
Diana tersenyum melihat dua orang tua itu saling berpelukan, demi melindungi nyawanya Neneknya terpaksa meninggalkan sahabat dan pekerjaannya.
"Apakah aku bermimpi, Zelin?" ucap Nenek Zunea.
"Apa perlu alat kejut jantung untuk membangunkanmu?" sahut Nenek Zelin.
Dari lantai dua rumahnya, kedua orang tua Yudha merasa malu dengan diri mereka sendiri, karena sebelumnya merendahkan wanita yang berpura-pura bisu itu. Ayah Yudha berpesan pada pembantu, kalau mereka beralasan ada di luar kota jika ibu mereka menanyakan keberadaan keduanya. Mereka berdua tidak berani menunjukan wajah di depan Diana mau pun Nenek Zelin.
"Bagaimana kalau kita masuk kedalam dulu?" ajak Nenek Zunea.
"Aku lebih suka di sini, Zunie."
"Kalau kamu suka di sini, ya sudah kita bersantai di bawah pohon ini."
Di sisi lain, Yudha heran melihat pagar rumahnya terbuka lebar, apalagi banyak mobil mewah terparkir di tepi jalan di depan rumahnya.
"Van, apa Nenekku dalam bahaya?" Yudha panik.
"Mana aku tahu Yud, Diana meminta kita secepatnya ke rumahmu, itu saja."
Melihat laki-laki berbadan tegap banyak di depan rumahnya, Yudha semakin cemas, pikirannya itu adalah Bodyguard pelayat yang datang. Saat mobilnya terparki sempurna Yudha dan Ivan langsung keluar dari mobil, hingga keduanya seketika mematung melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Nenek Zelin, dokter melegenda pada masanya, namun menghilang begitu saja beberapa saat sebelum wabah menyelimuti beberapa Negara bagian, termasuk Negara mereka. Saat itu, sosok legenda dalam dunia kedokteran itu terlihat sesekali tersenyum saat berbicara dengan wanita tua yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Saat kau melihat sosok yang selama ini kamu cinta, kamu melupakanku."
Kata-kata itu membuyarkan lamunan Ivan dan Yudha akan sosok Nenek Zelin.
"Bu-bukan begitu permataku, aku hanya merasa mimpi melihat langsung Nenekmu." Ivan menoleh lagi kearah Nenek Zunea dan Nenek Zelin yang belum menyadari kedatangannya.
"Kau membuatku takut, Diana. Aku pikir Nenekku dalam masalah, aku dan Ivan terburu-buru ke sini," keluh Yudha.
"Maafkan aku, ayo temui Nenekku," ajak Diana.
Ivan tidak bisa menggerakkan kakinya, dia masih mematung ditempatnya.
"Kenapa Van?" tanya Diana.
Diana mengabaikan rasa takut Ivan, Dia menyilangkan tangannya di pergelangan tangan Ivan. "Melihat kebahagiaanku, Nenekku akan melupakan segala hal yang melukainya, dan kebahagiaan aku, ada kamu di dalamnya."
Semangat langsung berkobar dalam diri Ivan, dia melupakan ketakutannya, dan melangkah bersama Diana menemui sosok legenda itu.
"Nenek ...." sapa Diana.
Nenek Zelin langsung menoleh pada cucunya, terlihat Diana sangat bangga menggandeng pemuda pilihannya, walau sebelumnya dia sempat kecewa dengan penolakan Ivan.
"Aku tidak tahu harus bicara apa Nek, yang jelas aku sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan Anda," ucap Ivan.
__ADS_1
"Aku juga bahagia melihatmu, Van. Aku juga tidak bisa berkata-kata, karena bagiku kebahagiaan Diana yang utama."
"Zelin. Yang sendirian di belakang Ivan itu adalah Yudha, dia cucuku." sela Nenek Zunea.
Yudha langsung mendekat, dan menyalami Nenek Zelin. Saat sosok impiannya ada di depan mata, Yudha juga membisu, dia terus memandangi wanita tua sang legenda di dunia kedokteran itu.
****
Di tempat lain ....
Setelah memberikan kabar rencana jahat Arli, Nizam diminta ikut rapat di ruangan Rektor Universitas Bina Jaya. Di sana ada Archer, Russel, dan Pak Abimayu sendiri. Mereka sengaja tidak melibatkan banyak orang, karena mereka memiliki rencana khusus untuk orang-orang yang ingin melenyapkan permata yang mereka jaga.
Di luar Universitas juga penjagaan semakin ketat, Mahasiswa dan Dosen yang ingin keluar mau pun masuk harus melewati penjagaan ketat.
Di ruangan Pak Abimayu.
"Sudah pasti Aridya dan kedua anaknya memihak Diana?" tanya Archer.
"Sepertinya iya, aku melihat sendiri bagaimana terpuruknya Aridya saat dia mengetahui Diana menyelamatkan kedua anaknya," sahut Russel.
"Kalau benar mereka bisa dipercaya, kita libatkan kedua anak Aridya untuk meletakan bukti-bukti, saat tertangkap polisi nanti, bukti jelas mereka mentargetkan para pebajat negara, bom yang mereka pasang juga akan semakin memberatkan hukuman mereka."
"Untuk bukti-bukti yang kita rekayasa, nanti aku akan meminta bantuan Hadhif."
__ADS_1
Mereka semua segera menyusun rencana, mengusahakan menangkap 4 penjahat itu sebelum acara berlangsung.