Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 244


__ADS_3

Setelah ujian selesai, Diana langsung meninggalkan kelas. Saat dia melewati lorong sepi, tiba-tiba ada tangan yang menariknya.


"Maaf Ketua, jika aku kurang ajar."


"Ada apa, Hadhif?"


"Tentang wakil ketua, bagaimana kelanjutannya? Bukankah dia tidak bersalah? mengapa harus tetap di hukum? Apalagi dia masih terluka."


Diana membuang kasar napasnya. "Peraturan IMO tetap di tegakan, aku tidak peduli dengan keadaan pribadinya. Secara Organisasi, dia telah membahayakan banyak orang. Dia mendapat hukuman ringan, karena dia terbukti tidak bersalah, Andai dia benar-benar berkhianat, bukan hukuman biasa yang dia dapat, tapi aku akan membunuhnya. Siapa saja yang mengkhianatiku, maka dia akan mati."


"Terus bagaimana dengan tugasku? Apakah aku tetap harus kuliah di sini?" tanya Hadhif.


"Untuk beberapa waktu, iya."


"Setelah semua yang kita lewati bersama, posisiku bagaimana, Ketua?"


"Aku belum bisa mengambil keputusan." Diana menepuk pundak Hadhif, dan pergi dari sana.


Hadhif hanya bisa memandangi punggung Diana yang semakin menjauh dari pandangannya. Dari jawaban Diana, dia tidak tahu apakah posisinya yang hanya Anggota pengganti, bisa menjadi Anggota resmi di Organisasi IMO.


Langit mulai diselimuti kegelapan. Diana membereskan barang-barangnya di Asrama.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat aktivitas Diana terhenti, dia segera berjalan menuju pintu. Saat daun pintu terbuka, terlihat sosok Saras berdiri di sana. Namun Saras bingung melihat Diana begitu rapi.


"Mau pergi lagi?" tanya Saras.


"Iya, aku memiliki janji, jadi aku tidak menginap di Asrama."


"Yah ... padahal aku masih sangat merindukan kamu."


"Nanti kapan-kapan kita tidur bareng lagi ya." Diana memeluk temannya itu.


"Ya sudah, sana pergi, nanti kemalaman, bahaya wanita keluar malam-malam." Saras melepaskan pelukan mereka, dan dia segera kembali ke kamarnya.


Sedang Diana melanjutkan pekerjaanya, setelah semua beres dia segera bergegas untuk kembali ke Apartemen Ivan.


Sesampai di Apartemen Ivan, ternyata Ivan sudah menunggunya. Ivan tersenyum saat Diana membuka pintu Apartemen mereka.


"Sudah makan?"


Diana menggeleng.

__ADS_1


"Ayo kita makan, aku sudah menyiapkan semuanya."


Ivan menggandeng Diana, keduanya berjalan menuju meja makan. Suara sendok dan garpu yang menyentuh permukaan piring menjadi pemecah kesunyian yang terjalin.


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Ivan.


"Lancar, semuanya berjalan baik."


"Aku bahagia mendengarnya."


"Pertemuanmu dengan Nenek Zunea, bagaimana?"


"Baik, beliau sangat bahagia mengetahui secepatnya bisa ke desa Nenekku."


Melihat Diana tersenyum bahagia seperti itu, rasanya Ivan ingin membekukan waktu, agar senyuman itu abadi selamanya.


"Oh iya, untuk transportasi, aku percayakan padamu. Aku hanya memberi kode untuk izin masuk wilayah itu, sama titik kordinat pendaratan."


"Siap sayang, katakan saja apa yang kamu mau, aku akan siap membantumu."


"Kamu selalu menanyakan apa yang aku mau, tapi kamu tidak mau mengatakan apa yang kamu mau?" tanya Diana.


Ivan mulai membuka mulutnya.


Ivan menahan ucapannya, karena memang itu yang dia katakan, dia hanya ingin Diana ada di sisinya, selamanya.


"Ayo katakan, selain itu kamu menginginkan apa?" tanya Diana.


"Aku ingin setelah makan ini kita tidur bersama."


Diana melirik jam tangannya. "Masih jam 8."


"Tapi aku ingin."


"Ya sudah, ayo kita habiskan makanan kita," ucap Diana.


Setelah menghabiskan makanan mereka, Ivan dan Diana berdiri diantara kamar mereka.


"Kamarku, apa kamarmu?" tanya Ivan.


"Kamar siapa aja sama sih, kan asal berada dalam pelukanmu, semuanya indah."


"Ayo," ajak Ivan.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju kamar masing-masing.


"Kenapa kesana?" protes Ivan.


"Aku kira kamu mau ke sini."


"Di kamarku saja," pinta Ivan.


Diana mengalah, dia segera menyusul Ivan. Sesampai di dalam kamar, keduanya sama-sama menghempaskan bobot tubuh mereka pada kasur empuk itu. Satu jam berlalu, Diana hanya terus merubah posisi rebahannya, dia tidak bisa tidur secepat ini.


"Tidak bisa tidur?" tanya Ivan.


"Hu'um."


"Sini ku peluk, biasanya kamu mudah tidur kalau ku peluk."


"Diana."


"Hmm ...."


"Sesulit apa ujian di desamu nanti?"


"Kamu takut?"


"Tidak sama sekali, hanya saja aku ingin mempersiapkan diriku."


Diana menarik napasnya begitu dalam. "Aku tahu kehebatan bela dirimu, memanahmu, tapi aku yang ketakutan."


"Takut aku mempermalukan dirimu?"


"Bukan, aku takut tidak mampu menaha rasa sakit, saat jagoan desa nanti memukulimu." Diana merapatkan tubuhnya pada tubuh Ivan.


"Pukulan pada diriku, aku terlatih untuk menahan. Tapi melihat orang yang aku cintai terluka, aku belum terlatih untuk itu."


"Ada cara lain? Bukannya aku takut ya, aku hanya tidak ingin melihatmu merasa sakit."


"Ada, dan aku sudah merencanakan itu, aku juga sudah memberi kabar pada Profesor Hadju. Aku memilih jalan lain, tanpa tes fisik aku berusaha meyakinkan beliau kalau kamu memang sangat pantas bersamaku."


Ivan sangat bahagia, dia semakin mengencangkan pelukannya. 40 menit berlalu, Ivan masih terjaga, saat dia mengintip wajah Diana, ternyata wanita itu sudah tertidur. Ivan perlahan memperbaiki posisi tidur Diana. Namun hanya beberapa menit, posisi itu berubah, Diana meringkuk membelakangi Ivan, hingga tato burung yang ada di pinggang Diana menyapa kedua mata Ivan.


Ivan tersenyum dan mendekati tato itu. Perlahan tangannya mengusap permukaan tato itu. Senyuman terukir di wajah Ivan, dia teringat tato ini yang membuatnya kehilangan kesadaran, dan tato ini juga membuatnya sadar akan rasa cintanya pada Diana itu telah tumbuh sejak lama. Ivan mencium tato itu.


Andai tidak melihatmu, aku tidak tahu apakah aku punya keberanian untuk menyentuh permata ini.

__ADS_1


Perlahan Ivan larut kealam mimpinya, sedang bibirnya masih menempel di pinggang Diana yang dihuni lukisan burung kecil.


__ADS_2