
Diana sangat kesal karena Ivan berlutut padanya di hadapan banyak orang, dia tidak tahu harus ke mana. Saat ini kursi yang berjejer di kantin menjadi pilihannya untuk menenangkan diri.
Tink!
Suara notifikasi pesan membuyarkan lamunan Diana, dia segera memeriksa handphonenya.
*Diana, di mana kamu? Aku menunggumu di kelas.
Setelah membaca pesan dari Saras, perasaan Diana perlahan membaik, dia segera memacu langkahnya menuju kelas. Sesampainya di kelas ada pemandangan yang membuat Diana terharu. Di mejanya sangat banyak barang-barang bersusun di mejanya, dari selimut, pakaian, hingga makanan.
“Itu semua untukmu, Diana.” Ucap Saras.
Diana memandangi semua teman-temannya bergantian. “Terima kasih banyak semuanya.”
Semua teman sekelas Diana hanya tersenyum pada Diana.
“Saat melihat Thaby membawa hadiah untukmu, mereka semua juga membeli hadiah untukmu,” adu Saras.
"Kenapa kamu membeli hadiah untukku, Thaby?" tanya Diana.
"Setelah ledakan itu, katanya semua barang-barangmu terbakar, ada yang masih bisa di selamatkan, tapi rasanya masih kurang."
“Kenapa kalian semua mengikuti Thaby??” tanya Diana pada semua teman-teman sekelasnya.
“Thaby si pembuat onar saja sangat menghormatimu, dan mereka yakin kamu adalah sosok yang sangat special, karena bisa membuat preman nanggung seperti Thaby tunduk,” ucap Saras.
“Preman?” Diana menatap kearah Thaby, dia sangat terkejut mengetahui Thaby dikenal sebagai preman di lingkup Universitas. "Anak Rektor Universitas ini seorang preman?"
"Prestasiku sangat memalukan!" Ingin sekali Thaby menyembunyikan wajahnya.
“Lihat pulpen itu.” Saras menujuk sebuah pulpen yang berhias pita.
“Hmmm.” Diana memandangi benda yang Saras maksud.
“Itu dariku, semoga kamu menyukainya,” ucap Saras.
Diana langsung mengambil pulpen hadiah dari Saras dan menempelkannya di bagian sakunya. “Aku sangat suka,” ucapnya.
Melihat reaksi Diana, Saras terlihat begitu bahagia.
Diana memandangi semua bingkisan yang ada. “Ngomong-ngomong tidak ada yang memberiku laptop atau handphone apel gigit seri terbaru gitu?” candanya. "Tahu sendiri laptop jadulku ikut terbakar di sana. Kalau mau kasih aku laptop berlogo apel yang digigit aku juga tidak menolak."
__ADS_1
Thaby membuka plastik yang pembungkus buah, dia mengambil sebiji apel dari sana, dengan santai dia menggigit bagian apel itu.
“Thaby, kenapa kau membuka hadiahku?” ucap Diana.
“Aku hanya ingin memberimu hadiah lagi.” Thaby mengeluarkan handphonenya, dan memberikan handphone juga apel yang dia gigit pada Diana. “Handphone apel gigitan terbaru.” Ucap Thaby.
Seketika suara tawa menggemuruh di dalam kelas.
"Aku tidak mau, itu bekas gigitanmu takutnya mengandung virus rabies!" canda Diana lagi.
"Idihhh, memangnya aku guguk gila!"
"Kamu kan sumber kegilaan Thaby, dan Diana benar!" sela Mahasiswa lain.
"Ku tandai dirimu!" ucap Thaby.
"Ya tandai dia, kalau dia dapat subsidi darimu," sela Diana.
Saras semakin mengagumi sosok Diana, selain pintar, perhatian, dan cekatan. Saat ini matanya melihat Diana dari sisi yang berbeda, dia sangat ceria dan suka bercanda. Saras selalu tertawa mendengar setiap candaan Diana.
Drttttt!
***
Di kantor Ivan.
Dillah begitu sibuk menatap layar kumputernya, sedang Ivan dan Yudha terlihat menunggunya.
“Bagaimana Dillah?” tanya Yudha.
“Luar biasa, saham Tuan Ivan di luar negri untung besar, sepertinya Semesta mempermudah jalan Tuan untuk membeli hak Paten itu.” Sepasang mata Dillah begitu berbinar melihat keuntungan Ivan pada salah satu saham.
“Coba kamu hitung keuntungan punyaku, kalau pelelangan hak paten itu diluar dugaan kita, kalau kedua kekuatan kami di satukan sepertinya bukan hal yang mustahil untuk kita membeli hak paten itu.” Yudha terlihat begitu semangat.
“Sebentar.” Dillah segera menghitung semua keuntungan Yudha.
“Bagaimana perkembangan hak paten obat itu?” tanya Ivan pada Yudha.
“Perkembangannya sangat memuaskan, tidak ada masalah apapun pada hak paten obat itu, hanya saja pemilik hak paten obat ini sangat misterius,” sahut Yudha. Yudha memberikan laporannya tentang hak paten yang Ivan inginkan.
“Pastinya kamu ingin merekrut pencipta obat itu untuk menjadi bagian Agung Jaya bukan?” goda Dillah. "Pastinya dia sosok yang cerdas, dan jiwa kemanusiaannya begitu tinggi."
__ADS_1
"Menurut laporan pencipta dan pemilik hak paten orang yang berbeda. Pemegang hak Paten itu adalah Ketua IMO, kamu tahu sendiri aku sangat penasaran dengan Organisasi itu, sedang penciptanya masih misterius." Ivan menatap langit-langit kantornya, pikirannya terus membayangkan sebuah organisasi yang di singkat IMO.
"Mendirikan sebuah Rumah Sakit, asal ada dana, semua terwujud, tapi mengelolanya menjadi sebuah Rumah Sakit Amal, itu sulit. Pertama, tidak mudah mendapatkan relawan medis yang mau bekerja tanpa gajih. Menggajih petugas medis secara berkepanjangan butuh dana tetap, sedang Rumah Sakit, tidak hanya terfokus itu, masih banyak keperluan lain, obat-obatan, dan lainnya. Pemilik obat ini selain berjuang memberi pelayanan medis gratis. Tapi sayang hak milik obat ini dimiliki oleh Organisasi IMO!" Mengingat Organisasi itu terlihat emosi terpendam dari sorot mata Ivan.
"Ternyata kamu tau banyak tentang pencipta hak paten obat itu, pantas kamu sangat menginginkannya, eh menginginkan hak patennya, apa ... ingin tahu siapa pencipta obat paten itu?" goda Yudha.
Ivan tidak menghiraukan Yudha, dia kembali fokus membaca laporan yang ada di tangannya.
“Bagaimana kalau pencipta obat paten itu perempuan yang sangat cerdas? Apa pesonanya akan mengalahkan Diana?” goda Yudha lagi.
Ivan melempar kasar map yang dia pegang kearah Yudha, tapi Yudha dengan gesit menghindari lemparan itu, dan dia tertawa terbahak menertawakan Ivan.
"Pasti kamu bimbang ya Van, karena andai dia wanita, maka ada dua wanita hebat, dan keduanya wanita impianmu. Jangan galau Van, aku siap menerima salah satunya," goda Yudha lagi.
"Pemilik obat itu memang aku sangat penasaran, hanya tahu sedikit info tentangnya, seperti aku tidak bisa mencari tahu siapa Ketua Organisasi IMO."
**
Di Universitas Bina Jaya.
30 menit berlalu, Diana undur diri pada semua temannya, dia izin ke kamar kecil. Sampai di area toilet, Diana menaruh sesuatu di depan pintu, agar dia menyadari kalau ada orang lain yang masuk ke area toilet, Diana menuju toilet paling ujung. Dia segera menelepon nomor asing yang sebelumnya meneleponnya.
Tuttttt!
“Halo Ketua.” Terdengar suara laki-laki di ujung telepon sana.
“Ada apa Tony? Saat ini aku sedang istirahat dari organisasi, bukankah semua tugas sudah ku serahkan padamu sebagai Wakil Ketua.”
Diana merasa memberikan jawaban yang salah. "Maafkan aku, apakah ada hal darurat sehingga kamu menghubungiku?"
“Maafkan saya Ketua, saya kira Anda sudah aktif kembali, karena beberapa waktu lalu Organisasi kita mendapat kabar kalau Ketua akan melelang hak paten obat luar biasa itu.”
“Aku belum kembali bertugas di IMO," sahut Diana.
**
IMO (International Medical Organization) adalah suatu organisasi Kesehatan yang sangat hebat. Dari penelitian bermacam obat, penelitian bermacam virus dan mereka berusaha menciptakan penawarnya. Masuk kedalam organisasi ini sangat sulit, tidak semua tenaga medis bisa menjadi bagian dari IMO (International Medical Organization).
Bukan hanya menciptakan obat, tapi Organisasi ini juga rela bertempur untuk merebut obat-obatan yang akan disalah gunakan, misal dikuasai salah satu kelompok. Karena bagi mereka kesehatan itu adalah anugrah, bukan suatu bisnis. Andai ada pihak yang menjadikan dunia medis sebagai bisnis, maka Anggota IMO siap melawan kelompok itu.
Sangat sering Anggota IMO turun ke medan pertempuran, untuk memperjuangkan kepentingan umum, tapi mereka tidak pernah terbunuh, karena semua anggotanya terlatih.
__ADS_1