Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 91 Setia atau?


__ADS_3

Diana melajukan motor yang dia kendarai menuju Clubhouse tempat teman-temannya berkumpul. Setelah melepaskan helmnya, sesaat Diana membuka handphonenya dan membaca obrolan anggota group. Di sana mereka mengeluhkan karena dihujat oleh netizen, dan mereka sangat kesal. Diana segera masuk ke dalam menyusul teman-temannya.


Di dalam ruangan yang mereka tempati.


“Kita harus memikirkan cara untuk memperlihatkan semua bukti yang ada kalau Diana tidak bersalah.”


"Jika kita berhasil membuka mata mereka dengan semua bukti yang ada, mereka bisa lihat kalau Diana tidak bersalah, nama baik Diana pulih, maka kita juga akan ikut bersih."


“Benar, ayo lawan mereka dengan bukti-bukti yang ada.”


“Jangan buang tenaga kalian untuk meladeni nyinyiran netizen. Mereka yang masih julid itu adalah pemuja setia Qiara.”


Malvin, Lucas, dan dua teman Lucas sangat terkejut mendengar Diana berbicara. Sedang Thaby tersenyum, akhirnya Diana membuka suaranya di depan teman-temannya.


Diana masuk ke dalam dan duduk di salah satu sofa empuk, dia mengabaikan tatapan teman-teman yang tertuju padanya. Diana memesan beberapa menu di sana.


"Kalian tidak ingin menambah pesanan?" tanya Diana.


Semua teman-temannya hanya diam. Tidak ada yang berani bertanya mengapa selama ini Diana berpura-pura bisu.


"Aku traktir kalian semua," ucap Diana.


Mereka semua akhirnya setuju menambah pesanan mereka, dan sengaja memposting semuanya di media sosial groupnya. Diana membuat postingan baru, dan men-tag salah satu fans fanatik Qiara.


*Hai Nona ****, kamu tinggal di mana? Kalau alamatmu di sekitar Universitas Bina Jaya, ayo susul kami di Clubhouse. Aku traktir kamu. Pastinya kamu lapar dan lelah sejak kemaren menggoyangkan jempolmu untuk menghujatku sepenuh jiwamu. Aku tidak dendam padamu, justru aku bangga padamu, karena mencintai junjunganmu sepenuh hati, padahal junjunganmu tidak memberikan apapun padamu.


Orang yang Diana maksud seketika menghilang dari dunia maya setelah melihat postingan Diana.


***


Wilda membawa Qiara ke hotel milik Suaminya. Di dalam kamar ibu dan anak itu hanya diam, terus berusaha memikirkan rencana lain untuk membalas Diana.


"Qiara, kamu rela melakukan apa saja demi membalas dendam pada Diana?" tanya Wilda.


"Tentu saja mama!"


"Bahkan memberikan tubuhmu?" Wilda sedikit ragu, tapi menurutnya ini rencana yang bagus.


"Kalau bisa, kenapa tidak? Aku rela menukar apa saja asal bisa memusnahkan wanita kampungan itu!"


"Kamu ingat Dillah Asisten setia Ivan?"


Qiara berusaha mengingat sosok yang disebut ibunya. "Rasanya aku ingat, dia seperti perangko yang selalu menempel pada amplop. Kemana Ivan, dia ada. Tapi, kenapa saat Ivan ke luar negri Dillah malah ditinggal?"


"Mama dengat, Ivan akan mengganti posisinya, sepertinya Ivan sudah tahu kalau Dillah mengkhianatinya, dan salah satu pengkhiannatan Dillah, dia sering membantu papamu."


"Membantu papa untuk apa?"


"Memakai aset Agung jaya sebagai jaminan hutang!"


"Kenapa Dillah, mau mama?"


"Karena dia menyukaimu, melakukan hal kecil demi kebahagiaanmu dia mau. Seseorang yang jatuh cinta, pastinya rela melakukan apa saja demi yang dia cintai, dan kesetiaan Dillah semakin diragukan Ivan, walau keterlibatan Dillah untuk membantu papamu tidak jelas terbukti, hanya saja Ivan mulai tak percaya padanya." Wilda tersenyum licik, dia memberi kode pada Qiara, kalau Dillah bisa mereka manfaatkan.


"Jika Dillah mau membantu kita, kenapa tidak mama?" Qiara tersenyum. "Memberikan tubuhku pada Dillah bukan hal yang buruk mama, lagi pula dia tampan."


"Perbaiki dandananmu, mama akan memanggil Dillah ke sini. Setelah kamu berhasil membujuk Dillah, mama akan persiapkan rencana lain. Kalau rencana itu masih gagal, bujuk Dillah untuk memberikan sesuatu, jika kamu berhasil mendapatkan hal iti, maka kita punya senjata cadangan untuk menekan Ivan."


"Apa yang mama inginkan dari Dillah?"


Wilda membisikkan sesuatu di telinga Qiara.


***


Di Gedung Agung Jaya.


Dillah bisa bernapas lega, semua kasus yang menyeret Diana bisa diselesaikan sendiri oleh gadis itu. Dillah sangat mengagumi sosok Diana. Kini Dillah tidak tahu harus melapor apa pada Ivan, selama berusaha menyelesaikan kasus, dia hanya fokus pada Qiara. Bisa melihat gadis itu, membuat Dillah melupakan semua tujuannya.

__ADS_1


Tink!


Suara notifikasi menyadarkan Dillah dari kekagumannya pada Qiara. Dillah membuka pesan yang masuk.


*Dillah, apa kamu sibuk? Aku dan Qiara butuh bantuanmu.


Membaca pesan dari Wilda kalau Qiara membutuhkan pertolongan, secepat kilat Dillah menyambar kunci mobil dan handphonenya. Dia segera menuju hotel tempat Qiara dan ibunya berada.


Sesampainya di kamar hotel yang di tempati Qiara da ibunya, Dillah hanya melihat Qiara sendirian di sana. Dengan santai Qiara mengajak Dillah masuk ke dalam. Melihat pakaian Qiara yang sangat terbuka, membuat Dillah kesulitan untuk bernapas. Terlebih di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Qiara tersenyum licik melihat Dillah tergoda dengan kemolekan tubuhnya.


"Mama kamu mana Qi?" Dillah kesulitan untuk berbiara.


"Mama barusan pergi, dia sedang mengurus sesuatu."


"Minum?" Qiara membawakan dua gelas wine, dan memberikan satu gelas pada Dillah.


"Kalian butuh bantuan apa? Selagi Ivan belum kembali, aku masih bisa membantu kalian. Nanti malam pesawat Ivan akan mendarat, mulai besok aku tidak bisa leluasa menolong kalian lagi," ucap Dillah.


"Kakak sepupumu sangat benci pengkhianat, kalau aku ketahuan ikut campur dalam masalah ini, maka nyawaku taruhannya, sebab itu setelah dia kembali, aku tidak bisa lagi membantu."


Qiara duduk di sofa tunggal yang berseberangan dengan Dillah, dia duduk denga pose seksi. "Aku tahu, kalau kak Ivan sangat keras, dan perjuangan kamu membantu kami harus mendapatkan sedikit imbalan." Qiara sengaja membungkukkan badannya, agar pemandangan bukit mulus itu langsung menyapa sepasnag mata Dillah.


"A-aku tidak butuh uang, Qiara." Dillah semakin tertekan, karena melihat pemandangan indah di depan matanya.


"Siapa bilang aku memberimu uang?" Qiara meletakkan gelasnya diatas meja, dia berjalan mendekati Dillah, dan mengambil gelas minuman yang ada pada tangan Dillah, meletakkannya gelas itu diatas meja. Dia duduk di pangkuan Dillah. Qiara mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Dillah. "Aku memberikan diriku sebagai imbalannya." bisiknya.


"Qi--"


"Kenapa? Kau tidak menyukaiku?" Qiara menciumi Dillah dengan begitu lembut.


Dillah semakin merasa sesak, Qiara terus menciumi lehernya, jemari lentiknya terus membuka satu per satu kancing kemeja Dillah. Dillah tidak berdaya karena diperlakukan istimewa oleh wanita yang sangat dia cinta selama ini.


"Aku bisa menjadi milikmu seutuhnya, tapi kamu harus membayar mahal semua itu." desahh Qiara.


"Jika kamu mau meminta Diana untuk datang ke suatu tempat, maka kamu bisa menikmati sedikit bonusmu" bisik Qiara begitu manja. Qiara memandu tangan Dillah, agar menyentuh bagian-bagian tubuhnya.


Qiara langsung berhenti, dia segera pergi dari pangkuan Dillah. "Ya sudah, kalau kamu tidak mau, imbalan juga batal." Qiara langsung mengehempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia berbaring dengan posisi menantang, membuat yang menatapnya ingin menerkamnya.


"Aku tidak memintamu membunuh Diana, aku hanya memintamu, untuk memangil Diana datang ke suatu tempat."


Dillah masih diam.


"Jika kamu mau, maka semalaman aku akan memanjakanmu, tapi setengah saja."


"Tapi, jika kamu mau memberikan temuanmu tentang Diana, maka aku akan memanjakanmu sepenuhnya." Qiara melepaskan semua kain yang menutup tubuhnya. "Berikan yang kau temukan itu padaku, dan ambil hadiahmu." Qiara berbaring di atas tempat tidur, dan terus memberi isyarat agar Dillah menyusulnya.


"Jika kamu telah memberikan temuanmu itu, aku jadi milikmu bukan malam ini saja, tapi jika kamu menginginkanku untuk menjadi istrimu, aku bersedia menjadi istrimu."


"Menikmati tubuhku mulai detik ini? tau tetap setia pada Ivan?" Qiara semakin menggoda Dillah dengan pose seksinya.


Qiara mengusap lembut beberapa bagian tubuhnya yang sensitif, dan berhenti pada bagian intinya, dia bermain lembut di sana, Qiara menunjukkan expresi yang membuat Dillah panas dingin.


"Kalau kamu memilih setia, kamu tidak bisa menikmati semua ini, kamu hanya bisa memandangnya. Ya, kamu hanya bisa memandangi semua ini kalau kamu tetap setia pada Ivan, hal lainnya, kamu juga tak bisa mendapatkan aku."


"Oh ...." Qiara sengaja mendessah.


"Apa yang kamu dapat jika bersikeras setia pada Ivan? Bahkan sebentar lagi Ivan akan mengganti posisimu. Walau gajihmu nanti tetap besar, tetap saja malam ini adalah kesempatan terakhirmu untuk melihatku, setelah ini kamu tidak bisa lagi bertemu denganku. Sebanyak apapun uangmu, aku tak akan tertarik padamu. Tapi jika kau menyetujui kemauanku, aku milikmu baby ...."


"Sangat mudah bukan untuk menjadikanku menjadi milikmu?"


"Tidak mungkin Ivan akan menunjuk seseorang untuk menggantikanku." protes Dillah.


"Ivan sudah mempersiapkan seseorang untuk menggantikanmu, karena dia tahu kalau kau mengagumiku, dan bagi Ivan perasaanmu padaku adalah suatu ancaman"


Dalam diri Dillah terus berperang, setia pada Ivan, apa menikmati semua yang ada di depan matanya. Expresi wajah Qiara yang sangat menikmati kegiatannya membuat darah Dillah semakin mendidih.


"Kau ingin tetap setia pada Ivan? Dan hanya menontonku memuaskan diriku sendiri?"

__ADS_1


"Awhhhh!" Qiara sengaja menjerit karena kegiatannya.


Melihat Qiara seperti itu, paru-paru Dillah semakin terasa sesak.


"Atau ..., kau menyetujui permintaanku?"


"Jika kau setuju memberikan hal yang aku minta, ayo kemarilah baby .. kita capai kepuasan kita bersama."


"Dilll-lah!" Qiara semakin meringis.


"Ayolah ... aku tidak sanggup bertahan terlalu lama baby ...."


"Kamu hanya tinggal berikan itu padaku, lalu hubungi Diana di depanku seperti apa yang aku minta, setelah itu kita cicil semuanya."


"Pinjam laptopmu," ucap Dillah.


Qiara tersenyum puas, akhirnya pertahanan Dillah runtuh. Dia menghentikan kegiatannya, segera meraih laptopnya dan memberikan laptopnya pada Dillah. Selama Dillah mengcoppy yang diinginkan Qiara, padahal saat ini hal itu hanya diketahui oleh dua orang, Dillah sendiri dan orang yang berhasil menemukan rahasia itu. Qiara terus memanjakan Dillah, dan memberi sentuhan lembut pada tubuh Dillah.


"Qii, beri aku waktu sebentar." Dillah tidak bisa konsentrasi karena kegiatan Qiara pada anggota tubuhnya.


Qiara membiarkan Dillah bekerja, dia mengirim pesan pada ibunya, kalau Dillah menyelam dalam kolam yang mereka sediakan.


"Yang kamu minta, sudah aku coppy dan aku simpan di laptopmu," ucap Dillah.


"Tinggal yang terakhir baby."


Dillah mengetik pesan seperti apa yang Qiara ucapkan. Dillah menunggu pesan balasan dari Diana, tapi dia tidak mendapatkan jawaban dari Diana. Dillah menegakkan wajahnya.


"Dia tidak menjawab pesanku," ucap Dillah.


Qiara mendekati Dillah, mengusap wajah laki-laki tampan itu dengan begitu lembut. "Tidak apa-apa baby, setelah membaca pesan itu, dia pasti datang." Qiara menyatukan bibir mereka.


Persilatan itu begitu dalam dan liar, suara deruan napas yang menggebu sangat jelas terdengar.


"Stop baby ...." Qiara menarik wajahnya. "Mulai sekarang, aku adalah milikmu. Qiara menarik Dillah keatas tempat tidur. "Tunggu apalagi? Ambil hadiahmu Baby ... Kau berhak atas tubuhku."


**


Di Clubhouse suasana terasa sangat nyaman, beberapa anggota group yang ada di sana memberikan balasan pada hinaan dari fans fanatik Qiara dengan postingan-postingan terbaru mereka.


Tink!


Terdengar suara notifikasi pada handphone Diana, Diana segera memeriksa pesan yang masuk, setelah membaca pesan dari Dillah, Diana mengabaikan pesan itu dan kembali memesan menu makanan penutup yang dia inginkan.


Beberapa pengguna media sosial berbesar hati meminta maaf pada Diana, karena menghina dan menghakimi Diana, dan beberapa yang lain meghapus komentar mereka. Tapi kelompok fans fanatik Qiara masih menyalahkan Diana, mereka memarahi dan menghina Diana. Thaby dan Malvin tertawa melihat komentar fans-fans Qiara, mereka memposting sesuatu, hingga membuat fans Qiara diam.


Karena jagat maya masih dihebohkan dengan pro-kontra Diana, Pak Abimayu memposting pengumuman atas nama Universitas. Dia meminta maaf pada Diana, dan meluruskan beberapa masalah. Pak Abimayu memuji kecerdasan Diana yang mampu mengungkap pelaku sebenarnya dalam kasus tabrak lari, dan dia menegur Veronica dan memberi peringatan padanya. Pak Abi berjanji akan memberi hukuman untuk Veronica.


Seketika serangan netizen yang berisi hinaan, makian, dan sumpah serapah tertuju pada Veronica.


Russel tidak tinggal diam, dia juga memposting sesuatu di laman media sosialnya. Salah satu postingannya, dia menegur Syila yang selalu memancing kemarahan netizen dengan segala postingannya yang menyudutkan Diana.


Potingan Profesor ramai dibanjiri komentar. Dosen-dosen yang mengajar di Universitas Bina Jaya memberi dukungan mereka pada Diana, dan memuji Diana. Sedang komentar lain banyak menyeret Syila yang selalu memojokkan Diana, bahkan beserta dengan screenshoot postingan Syila sebelumya. Syila senasib dengan para junjungannya yang diserang habis-habisan oleh netizen.


**


Di kediaman keluarga Harisons.


Aidil memeluk neneknya yang masih terlihat begitu sedih, mereka semua masih tidak bisa terima kenyataan, kalau Diana bukan pelaku sesungguhnya.


“Bagaimana pun caranya, papa harus membuat Diana mendekam di dalam penjara karena kasus ini!” pinta Wena. Wena sangat marah, karena kakak perempuan dan adiknya meninggal dalam kasus ini.


Fazran masih bungkam, dia tidak habis pikir kenapa kedua saudara istrinya harus terlibat dalam masalah ini. Nazta meninggal di Rumah Sakit, dan Alleron yang pura-pura menabrak Nazta meninggal karena dibunuh seseorang.


Ting! Tong!


Suara bel yang terdengar mengusik pemikiran Fazran, dia meminta Wena untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, Wena sangat terkejut melihat belasan orang mengenakan setelan jas lengkap berdiri di depan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2