Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 259 Di Balik Layar


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Diana, Ivan, Yudha, dan Dillah menghabiskan waktu seminggu ini di desa itu. Dillah dan Yudha terus melakukan pemeriksaan dengan menyamar sebagai pelamar kerja di sana. Selama mereka melakukan tugas mereka, mereka berdua tidak menemukan kecurangan dari pegawai pengurus penerima kerja, walau Dillah dan Yudha menawarkan uang asal di terima, namun mereka tetap dengan peraturan Perusahaan.


"Selama warga desa ini sanggup dan meliki keahlian di jabatan yang ada, kami hanya mengutamakan menerima pekerja dari desa ini. Inilah peraturan Perusahaan."


Selalu kalimat itu yang Yudha dan Dillah terima. Sedang Ivan dan Diana terus mengunjungi beberapa Sekolah di sana, dari tingkat Dasar hingga tingkat SMA.


Hari terakhir mereka di desa, Ivan, Diana, dan Yudha memilih bersantai di penginapan mereka.


"Beberapa Perusahaan besar masa bodoh dengan siapa pegawai mereka, yang penting perusahaan mereka maju. Setelah datang ke sini, aku salut dengan konsintennya para pekerja di sini," ucap Yudha.


"Nasib mereka ditentukan para penerima pekerjaan itu, kalau mereka masa bodoh, yang susah anak desa mereka sendiri, setiap perusahaan sudah mengutamakan untuk menerima warga terdekat, tapi sering ada permainan di penerimaan karyawan." Dillah menambahi.


"Jadi, semua aman?" tanya Ivan.


"Sejauh ini aman, Van." sahut Yudha.


Mereka semua telah mencapai tujuan masing-masing, keempatnya bersiap untuk kembali ke kota.


Sedang di belahan lain ….


Setelah mendapat kabar dari Anton, kalau Identitas Diana bocor, Nenek Zelin terus berusaha mencari bantuan untuk menutupi kembali siapa dokter bedah itu. Tapi usahanya nihil, semua pengurus sangat berharap Diana mau hadir di acara besar nanti. Nenek Zelin tidak mungkin mengecewakan manusia-manusia hebat yang menjadi bagian dari acara itu.


Nenek Zelin terpaku memandangi layar komputer yang menyala di depannya. Dia masih memikirkan cara menyembunyikan permata terindahnya.


“Bagaimana, Nyonya?” tanya pengawal yang selalu bersama Nenek Zelin.


“Sepertinya kita harus ke kota, kamu pastikan keamanan di rumah besar kami yang ada di kota,” perintah Nenek Zelin.


“Yakin Nyonya mau ke kota?” Pengawal itu terlihat ragu.


“Yakin, apalagi aku tidak tega jika membayangkan sahabatku menempuh perjalanan jauh hanya demi menemuiku, lebih baik aku yang ke kota. Selain membereskan urusan identitas Diana, aku bisa menemui sahabat lamaku."


Nenek Zelin menoleh pada pelayan setianya, yang 20 tahun ini selalu setia di sampingnya. “Makhaya. Aku titip Hogu, walau Diana juga sangat merindukannya, tapi aku sulit membawanya bersamamu.”


Anjing yang Bernama Hogu itu mengeluarkan suara kecil yang memperlihatkan kesedihannya.


“Owww … maafkan aku, Hogu. Diana pasti kembali setelah semuanya selesai.” Nenek Zelin berusaha menghibur anjing yang sangat sedih itu. Nenek Zelin terpaksa mengabaikan kesedihan kesayangan Diana itu, dia segera mempersiapkan penerbangannya menuju kota di mana Diana menempuh Pendidikan.


***

__ADS_1


Sejak 3 hari yang lalu keadaan Agis dan Nazif semakin membaik, mereka pun diperbolehkan pulang ke rumah.


Keadaan gubuk kecil Aridya yang terletak di pinggiran kota tidak berubah, terasa sangat sepi, hanya suara kendaraan yang sesekali lewat yang memecah kesunyian.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu di pagi hari membuat ketenangan Aridya terusik. Dia segera berjalan menuju pintu. Saat Aridya membuka pintu, rasanya jantungnya seketika berhenti bekerja saat melihat 3 orang yang berdiri di depan pintu rumahnya


"Seminggu ini kami berusaha mencari keberadaanmu, akhirnya kami menemukanmu."


"Ka-ka-kalian ken-kenapa i-ingin menemuiku?" Sangat sulit bagi Aridya mengucapkan kata yang ingin dia ucapkan.


"Diana. Apalagi?" ucap salah satunya.


"Aku tidak punya rencana untuk menghabisi Diana," kilah Aridya.


"Tidak perlu, kami sudah memiliki cara untuk menghabisinya."


Duggggggh!


Aridya sangat terkejut mendengar kata-kata itu.


Sontak ketiga orang itu menoleh kearah suara yang menyebutkan nama mereka.


"Hai Agis, makin cantik saja kamu," puji Rafardhan.


"Tumben om menemui kami, ada sesuatu?" tanya Agis.


"Ketiga om kamu memiliki rencana baru untuk menghabisi Diana sepertinya, kita usahakan bantu mereka." Aridya memberikan kode pada Agis, berharap Agis mengerti.


"Menghabisi Diana? Kenapa baru ada rencana sekarang om? Ini hal yang kami cari selama ini," ucap Agis.


Aridya bisa bernapas lega, karena Agis mengeri isyarat darinya.


"Kami baru memiliki kekuatan, Gis. Kemaren Fablo dan Arano meninggal, kami tidak punya cara, apalagi Pengacara Axari seperti mulai mencurigai kami, sebab itu kami tidak bisa menolong kalian saat kalian terpuruk kemaren," ucap Alizan.


"Jadi ... apa yang bisa kami bantu om?" Nazif tiba-tiba juga ada diantara mereka.


"Rencana om meledakan kamar asrama Diana gagal, karena saat bom meledak, Diana tidak berada di kamarnya. Sekarang, kita menunggu dari komandan baru kita," ucap Rafardhan.

__ADS_1


"Siapa komandan baru kita?" tanya Aridya.


"Aku."


Tiba-tiba sosok cantik muncul diantara pintu.


"Siapa dia? Apa dia bisa dipercaya, kali ini aku tidak mau gagal lagi untuk menghabisi Diana," ucap Aridya.


"Iya om, mengingat siapa Diana, kita harus cari latner yang tepat." Agis menambahi.


"Kalian tenang saja, Nona Arli seorang Genius, sebelum menemui kalian, Arli sudah menceritakan rencananya," sela Rafardhan.


"Bukan hanya rencana brilliant, om. Tapi ... Patner kita juga harus 1 visi misi sama kita," protes Agis.


"Tenang Gis, Visi misi om sama Arli sama, kamu tenang aja," ucap Marawi.


"Kalau om percaya, ya kami ngikut om. Terus bagaimana rencananya dan apa tugas kami?" sela Nazif.


"Kamu hanya perlu memonitor keadaan dari mobil, dalam mobil sudah banyak layar yang menangkap keadaan di Universitas Bina Jaya. Arli sudah mengatur semua. Semua rencana kita fokus pada Diana. Saat Bom meledak, Diana orang pertama yang hancur," ucap Alizan.


"Kalian semua aman masuk ke sana?" sela Aridya.


"Tenang saja Aridya, semua perencanaan sudah kami atur, hanya saja kami butuh pengalihan, nah tugasmu dan Agis membuat suasana kacau, dengan bersikeras ingin masuk," ucap Rafardhan.


"Kami siap, om." sahut Agis.


Arli berusaha menerangkan rencana mereka secara rinci, agar semuanya mengerti. Merasa urusan mereka selesai, ketiga Paman Diana dan Arli pergi meninggalkan rumah Aridya.


Nazif, Agis, dan Aridya termenung, mereka sangat syok dengan rencana Arli untuk menghabisi Diana.


"Bagaimana ini mama?" sela Agis.


"Jangan sampai Diana terluka ma, kalau bisa dia pergi dari Negara ini agar dia selamat," ucap Nazif.


"Dengar penjelasan Arli tadi? Dia sudah membongkar Identitas Diana, dengan Diana tidak hadir, beberapa petingi akan merasa kecewa." Sejenak Aridya membisu, memikirkan jalan lain, "Saat ini juga kita temui Nizam."


"Kenapa pengacara itu ma?" sela Agis.


"Selama ini kebanyakan orang tahunya dokter hebat itu Nizam, so pasti, Nizam orang yang Diana percaya, karena di balik layar mereka memiliki kerjasama yang tidak disadari banyak orang," sahut Aridya.

__ADS_1


__ADS_2