Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 156 Meninggalkanmu


__ADS_3

Ivan tidak menduga Diana sampai berpikir sejauh ini. “Siapa pun kamu, sedikitpun tidak merubah perasaanku padamu."


"Aku tetap Ivan yang mencintai Diana yang seorang Mahasiswi Universitas Bina Jaya."


"Tapi aku yang membuatmu bangkrut."


"Aku tidak peduli."


"Kamu ingin pulang kemana sekarang? Pilihan ada di tanganmu, jangankan pintu Apartemen, pintu hatiku saja terbuka lebar untukmu.


"Aku menginap di rumah Nizam saja," ucap Diana.


"Tidak masalah, kemana pun kamu, aku tetap ikut.”


Diana bangkit dari posisinya. "Aku bercanda, aku kembali ke Apartemen Nizam saja, andai mereka membutuhkanku di Rumah Sakit, aku bisa sampai lebih cepat."


"Oke, kalau kamu ke sana. Aku juga ke sana."


Mereka berdua segera menuju Gedung apartemen yang dekat dengan Universitas Bina Jaya. Sesampai di sana Diana langsung menuju kamarnya, saat Diana baru membuka pintu Apartemennya, Ivan meringsek mendorong Diana masuk kedalam Apartemen. Ivan langsung memojokan Diana ke dinding. Jarak kedua sangat dekat, hembusan napas keduanya terpantul di permukaan kulit mereka.


Ivan menepikan helaian rambut yang menutupi wajah Diana. "Maafkan aku."


"Maaf untuk apa?"


"Atas semuanya, termasuk mengatakan siapa dirimu langsung di depanmu."


“Bukan maksudku membuatmu tidak nyaman dengan mengatakan semua rahasia ini langsung padamu.”


Diana diam dan menatap kedua bola mata Ivan.


“Aku berjanji padamu Diana, walau aku sudah mengetahui semuanya, aku tidak akan mengusikmu dengan rahasia ini, dan aku tidak akan melukaimu atau mengancam dirimu dengan rahasia ini.”


“Aku berharap, hubungan kita tetap seperti sebelumnya walau aku sudah mengetahui rahasia tentangmu.”


Diana menganggukan kepalanya pelan, dia juga berharap tidak ada perubahan hubungannya dengan Ivan walau Ivan sudah mengetahui tentang dirinya.

__ADS_1


“Kamu sudah berjasa besar bagi keluargaku, kamu menolong ibuku, menolong kakakku, rahasia tentangmu sudah tidak penting lagi bagiku, walau ada alasan khusus kenapa aku ikut merahasiakan rahasiamu.” Ivan mengusap sisi kepala Diana. “Untuk rahasia keluargaku, aku serahkan semuanya padamu, kamu tetap simpan atau kamu beberkan, aku tidak masalah.”


“Bukankah sebelumnya kamu sangat berambisi untuk menangkapku, sekarang kamu sudah tahu siapa targetmu dan targetmu kini berada tepat di depan matamu. Mana semangatmu yang menggebu untuk menangkapku?” tanya Diana.


“Rasa cintaku merubah segala kebencianku, setelah aku mengetahui ketua IMO adalah wanita yang sangat aku cinta, ambisiku untuk menangkapnya dan memenjarakannya seketika berubah, yang ada aku hanya ingin menutupi jati dirinya dan melindunginya.


"Bagaimana dengan Yudha?" tanya Diana.


"Saat Yudha tahu siapa sesungguhnya ketua IMO, aku yakin dia akan luluh sepertiku, terlebih kamu telah menyelamatkan Neneknya."


"Ku harap kamu tetap merahasikan siapa dokter bedah itu," ucap Diana.


"Kalau itu mau mu, kalau itu yang membuatmu tenang, aku akan merahasiakan semua rahasia tentangmu termasuk siapa dokter hebat itu."


"Baiklah, aku pegang janjimu," ucap Diana.


"Kau bukan hanya memegang janjiku, tapi juga memegang sepenuhnya hatiku."


Tangan Ivan perlahan meraba tengkuk Diana, dan memberi pijatan lembut di sana. Perlahan Ivan mendekatkan wajahnya dengan wajah Diana. Jarak keduanya tinggal beberapa centi lagi.


“Rasa cintaku merubah segalanya, aku tidak berdaya Diana.”


Sangat lama persilatan lidah itu terjadi, suara decakan pun memecah kesunyian. Ciuman Ivan semakin lama semakin ganas, bukan hanya mecium bibir Diana tapi menelusuri lekuk leher Diana. Hal itu membuat kesadaran Diana kembali, kedua mata Diana yang sedari tadi terpejam langsung terbuka lebar saat menyadari dirinya tengah melakukan hal apa.


Diana mendorong Ivan agar menyudahi kegiatan mereka. Ivan menatap Diana dengan tatapan yang penuh damba, seakan tidak rela kegiatan itu berakhir.


“Sudah ku katakan padamu, agar tidak jatuh cinta padaku, mencintaiku hanya membuatmu tenggelam dalam rasa sakit.”


“Aku tidak peduli! Rasa cinta itu sudah mengusai hati dan pikiranku.”


Mata Ivan dan Diana kembali beradu tatap. Diana tenggelam dalam pikiraanya.


Benarkah Ivan mencintaiku sedalam itu? kalau iya aku akan coba untuk memanfaatkannya.


“Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, aku tahu kamu tidak mencintaiku, aku tidak peduli, aku tetap memberikan cintaku, aku tetap menghujanimu dengan cintaku, walau akhirnya kamu hanya memanfaatkan aku saja, aku tidak peduli.” Ivan menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Diana merasa Ivan bisa membaca isi pikirannya.


"Kenapa? Apa aku benar kalau kamu ingin memanfaatkanku saja?" tanya Ivan lembut.


"Walau iya, lakukan saja, sebanyak apapun dan bagaimana pun. Selama kamu bahagia, aku rela. Diana."


Diana merasa kikuk isi pikirannya di tebak Ivan. Diana segera berjalan menuju kamarnya.


Ivan segera kembali ke kamarnya dengan membawa kartu akses ke kamar Diana, sesapai di kamar Apartemennya Ivan segera membersihkan diri. Ivan terlihat segar dan dia mengenakan setelan santainya, baju kaos biru dan celana pendek. Ivan kembali teringat Diana, dia segera menuju Apartemen yang Diana tempati. Setelah masuk, Ivan segera menuju kamar Diana.


Tok! Tok! Tok!


Setelah mengetuk pintu, perlahan Ivan membuka pintu kamar Diana, saat pintu terbuka lebar, Ivan melihat Diana berbaring di tempat tidur dengan rambut basah. Ivan berdecak melihat hal itu, dia berjalan menuju kamar mandi dan mengambil handuk kering di sana. Ivan kembali mendekati Diana, memaksa Diana untuk bangun dan duduk di tempat tidur.


Tanpa berkata apa-apa, Ivan langsung mengeringkan rambut Diana. Keduanya diam. Diana diam dan membuarkan Ivan mengeringkan rambutnya sedang Ivan fokus dengan kegiatannya.


Beberapa menit berlalu. Ivan terlihat puas, akhirnya rambut Diana tidak sebasah sebelumnya. Ivan duduk di samping Diana. “Untuk memanfaatkan seseorang, biasanya orang itu akan memberikan sesuatu sebagai pengalihan atau imbalan. Kalau kau ingin memanfaatkanku, bolehkan aku tahu kamu ingin memberiku apa?"


"Atau ... apa aku bisa memilih sendiri imbalan atau umpan itu?”


“Aku tidak akan memberimu imbalan atau hadiah, tapi aku mengantarkanmu pada kematian.” Diana terrsenyum seolah meledek Ivan.


"Jika hal itu membuatmu bahagia, lakukan saja. Tapi jika hal itu menyakitkan dirimu, maka jangan lakukan. Kamu sakit satu kali, aku merasa disakiti 100 kali."


"Membunuhmu mana aku merasa sakit, yang merasa sakit iu yang dibunuh," sela Diana.


“Lakukan saja, Sayang ...." bisik Ivan.


"Saat kau nanti bertugas membunuhku. Apa aku boleh bertanya, kira-kira kamu akan membunuhku dengan cara apa?"


Raut wajah Diana yang terlhat semakin gusar.


"Aku ingin tahu bukan ingin menghindar, tapi aku hanya ingin membayangkan seperti apa nanti akhir kehidupanku.” ucap Ivan.


"Aku bisa membunuhmu tanpa melukai fisikmu!" ucap Diana.

__ADS_1


"Dengan cara apa itu?"


“Dengan meninggalkanmu.” Tatapan mata Diana sangat serius.


__ADS_2