Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 147 Istimewa


__ADS_3

“Ada yang bisa memberiku jawaban?” sela Nicholas.


“Lebih baik kita cari jawaban bersama-sama,” sahut Ivan.


Ivan memacu cepat langkahnya menuju kastil, di susul Yudha, Pak Jo dan Nicholas. Mereka semua langsung menuju lantai dua, di mana Angga berada saat ini, mereka hanya diam melihat keadaan yang ada di depan mata mereka. Angga berbaring di tempat tidur dan terlihat menahan rasa sakitnya.


Dillah baru saja datang dengan membawa barang yang Diana minta. “Apakah ini cukup?” tanya Dillah.


Diana memeriksa barang yang Dillah berikan padanya. “Untuk saat ini cukup, terima kasih.” Ucap Diana. Diana tidak mempedulikan tatapan semua orang yang tertuju padanya.


"Kak Angga, untuk beberapa waktu kak Angga jangan bergerak," pinta Diana.


Angga memandang kearah Nizam, seakan dia bertanya pada Nizam.


"Kamu akan baik-baik saja setelah ini," ucap Nizam.


Diana mulai menusukkan beberapa jarum di titik akupuntur kaki Angga.


Diana melirik Angga, terlihat Angga sangat tegang dan takut. “Percaya padaku,” ucap Diana pada Angga, Diana memahami rasa takut dan keraguan Angga.


Nizam mendekati Angga, berusaha menenangkan perasaan gundah Angga. “Percaya padanya, Angga. Kemampuan medis Diana lebih hebat dariku. Kami berguru pada orang yang sama, dan guru kami saja selalu menyanjung Diana.”


Angga menatap Nizam dengan tatapan tidak percaya.


"Setiap orang punya kelebihan, dan Diana ahli dalam bidang ini," ucap Nizam lagi.


Angga terlihat lebih tenang setelah mendengar penjelasan Nizam.


“Bukankah dokter hebat itu Anda, mengapa Anda membiarkan Diana menangani kak Angga?” sela Nicholas.


“Saat ini kak Angga hanya cocok dengan pengobatan traditional, sebab itu Nizam memintaku. Kalian ragu dengan kehebatan Nizam?” sahut Diana.


"Aku tidak ragu dengan keahlian Nizam, tapi aku meragukanmu," sahut Nicholas.


“Untuk penanganan medis, aku bisa. Tapi untuk hal ini aku butuh Diana.” Nizam berusaha menutupi kemampuan Diana.


Nizam menatap Nicholas dengan tatapan mengintimidasi. "Kau bilang tidak ragu padaku, tapi meragukan Diana. Aku mempercayai Diana karena tahu kemampuannya, dengan kamu ragu pada Diana, sama saja kamu meragukan kemapuan dokter hebat ini."


“Jadi yang bisa menangai Kakakku saat ini hanya Diana?” sela Ivan. Ivan tidak ingin ada ketegangan di dekat Kakaknya.

__ADS_1


“Iya, untuk pengobatan traditional aku tidak mengerti,” sahut Nizam.


“Pengobatan Traditional butuh fokus dan konsentrasi tinggi, jadi siapa yang tidak berkaitan dengan penanganan Kakakku, tolong keluar dari sini.”


“Nizam memang tidak mengerti, tapi dia tahu kapan pengobatan ini di tepat untuk dilakukan,” sela Diana.


Nizam memahami Ivan mengusir yang lain secara halus. "Tolong kalian semua keluar, beri Diana ketenangan untuk mengobati Angga."


Mereka semua segera meninggalkan kamar yang Angga tempati, di dalam kamar itu hanya ada Diana, Nizam, Ivan, dan Angga.


Angga tetap diam di tempat tidurnya, membiarkan Diana menancapkan banyak jarum di semua kakinya. Perasaannya gundah, tapi setiap tusukan jarum yang menancap memberi perasaan yang nyaman baginya. Walau rasa sakit yang mendera tidak hilang sempurna, tapi dia merasa lebih baik.


“Maafkan yang terjadi, seperti penjelasanku tadi, Nizam panik dan mencariku, karena dia tahu saat ini kak Angga hanya cocok di tangani dengan pengobatan traditional,” ucap Diana lembut.


“Maafkan aku, aku hampir salah faham, aku kira dokter hebat itu kamu, dan kamu bersembunyi dengan nama Nizam,” sela Ivan.


Nizam hanya bisa tertawa mendengar komentar Ivan.


“Itulah kehebatan Nizam, dia tahu pengobatan apa yang tepat untuk pasiennya saat ini, saat dia melihat kak Angga kembali kambuh, dalam pikirannya hanya ada Akupuntur, seperti yang Nizam katakan sebelumnya, untuk akupuntur, Kak Angga harus melakukan Akupuntur untuk 20 hari kedepan,” jelas Diana.


“Apa? Selama 20 hari jarum-jarum itu harus menempel di kakiku?” Angga terlihat histeris.


“20 hari kedepan?” sela Ivan.


“Iya,” sahut Diana.


“Berarti kak Angga harus dekat dengan Diana selama 20 hari kedepan?"


"Iya, karena Diana yang bisa melakukan ini," sela Nizam.


Ivan terlihat berpikir. "Bagaimana kalau kak Angga ikut tinggal di Apartemen yang ada di dekat Universitas?”


“Apartemen?” Nizam terlihat keberatan, dia hanya rela Apartemen miliknya hanya ditempati Diana, dan dia sangat keberatan kalau ada orang lain menempati Apartemennya.


“Urusan itu kita bahas nanti, kita fokus untuk waktu ini dulu,” sela Diana.


“Apa ada yang lainnya selain Akuputur?” tanya Angga.


Diana terlihat mencari sesuatu, tapi dia tidak menemukan apa yang dia inginkan. Ivan berjalan mendekati salah satu lemari, dia mengambil beberapa lembar kertas dan pena. “Mencari ini?” Ivan memperlihatkan dua barang yang dia pegang.

__ADS_1


Diana menganggukan kepalanya dan segera menerima dua barang yang dia butuhkan. Diana terlihat sibuk menulis di sana, sedang Ivan duduk santai di sofa yang ada di kamar itu, dia terus mengamati Diana.


Diana selesai dengan kegiatan menulisnya. “Kak Angga nanti minum rutin semua obat ini, satu resep untuk sebelum makan, satu resep untuk sesudah makan,” ucap Diana.


Angga menoleh kearah Nizam, seakan meminta jawaban dari seseorang yang dia anggap dokter hebat.


“Percayalah pada Diana, Diana sering membantuku untuk hal yang di luar kemampuanku,” ucap Nizam.


"Kamu tidak ingin melihat apa yang Diana resepkan?" tanya Angga pada Nizam.


"Aku hafal apa yang Diana tulis, dan aku sepertinya tahu, jenis obat apa saja yang Diana resepkan," sahut Nizam.


Diana melirik jam tangannya memperkirakan waktu untuk mencabut kembali semua jarum itu, merasa masih lama, Diana mengambil handphonenya dan bermain game online di sana.


**


Di luar kamar.


Nicholas menumpu dagunya diatas tangannya, dia masih sulit percaya kalau kemampuan Diana jauh lebih hebat dari Nizam. Nicholas melirik kearah Yudha. “Apa kamu percaya dengan yang Nizam ucapkan?”


“Enthalah, biar waktu yang menjawab pertanyaan kita.” Yudha menghempaskan tubuhnya di sofa empuk, dia menikmati kopi dan cemilan yang disediakan para pelayan.


Waktu rasanya berjalan begitu lama, gelas kopi Nicholas dan Yudha sudah kosong, cemilan juga banyak masuk kedalam perut mereka.


“Enak sekali kalian menikmati kopi dan cemilan tanpa menawarkannya pada kami.”


Sontak Yudha dan Nicholas menoleh kearah tangga, mereka sangat tidak percaya melihat Angga dengan nyamannya menuruni tangga.


“Kak Angga?” ucap keduanya serentak.


“Bagaimana keadaan kak Angga?” sela Yudha.


“Setelah ditangani Diana, kakiku jauh lebih baik,” jawab Angga.


“Luar biasa.” Yudha sangat terpukau dengan kemampuan Diana.


“Sulit bagiku untuk percaya, Diana benar-benar—” Nicholas bingung mengucapkan kata apa, dia sangat mengagumi Diana.


“Sudah ku katakan padamu bukan, kalau Diana istimewa!” ucap Yudha.

__ADS_1


__ADS_2