
Selesai makan siang, Diana melanjutkan pekerjaannya lagi. Dua jam berlalu, Diana menyudahi pekerjaannya dan kembali ke kamarnya. Sedang Dillah memilih bersantai di ruang tamu yang ada di bangunan utama.
Di kamar Diana.
Rasa Lelah itu membuat Diana tidak mampu menahan kelopak matanya agar tetap terbuka, akhirnya Diana terlelap di tempat tidurnya.
Tink! Tink!
Suara notifikasi yang terus berulang membuat Diana terbangun, dia segera memeriksa layar handphonenya, di sana sangat banyak pesan Nizam yang baru masuk dan menanyakan di mana keberadaanya. Pesan terbaru masuk lagi.
*Aku curiga pada dua temanmu Diana, bagaimana aku bisa tenang mempercayakan dirimu padanya.
*Yang semakin membuatku kesal, mereka mencurigaiku sebagai musuhmu.
Diana tidak membalas pesan Nizam, selama dia tidak membalas pesan, bahkan untuk komunikasi dengan tim nya, Diana menggunakan saluran khusus. Agar orang lain tidak bisa melacak keberadaannya, karena teknisi yang bekerja di komplek itu sudah merancang sedemikian rupa.
Diana meraih handphonenya yang lain, dan langsung mengirim pesan pada Tony.
*Kalian bertemu Nizam?
\=Iya, Ketua. Dia sangat mencurigakan.
*Dia temanku, tolong bersikap baik jika nanti bertemu dia lagi, waspada boleh tapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain, dan juga jangan lagi membuatnya marah.
Diana menyimpan kembali handphonenya, dia membuka jendela kamarnya dan menikmati pemandangan langit sore, namun di bawah sana ada hal yang menyita perhatian Diana. Diana segera turun dan menyusul orang yang dia lihat.
“Dillah, sedang apa kamu, sore-sore begini keluyuran di luar, udara di sini sangat dingin kalau menjelang malam,” ucap Diana.
“Aku hanya bosan karena tidak melakukan apa-apa,” keluh Dillah.
“Ya sudah, aku akan menemanimu berkeliling,” ucap Diana.
Mereka berdua terus mengelilingi area komplek.
“Kalau dilihat-lihat, sepertinya sebelumnya rumah utama ini di tempati orang lain.” Dillah memandangi keadaan sekitar yang begitu terawat."
“Iya, rumah ini memang di tempati seseorang, dia kakek Hong, tapi kakek Hong tidak tinggal menetap di sini.”
Lumayan lama mereka berkeliling. Matahari semakin meredup, langit gelap pun kini menyelimuti bumi bagian itu. Dillah dan Diana menyudahi tour keliling mereka, dan kembali ke kamar masing-masing.
**
Tidak terasa, satu minggu berlalu. Dillah selalu memantau kegiatan Diana. Waktu makan dan tidur Diana sangat tidak teratur, Dillah selalu mengingatkan, tapi jika Diana sudah mengurung diri di rumah itu, tidak ada seorang pun yang bisa mengganggunya.
__ADS_1
“Ya Tuhan … kalau sampai Nona sakit karena pola makannya dan waktu tidur yang sangat tidak teratur ini, yang ada Tuan Ivan akan datang ke sini dan memukuliku.” Dillah sangat frustasi.
Deringan Handphone mengejutkan Dillah. Melihat nama Ivan di layar, Dillah langsung menerima panggilan Ivan.
"Mana Diana?"
"Dia masih melakukan tugasnya, Tuan. Pola hidup Nona sangat berantakan, jadwal makan dan tidurnya tidak teratur." Dillah mengadukan segalanya.
"Kenapa kamu tidak ingatkan dia?" maki Ivan.
"Nona tidak mendengarkanku, memaksa Tuan saja aku tidak becus, bagaimana aku berhasil memaksa Nona?"
Ivan memahami keadaan Dillah. "Katakan pada Diana, kalau dia tidak memperhatikan dirinya, aku akan datang ke sana!" Ivan langsung menyudahi teleponnya.
"Huh ... untung dia tidak marah padaku," gumam Dillah.
Bouggh! Bough! Brakkkk!
Mendengar suara pukulan yang berulang, Dillah berusaha mencari sumber suara itu. Saat berjalan melewati taman, akhirnya dia melihat seorang kakek tua tengah memukul samsak yang bergantung.
“Wah … kenapa aku baru bertemu dengan Anda sekarang? Kalau aku tahu ada seseorang yang menjadi teman berlatihku, aku akan mengusir rasa bosanku dengan memukulimu,” ucap Dillah.
"Maafkan aku, anak muda, jika kegiatanku mengganggumu."
“Oh, sama sekali tidak mengganggu. Malah ini jadi semangatku. Mau menjadi teman latihanku? Otot-ototku terasa kaku lama tidak Latihan.” Dillah menggerak-gerakkan tubuhnya sambil melompat-lompat kecil.
“Sepertinya aku tidak Yakin, aku takut membuat Anda terluka, tapi kalau Anda siap menerima pukulanku, aku sangat yakin,” tantang Dillah.
“Aku yang tidak yakin untuk memukul Anda, karena satu pukulanku bisa mengantar orang sampai ke pintu Rumah Sakit.”
Dillah tertawa meremehkan laki-laki tua itu. “Itu tidak seberapa, satu pukulanku malah bisa mengatarkanmu ke pintu Sorga,” ucap Dillah.
“Kalau begitu, aku harus menghindari pukulanmu.”
“Semoga Anda bisa menghindar, pukulanku begitu lincah, bahkan beberapa temanku menjuluki ku ‘Bruce Lee’ karena pukulanku sangat gesit,” ucap Dillah. Dillah bergaya seperti aktor Bruce Lee.
“Wah, aku penasaran seperti apa pukulan seorang yang seperti Bruce Lee.”
“Jangan lama-lama, ayo Latihan, maafkan aku jika aku tidak bisa memberimu ampun, sekali aku memukul orang, aku tidak bisa menahan diriku,” ucap Dillah.
“Ayo,” tantang laki-laki itu.
Dillah masih bergaya ala Aktor Bruce Lee. "Watauuu ...." Dia menirukan suara aktor itu.
__ADS_1
Laki-laki tua itu langsung maju dan melayangkan pukulannya pada Dillah. Di luar dugaannya, saat pukulannya mengenai Dillah, laki-laki itu langsung terkapar di tanah tidak sadarkan diri.
"Anak muda, Anak muda!" laki-laki tua itu berusaha membangunkan Dillah.
"Ada apa Kekek Hong?" salah satu pelayan menghampiri laki-laki tua itu.
"Ini teman Nona Diana pingsan, ayo kita bawa ke dalam."
Keadaan yang dari tadi tenang menjadi heboh. Beberapa pelayan tersenyum mendengar cerita Kakek Hong, mereka menertawakan keberanian Dillah mengajak Kakek Hong berduel.
**
Di rumah Tua.
Lumayan banyak obat T779 yang Diana proses, tapi bagi Diana ini masih kurang. Dia terus berusaha mengerjakan. Andai ED Group berhasil mengembangkan juga, saat mereka menjual dengan harga mahal, dirinya masih bisa menjatuhkan harga obat tersebut, dengan menjual miliknya dengan harga murah.
Melihat lampu darurat selalu menyala, Diana menyudahi kegiatannya. Saat dia sampai di rumah utama, seorang pelayan menghampirinya.
“Nona, teman Anda pingsan.”
“Bagaimana bisa?” tanya Diana.
"Kena pukulanku," sahut Kakek Hong.
"Apa dia melakukan hal yang mencurigakan?" tanya Diana.
“Bukan, tapi dia mengajaku Latihan sama-sama, saat aku pukul dia, aku baru sadar, dia hanya omong gede,” ucap kakek Hong.
"Dia tidak memiliki ilmu bela diri kek," ucap Diana.
"Maafkan aku Nona."
"Tidak apa-apa kek, maafkan dia juga. Dillah belum tahu siapa Kakek Hong."
Diana memandangi keadaan Dillah. “Ya ampun, bagaimana ini, aku harus mengerjakan semua penelitianku.”
“Teman Anda biar aku yang merawat, aku akan membawanya ke rumahku, bagaimana?”
"Apa itu tidak merepotkan Kakek Hong?"
"Tidak sama sekali."
"Tapi aku tidak nyaman Kek, dia tanggung jawabku."
__ADS_1
"Agar pikiranmu tidak teralih, biarkan aku merawat pemuda ini. Di rumahku banyak orang, sedang di sini hanya ada para pelayan."
Diana menyetujui tawaran Kakek Hong, Dillah mereka bawa menuju kediaman Kakek Hong.