Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 52 Tamparan


__ADS_3

Diana dan Ivan menoleh bersama kearah suara itu berasal, terlihat seorang gadis yang membuat Ivan jengkel disaat pertama kali mereka bertemu, karena gadis itu mengira Ivan adalah Ayah Diana. Saras begitu semangat mendekati Diana.


“Hei Anda,” sapa Saras pada Ivan. “Masih ingat aku?”


“Sangat ingat,” sahut Ivan.


“Diana, dia Ayahmu yang menjemputmu waktu itu kan? Apakah kalian datang ke sini sebagai tamu juga?” tanya Saras.


Diana menggelengkan kepalanya.


Perhatian Ivan pada Diana dan temannya buyar, saat dari kejauhan dia melihat pengacara Nizam berbicara dengan beberapa pelayan dan memberikan sesuatu pada pelayan itu, bahkan pengacara Nizam mulai berbicara lagi dengan pelayan lainnya. Perasaan Ivan tidak enak, dia sejenak menoleh kearah Diana dan temannya. “Diana, lebih baik kamu ajak temanmu ke taman, biar kalian bisa bicara banyak hal di sana.”


“Usul Ayahmu benar juga,” sela Saras.


Ivan ingin menjawab dia bukan Ayah Diana, namun Wanita itu sudah menarik Diana pergi dari sana. Ivan sangat geram, tapi teringat pengacara Nizam, dia mengesampingkan masalah teman Diana, dia lebih fokus pada pengacara Nizam.


Saras berhenti menarik Diana, saat dia menemukan tempat yang dia rasa nyaman untuk berduaan dengan Diana. Diana langsung mengetik pada handphonenya.


“Kau butuh sesuatu, atau perlu bantuanku?


“Tidak, Diana. Aku tidak perlu apa-apa.”


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Akhirnya aku merasa lega, tadi aku pikir aku akan merasa sendirian di tengah keramaian ini, karena tidak seorang pun yang aku kenal, aku sengat bahagia bisa bertemu kamu di sini,” ungkap Saras.


“Mau minum?” tawar Saras.


Diana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu aku ambil untukku saja.” Saras mengambil segelas air saat seorang pelayan yang membawa bermacam minuman lewat di sampingnya.


“Tidak di kampus, tidak di pesta, si kutu buku selalu bersama,” ledek salah satu gadis muda yang juga kuliah di Universitas Bina Jaya.

__ADS_1


“Jangan-jangan, mereka membahas tugas di tengah pesta,” ledek yang lainnya. Mereka semua menertawakan Saras dan Diana.


Saras dan Diana tidak peduli, mereka hanya tersenyum kecil menanggapi hinaan para gadis muda itu.


“Kalian semua kurang kerjaan? Sana-sana … jangan mengganggu orang.” Tiba-tiba Veronica datang mengusir kumpulan gadis muda yang mengejek Diana dan Saras. Veronica tersenyum pada Diana dan Saras. “Hai Diana, hai Saras … boleh aku bergabung besama kalian?”


Diana dan Saras saling pandang sesaat, kemudian keduanya tersenyum dan mempersilakan Veronica berkumpul bersama mereka.


“Terima kasih Diana,” ucap veronica.


Veronica berusaha menjalin komunukasi dengan Saras dan Diana, berharap sikapnya kali ini bisa mendekati Diana.


“Aku sangat haus sekali,” keluh Saras, saat seorang pelayan yang membawa nampan dengan bermacam minuman lewat di dekatnya, Saras langsung menukar gelasnya yang kosong dengan gelas yang berisi minuman.


Saat Saras selesai mengambil minuman yang dia inginkan, pelayan pun langsung berjalan lagi untuk melanjutkan tugasnya, saat yang sama, Veronica sengaja mengacaukan langkah pelayan itu, hingga dia terjatuh kearah Diana. Namun Diana sangat cepat mengindar, hingga minuman yang ada di nampan yang dibawa pelayan tumpah dan mengenai orang lain.


“Qiara!” Veronica menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat Qiara basah kuyup tersiram minuman yang dibawa oleh pelayan.


Diana dan Saras langsung mendekati pelayan yang terjatuh dan membantunya berdiri, sedang Veronica mendekati Qiara. “Ya ampun Qiara ….” Keluhnya.


“Iya, Nona Qiara, maafkan dia, tadi hanya kecelakaan,” timpal Saras.


Qiara mengabaikan ucapan Saras, dia langsung mendekati pelayan itu dan mendaratkan salam 5 jari di pipi si pelayan.


Plakk!


“Hei, dia tidak sengaja, kenapa kamu menyakitinya?!” protes Saras.


Pelayan itu hanya menunduk dan memegang pipinya yang terasa panas karena salam 5 jari dari Qiara. Diana geram melihat hal itu.


“Dasar kaum rendahan, kalian berdua kompak membela pelayan rendahan seperti dia,” hina Qiara.


“Tinggi rendah manusia tidak berpatokan pada pandangan kamu Nona muda, dia memang seorang pelayan, dan kamu anak pengusaha, namun dengan segala kekayaan yang orang tuamu miliki tidak menjamin kamu lebih mulia dari pelayan itu,” tegas Saras. “Memang derajat finansialmu tinggi, tapi tidak seharusnya kamu menghina dan merendahkan orang lain."

__ADS_1


“Kau!” Qiara mendekati Saras dan ingin menamparnya.


Namun layangan telapak tangan Qiara terhenti, ada sebuah lengan yang menahannya, Mata Qiara menatap Diana dengan sorot kemarahan karena Diana menghalanginya. "Lepaskan tanganku! Kau tidak tahu siapa aku?!"


Diana melepaskan tangan Qiara, namun sorot matanya yang penuh peringatan terus tertuju untuk Saras.


"Dia memang pantas untuk ku tampar!" Qiara menunjuk kearah pelayan yang masih menunduk.


"Apa kamu tidak melihat kalau dia juga terjatuh, semua terjadi di luar kendali dia, Nona!" ucap Saras.


Qiara murka karena Saras masih membela pelayan itu, dia kembali melayangkan tangannya kearah Saras. Diana geram melihat tingkah Qiara yang sangat mudah mengangkat tangannya, dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya.


Plak!


Tamparan Qiara gagal meluncur, tapi tamparan dari Diana mendarat telak di pipinya, Qiara terisak sambil memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Diana.


"Berani-beraninya kau menamparku!" jerit Qiara.


Diana malah menantang Qiara dengan tatapan matanya.


“Kau!” Veronica syok melihat Diana menampar Qiara, dia langsung mendekati Qiara dan mengusap punggung Qiara. “Kita ke sana.” Veronica membawa Qiara menjauh dari Diana dan Saras.


Perlakuan Diana pada Qiara, membuat semua orang di tempat itu berbisik-bisik dan menghina Diana.


“Diana, sudah ….” Saras takut kejadian tempo hari saat Diana menghajar Lussy habis-habisan kembali terulang. “Biarkan mereka menghina kita sepuas hatinya, jangan kotori tanganmu dengan menyentuh mereka.”


Saras menoleh kearah pelayan yang terus menunduk. “Maafkan kami mbak, silakan Anda melajutkan tugas Anda kembali.


Pelayan itu menangis, dia terharu karena ada dua orang yang membelanya. “Terima kasih Nona-Nona.” Dia pun segera melanjutkan tugasnya.


Qiara terlihat lebih baik, dia tidak menangis lagi. Sambil menikmati minumannya dia mendengari nasehat Veronica, namun tiba-tiba dadanya terasa sesak, Qiara menaruh gelasnya di atas meja, dan di luar kemampuannya, dirinya langsung jatuh ke tanah.


“Qiara …..” pekikkan teriakkan Veronica menyita semua perhatian.

__ADS_1


Semua oang pun mendekat, mereka semua panik melihat Qiara kejang-kejang, mulut Qiara juga mengeluarkan busa.


__ADS_2