
Suara tembakan terus terdengar dari berbagai penjuru. Mereka bertiga berpencar untuk menyerang musuh. Dillah memberanikan diri membidikkan senjatanya kearah musuh. Tanpa Dillah sadari posisinya saat ini sangat dekat dengan salah satu penyerang.
Salah satu penyerang melapor pada rekan yang lain. "Target melakukan perlawanan!" ucapnya dengan bahasa Ingris.
Mendengar pembicaraan itu, Dillah menyadari kalau penyerang ada di belakangnya.
"Berapa jumlah lawan?” Pertanyaan dari ujung telepon.
Dillah sangat jelas mendengar komunikasi mereka.
“Tiga setengah orang.”
Apa maksudnya kalau kami berjumlah tiga setengah orang? Di kapal ini, ada aku, bibi Zicca, Diana, kakek Hong. Dillah mencoba memahami maksud tiga setengah orang.
Berarti mereka tidak menyadari keberadaan Kakek Hong, batin Dillah.
Walau mereka belum menyadari keberadaan Kakek Hong, kan yang nampak di depan mata mereka ada tiga orang.
Kenapa tiga setengah?
Dillah mulai mengerti dirinya dihitung mereka setengah, karena dianggap setengah tiang. Wajah Dillah merah padam saat dia dihitung setengah oleh musuh. Kemarahan yang menyelimuti hatinya membuat Dillah berani menyerang musuh itu
"Apa yang kau maksut dengan setengah?!" maki Dillah dengan bahasa Ingris.
Dillah menyerang orang itu tanpa ampun, dan tidak memberikan kesempatan orang itu untuk melawan, bahkan senjata api orang itu terlempar karena serangan Dillah.
Dorr!
Dillah menembak kaki penyerang itu, dan menyandranya.
Diana terkejud mendengar suara tembakan dari arah persembunyian Dillah. "Semoga yang dia tembak musuh, bukan badannya sendiri," gumam Diana.
"Bos! Ketua mereka tawan lagi!" teriak salah satu penyerang saat melihat Dillah menyandra seseorang."
Diana langsung mengintip kearah lawannya maksud. Benar saja Dillah terlihat gagah menahan orang yang lebih tinggi darinya.
"Selagi ada kesempatan, bunuh mereka semua, tidak masalah walau mereka membunuh Ketua," teriak yang lain.
“Siap Bos!”
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan menggema di kapal itu. Dillah berusaha keras menyeret sandranya menuju persembunyian Diana.
__ADS_1
"Nona, kita apakan dia?" Dillah berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Ikat dia dengan kuat, kita tahan dia," sahut Diana.
"Baik, Nona." Dillah mengikat laki-laki yang terlihat sangat kesakitan karena tembakan Dillah pada kakinya. Mereka kembali fokus melawan para penyerang lagi.
Sudah 30 menit baku tembak itu terjadi, namun tidak terlihat tanda-tanda kapan ini berakhir. Wajah Dillah mulai pucat.
Sepertinya ini adalah akhir kehidupanku, batin Dillah.
Dillah memandangi wajah Diana, wajah wanita itu terlihat sangat waspada. Bahkan terlihat sangat bersemangat.
“Nona, jika ini akhir hidupku, aku mohon … biarkan aku melindungi Nona. Biarkan aku mati karena melindungi Nona.”
“Mati? Tidak semudah itu!” ucap Diana tegas.
Dor! Dor! Dor!
Diana terus membalas tembakan yang tertuju pada mereka, bahkan tembakannya mengenai sasaran.
“Berhenti menembak! Atau ….” Seorang penyerang memperlihatkan dirinya sambil membawa kakek Hong.
“Serahkan sejata kalian!”
“Lepaskan ketua kami!”
Mau tak mau Zicca juga harus melepaskan ketua mereka. Zicca menyeret laki-laki yang terikat dan mendorongnya ke tengah kapal.
“Hitungan ketiga, lepar sejata kalian, atau peluru ini akan menembus kepala Kakek tua ini!”
“Sebelum aku mati, aku ingin mengajukan pertanyaan. Kenapa kalian menghitungku setengah!” teriak Dillah.
“Karena postur badanmu 150 cm, kurang tinggi bagi warga di sini, dan mereka menghitungmu setengah tiang,” bisik bibi Zicca.
“Kurang Asam kalian!” Dillah semakin marah, karena dugaannya benar.
Brrakkkk!
Tiba-tiba seluruh kapal itu bergoncang hebat. Membuat beberapa penyerang kehilangan keseimbangan mereka. Bahkan beberapa orang terlempar karena goncangan hebat itu. Hal ini di gunakan Kakek Hong untuk menyerang lawan.
Brukkk!
Laki-laki yang menawan Kakek Hong terjatuh. Kakek Hong langsung menyelamatkan diri, semua penyerang masih belum bisa bangkit.
__ADS_1
"Ayah! Apa Ayah baik-baik saja?" tanya Zicca.
"Saat ini belum. Ayo cari tempat aman. Mereka semua berlari dan mencari sejata baru.
"Goncangan apa tadi?" tanya Dillah.
"Sepertinya mereka sengaja menabrakan kapal mereka ke kapal kita," tebak Kakek Hong.
Dorrdordorrrrr! Dor!
Suara tembakan beruntun kembali memecah gendang telinga.
"Sial! Mereka menyerang kita dengan senjata mesin!" ucap Diana.
"Tembakan itu menyasar semua penyerang kita, Nona!" Dillah menunjuk kearah para penyerang yang kini tidak berkutik karena dihujani peluru tanpa henti.
Kakek Hong mencoba memeriksa darimana tembakan itu berasal. Dia melihat sebuah kapal besar dekat kapalnya. “Ada kapal yang menyelamatkan kita."
"Mereka menyelamatkan kita?" Bibi Zicca terlihat tidak percaya. Dia juga langsung memeriksa keadaan, benar saja ada sebuah kapal besar di dekat kapal mereka. Bahkan mereka hanya menembaki kearah penyerang.
"Siapa penyelamat ini?" tanya Dillah.
"Entah, aku juga tidak tahu," sahut Kakek Hong.
Brakkkk!
Tiba-tiba seorang laki-laki mengenakan pakaian khusus melompat di depan mereka. "Bagaimana keadaan kalian? Apa ada yang terluka?" tanyanya.
"Kami baik-baik saja," sahut Diana. Diana mencoba mengenali laki-laki itu.
"Tunggu sebentar, kami harus melumpuhkan semua musuh." Laki-laki itu membidikan senjata mesinnya kearah para penyerang.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Pertanyaan itu terdengar dari walkie talkie yang menempel di bahu laki-laki itu.
"Mereka aman," sahut laki-laki itu.
"Sisanya, cek kapal penyerang, pastikan mereka semua dilumpuhkan!" suara dari walkie talkie.
Laki-laki itu pergi memeriksa keadaan deck kapal di depanya. Diana dan yang mengintip keadaan di sana. Beberapa penyerang terlihat bersimbah darah, dan beberapa orang yang masih hidup mereka ikat.
"Lapor, semua penyerang sudah di lumpuhkan, keadaan aman!" lapor salah satu laki-laki yang menggunakan seragam yang sama.
__ADS_1