
Mereka semua masih menunggu informasi. Diana terus menikmati buburnya, sedang Dillah sangat fokus pada layar laptopnya. Kesempatan kedua yang diberikan Ivan padanya, Dillah gunakan sebaik mungkin.
Dillah sudah melupakan Qiara yang hanya menipu dan memanfaatkannya, dan Qiara juga keluarganya sudah mendapat balasan. Ayah Qiara dipenjara, Wilda bagai ditelan bumi, dan Qiara masih berada di Rumah Sakit Jiwa.
Yudha mengingat jelas kejadian nahas yang menimpanya waktu itu, beruntung nyawanya tidak melayang karena pertempuran itu, andai dirinya tewas, Ivan pastinya semakin terluka. Berulang kali Yudha menghela napasnya, kejadian itu sangat sulit dia lupakan. Melihat raut wajah Ivan saat ini, Yudha merasakan kesedihan kembali menyelimuti hati pemuda tampan itu. Kerja keras Ivan dihancurkan begitu saja oleh kelompok itu, dengan merampas obat yang Yudha bawa. Yudha berulang kali menepuk lembut punggung Ivan. “Tenang Van, kesabaranmu sebentar lagi akan berbuah manis.”
“Tapi sampai detik ini kita tidak pernah tau Identitas Ketua IMO, kita hanya tahu tingginya dan diperkirakan dia seorang wanita!” Ivan mengusap wajahnya begitu kasar.
“Kita memang tidak memiliki info pasti tentang ketua IMO, tapi kita akan segera mendapatkan info pasti tentang wakil ketua IMO.” Yudha memperlihatkan layar handphonenya yang berisi info tentang Wakil Ketua IMO.
Duggg!
Diana sangat terkejut mendengar kata-kata Yudha. Mulut Diana terbuka lebar mengetahui Yudha sudah tahu tentang Wakil Ketua IMO. Beruntung tidak ada yang menyadari expresi wajah Diana saat ini, Ivan Dillah, dan Yudha terlihat sibuk membaca tulisan yang ada di layar handphone Yudha.
Sebelum mereka menyadari keterkejutannya, Diana berusaha terlihat santai, seolah tidak faham dengan apa yang mereka bahas. Diana sengaja bermain game, bersiap memberi kabar pada Tony. Tapi dia belum tahu apa yang Ivan dan Yudha rencanakan.
“Malam ini, wakil ketua IMO akan datang ke kota ini. Saat dia menuju tujuannya, kita tangkap dia dan kita akan gunakan dia untuk mencari tahu siapa ketua IMO, dan aku sudah mempersiapkan tim untuk menangkap Wakil ketua IMO. Jangan takut Van, Tim yang aku siapkan tim yang handal.”
"Semua persiapan sudah kamu pastikan?"
"Sudah Van, aku pastikan kita bisa menangkap Wakil Ketua IMO nanti."
Diana langsung mengetik pesan tentang rencana Ivan dan Yudha, lalu dia kirim pada Tony.
*Tony, Indentitasmu bocor. Pimpinan dari utusan rombongan yang membawa obat, dan kita rampas saat diperjalanan, saat ini mereka sedang memburumu.
Tink!
Pesan balasan dari Tony masuk. Hal itu menyadarkan Ivan, dan dia menatap Diana dengan tatapan curiga. Diana menutup halaman pesannya, dia kembali ke layar game onlinenya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ivan.
Diana tersenyum masam. "Sudah kuduga," ucapnya.
Diana memperlihatkan layar handphonenya pada Ivan. Sangat jelas tayangan game online yang Diana mainkan menyapa penglihatan Ivan, Yudha, dan Dillah.
"Aku tidak mengerti pembicaraan kalian, menyimaknya membuatku pusing, jadi aku memilih bermain game, tapi sepertinya ada percikan lain." Diana menatap Ivan dengan tatapan yang begitu dingin.
"Bukan maksudku begitu Diana."
Tiba-tiba handphone Diana berdering lagi, Diana mengintip layar handphonenya, terlihat di layar, Tonny meneleponnya.
Diana berusaha terlihat tenang. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak berada di sini."
"Diana." Ivan sangat menyesal karen menatap Diana dengan tatapan kecurigaan.
Diana mematikan suara handphonenya, namun handphonenya terus bergetar, karena Tonny terus berusaha meneleponnya.
__ADS_1
Diana bangkit dari posisinya. "lebih baik aku kembali ke kamarku."
"Diam saja di sini," pinta Ivan.
"Bermain game tanpa suara hanya getar kurang seru. Mengaktifkan suaranya hanya mengganggu kalian dan membuat kalian menaruh curiga padaku, lebih baik aku bermain di kamarku, jadi tidak ada yang terganggu dengan aktivitasku, dan tidak ada tuduhan yang tertuju padaku."
"Bukan maksudku--"
"Sudah lah Van, aku lelah meladeni tuduhan, biarkan aku pergi," potong Diana.
“Jangan bermain game terlalu lama, juga jangan lupa mengerjakan semua tugas, selain itu kamu harus istirahat. Satu lagi, jangan kunci Apartemenmu, andai aku ingin menemuimu, aku tidak mengganggu istirahatmu.”
Diana mengangguk santai, dan segera meninggalkan Apartemen Yudha. Pandangan Yudha selalu tertuju pada Diana, bahkan setelah Diana menghilang dibalik pintu, tetap saja Yudha memandang kearah itu.
“Jika ingin matamu tetap ada pada tempatnya, jaga pandanganmu! Jangan memandang Diana lebih dari 30 detik!” maki Ivan.
Yudha menghempaskan napasnya begitu kasar. “Aku memandanginya bukan karena mengagumi Diana, yah … walau Diana sosok yang mengagumkan, tapi sedari tadi aku memandangi Diana, aku teringat akan ketua IMO. Bentuk tubuh bahkan tinggi badannya sama persis dengan Diana.”
"Maksud Anda, kemungkinan ketua IMO Nona Diana?" Dillah terlihat begitu syok. Apalagi mengingat Diana mampu mengalahkan 101 preman bayaran seorang diri.
“Jangan berpikir aneh-aneh kalian!” maki Ivan.
"Aku hanya terbayang Van, dari tinggi badan dan postur mereka mirip! Aku melihat langsung bagaimana Anggota IMO saat merampok kami dulu," ucap Yudha.
"Bukan aku menuduh Nona, andai itu dia, itu bukan hal mustahil. Tuan Ivan jangan menutup mata, bagaimana kecerdasan Nona Diana," Dillah mengipaskan laporan keuangan yang Diana buat.
Ivan sangat marah mendengar pendapat Dillah.
"Kalau kamu masih ingin bekerja bersamaku! Jangan berani-berani memikirkan kalau Diana dan ketua IMO orang yang sama!" maki Ivan.
Yudha menengahi Ivan dan Dillah. "Maaf Ivan, bukan menuduh, hanya saja kita bisa membayangkan kalau Ketua IMO memiliki postur yang sama dengan Diana. bukan menuduh Diana sebagai ketua IMO."
"Tapi pendapat kalian sama saja menuduh dia! Sudah terlalu banyak fitnah yang tertuju pada Diana, bahkan ada dari lingkup keluargaku sendiri!" Ivan semakin marah.
Perdebatan Ivan dan Yudha terus berlangsung, Yudha tidak menuduh jelas, hanya saja Yudha sependapat dengan Dillah, tidak menutup kemungkinan Diana dan ketua Imo seperti orang yang sama, Ivan semakin marah.
"Kalian sengaja membuat argumen seperti ini bukan?! Agar aku dan Diana berpisah? Apa Kalian tidak melihat kekecewaan Diana, saat aku menatap padanya?" Rasanya ingin sekali Ivan mencekik Dillah dan Yudha.
Ivan menatap Yudha dan Dilah dengan tatapan keputus asaan. "Kalian berdua sama saja dengan Veronica! Yang memfitnah Diana agar dia jauh dari sisiku!" Ivan berjalan cepat menuju pintu.
Brakkkk!
Ivan sengaja membanting keras pintu Apartemen Yudha.
**
Apartemen yang Diana tempati.
__ADS_1
Sesampai di kamarnya, Diana segera menghubungi Tony, Wakil Ketua IMO, via video call.
“Ketua, maafkan aku, aku tidak menyangka identitasku bocor,” wajah Tony terlihat frustasi. “Aku tidak tahu lagi, aku harus bagaimana ketua?”
“Untuk sementara kamu bersembunyi dulu di rumah nenekku. Untuk rencana membawamu ke sana, semua sudah aku atur.”
“Baik ketua.”
“Sudah dulu, keadaanku juga tidak sepenuhnya aman.” Diana segera menyudahi sambungan video call mereka,
Diana yakin Ivan akan menyusulnya, dia segera naik keatas tempat tidur. Diana sengaja bermain game dan memakai Headseat.
Ceklak!
Tiba-tiba pintu kamar Diana terbuka, Diana pura-pura tidak menyadari itu. Ivan tersenyum melihat Diana begitu fokus dengan layar handphonenya. Ivan segera mendekati Diana dan melihat apa yang gadis itu lakukan.
“Rupanya kamu sangat suka bermain game online, berapa kali kamu top up dalam seminggu?" tanya Ivan.
Diana pura-pura fokus dengan permainannya.
“Diana ….” Ivan menarik headseat yang menutupi telinga Diana.
“Aww!" Diana terlihat kesal. "Kenapa kau menggangguku? Bukankah aku berada di tempat yang tepat untuk bermain game?”
Ivan menempelkan Headseat Diana ke salah satu telinganya. "Keras sekali volomenya, pendengaranmu bisa rusak Diana!" maki Ivan.
"Tapi aku puas jika bermain seperti ini."
"Berapa volomenya?" tanya Ivan.
"90," sahut Diana.
"Usahakan hanya 50% saja!"
"Iya." Diana mengambil kembali Headseatnya yang ada di tangan Ivan.
"Mau bermain lagi?" Ivan terlihat sangat kesal.
"Ini waktuku untuk bermain," sahut Diana.
"No! Kerjakan semua tugas kuliahmu dulu! Aku tidak siap malu saat berdiri di depan nenekmu bersama dengan kegagalanmu! Apa kata nenekmu! Dia melakukan bermacam cara untuk kesuksesan cucunya. Ayo kerjakan tugas dulu."
Diana segera beranjak dari posisinya dan berjalan untuk mangambil laptopnya.
"Diana." Ivan memegang pergelangan tangan Diana.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Sebelum aku berkata, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
Tatapan mata Ivan begitu tajam, membuat Diana melangkah mundur dan merasakan firasat tidak enak.
Apakah Ivan sudah mendapatkan semua Informasi tentang IMO? Apa Ivan sudah tahu kalau aku Ketua IMO? Tamatlah Riwayatku! jerit hati Diana.