
Keadaan seketika hening, kenyataan menampar wajah mereka begitu keras, hanya karena penampilan Diana yang sangat sederhana mereka tidak menyadari kalau ada kecerdasan di balik sosok yang sangat sederhana itu. Ivan begitu bangga dengan kecerdasan Diana.
“Dillah, bisa seduhkan teh herbal yang biasa Diana minum?” pinta Ivan.
“Tentu saja Tuan.” Dillah meletakan dokumen yang baru dia print, dan segera menuju pantry, menyeduhkan minuman untuk Diana.
Di dalam ruangan keadaan terasa sangat mencekam, rasanya oksigen di sana tidak cukup untuk paru-paru mereka. Beberapa pegawai Ivan saling pandang, mereka merasa Diana merupakan ancaman besar untuk mereka, belum apa-apa wanita itu telah berhasil mengungkapkan dana yang tidak masuk akal, hancurlah impian mereka untuk membagi rata uang 900juta dollar itu.
Seorang laki-laki paruh baya mengangkat tangannya ke udara, dia meminta izin untuk berbicara.
“Ada yang ingin di sampaikan, Manager Wang?” tanya Ivan.
“Saya sangat kagum, proyek ini ada di tangan saya sejak 4 bulan yang lalu, bahkan saya tidak menemukan rincian kecurangan atau kekeliruan dalam perhitungannya. Bagaimana Nona Muda dengan mudahnya menemukan kecurangan ini?”
“Sebentar, aku mempelajari jam, tanggal, dan bulan pemeriksaan dokumen ini.” Diana kembali fokus pada laptop Ivan.
Citttt!
Suara pintu terbuka membuyarkan fokus semua orang yang ada dalam ruangan. Sedang Diana tetap fokus dengan pekerjaannya.
“Ada apa?” Ivan heran melihat Dillah dengan raut sedihnya.
“Daun teh yang biasa Nona minum, sudah habis Tuan.”
“Tidak apa-apa, kamu siapkan air putih hangat saja untuk Diana,” sahut Ivan.
“Apa Nona ingin saya belikan teh herbal yang lain?”
“Tidak perlu, karena teh yang biasa Diana minum adalah racikan Neneknya. Dalam waktu dekat kami akan mengunjungi Neneknya,” sahut Ivan.
Dillah mendekati despenser, dan mengisi gelas kosong dengan air hangat. Keadaan kembali hening, mereka semua harap-harap cemas menanti penjelasan Diana.
Diana menggeleng saat melihat detail waktu penanda tanganan setiap berkas. “Kelicikan sangat rapi dan Kerjasama yang sangat hebat.”
__ADS_1
“Apa maksudmu, sayang?” tanya Ivan.
“Dillah, bisa hubungkan ini pada monitor besar?”
“Tentu saja Nona.” Begitu cepat Dillah menghubungkan pada layar monitor yang ada di ruang rapat.
Diana mulai menandai titik-titik kecurangan bermula, hingga sangat sulit diteliti kalau itu sebuah kecurangan. “Kecurangan dana di sini totalnya 900 juta dollar, dan ini kerugian yang sangat fatal. Menurut peraturan Kerjasama, jika kerugian melebihi 39% maka pengelola merchant yang bersangkutan harus bertanggung jawab penuh!”
Pandangan semua orang langsung tertuju pada Manager Wang. Manager Wang pun sangat syok, dia tidak menduga kalau proyek yang dia pegang mengalami kerugian sebesar itu. Mendengar penjelasan Diana, Ivan sangat geram, dia bangkit dari posisinya dan langsung menarik dasi Manager Wang. “Berani sekali Anda menipu Agung Jaya!” maki Ivan.
"Aku tidak melakukannya Tuan ...." ucap Manager Wang.
“Ivan, masalahnya tidak seperti apa yang terlihat, aku mohon lepaskan dia,” bujuk Diana.
“Melepaskan? Aku tidak akan melepaskan pengkhianat! Aku bukan kamu yang diam saja melihat seorang pengkhianat berkeliaran dengan bebas!”
“Ivan … aku mohon tenangkan dulu dirimu, kamu tidak akan bisa mengambil keputusan dengan benar jika kamu tersulut kemarahan seperti ini.”
***
Di sisi lain.
Keadaan Agis dan ibunya terlihat menyedihkan. Karena keadaan keuanganya dalam ancaman, Aridya terpaksa mengontrak rumah kecil di pinggiran kota. Biasanya semua pekerjaan rumah dilakukan oleh pelayan, namun sekarang pekerjaan rumah mereka kerjakan bergantian. Sejak Agis masuk daftar hitam Widori Group, tidak satu pun pekerjaan datang padanya.
Bahkan ED Group yang biasanya selalu memakai jasanya, kali ini perusahaan itu tidak menyewanya. Menurut kabar yang beredar, ED Group ditinggal beberapa patner kerjasamanya, dan terhembus kabar ED Group diambang kebangkrutan.
“Mama … bagaimana kalau kita jual rumah besar itu? Kita tidak sanggup tinggal di sana, lebih baik kita jual, dan hasil penjualannya buat mendongkrak karir aku di negara lain, di negara ini tidak bisa memakaiku, setidaknya aku bisa bekerja di luar Negri, mama.”
“Kamu pikir rumah itu milik kita?!" maki Aridya.
"Kita keluar dari rumah itu, selain bersembunyi dari hutang, tidak mampu membayar tagihan di sana, rumah itu bukan milik kita!"
"Maksud mama?" Agis tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Rumah itu milik Diana! Sama seperti rumah besar Bramantyo yang di tempati oleh adik-adik Charlie yang lain, mereka hanya bisa bergaya, tapi tidak bisa menjualnya, karena semua milik Diana.”
Mendengar suara keributan, Nazif menyudahi kegiatan mencucinya, dia langsung menghampiri ibu dan Kakaknya. “Padahal aku anak laki-laki, seharusnya aku pewaris utama kekayaan Papa,” sela Nazif.
“Gunakan otakmu Zif, kamu pikir dong, mana bisa mama hamil dari laki-laki yang tidak mencintai mama?” sahut Agis.
“Agis jaga bicaramu!” tegur Aridya.
“Dia harus tahu juga dong mah, agar dia tidak besar kepala lagi. Dia selalu berfoya-foya menghamburkan uang kita, dia pikir dia bisa menggantinya karena merasa kekayaan Bramantyo miliknya.”
“Kak, aku paling di sayang keluarga Bramantyo karena aku anak papa Charlie,” ucap Nazif.
“Sayangnya papa kandungmu bukan Charlie.” Agis memandang Nazif dengan tatapan sinis.
“Agis sudah sayang!” pinta Aridya.
“Tidak semudah itu mama, dia harus tahu agar dia berhenti menyombongkan diri.”
“Apa maksud Kak Agis?”
“Nazif, berhenti berkhayal kalau kamu pewaris terbesar harta Bramantyo, karena semua itu milik Diana,” ucap Agis.
“Papa hanya tidak adil, aku yakin aku bisa memperjuangkan hakku.”
“Papa tidak memberimu secuil pun, karena kamu bukan anak kandungnya!" ucap Agis.
“Mama, apa Kak Agis benar?”
Aridya tidak mampu menjawab.
“Diamnya mama adalah suatu jawaban, so aku dan kamu sama, kita sama-sama bukan darah Bramantyo, mulai sekarang sudahi borosmu, atau kita akan jadi gembel selamanya.” Agis langsung pergi menuju kamarnya.
Sedang Aridya masih duduk leseh di lantai, dia tidak berdaya menggerakan kedua kakinya melihat tatapan dari Nazif.
__ADS_1