
Hari semakin sore, mata kuliah untuk hari ini juga sudah selesai. Pikiran Diana terbang entah kemana. Dia memikirkan nama baik Profesor Russel juga terseret di berita hoax yang berkembang disekitar Universitas. Diana tidak pernah memikirkan berita yang menyudutkannya, selama itu tidak menyeret organisasi atau nama orang lain, jika hanya dirinya sendiri, Diana membiarkan berita itu begitu saja.
“Sudah dapat ganti kamar yang baru?”
Pertanyaan Saras membuyarkan lamunan Diana. “Belum,” sahutnya.
“Bagaimana kalau ke kamarku dulu? Aku sudah minta izin pada teman sekamarku untuk membawamu ke kamar kami.”
Diana setuju, mereka berdua segera menuju kamar Asrama yang ditempati Saras. Sesampai di sana, Diana memilih bersantai di balkon yang ada di kamar yang Saras tempati.
“Diana, kalau butuh sesuatu, ambil sendiri ya, aku mau mandi dulu.” Perlahan Saras menghilang dibalik pintu kamar mandi.
30 menit berlalu, Saras mengenakan setelan santainya, dia menghempaskan bobot tubuhnya di samping Diana. “Kamu ingin mandi? Kalau mau aku punya handuk cadangan, dan kamu pakai pakaianku dulu,” tawar Saras.
Diana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Malam setelah ledakan terjadi. Salah satu Sekretaris Ivan yang laki-laki, datang ke sini, dia mengamankan beberapa barang-barangmu yang selamat, dan dia titipkan di kamar yang lain.”
"Masih ada yang selamat?" tanya Diana.
Saras teringat sesuatu, dia langsung beranjak dan masuk kedalam kamarnya, beberapa saat kemudian dia kembali mendekati Diana dengan membawa buku catatan. “Aku menemukan ini, sepertinya Sekretaris itu melupakannya, saat aku memungutnya, aku melihat banyak rumus yang tidak aku fahami.” Saras memberikan buku catatan itu pada Diana.
“Itu bukan apa-apa, hanya catatan harianku, andai hilang orang yang membukanya tidak akan memahami tulisan itu, aku sengaja menulisnya dengan rumusku sendiri,” kilah Diana.
“Maafkan aku, karena aku lancang membuka catatanmu, Diana.” Sesal Saras.
“Tidak apa-apa, kamu juga tidak mengerti bukan?”
Saras tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Tindakan kamu di kantin tadi siang sangat keren, andai tidak ada CCTV, aku mendukungmu untuk memberi efek jera pada Mariana.”
Tink!
Handphonen Diana dan Saras sama-sama menerima sebuah pesan. Keduanya kompak membuka pesan masuk yang baru masuk. Pesan itu dari Group Chat yang sama. Terlihat di sana salah satu dosen memanggil Diana agar datang ke ruang Dosen. Setelah membaca pesan itu, wajah Saras terlihat panik.
Diana memahami perasaan Saras. Dia menepuk lembut bahu Saras. “Jangan khawatir, paling mereka meminta penjelasan dari sisi yang lain.”
“Bagaimana ini? Aku tidak bisa memaafkan diriku kalau kamu tersandung masalah karena melindungiku.”
“Tidak akan terjadi apapun padaku, tenanglah.” Diana terus berusaha meyakinkan Saras, kalau panggilan dari Dosen bukan suatu hal yang buruk.
“Aku pergi dulu ya,” pamit Diana.
Dengan berat hati Saras mengiyakan kepergian Diana.
Setelah dari kamar Asrama Saras, Diana langsung menemui dosen yang memanggilnya. Di ruangan itu berkumpul beberapa dosen. Diana diminta duduk di kursi yang berada di tengah ruangan.
“Jelaskan pada kami semua, apa sebab pertengkaranmu dengan Mariana di kantin beberapa jam yang lalu?” tanya salah satu dosen.
“Sebelum kejadian, teman saya tidak sengaja menjatuhkan minuman pada Mariana, teman saya sudah meminta maaf pada Mariana, bukan memaafkan dia malah menghina kami seperti berita-berita yang beredar.”
Diana melanjutkan pembelaannya. “Yang tidak bisa saya tolelir adalah: Marina menghina profesor Russel. Sedang saya tahu Profesor Russel adalah seorang yang di undang oleh Pak Abimayu untuk mengajar di Universitas ini. Tidak main-main, Rektor di sini saja sangat menghormati Profesor Russel, Pak Abi juga membayar mahal agar Profesor Russel bersedia mengajar di sini. Lihat dia begitu istimewa, apa pantas dia hina dan mencoreng nama baiknya dengan menyeret namanya dalam berita hoax?”
__ADS_1
“Bukankah kamu bisa mengadukan masalah ini ke Universitas? Bukan bertindak kriminal dan hampir mematahkan tangan Mariana," ucap salah satu Dosen.
“Kalian punya CCTV lengkap bukan?” Diana memandangi semua dosen yang ada di ruangan itu bergantian. “Mungkin rekaman Audionya mati, jadi kalian tidak bisa mendengar semua hinaan Mariana pada Profesor Russel dan Cucu Tuan Agung Jaya. Tapi, jika kalian menonton, maka kalian melihat langsung kalau Mariana berniat memukul teman saya. Melihat teman kalian akan di sakiti apa kalian akan diam saja?”
Semua dosen diam. Mereka hanya mendengar laporan, tapi tidak menonton CCTV.
“Dalam CCTV semua terekam jelas, saya tidak memukul Mariana, saya hanya menahan pukulannya agar tidak mengenai teman saya. Perbuatan buruk saya pada Mariana hanyalah menyiram dia dengan air es, agar otaknya dingin tidak berpikir yang bukan-bukan lagi.”
Ceklak!
Suara pintu yang terbuka membuat semua pandangan tertuju kearah pintu. Terlihat Profesor Russel diantara pintu. “Kenapa kalian semua memanggil Diana?” tanya Profesor Russel pada rekan pengajar yang lain.
“Terkait kasus pertengkaran di kantin tadi siang prof,” jelas salah satu Dosen.
“Penjelasan Diana sangat jelas, saya juga selesai memeriksa CCTV, apa yang Diana katakan tentang Mariana semua benar, karena pada rekaman itulah yang terjadi. Alasan dia memberi peringatan pada Mariana juga patut di apresiasi, dia melakukan itu demi membela salah satu pahlawan tanda jasa yang ada di Universitas ini,” terang salah satu dosen.
“Membela apa?” sela profesor Russel.
Salah satu Dosen menceritakan pembelaan Diana terhadapnya. Russel menatap Diana dengan tatapan kekaguman.
“Terima kasih Diana,” ucap Russel. Dia memandangi semua rekan pengajarnya. “Seorang Mahasiswi berani membelaku dari berita hoax, sedang kalian semua, apa yang kalian lakukan untuk membela rekan mengajar kalian?”
Semua dosen menunduk malu.
“Bukannya mencari tahu sendiri dan berterima kasih pada Diana, kalian malah memanggilnya.” Russel terlihat sangat kecewa.
“Maafkan kami semua prof, maafkan kami Diana.” Ucap salah satu dosen yang lain.
“Saras?” Diana kaget melihat Saras di sana.
“Aku tidak tenang Diana, aku ke sini menunggumu.”
“Aku tidak apa-apa, mereka hanya bertanya.”
“Kamu kemana setelah ini?” tanya Saras.
“Mungkin pulang.”
“Aku antar kamu sampai ke depan ya,” tawar Saras.
“Tidak perlu, sampai di sana kita berpisah.” Diana menunjuk kearah tangga. “Kamu kembali ke asrama, sedang aku dengan tujuanku.”
“Baiklah.”
Keduanya berjalan kearah tangga, saat hampir sampai, ada seorang mahasiswa tampan yang menuruni anak tangga. Saras menahan napasnya saat dia melihat idolanya sedekat ini.
Lucas menatap sini pada Diana, Diana balas menatap tajam pemuda itu. Saras merasa ada yang aneh antara Diana dan Lucas.
Lucas berlalu begitu saja tanpa menyapa Saras dan Diana. Saras menoleh kearah Lucas, memastikan laki-laki itu sudah jauh.
“Diana, kamu mengenal Lucas?”
“Sekedar tahu.”
__ADS_1
“Kamu dekat dengannya?"
Diana hanya diam.
"Ada masalah diantara kalian?" tanya Saras lagi.
"Aku tidak punya masalah dengannya, hanya saja dia memang sedikit aneh."
Saras mematung mendengar penilaian Diana tentang Lucas. Diana sadar, ucapannya tidak mengenakan bagi Saras.
“Maafkan aku, bukan maksudku mengatakan idolamu jelek, kamu mengaguminya itu hakmu, dan aku menilainya seperti ini juga hakku, bukan?”
“Bukan Lucas yang aneh, tapi dirimu. Semua pria tampan dan mapan yang berusaha mendekatimu kamu tidak peka terhadap perasaan mereka. Mungkin Lucas salah satu orang yang kecewa karena kamu abaikan,” oceh Saras.
“Ya ya ya, aku yang aneh.”
Tink!
Handphone Diana menerima satu pesan, saat melihat pesan masuk dari Profesor Russel, Diana segera membuka pesan itu.
*Diana, bisa temui aku di kantorku? Aku ada sedikit berita untukmu.
Diana segera menyimpan handphonenya. “Sana istirahat, aku mau melanjutkan tugasku.”
Diana dan Saras melanjutkan tujuan mereka masing-masing. Diana memacu cepat langkahnya menuju kantor profesor Russel, sesampainya di sana Diana tidak mengetuk pintu lagi, dia masuk begitu saja.
“Berita apa?” tanya Diana langsung.
Russel tidak terkejut dengan kehadiran Diana, karena sedari tadi dia menunggu wanita itu. “Dugaanku tentang dalang dari semua kejadian ini, aku mencurigai keluarga Ayahmu, dan hal ini semakin menguat.”
“Buktinya?” Diana terlihat sangat serius.
“Bukti kuat belum ada, tapi hanya petunjuk.” Russel memberikan satu dokumen pada Diana.
“Keluarga Bramantyo saat ini sangat berkuasa di kota ini, paman-paman dan bibi-bibimu masuk dalam daftar keluarga terkaya di sini, selain itu mereka mengisi beberapa jabatan penting, hingga pengaruh mereka di kota ini sangat kuat. Belum lagi, Perusahaan keluarga mereka yang berdiri sejak lama sangat kuat perngaruhnya. Kamu ingat bukan kalau keluarga Bramantyo mempunyai perusahaan yang bergelut dibidang medis.”
Diana membaca semua laporan yang tertera dalam dokumen itu.
Russel membuang napasnya begitu kasar. “Keahlian nenekmu, keahlian dirimu di dunia medis merupakan sebuah ancaman bagi perusahaan seperti Perusahaan Bramantyo. Dengan melenyapkanmu, mereka melenyapkan hal yang membahayakan bagi perusahaan mereka.”
Russel terlihat sedikit kecewa dengan dirinya sendiri. Karena belum tahu, siapa yang berambisi membunuh Diana, karena Anggota keluarga Bramantyo cukup banyak.
“Selama ini aku tidak pernah menunjukkan siapa jati diriku.” Diana memandang kosong laporan yang dia pegang.
“Tapi mereka menyadari itu, Diana.”
“Bisa membantuku untuk melakukan beberapa hal?” tanya Diana.
“Apa yang kamu mau, Diana?”
“Aku ingin kamu menghancurkan Perusahaan Bramantyo dari dalam, agar mereka tidak menyadarinya, hancurkan pelan-pelan, tapi dampaknya, Doar!!!” Diana mengisyaratkan ledakan yang dahsyat dengan gerak tangannya.
Russel sangat mengerti apa maksud Diana. “Kamu kejam sekali Diana.”
__ADS_1