Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 176 Rencana Gagal


__ADS_3

Wajah Aridya seketika berubah dingin mendengar nama Diana. Diana adalah sosok yang ingin dia lupakan dan juga ingin dia musahkan secepatnya. Kegagalannya menduduki jabatan tertinggi di pusat penelitian obat dihancurkan ibu Diana, harapannya memiliki cintanya juga kandas karena wanita yang sama. "Jangan bahas itu sekarang, sayang. Karena kalau ketahuan Fredy kalau mama masih mengusik Diana, maka tamatlah Riwayat mama dan keluarga kita, ini ancaman yang Fredy beri."


"Fredy CEO EDGE Group?"


"Ya, entah kenapa Fredy sangat berambisi melindungi Diana."


"Kenapa Nenek peyot itu menjodohkan Diana dengan Ivan? Kenapa tidak dengan Fredy?" Agis terlihat kesal.


"Karena nama Ivan lebih kuat dari Fredy, sayang."


"Bukankah kata mama, beberapa tahun yang lalu paman sudah mengutus banyak orang untuk menghabisi Diana? Kenapa sampai sekarang Diana masih hidup?”


"Penyerangan itu bukan untuk membunuh Diana, tapi untuk membunuh neneknya, rencana kedua penyerangan itu adalah mengarahkan semua bukti kalau Zelin sendiri yang menciptakan virus yang mewabah di beberapa tempat."


"Apakah Virus yang sama yang membuat ibu Diana meninggal?" tanya Agis.


"Ya."


"Bagaimana bisa, anak seorang dokter hebat, dan Alinka juga peneliti obat yang cerdas bisa kena virus itu? Bukankan virus itu tidak menular?"


"Saat akan peluncuran virus yang berkedok Vitamin itu, Alinka datang untuk mencegah peluncuran itu, padahal semua rencana sudah matang, target dari virus itu adalah anak yang yang tidak berguna, dalam kategori miskin dan bodoh, hingga bumi ini tidak dipenuhi orang-orang miskin tak berguna, karena mereka tidak akan diberi penawar. Sedang korban yang akan mendapat penawar hanyalah mereka yang cerdas atau mereka yang punya uang."


Aridya melihat keadaan sekitar, dia tidak ingin ada yang mendengar ucapannya. Merasa aman, Aridya melanjutkan lagi ceritanya.


"Alinka sudah memberi bukti, kalau vitamin yang akan diwajibkan di sekolah-sekolah nanti, adalah sebuah racun. Tapi mereka tidak percaya, sebagian besar orang mengganggap itu vitamin dan akan disuntik paksa pada anak-anak sekolah nanti."


"Alinka berusaha membuka mata mereka kalau itu adalah sebuah racun waktu. Jika memaksa anak-anak untuk di suntik, sama saja membunuh anak-anak itu. Tapi tetap tidak ada yang percaya pada Alinka, lalu Alinka menyuntikan vitamin itu ke tubuhnya, dan dia berkata. 'Kalau aku masih sehat satu bulan kedepan, silakan paksa anak-anak negri untuk kalian suntik. Aku mohon, tunggu sebulan lagi.' Dengan santainya wanita itu menyuntikan satu dosis ke tubuhnya sendiri."


Agis tegang mendengar cerita ibunya.


"Teman Alinka yang terlibat sangat ketakutan, dia melaporkan pada Papamu kalau Alinka disuntik, padahal kenyataanya Alinka sendiri yang mengorbankan diri untuk membuktikan kalau vitamin itu adalah racun. Dia ingin menolong Alinka, tapi juga tidak mau kalau Charlie sampai tau kejadian sesunguhnya."


"Terus bagaimana kelanjutannya ma?"


"Sebulan kemudian, Alinka sekarat, dan ini yang menjadi bukti kuat kalau itu racun bukan vitamin, hingga peluncuran obat itu dibatalkan. Lalu mama juga beberapa pekerja yang menyetujui vitamin itu dipecat secara tidak hormat, tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima kami semua. Tapi karena bencana itu, papamu mau menikahi mama."


"Kenapa racun itu masih ada?" tanya Agis.


"Karena racun itu terus diproduksi secara diam-diam demi keuntungan."

__ADS_1


Agis menggigit ujung kukunya. "Kejam sekali."


"Beberapa wilayah, pejabat bekerjasama dengan perusahaan pembuat penawar, semakin banyak penawar mereka laku, semakin banyak pula mereka dapat royalti, makanya mereka akan mempersulit setiap siswa yang tidak mau di beri vitamin, karena semakin banyak yang sakit, semakin besar keuntungan mereka dari penjualan penawar dan jasa petugas medis."


"Tapi, khayalan mereka berbeda jauh. Beberapa perusahan yang memproduksi penawar itu malah gulung tikar, pertama mereka tidak bisa memaksakan menyuntik racun itu, kedua walau racun mereka tebar lewat jalan halus, tetap saja niat mereka panen keuntungan dengan menjual penawar, malah dihempaskan oleh Agung Jaya. Agung Jaya juga memproduksi penawar yang sama, bahkan mereka memberikan penawar itu gratis ke penjuru Negri ini, hal ini membuat Agung Jaya mendapat penghargaan atas penawar yang mereka ciptakan dan mereka berikan cuma-cuma."


"Rival Agung Jaya terus menyebar berita, kalau virus itu berasal dari Perusahaan Agung Jaya, tapi kabar itu menguap perlahan, karena tidak adanya bukti."


Aridya melanjutkan ceritanya. "Penawar merebak, sedang pencipta virus masih misteri. Lalu tahun lalu, pamanmu ingin memanfaatkan kasus pencipta virus yang misteri itu, dengan menjadikan Zelin sebagai tersanga utama, alias si pencipta Virus."


"Terus, bagaimana dengan kelanjutan rencana paman pada Diana dan Neneknya waktu itu?" tanya Agis.


"Rencananya pembunuhan itu akan di timpakan pada Diana, sedang anak buah Zelin yang tewas, atau anak buah Pamanmu yang tewas akan dijadikan sebagai bukti kejahatan Zelin, karena anak buah pamanmu yang menyerang, sebagian besar dari mereka, sudah di suntik dengan racun itu, jadi saat polisi olah TKP mereka menemukan bukti untuk memberatkan Zelin."


"Waw, sangat sempurna," puji Agis.


"Tapi kedua rencana itu gagal, padahal rencana pamanmu sangat sempurna, sebelum rencana itu di lancarkan, anak buah pamanmu sudah berhasil menyusupi warga desa dengan kabar Diana gadis bisu dan gila dan membunuh Neneknya sendiri."


"Otak paman benar-benar sempurna untuk kejahatan." Agis menggeleng mendengar cerita ibunya.


"Harapan pamanmu atas rencana itu, pembuat Virus ditemukan, Warisan juga di dapatkan, tapi keduanya gagal, Zelin berhasil menyingkirkan semua mayat sebelum anggota kepolisian datang, sekuat apapun utusan pamanmu mencari mayat-mayat yang positif dengan virus itu, mereka tidak berhasil menemukan."


"Untuk itu aku faham, tapi tentang warisan. Bagaimana mungkin harta warisan papa bisa kita miliki kalau misal Diana ikut mati sebelum umur 23 tahun? Penyerangan itu Diana belum berumur 23 tahun. Yang ada para gembel dan anak panti asuhan yang menikmati harta papa."


"Bukankah kekayaan papa masih banyak?" tanya Agis.


"Semua harta papamu sudah diwasiatkan untuk Diana, beberapa aset tidak bisa di sentuh tanpa kehadiran Diana, ini salah satu alasan kenapa paman-pamanmu membiarkan Diana tetap hidup."


“Ah … aku lupa, warisan papa akan diserahkan ke yayasan amal jika Diana meninggal sebelum mencapai usia yang ditentukan dalam surat wasiat itu.”


“Kenapa papa hanya mewariskan Sebagian besar hartanya untuk Diana, ma?”


“Kalau aku, tahu kita tidak perlu bersabar selama ini!”


“Aku heran dengan Diana, entah kenapa nasibnya begitu beruntung. Ivan terlihat sangat mencintainya, aku pernah beberapa waktu lalu melihat mereka makan malam. Perhatian Ivan pada Diana membuat paru-paruku begitu terhimpit, andai saja Ivan bersikap seperti itu padaku.”


“Sebentar lagi, Ivan juga akan memandangmu dengan penuh cinta, selama ini dia hanya tidak pernah memperhatikanmu, buktinya dia malah memberikan izin asal dirimu bintang utamanya.”


Di tempat lain.

__ADS_1


Diana dan Hadhif tengah makan malam di sebuah Restoran, mereka masih memantau pergerakan dari ED Group.


“Aku mau ke toilet sebentar,” pamit Diana.


Di meja itu tinggal Hadhif sendirian.


Brrukkk!


Tiba-tiba seseorang menghempaskan diri di salah satu kursi, melihat laki-laki itu mengenakan topeng, kewaspadaan Hadhif seketika meningkat.


“Ini aku.” Tony membuka penutup wajahnya.


“Wakil Ketua?” Hadhif mematung melihat wajah Tony biru lebam. Dia segera memanggil pelayan dan meminta kotak P3K pada pelayan itu.


Setelah mendapat apa yang dia minta, Hadhif mulai mengobati luka Tony. Berulang kali Tony meringis menahan rasa perih saat lukanya bersentuhan dengan kapas yang mengandung obat.


“Tony? Kenapa kamu babak belur begini” Diana sangat terkejut melihat Tony di obati Hadhif.


“Aku tadi sore mendapatkan info, kalau Ivan akan berkencan dengan seorang model malam ini, terus aku mengikutinya ke sebuah restoran, benar saja model itu juga datang ke sana. Aku tidak terima dengan pengkhianatan Ivan, dia tunanganmu, tapi di belakangmu dia bermain dengan wanita lain!” Tony terlihat begitu marah.


“Saat dia selesai berkencan, aku menunggunya di dekat mobilnya, aku ingin memberinya pelajaran!” ucap Tony begitu semangat.


“Dia terluka?” tanya Hadhif.


Tonny menggeleng pelan.


Seketika tawa Hadhif lepas. “Bukan Wakil Ketua yang memberinya pelajaran, tapi dia yang memberi Anda pelajaran.” Hadhif tidak bisa menahan tawanya.


“Diam kau!” bentak Tony.


“Maaf.”


Raut wajah Diana seketika berubah muram.


Diantara banyak perempuan cantik yang ada di Negri ini, kenapa harus Agis yang kamu dekati, Van?


Ku rasa kamu sangat tahu apa ikatanku dengan Agis.


Diana tenggelam dalam pemikirannya, sebelum dua bawahannya menyadari reaksinya, Diana berusaha memasang wajah dinginnya.

__ADS_1


“Aku tidak menduga ilmu bela diri seorang Ivan Hadi Dwipangga sangat hebat, pantas saja dia tidak pernah membawa bodyguard kemana saja dia pergi,” gerutu Tony.


Hadhif masih ingin tertawa, tapi sekuatnya dia tahan, dan dia terus mengobati luka Tony dan memar diwajahnya.


__ADS_2