
Mendengar tentang info ketua IMO, Ivan segera menyusul Yudha.
"Kamu dapat informasi tentang ketua IMO?" Ivan terlihat tidak percaya.
"Baca ini, untuk info detailnya mereka akan kirim ke kumputerku," sahut Yudha.
"Ayo periksa, aku tidak sabar ingin tahu siapa ketua IMO." Ivan ingin menarik Yudha ke dalam, saat dia menoleh kearah Apartemen Diana, dia melihat Diana melamun sendirian.
Apa itu artinya mereka akan tahu, kalau aku ketua IMO?
Pandangan mata Diana begitu kosong.
Ivan melupakan berita yang sangat dia tunggu-tunggu saat dia melihat Diana.
Senyuman terukir di wajah Ivan, wajah cantik dan begitu segar itu mengambil semua kesadaran Ivan. Tapi tatapan penuh pertanyaan dari sorot mata Diana membuatnya tersadar.
"Ada yang aneh?" tanya Diana.
"Tidak."
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Diana.
"Kamu itu anugerah Tuhan yang sangat indah, Diana. Pastinya siapa saja yang menatapmu, pasti ingin menetapmu terus menerus. Iyakan Van?" goda Yudha.
Ivan memasang wajah dinginnya. “Diana, kenapa kamu sendirian saja di sana? Ayo ke sini bergabung bersama kami,” ajak Ivan lembut. "Daripada kamu sarapan sendirian di sana, lebih baik sarapan bersama kami."
Diana berpikir sejenak, saat yang sangat tepat dia bergabung dengan Ivan dan Yudha. “Baiklah, aku akan segera ke sana.”
Diana segera meninggalkan Balkon Apartemen yang dia tempati dan langsung menuju Apartemen Yudha. Mendengar Yudha mengetahui siapa ketua IMO, membuat Diana khawatir dan ingin tahu, seberapa jauh Ivan dan Yudha mengetahui identitas tentang Ketua IMO.
Penjelasan apa yang harus aku utarakan, jika mereka melihat informasi ketua IMO adalah diriku?
Diana melangkah begitu pelan, setelah sampai di depan pintu Apartemen Yudha, Diana masuk begitu saja ke Apartemen Yudha tanpa mengetuk pintu, sontak kedatangan Diana membuat Dillah yang sedari tadi sibuk terkejut dengan kehadiran Diana.
“Selamat pagi Nona,” sapa Dillah.
Mengetahui Diana sudah tiba di Apartemennya, Yudha menyerahkan handphonenya pada Ivan. “Kamu baca sendiri,” ucap Yudha.
__ADS_1
Yudha langsung menyambut Diana. “Kamu mau sarapan apa Diana? Bubur? Roti? Atau yang lain?”
“Terima kasih Yudh, aku membawa sarapanku ke sini.” Diana memperlihatkan mangkuk buburnya pada Yudha. Diana meraih sendok, dengan santainya Diana menghempaskan tubuhnya disalah satu sofa empuk dan mulai menikmati buburnya.
"Bagaimana tidurmu tadi malam? Nyaman dengan suasana Apartemen Nizam?" tanya Yudha.
"Diana sedang makan, jangan ganggu dia!" tegur Ivan.
Diana berusaha terlihat santai. "Aku sangat nyaman," jawabnya halus. Tatapan Diana tertuju pada Dillah. "Terima kasih Dillah, kamu mengatur Apartemen Nizam, sama persis dengan Apartemen Ivan, walau tempat baru, tapi suasananya seperti biasanya, jadi aku tidak merasa asing."
Dillah tersenyum, dia ingin menjawab itu rencana Ivan, tapi sorot mata Ivan sangat tidak bersahabat. "Saya senang kalau Nona menyukainya." Dillah kembali fokus pada pekerjaannya.
“Informasi ini belum lengkap.” Wajah Ivan yang tadinya semangat, seketika lesu. Dia mengembalikan handphone itu pada Yudha. “Ku kira kita akan mengetahui perampok yang membuat kita bangkrut dulu,” gerutunya.
Sontak Diana melepaskan sendok makannya, kala mendengar Ivan korban perampokan. “Korban perampokan? Bagaimana seorang Ivan bisa di rampok?” sela Diana.
Ivan tersenyum melihat raut kecemasan di wajah Diana. “Bukan aku, tapi Yudha.”
Ivan duduk di salah satu Sofa yang tidak jauh dari Diana. “Tahun lalu, ada salah satu miliyander yang tengah sakit parah di luar negri, dan salah satu perusahaanku memiliki obat yang bisa menyembuhkan penyakit miliyander itu."
"Obat itu sangat mujarab, menghasilkan obat itu tidak mudah, setelah melewati proses yang Panjang dan biaya yang sangat besar, akhirnya obat itu jadi. Yudha yang aku percaya untuk mengantarkan obat itu, di tengah perjalanan Yudha dirampok oleh kelompok IMO.” Ivan menghela napasnya begitu dalam, kejadian itu sangat memilukan baginya.
Diana terbayang kembali saat kejadian dia memimpin sebuah perampokan pada utusan perusahaan. Diana menatap kearah Yudha, Diana masih mengingat salah satu korban yang terluka parah, dan korban itu mirip dengan Yudha, Diana mulai menyadari slaah satu korban perampokan yang dia pimpin dulu, satunya adalah Yudha.
Ternyata perampokan yang aku pimpin dulu salah satu korbannya memang Yudha. Selama berada di sini aku tidak pernah sadar kalau aku pernah bertemu Yudha saat kami masih belum mengenal. Batin Diana.
Ivan menghela napasnya begitu dalam. Kejadian itu sungguh sangat berat. “Sahabatku terluka, dan aku mengalami kerugian besar karena kehilangan obat itu.” Wajah Ivan terlihat sangat tertekan teringat kejadian itu.
Diana terdiam, dia mengingat jelas saat dirinya dan tim merebut obat itu dari tangan kelompok yang membawa obat itu, IMO terpaksa merampas obat itu dari tangan yang membawa, karena obat itu akan di monopoli Miliyander yang berpura-pura sakit itu. Miliyander itu CEO salah satu perusahaan besar, IMO merampok bukan demi keuntungan organisasi mereka, tapi menyelamatkan obat yang sangat berharga itu dari tangan yang ingin menyalahgunakan dan menguasai obat itu.
“Maafkan Ivan Diana, pasti ceritanya membuatmu terkejut bukan?”
Diana tetap diam dan melanjutkan kembali memakan sarapannya.
“Ingat Yudha, kamu jangan pernah meremehkan IMO, walau mereka hanya berenam, tapi kemampuan mereka luar biasa.”
“Baik Van.”
__ADS_1
Ivan menoleh kearah Dillah. “Bagaimana laporan tentang IMO sudah masuk Dillah?”
“Sudah masuk Tuan, mau saya bacakan?” tawar Dillah.
“Sebaiknya aku permisi dulu,” ucap Diana.
“Kenapa kamu pergi?” tanya Ivan.
“Kalian akan membahas hal yang sangat privasi, aku di sini orang asing, tidak bagus membahas sesuatu yang rahasia di depan orang asing sepertiku,” jelas Diana.
“Kamu adalah bagian dari Agung Jaya, bukan orang asing. Diamlah di tempatmu.”
"Tapi sangat rentan kalau aku mendengar semuanya, bagaimana kalau rencana kalian gagal? Yang ada fitnah kembali tertuju padaku karena bocornya rencana kalian, aku lelah meladeni bermacam fitnah yang tidak bosan mengarah padaku. Sebelum itu terjadi, sebaiknya aku pergi."
Diana segera beranjak dari posisinya. Geraknya tertahan saat Ivan memegang pergelangan tanganya. "Tetaplah di tempatmu, selama ada aku, aku akan berusaha percaya padamu."
Mendengar ucapan Ivan, Diana kembali ke tempat duduknya.
“Dillah, bacakan laporan yang masuk,” titah Ivan.
Perhatian Dillah terbagi saat dia menemukan sebuah website. “Apa ini?"
"Apanya?" Ivan juga segera memeriksa layar laptop Dillah.
"Itu baca, Hadiah sebesar 500 Triliun jika berhasil menemukan identitas Ketua IMO?” Dillah sangat terkejut membaca web itu. “Gila! Bounty 500 triliun hanya untuk seorang ketua IMO?” berulang kali Dillah menggelengkan kepalanya diiringi suara decakan yang berulang. Dillah melanjutkan lagi membaca website itu. “Hadiah akan ditambah jika identitas yang diberikan benar.” Dillah langsung berdiri. “Wow! Ini luar biasa,” pujinya.
“Tapi web itu sudah lama, dan kami belum juga mendapatkan identitas ketua IMO,” gerutu Ivan.
“Yang mempunyai ide untuk memberikan hadiah sebesar itu, Tuan Yudha?” tanya Dillah.
“Bukan Yudha, tapi aku," sahut Ivan.
Dugggh!
Diana hanya bisa menatap Ivan begitu dalam. Dia tidak menyangka, imbalan sebesar itu diberikan hanya untuk mencari identitasnya.
"Lumayan lama aku memasang iklan itu, agar aku tahu lebih cepat, orang-orang yang ahli akan bekerja keras demi hadiah yang aku tawarkan. Tapi Ketua IMO memang sangat misterius. Muncul sebentar, terus hilang begitu saja," gerutu Ivan.
__ADS_1
Diana merasa sedikit lega, dari pembicaraan mereka, Ivan belum tahu siapa ketua IMO. Tapi, dia belum bisa tenang sepenuhnya, karena belum tahu informasi apa yang Dillah tunggu.