Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 281


__ADS_3

Diana asyik membaca buku di Perpustakaan kecil yang ada di rumah Neneknya, suara samar-samar yang terdengar membuat Diana menghentikan kegiatannya, dia menaruh bukunya dan berjalan cepat keluar.


Sesampai di teras rumah, Diana melihat para pelayan begitu gembira menyambut kedatangan Neneknya. Mengingat Neneknya pergi hampir satu minggu berobat, ada perasaan sakit yang mengikat begitu kuat hati Diana. Di tambah saat ini Neneknya duduk di kursi roda, keadaannya juga terlihat sangat lemah.


“Makhaya, mana Diana?”


Mendengar Neneknya menanyakan dirinya, Diana merubah raut wajahnya, dia menyembunyikan kesedihannya dan menghiasi wajahnya dengan senyuman. “Nenek … kenapa Nenek pergi begitu lama?” Diana langsung memeluk Neneknya.


“Ah … aku kagum dengan pembangunan-pembangunan desa-desa yang aku lewati, sehingga aku betah berlama-lama di sana.” Nenek Zelin sangat tahu kelebihan cucunya, hanya dengan menyentuh atau mengamati seseorang, Diana bisa menemukan apa yang aneh pada Kesehatan seseorang. Nenek Zelin melepaskan pelukan mereka, dia tidak ingin Diana terlalu sedih. “Ivan mana?”


“Dia sedang di rumah Profesor Hadju, mereka suka menghabiskan waktu di sana,” sahut Diana.


“Perintahkan seseorang untuk memanggilnya, aku ingin berbicara dengannya,” titah Nenek Zelin.


“Biar aku saja yang menjemputnya.” Diana meraih tangan Neneknya dan mencium punggung telapak tangan itu.


Saat Diana melangkah keluar rumah, saat yang sama mobil Pelayan datang membawakan pesanan Diana, dalam mobil bak terbuka itu, terlihat 2 ekor kuda dengan warna putih dan hitam. Diana tersenyum menatap kedua kuda itu, dia naik ke bak belakang dan mengusap kedua kuda itu bergantian.


“Langsung bawa ke rumah Profesor,” titah Diana.


“Anda apa ingin tetap di sana?” tanya pelayan.


“Iya, aku ingin bersama mereka sampai ke rumah Profesor,” sahut Diana.


Mobil itu melaju pelan menuju rumah Profesor Hadju. Sesampai di sana, ternyata Ivan dan profesor masih betah berbincang di teras rumah Profesor. Keduanya langsung berdiri saat melihat sebuah mobil dengan dua kuda gagah di bak belakang dan juga seorang wanita cantik.


Diana melompat turun dari mobil. “Prof, bagaimana hadiah dari sepasang pengantin ini?” Diana maksudkan dirinya dan Ivan.


Profesor sangat mengagumi sepasang kuda itu. “Hadiah yang sangat indah ….” Ucap Profesor.


“Terima lah hadiah dari kami Prof … tapi untuk memeriksa keseluruhan, aku tidak bisa menemani, aku juga harus menculik teman bicara profesor.” Diana mengisyarat pada Ivan. “Hei Tuan Ivan Hadi Dwipangga, dokter Zelin saat ini mencarimu dan ingin bicara denganmu.”


"Nenek sudah kembali?” tanya Ivan.


“Iya, sudah. Nenek ingin bicara denganmu,” sahut Diana.

__ADS_1


“Prof, terima kasih atas waktunya hari ini.” Ivan berpamitan pada Profesor Hadju.


Profesor Hadju hanya mengangkat tangannya merespon ucapan Ivan, dia sangat terpesona dengan kedua kuda itu, dia fokus memperhatikan kedua kuda itu.


“Ivan! Kami bagaimana?” teriak Yudha.


“Lanjutkan saja kebahagiaan kalian yang sementara ini, setelah kita kembali kalian akan kembali stres dengan semua pekerjaan!” sahut Ivan.


Diana mengajak Ivan kembali bukan melewati jalan sebelumnya, dia menarik Ivan memasuki hutan. Ivan bingung, karena Diana malah membawanya melewati jalur yang lebih jauh. Melihat keadaan sekitar sangat sepi, Ivan memandang jeli raut wajah Diana, tersimpan kesedihan di sana.


“Ada hal yang ingin kamu katakan?” tebak Ivan.


Diana menghentikan langkahnya, dia menunduk begitu lama, saat dia menegakan wajahnya, terlihat kedua pipinya basah karena air mata yang terus menetes.


Melihat Diana menangis, Ivan sangat panik. “Ada apa permataku?”


“keadaan Nenekku tidak baik.” Wajah Diana terlihat sangat hancur.


“Apa yang terjadi pada Nenek?” tanya Ivan lembut.


“Aku merasa tidak berguna! Aku diberi kemampuan untuk menyembuhkan penyakit orang-orang, tapi aku tidak mampu menyembuhkan penyakit Nenekku sendiri ….”


Ivan merasakan saat ini Diana benar-benar hancur, perlahan Ivan mendekati Diana dan menariknya kedalam pelukannya. “Jangan menganggap seperti itu, kamu hanya manusia biasa yang diberi sebuah berkah dari Tuhan. Kamu mampu menolong orang atas kehendak Tuhan. Ingat kamu bukan Tuhan yang mampu melakukan apa yang kamu mau. Kesehatan Nenekmu, itu di luar batas kemampuanmu.”


Ivan terus mengusap lembut penggung Diana. “Semua orang berkeinginan mereka yang dicinta sehat dan Panjang umur, agar selalu bisa memberi mereka kebahagiaan. Kamu jangan sedih seperti ini, berbahagialah sayang, Nenek ingin kamu bahagia.”


Diana menarik diri dari pelukan Ivan, saat yang sama Ivan menangkup kedua tangannya memegang wajah Diana.


“Semoga Tuhan memberi Nenek umur yang Panjang, agar beliau bisa melihat betapa bahagianya cucu yang selama ini beliau jaga.”


Diana mengatur napasnya, perlahan dia menghapus air matanya. “Jangan kasihan padaku.”


“Siapa yang kasihan padamu, aku sangat mencintaimu. Kamu baru saja membuatku menjadi laki-laki yang paling bahagia. Di mana semua orang tahu kamu adalah wanita Tangguh, tapi di depanku kamu tidak menyembunyikan beban hatimu dariku. Terima kasih telah membagi segalanya untukku.”


Di sudut lain, Hogu terus mengendus jalanan yang Diana dan Ivan lewati, melihat Ivan dan Diana ada di depan matanya, Hogu mempercepat langkahnya, Hogu melihat Diana menangis, dia menggeram, marah karena ada orang yang menyakiti Diana.

__ADS_1


Houugggg!


Hogo melempar dirinya kearah Ivan, hal itu berhasil membuat Ivan menjauh dari Diana.


Arrghhhh


Hogu menggeram memperlihatkan gigi-giginya pada Ivan.


“Sepertinya di masa depan, aku dan Hogu akan memperebutkan perhatianmu,” ucap Ivan.


“Hogu … sudah dia tidak menggangguku.” Diana menarik Hogu dan menggendongnya menuju rumah Neneknya.


Ternyata jalur yang mereka lewati mengantarkan mereka sampai ke bagian belakang rumah Nenek Zelin. Setelah sampai rumah, Ivan segera memasuki rumah itu mencari keberadaan Nenek Zelin. Saat Ivan sampai di ruang tamu, seketika hatinya mencelos melihat Nenek Zelin duduk di kursi roda, raut wajah wanita tua itu pun terlihat lemah.


Wajar saja Diana sangat sedih, ternyata Kesehatan Neneknya benar-benar menurun.


Ivan memasang wajah ceria, agar Nenek Zelin juga ikut bahagia. “Nenek mencariku?” tanya Ivan lembut.


“Akhirya kau kembali, ayo duduk sini, aku ingin berbicara berdua denganmu.” Nenek Zelin menunjuk kursi kosong di sampingnya.


“Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya.” Pamit Makhaya.


Ivan segera duduk di kursi yang ada di dekat Nenek Zelin. “Nenek mau bicara apa?”


“Apa kesanmu tentang Diana? Apa pernah kamu meragukannya?” tanya Nenek Zelin.


Ivan menelan salivanya terasa berat mendengar pertanyaan itu. Berulang kali Ivan mengatur napas untuk mempersiapkan hatinya sebelum bicara. “Dulu … aku merasa diriku lah yang berkuasa, semua kendali ada dalam genggamanku, sehingga siapa saja yang berusah dekat denganku, aku memandang rendah mereka, karena aku berpikir mereka ingin kekuasaan dariku.”


“Termasuk Diana?” sela Nenek Zelin.


Ivan mengangguk pelan. “Maafkan aku, itu sebelum aku tahu siapa dia.” Ivan menunduk semakin dalam.


“Saat semakin mengenal Diana, ternyata dia bukan wanita seperti itu, dia wanita Tangguh dan menebar kebaikan untuk semua orang, hingga aku jatuh cinta padanya karena budi baiknya, nek ….”


“Saat aku mendengar hinaanmu pada cucuku aku marah. Tapi Diana telah memilihmu, cintanya adalah cintaku, dia mencintaimu, aku juga mencintaimu. Nenek Zelin meraih tangan Ivan. “terima kasih telah membuat cucuku jatuh cinta padamu.”

__ADS_1


__ADS_2