Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 164 Biarkan Saja


__ADS_3

Ivan memeluk Diana sangat erat. Rasanya dia ingin membekukan waktu agar posisi ini bertahan lama.


“Ehm!” Diana sengaja berdeham.


“Diana, kita ini adalah pasangan, bahkan telah resmi bertunangan, hanya menentukan waktu yang tepat maka kita akan sampai di pernikahan. Jadi ... apa kamu tidak bisa bersikap romantis padaku?"


Diana diam, dia berulang kali menghela napasnya.


Pernikahan? Enthalah apakah kita akan sampai pada tahap itu. Batin Diana.


“Apakah kamu tidak bisa bersikap lebih hangat padaku?” Ivan semakin hanyut dengan aroma tubuh Diana yang memabukkan.


Diana perlahan melepaskan diri dari pelukan Ivan. “Maaf, aku pergi dulu.”


Ivan memegang lengan Diana, menahan kepergian perempuan itu.


"Aku mohon, tinggalah dulu."


Diana berulang kali menghela napasnya. "Baiklah, aku akan tinggal beberapa waktu."


"Lakukan apa saja yang kamu mau, Diana." ucap Ivan.


Diana mulai berkeliling kantor Ivan, salah satu lemari kaca yang memajang semua Trophy keberhasilan Perusahaan agung Jaya menyita perhatian Diana. Diana membaca dengan cermat setiap penghargaan yang ada di sana. Beberapa obat yang mendapat penghargaan juga terpajang di sana.


Tiba-tiba ada satu miniatur botol kecil yang menyita perhatian Diana, dia sangat ingat melihat botol obat yang sama saat dia masih kecil. Walau tidak terlalu jelas tapi Diana yakin itu adalah obat yang sama dengan yang dia lihat dulu.


Shepp!


Rasa hangat seketika terasa diseluruh bagian belakang tubuhnya, saat Ivan kembali memeluknya dengan begitu erat. Hal itu membuat fokus Diana pada miniatur botol obat itu seketik terpecah.


“Diana, bagaimana kalau kita kasih tau mamaku, kalau dokter bedah yang dia kagumi itu dirimu?”


“Maksudmu?” Diana langsung melepaskan diri dari pelukan Ivan.


“Sikap mamaku pasti akan berubah padamu, jika dia tahu dokter bedah yang dia kagumi selama ini adalah dirimu. Rasa becinya seketika akan berubah jadi rasa cinta.”


“Bukankah sebelumnya kamu bilang akan membantuku merahasiakan siapa diriku?” Diana menatap Ivan begitu dingin. “Kenapa aku selalu merahasiakan diriku? Karena aku merindukan rasa sayang yang tulus untuk diriku, bukan rasa sayang karena kemampuanku!”


"Bukan begitu Diana, dengan restu mama atau tanpa restu, aku tetap akan menikahimu."


Mood Diana saat ini hancur, karena dia teringat botol obat yang berkaitan dengan kematian ibunya. Diana pergi begitu saja dari ruangan Ivan.


Ivan mematung melihat kepergian Diana, dia tidak menyalahkan Diana karena Diana kekeh menyembunyikan identitasnya. “Sepertinya aku harus menempuh cara lain untuk meluluhkan hati mama agar dia menerima Diana.”

__ADS_1


Ivan segera menelepon Dillah.


“Bagaimana rapatnya?”


“Masih berjalan Tuan, dan semuanya lancar.”


“Apa masih bisa lanjut tanpa aku?”


“Masih bisa, Tuan.”


“Lanjutkan, aku serahkan pada kalian berdua. Aku mau pulang dulu.”


“Iya Tuan.


Setelah menyudahi panggilannya, Ivan segera menuju Rumah Sakit untuk menemui ibunya.


Di ruang rapat.


Akhirnya rapat yang di pimpin Yudha selesai, Barbara dan beberapa staf lain langsung melakukan tugas mereka. Setelah selesai mereka izin undur diri dari ruang rapat. Sedang Yudha masih berada di ruangan itu.


“Tuan Yudha masih ingin di sini?” tanya Dillah.


“Iya aku ingin di sini dulu.” Yudha masih memeriksa beberapa file dari laptopnya.


“Tuan Yudha, coba lihat ini.” Dillah langsung memberikan handphonenya pada Yudha.


Yudha menghempas kasar napasnya saat Yudha memperlihatkan pinggang mulus seorang wanita yang dihiasi dengan tato burung kecil. “Kalau mau berfantasi hiya-hiya dot com, kamu sendiri saja, tidak ada kepuasan melihat hal itu yang ada hanya menyiksa. Keinginan semakin kuat, partner untuk menyalurkannya tidak kunjung dapat.”


Dillah berusaha menahan kekesalannya mendengar tanggapan Yudha. “Tuan Yudha jangan berpikir sesat! Lihat foto ini baik-baik, lihat pantulan pada cermin itu, ini adalah foto Nona Diana.”


“Waw, Diana punya tato.” Yudha mengagumi keindahan foto itu.


Dillah langsung mengambil handphonenya. “Kalau Tuan Ivan tahu Anda melihat tunangannya seperti itu, mungkin dia akan mencongkel mata Anda.”


“Apa kamu tidak terpesona dengan keindahan pinggang Diana yang begitu ….” Yudha sengaja menggantung ucapannya.


“Jangan fokus pada lekukan keindahan dunia itu, tapi fokus pada tato itu,” ucap Dillah.


“Ada yang salah dengan tato itu?”


Dillah kembali memberikan handphonenya. Yudha melihat beberapa foto dari sana. Termasuk foto tato burung yang sama, hanya saja tato itu ada di bagian tubuh seorang laki-laki.


“Yang perempuan adalah Nona Diana, dan yang laki-laki adalah Lucas. Mereka memiliki tato yang sama,” terang Dillah.

__ADS_1


“Ya wajar, karena Diana dan Lucas sepupu,” sahut Yudha.


"Iya, aku tahu mereka sepupu, karena aku sendiri ikut mengorek Informasi tentang mereka. Jadi ... kalau kita wajar, tapi bagaimana tanggapan orang di luar?” Dillah memperlihatkan cuitan para mahasiswa universitas Bina Jaya yang membahas tato itu dan mempertanyakan hubungan Diana dan Lucas.


"Lihat, mereka menggosipkan itu tato couple, sedangkan tato itu sebenarnya seperti sebuah pemberkatan untuk anak-anak yang ingin mereka lindungi, ini yang aku baca dari internet tentang tato burung layang-layang," ucap Dillah.


“Aku akan tanya Ivan, apa tindakannya atas kabar ini.” Yudha langsung menelepon Ivan.


Tutttt!


Lumayan lama bunyi tuttt itu terdengar.


“Ada apa Yudh?” sapaan di ujung telepon sana.


“Van. Ada gossip lagi yang menyeret Diana, kali ini yang terseret bersama Diana, adalah Lucas.”


“Gosip apa?”


“Dari foto yang beredar, sepertinya ada yang memotret Diana diam-diam, dan foto itu mulai menyebar. Ya … burung kecil yang indah yang tinggal di pinggang Diana menjadi pembicaraan hangat, karena burung yang sama juga ada di tubuh Lucas. Jadi … apa tindakanmu?”


“Biarkan saja, lama-lama berita itu akan menguap dan hilang dengan sendirinya.”


"Yakin biarkan saja Van? Kamu tidak akan terbakar api cemburu melihat cuitan para Mahasiswa Bina Jaya tentang Diana dan Lucas?"


"Aku masih sehat, mana mungkin aku cemburu pad seseorang yang Diana anggap adiknya sendiri?"


"Aku juga menganggap Diana adikku, tapi kamu malah cemburu padaku," protes Yudha.


"Kalau kamu beda, andai kamu jadi Ayah Diana, Diana tetap tidak aman denganmu, karena kamu sangat jelas sangat bernappsu padanya!"


Ivan langsung menutup teleponnya sepihak, membuat Yudha diselimuti rasa kesal.


“Apa perintah Tuan Ivan?” tanya Dillah.


“Katanya biarkan saja.”


"Sepertinya Lucas aman dari api kecemburuan Tuan Ivan," gerutu Dillah.


"Hmm, tapi kenapa Ivan tidak bisa percaya padaku, Dillah?" tanya Yudha.


"Karena ibarat seorang penjaga, Anda seperti musang, bagaimana seorang pemilik mempercayakan ayamnya pada seekor musang?"


Melihat raut kekesalan Yudha, Dillah segera pergi dari sana sebelum kena amukan Yudha.

__ADS_1


__ADS_2