Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 239 Pengorbanan


__ADS_3

Mengingat bagaimana perjuangan yang telah mereka lewati, Ivan tidak tega meneruskan perjalanan pulang, akhirnya dia memutuskan untuk istirahat di hotel terdekat. Saat mobil yang Ivan kemudikan memasuki hotel, Diana berpikir Ivan kelelahan. Dia diam dan mengikuti apa mau Ivan. Mereka menempati sebuah kamar VIP.


"Kamu mandi saja dulu, nanti aku akan meminta Dillah mengantarkan baju ganti untuk kita," ucap Ivan.


"Bagaimana kalau mandi bersama? Sekujur tubuhku sangat pegal."


"Usul yang sangat bagus." Ivan tersenyum, keduanya pun berjalan bersama menuju kamar mandi.


Mereka berdua berendam di dalam bathub yang berukuran besar. Diana duduk membelakangi Ivan. Ivan dengan lembut memijat pundak mulus Diana.


"Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" Mengingat bagaimana perkelahian mereka, Ivan sangat khawatir.


"Aku tidak terluka."


"Setelah ini, semoga perjalanan hidup kita lancar," ucap Ivan.


"Tapi sayangnya masih ada rintangan lagi yang harus kamu lewati, "ucap Diana.


"Apa itu?"


"Saat pemuda dari luar desa ingin menikahi gadis desa tempat aku tinggal, mereka harus--"


"Bertarung menghadapi jagoan desa, demi membuktikan apakah mereka pantas mempersunting gadis desa mereka, dengan test fisik, mereka menilai apakah laki-laki itu mampu melindungi gadis desa mereka," potong Ivan.


"Kamu sudah tahu?"


"Saat perjalanan pulang, Anton menceritakannya padaku."


"Aku bingung, haruskah aku meminta pemghapusan sarat itu." Diana tenggelam dalam pemikirannya. "Aku tahu kamu memiliki ilmu bela diri, tapi kamu tidak pernah tahu bagaimana kehebatan lawanmu."


"Jangan bantu aku, jangan hapus syarat itu, biarkan aku berjuang untukmu, aku akan membuktikan kalau diriku pantas untukmu, jangan pikirkan aku, yakinlah kalau aku mampu berjuang demi dirimu."


Diana berbalik, kini posisi mereka saling berhadapan. "Sekeras apapun pukulan yang aku terima, aku terlatih untuk menerima rasa sakit, sehingga aku tidak pernah merasa sakit walau sekujur tubuhku terluka. Tapi, saat kamu kena pukulan, entah mengapa aku yang merasa sakit, aku belum terlatih melihatmu menahan rasa sakit."


Ivan sangat terharu mendengar kata-kata Diana. Dia langsung menarik Diana kedalam pelukannya. "Rasa sakit yang aku dapat demi memperjuangkanmu, itu akan jadi kebanggaan dalam kisah cintaku."


Keadaan kamar mandi itu seketika hening, hanya obrolan dengan helaan napas memburu yang tidak teratur lagi.


***


Ivan dan Diana sama-sama tidak memiliki baju ganti, keduanya keluar kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi.


"Ingin makan?" tanya Ivan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tidur dan memelukmu," sahut Diana.


Tanpa berkata lagi, Ivan menarik Diana keatas tempat tidur, keduanya saling berpelukan.


Hening.


Hanya terdengar helaan napas keduanya. Tiba-tiba handphone Diana berdering, saat Diana bangun untuk meraih handphonenya, dia baru mengetahui kalau Ivan tertidur.


Melihat nama Tuan Muda AA, Diana langsung menerima panggilan. "Iya Tuan."


"Diana, saat menerima kode darimu, aku segera ke markas, di tengah perjalanan, aku bertemu Tony, saat ini aku masih di tepi jalan, bagaimana menurutmu, bawa Tony ke markas, atau Rumah Sakit?"


"Posisi kalian di mana?"


Archer menyebutkan posisi mereka.


"Di dekat kalian, ada hotel, bawa Tony ke hotel itu, tolong pinta Hadhif bawakan kotak peratan medisku ke hotel itu."


"Baik Diana, setelah aku mendapatkan kamar, aku akan menghubungimu lagi."


Setelah Archer menyudahi panggilan mereka, dia langsung menelepon Hadhif, dan memintanya membawa barang yang Diana minta. Archer segera ke hotel dia mengatakan kalau Tony mabuk dan mereka butuh tempat, dengan uang yang banyak, Archer mendapatkan yang dia mau.


Dia segera menghubungi Diana, mengatakan lokasi kamar mereka. Mengingat Archer sudah di hotel yang sama, Diana terpaksa mengenakan baju yang sebelumnya, tidak mungkin baginya untuk menemui Archer dengan mengenakan jubah mandi.


"Aku punya banyak kabar duka, Tuan ingin mendengar yang mana?" tanya Diana.


"Tentang?"


"Pertama tentang pengkhianat di IMO, kedua tentang kenapa Tony bisa seperti ini."


"Aku ingin tahu tentang Tony, kenapa dia terluka separah ini?"


"Tony terluka seperti ini, karena dia menyelamatkanku." Diana menceritakan penculikan dirinya.


"Kabar buruk kedua?" tanya Archer.


"Saat di Jerman, aku mengetahui kalau pengkhianat dalam IMO adalah Tony, aku terus meneliti apa motif Tony berkhianat, sehingga saat di pabrik ED Group, aku di kejutkan suatu kenyataan yang sangat sulit aku percaya."


"Apa itu?"


"Tony berkhianat hanya ingin memancing siapa pengkhianat sesungguhnya, maafkan aku, aku harus mengatakan kenyataan pahit ini." Diana berulang kali mengatur napasnya. "Pengkhianatnya adalah istri Anda."


Diana memejamkan kedua matanya, baginya ini kenyataan yang sulit untuk dia percaya. Archer mematung sambil melihat layar handphonenya.

__ADS_1


"Tidak ada alasan untukku tidak mempercayaimu kalau istriku sendiri pengkhianat itu, bahkan saat ini dia menguntitku." Archer memberitahu Diana, kalau titik hijau yang berkedip itu adalah istrinya.


Ting! Tong!


Suara bel yang terdengar membuat Diana dan Archer tersadar. Archer segera memeriksa tamu yang datang. Saat melihat itu Hadhif, Archer langsung membuka pintu.


"Maaf, aku terlambat," sesat Hadhif.


"Tidak masalah, ayo bantu aku melakukan operasi pada Tony," pinta Diana.


"Dia kenapa?" Hadhif bingung melihat Tony babak belur, dan sisi perutnya mengeluarkan darah.


"Ceritanya nanti, ayo bantu aku."


"Bantu? Bukankah pengkhianat seperti dia pantas mendapatkannya?" sela Hadhif.


"Penjelasan nanti, yang pasti, Tony bukan pengkhianat," sahut Diana.


Diana, Hadhif, dan Archer melakukan operasi mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di perut bagian kiri Tony. Saat mereka berhasil mengeluarkan peluru itu, Hadhif bertugas menjahit, sedang Diana menyuntik Tony dengan obat khusus miliknya.


Operasi Tony pun selesai.


Mereka bertiga duduk di sofa sambil memandang kearah Tony.


"Apapun yang terjadi sebelumnya, lupakan dendammu, karena kesalahan yang Tony lakukan, bukan suatu kesalahan, tapi perlindungan." Diana kembali menceritakan pengorbanan Tony melindungi dirinya.


"Tapi cukup kita yang tahu kenapa Tony berkhianat, agar pengorbanannya tidak sia-sia."


"Baik Ketua," sahut Hadhif. Hadhif terbayang perkataan Tony, kalau apa yang nampak, tidak seperti yang terlihat, kini dia mengetahui kenapa Tony mengorbankan jabatanya sendiri.


"Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa, kabari aku." Diana segera kembali ke kamar Ivan.


Saat dia kembali, ternyata Ivan masih tidur. Diana kembali menanggalkan bajunya, mandi lagi, lalu meraih jubah mandinya, dan kembali berbaring di samping Ivan.


Di kamar hotel yang lain.


Archer berusaha mengingat tentang istrinya, beberapa kali dia melihat gelagat mencurigakan dari istrinya, tapi dia mengira itu hal biasa. Ternyata apa yang istrinya lakukan selama ini adalah sebuah pengkhianatan. Archer tidak bisa berpikir lagi, dia tidak tahu bagaimana bersikap saat berhadapan dengan istrinya nanti.


Di sisi lain.


Seorang wanita berusaha masuk kedalam hotel, namun hotel itu sangat privat tidak sembarang orang bisa masuk. Wanita itu tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, dia segera kembali ke mobilnya.


"Argggggttt!" Dia memukul setiran mobilnya.

__ADS_1


"Ternyata dugaanku selama ini benar, Archer dan Diana memiliki hubungan khusus, saat ini mereka senang-senang di hotel ini!"


__ADS_2