Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 206 Flash Back


__ADS_3

(Masih Flash Back)


Ivan menghubungkan teleponnya dengan headsed bluetooth.


"Ok ogel, telepon Narendra."


Asisten Ogel langsung menelepon nomor Narendra. menunggu Narendra mengangkat panggilannya Ivan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Halo Tuan," sapa Narendra.


"Narendra, siapkan jet pribadiku sekarang juga, aku ingin ke Jerman menyusul Diana."


"Baik Tuan. Tapi sebelumnya saya minta maaf, apakah Tuan tahu di mana Nona berada?"


Ivan terdiam, Narendra benar. Saat ini dia tidak tahu di mana Diana berada.


Jennifer


Ivan teringat cerita Yudha dan Dillah, kalau di sana Diana menemui Jennifer.


"Itu akan aku cari sendiri, tugasmu siapkan keberangkatanku ke Jerman. Jangan lupa, siapkan pengawal bersenjata lengkap di sana untuk menyambutku," titah Ivan.


"Baik, Tuan."


Ivan menyudahi sambungan teleponnya dengan Narendra, dia langsung meminta Asisten Ogel untuk menelepon Angga.


***


Hotel tempat Jennifer menginap.


Sejak masuk ke hotel itu, Angga tidak mau melepaskan pelukannya pada Jennifer. Berbulan-bulan tidak berjumpa, membuat Angga sangat tidak rela melepaskan tubuh Jennifer dari pelukannya.


"Handphonemu berdering," ucap Jennifer.


"Biarkan saja, aku masih sangat merindukanmu." Angga berulang kali menghujani wajah Jennifer dengan ciuman.


"Tapi itu handphone khusus kamu, sayang ...."


Mau tak mau Angga harus melepaskan Jennifer, dia perlahan bangkit meraih handphonenya. Melihat nama Ivan, Angga sangat kesal.


"Aku baru bertemu kekasihku setelah beberapa bulan tidak bertemu, kamu malah menggangguku!" omel Angga.


"Darurat Kak, bisa Kakak berikan handphone Kak Angga pada Kakak Ipar?"


"Untuk apa kamu berbicara dengannya?!" maki Angga.

__ADS_1


"Ini menyangkut tentang Diana, tolong Kak, aku tidak punya banyak waktu."


"Diana?" Angga tidak faham maksud Ivan.


Tiba-tiba Jennifer merebut handphone Angga. "Kenapa Diana?!" tanyanya langsung.


"Aku sangat merindukan Diana, bisakah Kakak Ipar membantuku? Aku ingin menyusulnya ke Jerman." Ivan tidak mau membuat Jennifer khawatir.


"Kamu membuatku panik, aku pikir terjadi sesuatu pada Diana." Jennifer sangat kesal.


"Aku tidak tenang, kata Dillah pola makan Diana sangat kacau, bahkan dia sering begadang karena tugas. Tolong aku Kakak ipar, aku bisa mati lemas karena rasa khawatir." Ivan memelas.


"Baiklah, akan aku beritahu di mana Diana. Tunggu sebentar, aku akan kirim pesan dan kode akses, soalnya kamu tidak bisa masuk tanpa kode akses." Jennifer langsung mengetik pesan, menuliskan alamat dan memberi kode.


"Terima kasih Kakak ipar."


"Sama-sama, pesanku, jangan sakiti saudariku, sekali kamu menyakitinya, aku tidak akan peduli siapa kamu, aku akan memburumu sampai ke dasar laut sekali pun!"


"Selama aku masih bisa berpikir sehat, aku tidak akan menyakiti Diana," ucap Ivan.


Ivan menyudahi sambungan teleponnya dengan Angga, dia langsung melaju menuju bandara.


Selama di dalam jet pribadi, Ivan terlihat sangat gelisah, dia sangat ingin cepat sampai ke Jerman. Belasan jam berlalu, akhirnya jet pribadi Ivan mendarat di Jerman. Dia langsung di sambut oleng pasukan keamanan berseragam khusus. Ivan meminta diantar ke alamat yang Jennifer berikan padanya.


Belasan jam di udara ternyata masih kurang lama perjuangan kesabaran Ivan, dia harus sabar menempuh perjalanan yang lumayan jauh.


Melihat keamanan di sini begitu ketat, Ivan sangat lega, ternyata Diana tidak membohonginya. Akhirnya Ivan sampai di depan sebuah bangunan utama. Dia langsung keluar mobil dan mengetuk pintu begitu keras.


Ceklak!


Akhirnya pintu utama terbuka. "Maaf, mencari siapa, Tuan?" sapa pelayan.


"Bisa bertemu dengan Diana?"


"Nona Diana baru beberapa menit yang lalu pergi dengan seorang supir, dia membawa koper besar."


"Koper besar?" Ivan semakin cemas.


Apa Diana sudah pergi meninggalkan Negara ini?


"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki yang baru sampai.


"Tuan ini mencari Nona Diana," sahut pelayan.


Melihat Ivan bisa masuk ke area mereka, laki-laki itu yakin kalau Ivan orangnya Diana. "Nona Diana tadi pergi ketempat Kakek Hong menemui temannya yang kemaren sakit, pas sampai di sana, ternyata teman Nona Diana tengah pergi memancing bersama Kakek Hong, dan Nona Diana menaiki kapal untuk menjemput temannya."

__ADS_1


"Dillah?" tanya Ivan.


"Iya, Nona Diana pergi menjemput Dillah, beberapa waktu yang lalu, Dillah sakit, dan dirawat oleh Kakek Hong yang bertanggung jawab penuh dengan tempat ini."


"Di mana koordinat terakhir kapal Kakek Hong? Aku ingin menyusul mereka," ucap Ivan.


"Sebentar, Tuan. Aku menghubungi orang yang mengantar Nona."


Beberapa menit menunggu, akhirnya Ivan mendapatkan lokasi terakhir Diana. Dia segera mengirim pesan pada anak buahnya, agar menyiapkan kapal besar untuknya.


"Terima kasih semuanya, saya izin undur diri, saya mau menemui Diana dulu."


Ivan pergi meninggalkan konsorsium itu, dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan. Sesampai pelabuhan, sebuah kapal besar yang dilengkapi persenjataan canggih menyambutnya. Ivan juga membawa semua keamanan berseragam khusus bersamanya.


Kapal itu perlahan meninggalkan pelabuhan. Lebih satu jam kapal besar itu mengarungi lautan.


"Tuan! Sepertinya kapal di depan sedang dijarah!" teriak salah satu petugas keamanan.


Ivan bangkit dan merebut teropong milik keamananya, saat mengarahkan teropong kearah kapal itu, Ivan sangat marah, dia melihat Dillah berada di kapal itu.


"Dianaku dalam bahaya." Ivan berlari kearah kemudi, dia mengambil alih kemudi kapal.


"Kalian semua bersiap! Siapa saja yang menyerang wanitaku, dia adalah musuh!" Ivan memperlihatkan foto Diana yang ada di layar handphonenya. "Lindungi wanita itu dan teman-temannya!"


Ivan kembali fokus pada kemudi, dia menabrakan kapalnya ke kapal yang Diana tumpangi. Seper sekian detik kemudian semua keamanan Ivan menghujani kapal di depan mereka dengan timah panas. Sedang satu orang diminta Ivan untuk menyusup, memastikan keamanan Diana.


Flash Back Off.


***


Di kapal Ivan.


Ivan membawa Diana ke kabinnya.


"Duduk di sana, sebentar aku mencari kotak obat dulu."


Diana patuh, dia duduk manis di sisi tempat tidur yang ada di kabin itu. Ivan mendekati Diana dengan membawa kotak obat di tangannya. Perlahan Ivan mengobati luka Diana.


"Ishhhh!" Diana meringis.


"Sakit?" Ivan sangat cemas.


"Iya, sakit sekali, tapi itu tidak seberapa, ada yang lebih sakit." Diana terlihat sangat kesakitan.


"Di mana? Tunjukan padaku!"

__ADS_1


"Di sini." Diana menarik tangan Ivan dan meletakannya di dada kirinya. "Di sini sangat sakit, rasa rindu yang tertanam begitu dalam di sana, tercabut begitu saja."


"Diana ...." Ivan tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi, satu sisi kemarahannya saat ini berada di level tertinggi, namun rayuan Diana seakan memadamkan semua kemarahan yang berkobar.


__ADS_2