
Yang Puasa, harap bacanya saat malam aja ya, takut pahalanya lenyap baca bab ini, 🤣🤣🤣
******
Ivan menatap Diana begitu dalam. "Ngantuk atau tidak, yang penting berbaring dulu." Ivan berjalan menuju sakelar lampu, dia mematikan lampu terang dan menyalakan lampu temaran.
"Ayo tidur."
“Aku tidak mengantuk, bagaimana aku bisa tidur?”
Ivan berusaha memahami keadaan Diana, dia segera keluar dari kamar Diana, dia berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air di dapur, kemudan dia menuju lemari obat dan mengambil obat Pereda nyeri di sana. Ivan kembali ke kamar Diana.
“Minum obat dulu.”
Diana berusaha mencermati obat yang Ivan berikan padanya.
"Aku tidak akan memberimu racun, andai itu obat aneh, pastinya bukan racun, tapi obat perangsang," ledek Ivan.
Diana memicingkan matanya mendengar penjelasan Ivan.
"Jangan aneh-aneh, walau kamu aneh, aku tidak memberikan hal aneh padamu. cepat minum, itu hanya obat penghilang rasa nyeri."
Diana patuh, dia segera mengambil obat dan segelas air yang Ivan berikan padanya dan meminumnya. Melihat Diana selesai meminum obatnya, Ivan mengambil gelas kosong dan meletakkannya di meja yang ada di dekatnya.
"Ayo berbaring dulu."
"Aku tidak mau."
Ivan kesal, dia langsung menggendong Diana, perlahan dia merebahkan Diana di tempat tidur. Dia juga berbaring di samping Diana. Keduanya dalam posisi miring dan saling berhadapan. Ivan berulang kali memainkan helaian rambut Diana.
“Kamu tidak bisa tidur bukan?”
Diana menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana kalau kita main tebak-tebakkan?” usul Ivan.
“Tebak-tebakan?”
“Iya, tebak-tebakan apa saja, bebas,” sahut Ivan.
“Baiklah. Kamu dulu yang mulai,” usul Diana.
“Jawaban dari pertanyaanku adalah kebiasaan yang di senangi sebagian besar makhluk hidup,” ucap Ivan.
“Hmm, apa soalnya?”
“Bulu bertemu bulu, kulit bertemu kulit, semakin rapat semakin nikmat.”
Kedua bola mata Diana terbelalak mendengar pertanyaan Ivan.
“Jangan mikir aneh-aneh!”Ivan menyentil lembut daun telinga Diana. “Aku tahu aku sangat menawan sebab itu kau membayangkan aku melakukan itu padamu.”
"Apa kamu berharap aku memberimu obat perangsang?" goda Ivan.
Diana kesal, dia berulang kali memukul pelan dada Ivan. Ivan tersenyum dan menahan pukulan Diana. "Cepat jawab soalku."
“Aku menyerah, pertanyaanmu aneh!”
“Aneh dari mana?”
“Gak mau jawab dan aku tidak tahu,” rengek Diana.
“Jawabanya: tidur."
"Apa?" Diana tidak terima dengan jawaban Ivan.
__ADS_1
"Terus maumu apa? Memang itu jawabannya. Coba pejamkan matamu."
Diana memejamkan kedua matanya.
"Bulu bertemu bulu, bulu mata atas dan bulu mata bawah, kulit bertemu kulit, kalau semakin rapat, nikmat bukan?”
Diana kembali membuka matanya, dia hanya tersenyum, entah kenapa otaknya seketika traveling mendengar pertanyaan Ivan.
“Giliranmu,” usul Ivan.
“Sim apa yang wangi?” tanya Diana.
“Sim? Sim baru dicetak.”
“Salah.”
"Sim salabim jadi parfume."
"Salah!"
Ivan berusaha membuat otaknya bekerja lebih keras. “Sim card? Sim A? Sim B? Sim C?”
Diana terus menggelengkan kepalanya.
“Aku menyerah.”
“Simprotran parfume.”
“Apa?” Ivan tidak terima dengan jawaban dari Diana. “Semprotan, bukan simprotan.”
Diana terkikik sendiri melihat kekesalan di wajah Ivan.
“Sekarang tebak siapa aku.” Ivan berdehem mempersiapkan pertanyaanya. “Aku bisa ada di mana saja, Aku banyak, tapi yang banyak tidak berarti bagi Ivan, tapi di tempat khusus aku paling dirindukan seorang Ivan Hadi Dwipangga.”
“Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, bagaimana aku bisa tahu yang kamu rindukan,” protes Diana.
Keduanya terdiam, jarak wajah keduanya semakin dekat. Ivan ingin sekali menyatukan bibirnya dengan bibir Diana, saat jarak tinggal beberapa centi lagi, Gerakan Ivan terhenti, karena jemari mungil tangan Diana menyentil hidung Ivan dengan lembut.
“Sekarang giliranku.” Diana bersiap memberi pertanyaan pada Ivan. “Tebak siapa aku. Soalku aku kasih klu. Aku adalah makanan."
"Salah, kau adalah permataku." sahut Ivan.
"Pertanyaanku jawabannya makanan, dan kuisnya tebak siapa aku."
"Iya-iya," Ivan sangat bahagia bisa mengerjai Diana.
"Ingat makanan, awas kalau sampai absen seluruh penghuni kebun binatang."
"Iya, cepat apa klunya."
"Ehm!" Diana berdeham, mempersiapkan pertanyaannya. "Klu pertama. Aku bahasanya orang bule."
"Boleh ku tebak sekarang?"
"Boleh."
"Karena kamu datang di dubai, mungkin makanan di sana. Matchbous atau nasi kebuli?"
Diana menggelengkan kepalanya.
"*Ayran, falafel, lugaimat*?"
"Bukan."
"Klu kedua, aku menyerah."
__ADS_1
"Aku di sajikan bersebelahan dengan hewan mati, kalau dia hidup maka dia makan aku."
"Emmm, aku masih belum bisa membayangkanya, klu ketiga."
"Teksturku empuk-empuk kenyal kalau udah mateng."
"Kebab?"
"Bukan."
"Next klu." pinta Ivan.
"Klu terakhir. Aku enak dinikmati saat cuaca dingin, apalagi saat gerimis mengundang, yah aku kan anget-anget gitu."
"Aku menyerah, apa jawabannya?"
"Mie Ayam."
"Apa?!" Ivan kembali kesal dengan soal yang Diana berikan.
"Salah dari mana coba, bahasa inggris aku apa coba?"
"Me."
"Selain itu?"
"I am."
Ivan berusaha memahami.
"Di gabungin?"
"Me I am, mie ay-am." Ivan membuang kasar napasnya, dia kalah telak dengan soal Diana yang mengajaknya keliling dunia, dan jawabannya sangat simpel.
"Di sajikan dengan hewan mati bukan? Coba kalau ayamnya hidup, ya mie nya di makan ayam."
Ivan membayangkan klu kedua. 'Aku disajikan bersebelahan dengan hewan mati, kalau hewan itu hidup, matilah aku.' "Benar juga, kalau ayam hidup, dia patok itu mie." Selamat kamu berhasil membuatku tampak bodoh," gerutu Ivan.
“Sekarang giliranku.” Ivan masih terlihat sangat kesal. “Min berapa yang tidak bisa di ukur?”
Diana berusaha memikirkan jawaban dari pertanyaan Ivan. 20 menit berlalu, Diana belum mendapatkan jawabannya. “Aku menyerah.”
“Min yang tidak bisa diukur adalah mincentaimu.” Ivan tersenyum merasa berhasil membalas Diana.
Tapi raut wajah Diana seketika berubah datar setelah mendengar kata itu. Dia bangun dari posisinya, Ivan pun juga ikut bangun.
“Kamu mulai jatuh cinta padaku?” tanya Diana.
Ivan tidak menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Diana, hingga kedua alis mereka saling bersentuhan.
Diana menarik napasnya begitu dalam, dan menghembuskannya perlahan. “Jangan pernah mencintaiku, dan usahakanlah agar tidak jatuh cinta padaku, karena semua itu percuma, sia-sia, dan rasa itu hanya akan memberimu rasa sakit,” ucap Diana.
“Aku tidak peduli. Perasaan itu tumbuh sejak lama, dan tidak bisa aku tepis.” Ivan memegang tengkuk Diana dan dia menyatukan bibir mereka, ciuman yang sangat dalam pun tidak bisa dihindari.
Diana berusaha mendorong Ivan, tapi perasaan dalam dirinya memerintah otaknya untuk diam dan nikmati ini semua, dirinya terlena dalam perasaan itu, Diana pasrah, dengan mudahnya Ivan merebahkannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ivan berada diatas tubuh Diana.
Ciuman dalam dan liar itu bukan hanya menukar saliva keduanya, tapi membuat keduanya kehilangan akal sehat dan menuntut untuk lagi dan lagi, lebih dan lebih lagi. Deruan napas dan suara decakkan membuat Ivan semakin menggila, dia terus menciumi bagian wajah Diana, hingga bagian leher, dan kembali lagi menyatukan bibir mereka.
Ivan merasakan segalanya mulai sesak, dia segera menarik dirinya. “Maafkan aku, hampir saja aku kehilangan semua kendali atas diriku.” Ivan kembali berbaring di sisi Diana, dan menarik Diana kedalam pelukannya.
Diana hanya bisa mengutuki dirinya sendiri, kenapa dia malah menikmati semua ini. Dia tidak punya keberanian untuk memandang Ivan, Diana memilih memejamkan kedua matanya, hingga membuatnya benar-benar tertidur.
***
Bersambung.
__ADS_1
***
Soal tebak-tebakan aku ambil dari berbagai sumber, untuk soal mie ayam, aku pinjem dari teman haluku yang sering menemaniku berkelana di dunia group chat mangatoon. 🤣