Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 89 Takut


__ADS_3

“Kau bertanya bagaimana bisa hal ini terjadi?” Suara di ujung telepon sana terdengar sangat marah.


"Kamu sehat!?" makinya lagi.


"Yang tidak sehat itu kamu! Aku di sini membereskan masalah anak kita, dan kau tiba-tiba menelepon hanya untuk memaki aku!?"


Suara deruan napas yang sangat kasar terdengar di ujung sana. Wilda memahami kalau suaminya juga marah seperti dirinya saat ini.


“Wilda! Semua masalah perusahaan ini terjadi karena ulahmu!”


“Kenapa aku?!”


"Karena ulahmu pada tunangan Ivan!"


Wilda menatap tajam kearah Diana, bagaimana mungkin menjebak seorang gadis desa malah membuat perusahaannya bangkrut.


“Berhenti berulah Wilda! Berhenti mengganggu calon istri Ivan!"


Suara bentakkan di ujung Telepon menyadarkan Wilda.


"Perusahaan kita sudah lama jatuh, kita sudah lama bangkrut! Semua ini terjadi karena gaya hidupmu dan putrimu! Aku mempunyai banyak hutang karena memenuhi gaya hidup kalian berdua. Bahkan aku memberikan jaminan untuk berhutang dengan aset Agung Jaya, karena tidak ada jaminan yang aku punya untuk meminjam uang!"


"Perusahaan ini masih bisa berdiri lagi semua ini karena bantuan Ivan."


"Ingat hal ini Wilda! kita bisa bertahan selama 2 tahun ini karena belas kasihan Ivan. Jika Ivan lepas tangan maka perusahaan kita dan kehidupan kita hancur!”


Wilda tidak bisa berkata apapun lagi. Mendengar suara suaminya yang begitu terpuruk membuat Wilda merasakan bagaimana rasa sakit suaminya saat ini.


“Apalagi jika sampai Fredy ikut campur, tamatlah kita!" Suara di ujung telepon sana terdengar begitu berat.


"Perusahaan kita semakin hancur Wilda ...."


"Aku minta padamu, mulai sekarang, Berhenti membuat ulah dengan tunangan Ivan, Jika kamu tidak berhenti berulah, maka tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan perusahaan kita dan hidup kita!”


Wilda menutup panggilannya, dia sangat lemas mendengar kebangkrutan perusahaan suaminya.


Melihat ibunya begitu tertekan, Qiara berusaha menopang tubuh ibunya, wajah ibunya terlihat sangat terguncang. “Mama kenapa?”


“Kita melakukan kesalahan besar, sayang.” Wilda berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya untuk lanjut bercerita. “Rencana kita saat ini sangat berdampak pada perusahaan, kini Perusahaan kita bangkrut sayang.”


“Rencana kita pada dia?” Qiara mengisyarat pada Diana.

__ADS_1


Wilda menganggukkan kepalanya lemas. Mengetahui hal itu, Qiara tidak bisa menahan kemarahannya, dia mengambil pisau yang ada di keranjang buah dan berjalan cepat kearah Diana dan ingin menikam wanita itu.


"Dengan dia hidup, kehidupanku dan keluargaku hancur, jadi lebih baik dia mati di tanganku!"


"Qiara jangan bodoh!" teriak Veronica.


"Lebih baik kehidupanku hancur karena melenyapkan wanita itu dari muka bumi ini." Qiara mengisyarat pada Diana.


Diana tersenyum melihat Qiara berlari kearahnya dengan membawa pisau. Melihat Tindakan gegabah Qiara, Veronica langsung kabur dari sana, dia tidak ingin terlibat langsung dengan pembunuhan Diana.


Shutt!


Qiara berusaha menancapkan pisau itu ke perut Diana, tapi Diana lebih gesit darinya, Qiara kewalahan, seketika Qiara berada dalam pelukan Diana.


"Mau membunuhku?" Diana mendekatkan ujung tajam mata pisau pada mata Qiara. "Kira-kira kamu ini lebih baik hidup dengan kondisi cacat, atau langsung lenyapkan saja?"


"Mamaaa!" Qiara tidak berdaya melawan kekuatan Diana.


"Mama, mama, mama," ledek Diana.


"Diana, lepaskan anakku!" pinta Wilda.


"No!" jawab Diana lantang.


"Ku rasa sampah sepertimu lebih baik mati saja." Diana sengaja menakuti Qiara dengan mengarahkan ujung tajam pisau itu ke perut Qiara.


“Aaaaakkk!” Qiara menjerit ketakutan, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Diana, dirinya tidak bisa menahan tekanan dari Diana, dan dia tidak bisa melepaskan diri dari dekapan Diana, tinggal beberapa centi lagi pisau itu menancap di perutnya.


Melihat hal itu, Wilda tidak bisa diam saja, dia langsung menerkam Diana untuk menyelamatkan Qiara. Diana mendorong Qiara ke arah lain, dia langsung menahan serangan Wilda. Saat yang sama dua orang petugas keamanan Restoran dan pengacara Nizam masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada.


“Syukur kalian datang, wanita gila ini menyerang putriku dengan pisau,” adu Wilda.


"Itu tuduhan yang gila Nyonya," ledek Nizam.


"Lihat ada pisau di tangannya!" tunjuk Wilda pada Pisau yang ada di tangan Diana.


“Sebentar, saya akan periksa dia.” Nizam langsung memeriksa Qiara, tapi tidak ada luka sedikitpun pada Qiara. “Anak Anda tidak terluka Nyonya,” ucap Nizam.


“Mana mungkin dia tidak terluka! Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, gadis udik ini menyerang purtiku!” maki Wilda.


“Tapi dia tidak terluka.” Nizam menarik Qiara berdiri ke tengah, agar semua orang bisa memastikan kalau Qiara memang tidak terluka.

__ADS_1


“Tangkap dia,” perintah Nizam pada dua orang yang datang bersamanya agar segera menangkap Qiara.


Mereka berdua langsung mendekati Qiara. Qiara langsung berlari kearah ibunya dan bersembunyi dibelakang ibunya. “Aku tidak bersalah! Aku tidak melakukan semua itu ….” Ringisnya.


“Mama tolong aku, aku tidak bersalah mama. Aku tidak bersalah Pak ….” Qiara terus menangis dan mengatakan kalau dirinya tidak terlibat.


Wilda pasang badan melindungi putrinya. “Anakku tidak bersalah! Kami hanya difitnah gadis udik itu!”


“Anda bisa membela diri Anda setelah berada di kantor polisi nanti, Nyonya,” ucap salah satu staf.


“Tapi tuduhan si kampungan itu tidak ada bukti!” maki Wilda.


“Tersangka pembunuhan pada pelaku kasus tabrak lari sebelumnya sudah mengakui semuanya, Nyonya,” ucap salah satu staf.


^^^Bagaimana bisa mereka menemukan Javeer, sedangkan aku sudah mengirimnya pergi ke luar negri.^^^


“Itu bukti dan saksi kalau kalian terlibat, emm ... Video siaran langsung sebelumnya juga bisa kami jadikan bukti tambahan untuk di pengadilan nanti,” ucap Nizam.


Qiara semakin panik, rasanya dia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri lagi. “Mama ….” Rengek Qiara.


“Aku tidak akan melepaskanmu, Diana!” Wilda langsung menarik Qiara meninggalkan ruangan itu.


Dua staff itu ingin mengejar ibu dan anak itu, tapi Nizam menahan mereka. “Biarkan saja mereka pergi,” ucapnya.


Setelah Wilda dan Qiara meninggalkan ruangan itu, manajer Restoran datang ke ruangan dengan dua orang staf yang lain. Manager Restoran ingin berbicara pada Nizam, tapi Nizam meminta izin untuk keluar karena handphonenya berdering.


Di dalam ruangan kini hanya ada Diana, manager Restoran dan 4 orang staf. Diana mendekati manager dan memberikan uang dengan jumlah yang besar.


“Terima kasih, karena mengizinkan saya melakukan siaran langsung di sini,” ucap Diana.


“Saya memberikan izin ini karena pengacara Nizam, walau posisi saya berat di sini. Nyonya Wilda adalah tante dari pemilik tempat ini, Anda sendiri tahu, kalau tempat ini milik Ivan Hadi Jaya Dwipangga.”


“Iya, sebab itu saya memilih tempat ini, karena target akan merasa aman karena merasa memiliki tempat ini.”


Diana izin pamit pada Manager Restoran, dia teringat Veronica dan ingin memberi pelajaran untuk wanita itu.


Di sisi lain, pengguna lift umum harus sedikit bersabar, karena hanya ada satu lift yang saat ini bisa di operasikan, karena lift yang lain dalam proses perbaikan. Sedang Lift khusus hanya diperuntukan untuk pemilik tempat ini, dan pegawai yang memegang jabatan yang tinggi. Para tamu harus sedikit bersabar untuk turun mau pun naik. Ada sosok Veronica yang ikut mengantri lift bersama beberapa tamu yang lain.


Saat semua tamu memasuki lift, sudah mencapai batas maksimal, padahal tinggal Veronica saja seorang diri. Mau tak mau Veronica harus menunggu giliran berikutnya. Karena hanya tersisa satu orang, petugas keamanan yang berjaga di lift izin pergi, karena tugasnya untuk mengatur giliran tamu yang ingin memasuki lift sudah selesai.


Tink!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Veronica menghembuskan napasnnya begitu lega. Akhirnya sampai juga gilirannya. Veronica segera masuk kedalam lift, menekan lantai bawah.


Saat  pintu lift hampir tertutup, tiba-tiba ada satu tangan yang menahan pintu itu, hingga pintu lift kembali terbuka. Veronica sangat ketakutan melihat Diana berdiri di depan matanya.


__ADS_2