenapa kamu sangat bahagia?"
Ivan dan Yudha sama-sama diam saat mendengar pertanyaan itu.
Ivan langsung teringat pada Yudha. "Yudh, sudah dulu ya, Dianaku sudah bangun."
Yudha hanya mengiyakan, keduanya sama-sama mengakhiri panggilan telepon mereka.
"Akhirnyaaa, mereka yang selalu berusaha menyakitimu, telah pergi dari dunia ini." Ivan sangat semangat menceritakan kecelakaan yang dialami Fablo dan Veronica.
"Apa yang mereka tanam, itulah yang mereka tuai," sahut Diana.
Ivan kembali memeluk Diana begitu erat. "Semoga perjalanan cinta kita kedepannya mulus, tidak ada ranting atau kerikil yang mengganggu."
"Hidup ini ujian, selama kita hidup kita pasti mendapatkan ujian, tinggal kita menyikapinya, mau menghadapinya atau lari darinya."
"Iya, Iya, setidaknya mereka yang sangat jahat sudah terlempar jauh."
***
Di Rumah Sakit.
Danu memandangi jasad putrinya. Rasanya sulit mempercayai kematian Veronica sebab kecelakaan Pabrik. Namun hasil tes membuktikan kejadian itu benar adanya. Danu tidak bisa mendapat bukti kalau kematian Veronica suatu pembunuhan. Kematian Veronica murni kecelakaan lab. Dia hanya bisa diam dan memeluk Mayesta yang terus menangis melihat jasad putrinya.
"Selamat sore, bisa kami meminta keterangan dari Bapak?" Pertanyaan polisi yang datang menyadarkan Danu dari lamunannya.
__ADS_1
Dia segera mengikuti polisi itu.
"Untuk klaim Asuransi Kecelakaan kerja, kami perlu bukti, kalau putri Anda bagian Pabrik itu, selama ini pabrik itu misteri, tidak tahu milik siapa, tapi tidak bisa di sentuh karena sepertinya dilindungi oknum yang kuat."
Danu terdiam sejenak, hatinya bimbang, mengatakan kebenaran atau menyembunyikan kebenaran. Mengingat Fablo sudah mati, Danu pun mengatakan kebanarannya. "Putri saya bekerja di ED Group, dia seorang dokter. Pabrik itu milik ED Group."
Polisi terkejut mendengar perkataan Danu.
"Ini sangat serius, apakah itu benar? Selama ini ED Group tidak mengakui pabrik itu, mereka sering mengatakan itu milik Agung Jaya yang di telantarkan."
"Kalau Anda ingin bukti, silakan cek data diri putri saya, dia tedaftar sebagai pekerja di ED Group. Untuk pabrik itu, Anda hanya perlu kode, maka Anda bisa melihat perizinan dan lainnya atas nama ED group."
"Berarti ...." Polisi itu masih syok.
"Ya, ED Group pencipta Racun yang berkedok Vitamin, yang menghilangkan banyak nyawa anak bangsa yang tidak mampu membeli penawar, tapi pandemi itu berakhir saat Agung Jaya memberikan penawar secara gratis."
"Sebab itu ED Group selalu berusaha mengatakan kalau Virus itu di produksi Agung Jaya?"
"Ya, mereka rugi besar, niat mereka mendapat keuntungan dari penjualan penawar. Kenyataannya penawar yang mereka siapkan terpaksa di bagi gratis menyaingi pesona Agung Jaya."
"Ini tuduhan sangat serius, tidak bisa sembarangan bertindak hanya dengan mendengar cerita."
"Semua bukti kejahatan ED Group ada, saya akan berikan setelah selesai pemakaman putri saya."
Mendapat konfirmasi kalau Veronica pegawai ED Group, Polisi itu pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Mayesta sangat terkejut dengan keputusan suaminya. "Kenapa papa mengkhianati ED Group? Bukankah mereka yang memberikan bantuan pada kita saat Agung Jaya meninggalkan kita?"
"Bagaimana papa bisa membela seseorang yang telah jatuh? Papa menutupi atau membela, Ivan dan Diana akan berhasil menguak rahasia ini."
"Bagaimana nasib kita pa? ED Group hancur, anak kita tiada."
"Tenang mama, Papa masih punya satu senjata yang berguna keberlangsungan hidup kita berdua."
Flash Back.
Nizam dan Narendra sampai di pabrik tua ED Group, keduanya memakai pakaian tertutup dan segera menyeret kotak yang berisi Veronica memasuki pabrik itu. Sesampai di tempat yang mereka inginkan, Narendra sengaja merusak beberapa alat. Setelah semua selesai, Narendra menyuntikan sesuatu pada Veronica.
"Ayo kita pergi, sebentar lagi tempat ini akan meledak," ucap Narendra.
Keduanya segera meninggakan pabrik tua itu. Baru beberapa kilometer mobil yang Nizam kemudikan meninggalkan pabrik, tiba-tiba suara ledakan yang menggelegar mengejutkan keduanya. Nizam dan Narendra saling pandang, akhirnya mereka selesai menyingkirkan 2 hama.
__ADS_1
Flash Back Off.