Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 170


__ADS_3

Setelah Diana meninggalkan Rumah Sakit, dia langsung menemui Ketua Rumah Sakit yang merupakan Rektor Universitas Bina Jaya.


Tok! Tok Tok!


"Masuk!"


Mendengar izin telah diberikan, perlahan Diana membuka daun pintu ruangan Rektor Universitas Bina Jaya.


"Maaf mengganggu Anda, Pak."


"Diana?" Pak Abi sangat bahagia melihat Diana. "Ada hal apa?"


"Saya ingin melaporkan seorang dokter yang melewati batas." Diana mengambil dokumen dari dalam tasnya dan memberikan pada Pak Abi.


"Surat keputusan Amputasi ini sangat kelewatan, Lucas tidak apa-apa, dia malah mengeluarkan surat ini, dan memaksa orang untuk menandatanginya, saya harap Bapak segera memeriksa dokter ini. Jangan sampai nama baik Rumah Sakit - rusak."


"Aku sangat berterima kasih atas laporanmu, Diana. Aku akan segera mengutus orang untuk menyelidiki dokter ini."


Merasa urusannya selesai, Diana izin undur diri dari kantor Pak Abi. Diana melangkah santai menyusuri lorong, tiba-tiba handphonenya berdering. Diana menepi sebentar memeriksa layar handphonenya.


“Nona, aku menemukan hal lain selain tugas yang Anda berikan. Sepertinya hal itu berkaitan dengan kecelakaan yang Anda minta untuk selidiki.”


“Hal apa itu?”


“Saya akan memberikan Anda rekaman jalan raya sebelum kejadian, juga beberapa hal yang terjadi sebelum kecelakaan.”


“Cepat kirimkan padaku," pinta Diana.


Sesaat kemudian Diana menerima video. Dalam video yang dia terima, di sana memperlihatkan mobil yang menabrak Lucas memang sengaja menabraknya. Diana sangat kesal melihat hal itu.


Tink!


Pesan baru masuk.


Diana menyudahi menonton video, dan langsung membuka file baru. Di sana ada dua titik merah berdekatan.

__ADS_1


Tink!


*Dua titik merah itu adalah titik keberadaan Malvin, bukankah Malvin ada bersama Lucas saat kecelakaan? Dan titik yang satunya adalah Rarfardhan.


Mendengar nama Rafardhan ada di tempat yang sama dengan Malvin, membuat otak Diana seketika memikirkan segala hal buruk.


*Apa ini?


Apakah paman dan ED Group bekerjasama?


apakah ini juga isyarat dari paman kalau dia mengincarku lagi? Dan ini adalah peringatan kalau dia mentargetkan aku*?


**


Di sisi lain.


Archer terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Melihat salah satu hacker andalannya begitu serius memandangi layar computer, hal itu menarik perhatiannya.


“Kamu mengerjakan apa?” tanya Archer.


“Apa?! Diana menyelidiki Fardhan sendirian?” Archer terlihat panik. “Aku harus menemui Diana sekarang.”


“Percuma Tuan Muda, Nona Diana sangat keras kepala.”


“Aku tidak bisa membiarkan dia bekerja sendirian! Sangat berbahaya jika Diana terjun sendirian. Saat ini musuh Diana yang lain sudah mengetahui kode rahasia yang selama ini Diana pakai, bagaimana kalau mereka bekerjasama dengan Fardhan?"


Archer langsung pergi dari perusahaannya. “Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Aku memang tahu kemampuan Diana, tapi saat ini dia tidak bisa bekerja sendirian.” Gerutunya.


Di tempat lain.


Diana mulai melakukan tugasnya, dia berada si sebuah hotel dan bersantai di Restoran hotel itu sambil menikmati secangkir kopi.


Drtttttt ….


Suara getaran di handphone khususnya memecahkan fokus Diana. Jika handphone itu berdering Diana sudah tahu siapa yang menelepon. Diana langsung menerima panggilan itu.

__ADS_1


“Iya Nenekku sayang ….”


“Diana, apa kamu sudah menerima laporan dari utusanku?”


“Sudah Nek.”


“Nenek sedih, kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau Ivan dan ibuny menolakmu.”


“Nenek, bukan maksudku menutupi semua ini dari Nenek.”


“Terus, apa keputusanmu sayang? Nenek serahkan semuanya padamu.”


“Bukankan Nenek memintaku menjawab saat aku pulang ke desa nanti?”


“Menunggu saat itu tiba, rasanya sangat lama sayangku. Jadi apa keputusanmu tentang hubunganmu dengan Ivan?”


“Aku masih mempertimbangkannya, Nek. Apa Nenek keberatan jika memberiku waktu?”


“Kamu masih kuat menerima kebencian dan hinaan Ivan dan ibunya?”


“Ivan sudah jauh berubah Nek, dia bersikap sangat baik padaku.”


"Bagaiamana dengan ibunya?"


Diana bungkam mendengar pertanyaan Neneknya, dia ingin berbohong tapi rasanya sulit, orang utusan Neneknya pasti sudah melaporkan segalanya.


“Kamu tidak bisa meninggalkan Ivan karena kamu sudah menyukainya?”


"Sebesar apapun cintamu pada Ivan, dan cinta Ivan padamu, semua itu tidak cukup untuk mewujudkan sebuah bangunan Rumah Tangga, walau sebagian orang berhasil, hanya saja Nenek tidak rela kalau kamu mengalami nasib yang sama dengan ibumu."


Mendengar kata ibu air mata Diana seketika menetes.


"Ibumu tidak pernah diterima oleh keluarga Ayahmu, apa kamu ingin melahirkan Diana versi yang lain jika kamu kekeh seperti ibumu dan Ayahmu yang memperjuangkan hubungan kalian atas nama cinta?"


"Aku tidak tahu Nek, aku minta waktu ya.”

__ADS_1


"Ya, Nenek masih memberimu waktu, gunakan otakmu sayang." Nenek Zelin memberikan Diana waktu lagi, mereka berdua menyudahi panggilan telepon mereka.


__ADS_2