
***
Sekuat apapun, dan seliar apapun cumbuan itu, tidak ada rasa cukup atau puas, yang ada hanya lagi dan lagi. Saat ini Diana terpojok di sisi ruangan, namun Ivan seakan tidak memberinya kesempatan untuk menghirup oksigen, sekaan keduanya bertukar napas.
Ivan menyudahi kegiatan yang membuatnya gila, dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diana, berusaha menenangkan dentumam detak jantung yang tidak menentu.
"Ayo kita keluar," ajak Diana.
"Hummm," Ivan hanya bisa berdeham, dia mengikuti langkah Diana.
Diana dan Ivan keluar dari kabin yang ada di kapal Ivan, keduanya berjalan menuju kapal Kakek Hong.
Melihat Diana dan Ivan berjalan kearahnya, Dillah melambaikan tangannya. "Semua sandera sudah dilepaskan, Nona, tinggal satu itu saja!" Teriak Dillah.
Bought!
Dillah menendang ketua penyerang yang masih mereka tawan.
"Kenapa kamu sangat dendam dengan ketuanya, Dillah?" Tanya Ivan.
"Karena dia mengatai ku manusia setengah, Tuan."
Ivan ingin tertawa, namun cubitan pelan Diana pada perutnya membuat Ivan berusaha menahan tawanya.
"Aku kira kamu ingin pamer padaku, kalau tukang pijat Keayboard sudah pandai menggebuk orang," goda Ivan.
"Aku serahkan ketuanya pada kalian," ucap Diana pada Kakek Hong.
"Tenang saja, Diana. Aku akan mengantarnya ketempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya," ucap Kakek Hong.
"Aku percaya pada Kakek, terima kasih banyak atas pelayanan Kakek selama ini," ucap Diana.
"Apa kalian akan kembali ke tanah air sekarang?" sela bibi Zicca.
__ADS_1
"Tidak, hanya saja kita berpisah dulu," sahut Diana.
"Kalian keberatan jika petugas keamananku bersama kalian?" Tanya Ivan.
"Kenapa mereka harus ikut kapal Kakek Hong?" Tanya Diana.
"Aku hanya memastikan keamanan mereka, secara ketua penyerang masih kalian tawan, tidak menutup kemungkinan penyerangan susulan bisa terjadi."
Diana memahami kekhawatiran Ivan. "Kalau Kakek Hong tidak keberatan, aku setuju saja."
"Tentu saja tidak Diana, aku merasa sangat tersanjung mendapat pengawalan ketat seperti ini."
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu kek." Diana menoleh pada Dillah. "Dillah, kamu tidak ingin mengucapkan kata perpisahan untuk guru bela dirimu?"
"Bela diri?" Ivan semakin dibuat tidak mengerti.
"Selama bersamaku, Dillah ikut latihan bela diri hanya untuk melindungiku," ucap Diana.
"Keren kamu Dillah, aku akan memberi bonus untukmu," ucap Ivan.
"Sesampai di pelabuhan, segera bawa bibi Zicca ke Rumah Sakit untuk kontrol," pinta Diana.
"Pasti Diana," sahut Kakek Hong.
Mereka berpisah, kapal yang Ivan tumpangi hanya membawa mereka bertiga, dan beberapa awak kapal, sedang semua petugas keamanan bersenjata lengkap, bertugas menjaga kakek Hong.
Di kapal Ivan.
Dillah diantar salah satu awak kapal menuju kabin yang disiapkan untuknya. Dillah merehatkan tubuhnya diatas kasur empuk, sambil memainkan handphonenya.
Di kabin Ivan.
Diana dan Ivan berbaring di satu tempat tidur yang sama.
__ADS_1
"Huhhh!" Setelah Diana berada di depan matanya, Ivan merasa sangat lega.
"Dari jam 11 malam aku terbang dari tanah air, dan tadi sore aku mendarat di Negara ini, semua ini aku lakukan demi dirimu."
Ivan memiringkan tubuhnya, agar bisa memandangi wajah Diana dengan puas. Diana juga berbaring miring menghadap kearah Ivan.
Diana mengusap lembut sisi wajah Ivan. "Jangan terlalu mencintaiku. Aku seorang yang tidak tulus, tidak pantas menerima cinta yang begitu besar darimu."
Ivan memegang tangan Diana, dan menciumnya begitu dalam. "Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba perasaan itu ada, dulu kamu adalah suatu hal yang ingin aku singkirkan dari hidupku, hingga perasaan itu ada, berpisah darimu adalah hal yang sangat menyakitkan." Berulang kali Ivan menciumi telapak tangan Diana.
"Sekalipun kamu ingin memanfaatkanku, aku tidak peduli, aku rela menahan ribuan rasa sakit, asal bisa terus bersamamu, dan memelukmu."
Diana terharu, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Ivan, dan mencium pipi Ivan. Namun Ivan merubah arah wajahnya, hingga ciuman Diana mendarat tepat di depan bibir Ivan.
Diana ingin menarik wajahnya, namun Ivan tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja, dia menahan kepala Diana, agar tetap pada posisi ini, ciuman mereka semakin dalam, suara decakan seakan menggema di ruangan itu. Kali ini Ivan tidak bisa menahan dirinya lagi, perlahan dia merubah posisi dan berada diatas tubuh Diana.
Ciuman Ivan tidak hanya terfokus pada bibir Diana, dia mendaratkan ciumannya di mana saja dia mau. Saat Ivan tenggelam diantara perbukitan gundul yang begitu mulus, Ivan mabuk di sana, tidak bisa menjauh dan semakin ingin tenggelam di sana, tiba-tiba suara ketukan menyadarkan keduanya.
"Siall! Dasar setan! Siapa yang berani mengetuk!" Ivan terpaksa menyudahi kegiatannya, dia bangkit dan merapikan kancing kemejanya yang terbuka.
"Baru saat ini, ada setan yang menyelamatkan dua manusia yang hampir tercebur pada kesalahan." Diana terus tertawa.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan! Ini aku, Dillah."
"Itu bukan setan, tapi Charlienya Angel," ledek Diana.
Ivan tidak menanggapi candaan Diana. Melihat Diana sudah merapikan bajunya, Ivan segera membuka pintu.
Ceklak!
Pintu terbuka, tampaklah sosok Ivan dengan wajah merah penuh kemarahan. "Ada apa?"
__ADS_1
"Tuan, aku melacak arah kapal ini malah menjauh dari tujuan kita." Dillah memperlihatkan layar handphonenya, terlihat titik lokasi tujuan kapal melaju bukan kearah kembali ke pelabuhan.
"Aku yang merubah tujuan kita, selagi kita masih di jerman, aku ingin membawa Diana ke tempat yang ingin dia kunjungi. St Peter-Ording."