
Setelah meninggalkan gudang. Mereka langsung menuju rumah tepi pantai. Sedang Farhan langsung diminta meninggalkan pulau saat hellychopter jemputan tiba.
Di dalam rumah tepi pantai.
Anton terlihat berulang kali menguap, melihat hal itu Dillah tidak tega. "Sepertinya kita akan bermalam di sini, sebaiknya kamu tidur saja."
Anton ingin menolak, tapi dia benar-benar mengantuk. "Boleh aku tidur di sofa saja?"
"Ada tiga kamar di rumah ini, tempati saja salah satu kamar yang ada di sana." Dillah menunjuk kearah ruangan yang dia maksud.
"Aku tidur di sini saja." Anton melepaskan alas kakinya dan perlahan memejamkan kedua matanya.
Melihat Anton tidur, Dillah memilih ingin bersantai di teras rumah, namun saat dia hampir sampai ke pintu, sekilas dia melihat dua orang berjalan bergandeng menuju rumah itu dari jendela kaca di samping pintu. Dillah menajamkan pandangannya, ternyata itu dua majikannya.
Keduanya terlihat sangat manis, penyesalan, rasa itu yang selalu muncul saat melihat Ivan dan Diana. Hanya karena Diana yang sangat sederhana, tidak terlihat sedikit pun kecerdasannya dan kekayaannya, membuat Dillah memandang wanita itu sebelah mata, dan menyetujui ajakan Qiara untuk menyingkirkan Diana dari sisi Ivan. Bagi Dillah Ivan sangat luar biasa, tidak cukup hanya cantik untuk jadi pendamping Ivan.
Walau Ivan dan Diana memaafkannya, namun rasa kecewa pada dirinya sendiri atas pengkhianatannya membuat Dillah selalu terpuruk dalam rasa bersalah.
Pandangan Dillah masih tertuju kedepan. Diana dan Ivan duduk di kursi malas yang ada di depan rumah, terlihat sangat nyaman Diana bersandar di bahu Ivan. Melihat itu Dillah tersenyum.
Di luar rumah.
"Berapa jam operasi dua wanita tadi?" tanya Ivan.
"Yang satu hanya 2 jam 40 menit, yang satunya lebih dari 3 jam, mereka mengalami masalah serius pada paru-paru mereka."
Ivan berpindah posisi, dia meminta Diana duduk bersandar. Saat Diana sudah bersandar, Ivan menaruh kedua kaki Diana di pangkuannya.
"Jangan sentuh kakiku, kamu suamiku, harusnya aku yang melakukan itu," cegah Diana.
"Apa bedanya suami dan istri? Sama-sama manusia, sama-sama berdarah merah, sama-sama berpijak di bumi."
Diana bungkam mendengar jawaban Ivan.
"Jangankan meyentuh kakimu, menciumnya pun aku bahagia."
Ivan tersenyum melihat Diana membisu.
"Kamu pasti lelah bukan? Aku hanya ingin memijat kaki mu, lebih dari 6 jam kamu berdiri melakukan tugasmu. Aku tidak bisa membantumu melakukan tugasmu, tapi aku bisa membantu mengurangi penatmu." Ivan terus memijat kaki Diana.
Diana terharu melihat perhatian Ivan padanya, pijatan Ivan benar-benar nyaman dan menenangkan saraf-safaf tegang pada kakinya. Dinana terus memadangi Ivan yang sangat serius memijat kedua kakinya. "I love you Ivan Hadi Dwipangga," ucapnya pelan.
"Sepertinya setelah sampai kota aku harus ke dokter THT, aku tidak mendengar apa yang kamu katakan." Wajah Ivan terlihat datar, dia terus memijat kaki Diana.
Diana menarik kakinya, dan mendekatkan wajahnya di sisi telinga Ivan. "I love you so much, suamiku."
"Love you too, my wife." sahut Ivan.
Keduanya menyatukan bibir mereka, hingga perlahan posisi pun berubah, Ivan berada di atas tubuh Diana.
__ADS_1
Ivan menyudahi ciuman mereka. "Sumpah demi apapun, aku tidak pernah membayangkan kehidupanku akan seindah seperti saat ini kala bersamamu." Ivan membelai sisi kepala Diana dengan lembut.
"Aku juga tidak pernah berpikir akan jatuh cinta padamu."
Keduanya masih beradu tatap, rasanya saat kedua mata mereka bertemu rasanya waktu seakan terhenti.
Di dalam rumah.
Melihat pemandangan yang semakin panas itu Dillah tidak kuat, dia segera kembali ke ruang tamu, dan berbaring di sofa panjang yang lain.
Di luar rumah.
Angin laut yang terus bertiup seakan kalah dengan deruan angin nappsu dua orang yang mulai berpacu di atas kursi malas itu.
Ivan terus bekerja keras dengan pakaian yang masih sempurna. "Sayang, aku ingin mendengar suara rintihanmu." bisik Ivan.
"Ini alam terbuka, bagaimana kalau Dillah dan Anton mendengar? Bagaimana kalau keamananmu melihat dan mendengar?"
"Anton dan Dillah sudah tahu kita menikah, pelayanku atau keamananku mereka tidak berani macam-macam."
Ivan terus berusaha sekuat yang dia bisa. "Ayolah sayang, aku tahu kamu wanita tangguh. Bahkan saat pertama kali kita melakukannya kamu tidak terlihat kesakitan, aku merasa gagal menjadi seorang suami."
Suara rintihan Diana pun terlepas. "Begini?" desahnya.
Ivan semakin bersemangat. Suara rintihan Diana seakan menyatu dengan suara desiran angin yang terus menerus berhembus.
Rumah yang ada di tepi pantai hanya terbuat dari kayu, membuat Dillah samar-samar mendengar suara yang membuat darahhya mendidih. Dillah merasakan tubuhnya panas dingin mendengar hal itu.
1 jam berlalu. Diana dan Ivan selesai berpetualang, keduanya tidak langsung masuk kedalam rumah, namun keduanya berjalan menyusuri pesisir pantai bersama. Kedua tangan mereka saling tertaut.
Rasanya banyak kata yang ingin di ucapkan, tapi tidak tahu harus mengutarakan apa, mengucapkan kata cinta terus menerus rasanya tetap masih tidak sebanding dengan yang mereka rasa. Saat Diana berhenti, Ivan memeluknya dari belakang.
"Sudah menemukan hukuman apa yang ingin kamu berikan pada Tony?" Ivan menumpukan dagunya di bahu Diana.
"Aku belum menentukan hukuman apa, menurutku Tony bukan pengkhianat IMO sebenarnya dia berkhianat sepertinya ada tujuan lain, masih ada pengkhianat sesungguhnya."
"Saat melihatmu dalam masalah, kadang aku sungkan menawarkan bantuan, kamu lebih hebat dalam segala hal dariku."
"Mana ada, kehebatan aku itu kamu." Diana menoleh pada Ivan, sehingga bibir Ivan menyentuh pipinya.
"Dokter hebat, peneliti obat, bahkan seorang Hacker nomor 1 yang tidak bisa dilacak."
Mengetahui Ivan tahu siapa no name, Diana melepaskan pelukan Ivan. "Dari mana kamu tahu?"
"Aku berusaha sendiri, tenang saja, aku masih merahasiakannya dari semua orang, di mataku kamu adalah istri kecilku yang manis, lugu, dan polos." Ivan kembali memeluk Diana.
Lumayan lama keduanya jalan bersama, akhirnya keduanya memutuskan kembali ke dalam rumah. Saat melihat Dillah dan Anton tidur di sofa, Diana dan Ivan saling pandang.
Diana melempar tasnya ke sofa yang kosong, lalu dia mendekati Anton, berusaha membangunkan laki-laki itu. Tapi Anton tidak kunjung bangun. Sedang Ivan berhasil membangunkan Dillah.
__ADS_1
"Kalian sudah kembali?" Dillah pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.
"Kenapa kalian tidur di sofa, kan ada kamar," protes Ivan.
"Anton ingin tidur di sini, mana tega aku meninggalkannya," sahut Dillah.
"Ya sudah, kalau begitu kami ke kamar," ucap Ivan.
"Ivan ...." panggil Diana.
"Apa sayang?"
"Aku lapar," rengek Diana.
"Kamu habis dari Rumah Sakit, sebaiknya kamu mandi dulu, aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk kita." Pandangan Ivan tertuju pada Dillah. "Kalian sudah makan?"
"Sudah, sahut Dillah.
"Ya sudah, aku mau mengantar Diana dulu ke kamar dan memberi tahu letak kamar mandi.
Dillah kembali melanjutkan tidurnya, sedang Ivan dan Diana setelah keduanya selesai mandi mereka makan malam bersama, setelahnya melanjutkan petualangan yang tidak ada batas itu.
***
Keesokan harinya.
Saat Anton membuka matanya, dia melihat tas yang tidak asing. Anton meraih tas itu. "Bukankah ini tas Diana? Kenapa ada di sini?"
Saat Anton ingin mengembalikan tas itu ketempatnya, tiba-tiba dua botol terjatuh dari dalam tas Diana. Anton memungut dua botol itu, dia berusaha mengamati dua botol itu.
"Anton, kamu sudah bangun?"
Pertanyaan itu membuyarkan konsentrasi Anton, dia segera menoleh ke suara itu berasal, ternyata Diana yang berjalan kearahnya.
"Dua botol ini terjatuh dari tasmu, aku merasa tidak asing dengan kode ini, tapi aku lupa. Obat apa ini?" Anton memperlihatkan dua botol yang dia pegang.
Diana segera mengambil dia botol yang ada di tangan Anton. "Ini T779-20, aku mengembangkan ini di Jerman."
"Kamu berhasil?" Anton sangat bahagia.
"Iya, jaga-jaga saja, andai ED Group berhasil memonopoli, dengan menyuap para pejabat demi T779, maka aku sudah memiliki obat yang lebih dari T779 biasa dan ku bagikan dengan cara yang berbeda."
"Aku salut atas kerja kerasmu, tapi kenapa cuma 2?" tanya Anton.
"Ada banyak, hanya saja sebagian aku kirim ke beberapa lembaga penelitian obat, memastikan keamanan dan khasiat obat ini."
Ivan tersenyum melihat Diana dan Anton sangat asyik mengobrol. "Hei sayang, masih di sini, katanya mau ajak Anton sarapan bersama."
"Gara-gara membahas T779 aku lupa tujuanku kemari," ucap Diana.
__ADS_1
Mereka semua segera menuju ruang makan, dan sarapan pagi bersama.