Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 174 Memukau


__ADS_3

Ivan berusaha mengingat pertemuan yang sudah dijadwalkan dengan Agis. Agis adalah salah satu model yang mengiklankan produk dari ED Group, dia baru ingat kalau sengaja mengajak model itu makan malam untuk menarik perhatian ED Group, agar mereka berpikir Ivan menelantarkan Diana.


“Aku tidak bisa makan malam dengannya, aku mengundangnya makan malam hanya untuk menarik perhatian ED Group,” ucap Ivan.


“Jadi bagaimana Tuan?” tanya Dillah.


“Kamu yang menemui dia dan menemani dia nanti malam."


"Pastinya dia akan sangat kecewa, Tuan." terang Dillah.


"Kecewa wanita yang mengejarku tidak akan membekas, mereka tetap mencoba menarik perhatianku dengan berbagai cara, apalagi Agis, dia pasti akan melupakan kekecewaaanya, jika aku beri beberapa hal untuknya."


"Idihh ... sombong sekali kamu Van, awas biasanya orang sombong akan tumbang karena kesombongannya," ledek Yudha.


"Aku tidak yakin akan hal itu Tuan, biasanya wanita sangat sulit melupakan kekecewaan yang mereka dapat, walau di mulut mereka terucap kata kalau dia memaafkan," sahut Dillah.


"Dillah betul Van, perempuan sangat mengingat rasa sakit yang pernah dia rasa."


"Lebih baik Tuan datang saja walau sebentar," bujuk Yudha.


"Aku memang sengaja tidak datang, tapi kamu siapkan hadiah untuknya." Ivan melemparkan tabletnya pada Dillah. "Beli tas branded itu, itu adalah tas terbaru impian kaum hawa kelas elit, satu lagi, katakan kalau tempat syuting gratis di Universitas Bina Jaya, asal dia jadi bintang utama, bukankah hal ini cukup untuk menerbangkan kembali perasaanya yang tadinya kecewa.”


“Sangat sempurna untuk wanita yang selalu memuja Anda, Tuan," puji Dillah.


"Cepat dapatkan benda itu, dan hias sedemikian rupa, kebanyakan perempuan menyukai perhiasan dan keindahan."


"Kecuali Diana, dia tidak peduli dengan kemewahan, keindahan, perhiasan atau harta," potong Yudha.


"Bisa tidak menyeret nama Diana? Diana terlalu berharga untuk dibawa-bawa dalam bahasan ini, di mataku Agis hanyalah pemburu harta," ucap Ivan.


"Tuan, aku secepatnya akan mendapatkan barang itu," Dillah sengaja mengalihkan emosi Ivan. Dia segera memesan barang yang Ivan mau.


"Andai saja membahagiakan Nona Diana semudah ini ya, Tuan." goda Dillah.


"Diana berbeda, sekali hatinya terluka, jangan harap ada kata maaf, walaupun dunia dan seisinya di persembahkan di bawah kakinya." Ivan melamun membayangkan sosok Diana.


"Hmmm ...." Dillah sengaja menggoda Ivan.


Yudha membuang napasnya kasar, kemarahan Ivan seketika menyala jika dirinya menyebut Diana, sedang orang lain, Ivan terlihat biasa-biasa saja. Yudha lebih memilih meneruskan pekerjaannya.

__ADS_1


Ivan menatap kearah Dillah. "Jangan kamu pikir membuat bahagia Diana sulit, sebenarnya sangat sederhana membuat Diana bahagia, asal mengerti perasaanya. Bahkan aku tidak perlu merogoh uang banyak untuk membuatnya tersenyum."


"Ya, aku tidak meragukan hal itu, aku mengingat saat di perkebunan, Nona Diana sangat bahagia bisa berkuda dan bisa ...." Dillah menjeda ucapannya, namun dia meneruskan apa yang dia maksud dengan geraknya. Dillah memperagakan saat Diana menembak dan memanah.


Mengingat ada Yudha di sini, Dillah mengubah gerakannya memperagakan gaya menunggang kuda.


Ivan tersenyum melihat Dillah memahami peringatannya, senyumannya semakin permanen, dia kembali mengingat kebersamaanya waktu itu.


"Kebanyakan perempuan cantik di negri ini Anda patahkan perasaan mereka sekuat apapun dan sebanyak apapun, tapi mereka tetap berusaha dekat dengan Anda, apakah Anda tidak berminat untuk memberi Sebagian pesona Anda untuk Tuan Jomblo abadi itu?” Dillah menyindir Yudha.


"Dari tadi aku diam Dillah, sekali menyentilku kata-katamu sangat manis!" maki Yudha.


“Kau bilang aku jomblo? Sesama Jomblo dilarang saling bully!” maki Yudha.


**


Di kediaman Wagiswari Wulandari.


Keadaan kamar Agis sangat berantakan, tumpukan baju menggunung di tempat tidurnya.


“Agis! Apa yang kau lakukan!”


“Mama ….” Agis terlihat sangat bahagia. “Coba mama tebak keberuntungan apa yang menghampiriku?”


“Nyonya Aridya Helmina, mamaku yang paling cantik … senyum dong ….” Agis berusaha membuat ibunya tersenyum.


“Katakan ada apa? Mengapa kamu mengeluarkan semua isi lemarimu?”


“Malam ini, aku harus terlihat cantik, mama.”


“Kamu selalu terlihat cantik dan mempesona, sayang.” Aridya merapikan rambut putrinya.


“Tapi malam ini malam special mama, akhirnya Ivan Hadi Dwipangga melihatku.” Agis terlihat begitu bahagia.


“Coba kau ulangi lagi, barangkali mama mu ini mulai tuli,” pinta Aridya.


“Ivan mengajakku makan malam, mama.”


“Beneran sayang?”

__ADS_1


“Iya mama, makanya aku membatalkan pemotretanku untuk promo film, hanya demi makan malam dengan Ivan.”


“Wah, ini luar biasa. Mama sudah meminta Diana meninggalkan Ivan, tapi dia tidak mau mendengarkan mama.”


“Tapi sekarang Ivan yang akan meninggalkan dia, mama.”


“Sini mama bantu, malam ini kamu harus terlihat memukau, sayang.”


“Makanya aku dari tadi bingung, malam ini aku harus mengenakan gaun apa.”


Aridya mulai memilih beberapa gaun untuk anak sulungnya. “Bagaimana kalau ini sayang?”


“Itu terlalu sederhana mama, aku ingin Ivan terpukau melihat penampilanku dan tidak mampu mengalihkan pandangannya saat melihatku.”


“Wah anak mama cerdas sekali, kita hempaskan gadis kampung itu dari sisi Ivan, sayang.”


***


Tidak terasa malam menyapa, Ivan dan Yudha menuju Restoran yang sama dengan Restoran tempat temu janji Ivan dan Agis, tapi Ivan dan Yudha masuk ke ruangan VIP yang lain. Di sana mereka bertemu dengan orang-orang ED Group.


Ivan mengatakan kata kunci Ekuitas ED group. Merasa kata kunci Ivan benar, mereka memulai rapat mereka.


Di sisi lain di restoran yang sama. Agis terlihat begitu memukai dengan mini dress yang membalut tubuh seksinya. Setiap orang yang dia lewati sulit untuk berhenti memandanginya. Dengan langkah yang sangat percaya diri Agis langsung menuju ruang VIP tempat pertemuannya dengan Ivan.


“Selamat malam Tuan—” Agis tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat dia hanya melihat Dillah di dalam ruangan itu.


“Ivan belum datang?” Wajah Agis terlihat kecewa.


“Maaf Nona Agis, Tuan Ivan mendadak ada pertemuan dengan perusahaan luar Negri, andai pertemuan sesama pengusaha dalam negri, Tuan Ivan pasti akan membatalkannya.”


“Kalau begitu aku pulang saja,” ucap Agis.


“Jangan pulang Nona, kenapa Tuan tidak memberi kabar kalau dia tidak bisa datang? Tuan Ivan ingin menyampaikan beberapa hal secara khusus pada Anda.”


Agis terlihat penasaran, dia menarik salah satu kursi dan duduk dengan Anggun di sana. “Apa yang ingin dia sampaikan?”


“Tentang tempat syuting, Tuan Ivan memberi kebebasan pada rumah produksi yang menyutradarai film yang Anda bintangi, bahkan Agung Jaya siap menjadi sponsor utama film kalian, dengan syarat asal mereka memakai Nona Agis sebagai bintang utama di film itu.”


Kekecewaan Agis seketika lenyap mendengar hal barusan. “Aku sangat senang mendengarnya.”

__ADS_1


“Sebagai perminta maafan Tuan, karena membatalkan janji tanpa memberi kabar, ini hadiah buat Nona.” Dillah memberikan paket yang indah, paket itu berisi tas branded yang baru rilis dan dihiasi dekorasi yang semakin membuat mata Agis berbinar melihat benda itu.


Agis tenggelam dalam perasaan bahagianya, dia melupakan rasa kecewa karena batal makan malam romantis dengan Ivan.


__ADS_2