Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 86 Tidak Mengenal


__ADS_3

Mendengar kemarahan Abimayu padanya, Prima hanya diam. Sesekali dia menelan saliva-nya, karena ancaman dan sanksi yang Abimayu tujuan padanya bukan hal sepele.


"Saya melakukan ini, karena yang meminta Nyonya Wilda. Beliau adalah anak Tuan Agung Jaya, sebab itu saya menyetujuinya," Prima membela diri.


"Alasan untuk mengeluarkan Diana juga, karena dia terkait kasus kriminal, Pak." lanjutnya.


Prima berusaha membela dirinya. Dengan mengeluarkan Diana dari Universitas, dia mengira akan jadi pahlawan saat ini. Tapi rencananya kacau seketika, nama Wilda sebagai anak bungsu Agung Jaya Tidak berpengaruh apapun di Universitas Bina Jaya.


"Apapapun alasanmu, setelah aku kembali, aku tetap memberi teguran padamu!"


"Iya Pak."


Setelah Pak Abi menyudahi panggilan telepon mereka, Prima segera menyimpan handphonenya dan menoleh kearah Wilda.


“Maaf Nyonya Wilda, saya tidak bisa menyetujui permintaan Anda untuk mengeluarkan Diana dari Universitas ini.” Prima menyobek surat pengeluaran Diana dari Universitas.


Melihat hal itu, Aridya mematung. Sedang Wilda sangat kesal dia langsung pergi meninggalkan ruangan Prima. Sesampainya di mobil, Wilda ingin menelepon Qiara, namun jemarinya terhenti karena ada satu email yang masuk atas nama Veronica.


Wilda membisu melihat semua bukti-bukti yang membuktikan kalau Qiara terlibat dalam rencana ini.


Wilda langsung menghubungi sekretarisya. Wilda ingin menekan Nizam dengan cara halus. “Aleema, tolong kamu cari tahu tentang Nizam dan semua aset-asetnya,” perintahnya.


“Baik Nyonya.”


Wilda masih mematung dalam mobilnya, pikirannya terbang entah kemana, memikirkan kasus Diana dan banyak hal yang lain. Deringan handphonenya membuat kesadaran Wilda kembali.


“Iya Leema.”


“Maafkan saya Nyonya, informasi tentang siapa pengacara Nizam sangat sulit di tembus, saya hanya dapat data-data diri dia yang umum."


"Coba lagi Leema!"


"Maaf Nyonya, semuanya sangat privat, tidak sembarang orang yang bisa mengakses."

__ADS_1


"Kenapa dia begitu membatasi informasi tentang dirinya?" tanya Wilda.


"Semua hal ini wajar Nyonya, karena pengacara Nizam salah satu orang terkuat setelah keluarga Agung Jaya dan keluarga Irawan. Tidak mudah mengakses identitas mereka secara umum, butuh izin tertentu untuk membuka identitas mereka.”


Wilda diam, dia baru sadar pengaruh Nizam dan Yudha sama kuat di kota ini. Fokusnya pada Diana membuat Wilda bodoh pada hal lain yang jelas-jelas itu bukan suatu rahasia “Baiklah Leema, lanjutkan tugasmu yang lain.”


Setelah Wilda pergi, Aridya diminta mengikuti salah satu dosen wanita yang mengisi mata kuliah Diana, sambutan wanita itu sangat ramah dan sopan, hal ini membuat Aridya curiga dan meningkatkan kewaspadaannya.


"Saya tidak tahu haru mulai dari mana Nyonya, sepertinya putri Anda Diana mahasiswi yang cerdas, tapi dia sering bolos di bermacam mata kuliah," dosen wanita itu mencoba membuka pembicaraan mereka.


Aridya berusaha menjaga bicaranya, karena dia tidak mau kena jebakan atau apapun yang semakin memperburuk keadaan Diana.


*


Saras berjalan kearah pintu, dia ingin keluar dari kelasnya, keadaan dalam kelas yang ramai semakin membuat Saras tidak nyaman, beberapa teman-teman sekelasnya mempersiapkan pesta kecil untuk menyambut Veronica. Hal ini semakin membuat Saras muak, penjahat sesungguhnya malah di sambut dengan bahagia, Saras lebih percaya bukti-bukti dari pengacara Nizam, dibanding postingan-postingan akun pascol yang entah punya siapa, dan berita yang mereka viralkan juga sebagian banyak berita hoax. Perasaannya saat ini sangat hampa karena tidak bersama Diana. Sejak mengenal Diana, Saras menemukan semangat baru untuk berjuang menyelesaikan pendidikannya. Kali ini semangat belajarnya luntur karena tidak ada Diana di dekatnya. Saras terus menyeret kakinya menuju pintu.


Bruk!


“Saras, maafkan aku.” Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Saras.


Saat Saras menegakkan wajahnya, dia bangkit sendiri tanpa menyambut uluran tangan wanita yang menabraknya. "Aku bisa sendiri."


Veronic berusaha ramah pada Saras. "Maafkan aku, aku benar-benar terburu-buru tadi," sesalnya.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa."


"Kenapa kau seperti membenciku, Saras?"


Saras sangat malas meladeni Veronica, namun dia berusaha ramah pada Veronica. “Kenapa kamu kelayapan, Veronica? Lihat, di kelas ini anak-anak mempersiapkan acara untuk menyambutmu.” Saras sengaja mengalihkan topik obrolan mereka.


Veronica tersenyum melihat teman-temannya mengadakan acara sambutan untuknya.


"Selamat datang kembali Veronica," sambutan mereka semua.

__ADS_1


Veronica tersenyum bahagia, dia mengucapkan terima kasih yang berulang pada teman-teman yang menyambutnya.


Tink!


Notifikasi pesan yang masuk mengusik kebahagiaan Veronica. “Sebentar ya Saras, sebentar yateman-teman, aku mohon izin, aku mau baca pesan yang masuk dulu.” Saat Veronica membaca isi pesan tersebut, seketika raut wajahnya yang tadi dihiasi senyuman dan dipenuhi keceriaan hal itu seketika lenyap. Veronica terlihat begitu panik setelah membaca pesan yang masuk.


“Selamat siang anak-anak.”


Melihat Profesor Russel memasuki kelas, acara sambutan mereka tunda, apalagi saat ini wajah Profesor Russel terlihat sangat buruk. Semua Mahasiswi langsung menempati kursi mereka, sebelum kena sembur kemarahan Profesor Russel.


“Buka halaman bab yang pelajaran kemaren, lakukan tugasnya, jika ada yang tidak bisa kalian mengerti silahkan tanya, dan kalau selesai kumpulkan semua tugas kalian dan setelah itu kalian boleh keluar.” Melihat Veronica ada dalam kelasnya emosi Russel semakin berkobar.


Semua Mahasiswa langsung melakukan tugas mereka semampu mereka, tidak ada satu pun yang berani bertanya tentang tugas mereka. Perlahan satu per satu Mahasiswa mengumpulan tugas mereka dan segera keluar dari kelas. Begitu juga Veronica, setelah memberikan tugasnya, dia keluar dari kelas, wajah Profesor Russeel eperti ingin menelannya hidup-hidup, Veronica mencari tempat yang aman untuk membaca detail email yang dia terima sebelumnya.


Membaca Email yang masuk tadi, Veronica kesal, marah, takut, dan ingin sekali berteriak. Dalam email tersebut terlampir laporan kalau dirinya ada menelepon Nazta sebelum tabrakan terjadi, dan meminta Nazta menyamar menjadi petugas kebersihan. Kemarahannya semakin menyala melihat nama Qiara yang mengirim email tersebut.


“Qiara! Kamu ingin bermain-main denganku!” Veronica berjalan cepat menuju mobilnya, dia melupakan acara sambutan yang disiapkan teman-temannya untuk dirinya.


**


Setelah meninggalkan Universitas Bina Jaya, Aridya meminta Fredy mempersiapkan tempat untuk bertemu. Fredy mengirimkan nama hotel mewah tempatnya berada, dia meminta Aridya datang ke Restoran yang ada di hotel itu. Sesampainya di sana, Aridya menceritakan semua yang terjadi di Universitas Bina Jaya.


“Kamu tahu sendiri, kalau Diana ingin jadi dokter, dan wanita yang bernama Wilda itu sangat berambisi mengeluarkan Diana dari sana.”


Fredy tersenyum mendengar cerita Aridya. “Tenang saja Nyonya, Diana tidak akan dikeluarkan dari sana.”


“Iya, itu pastinya karena kamu yang menemui Rektor.”


“Aku tidak menemui Rektor Universitas Bina Jaya, karena aku juga tidak mengenal beliau,” sahut Fredy.


Aridya terkejut menyadari kalau hal ini bukan campur tangan Fredy. Aridya memikirkan siapa yang mengenal Rektor itu, sehingga Diana tidak jadi dikeluarkan dari Universitas. Mengingat bagaimana orang-orang yang mengelilingi Diana bukan orang sembarangan, tidak menutup kemungkinan Diana mengenal Rektor tempatnya kuliah.


Apa mungkin Diana sendiri yang mengenal Rektor Universitas itu?

__ADS_1


__ADS_2