
Barbara menggigit ujung kukunya, dia tidak menyangka Amanda selicik ini. Pantas saja Amanda selalu nyinyir kala Ivan memilih dirinya untuk mendampingi jika ada kunjungan di luar kantor.
“Aku permisi dulu ya,” pamit Yudha.
Barbara dan Dillah hanya menganggukkan kepala mereka, mereka masih sulit percaya semua kekacauan ini di sebabkan oleh Amanda.
Ceklak!
Saat Yudha memasuki ruangan Ivan, entah mengapa hawanya terasa sangat berbeda, dingin dan begitu mencekam. Yudha mengusap tengkuknya, saat memasuki ruangan ini seketika bulu kuduknya berdiri.
“Kamu tidak ingin menjelaskan apapun padaku?” Pertanyaan Ivan terasa begitu menekan, namun Diana tetap santai dan tidak bereaksi apapun.
“Diana, jelaskan saja semuanya kalau kamu dan Fredy tidak memiliki hubungan apapun,” sela Yudha.
Tapi Diana tidak menjawab apapun, dia hanya diam.
“Diana …, jelaskan saja. Kami percaya padamu,” rayu Yudha.
Tetap saja Diana diam.
Diana mulai mengetik sesuatu di handphonenya.
*Apa aku boleh pergi? Kalau boleh aku ingin kembali ke kampus.
Membaca tulisan Diana, wajah Ivan semakin muram.
Karena Ivan tidak menaggapi, Diana pun pergi begitu saja dari ruangan Ivan. Ivan dan Yudha pun hanya diam memandangi kepergian Diana.
“Lebih baik kamu kembali ke ruangan kamu Yudh.”
"Van, caramu melempar Amanda dari perusahan ini sangat keren."
"Memecatnya tanpa menghukumnya tidak sepadan, makanya sudah ku katakan aku menunggu saat yang tepat, di mana dia tidak bisa membela dirinya lagi."
“Kalau tentang Diana dan Fredy, kira-kira apa hubungan diantara mereka?” tanya Yudha.
Ivan mendengus, dan langsung pergi menuju kamar pribadinya. Merasa ditinggal Ivan, Yudha pun kembali ke ruangannya.
**
Diana masih berada di dalam taksi yang melaju menuju kampusnya.
__ADS_1
Drtttttt
Merasa handphonenya bergetar, Diana pun langsung memeriksanya. Pesan baru yang masuk adalah pesan dari Fredy.
*Diana, apa yang telah terjadi di perusahaan Agung Jaya, aku bisa membantumu menjelaskan semuanya pada Ivan.
Setelah membaca pesan itu, Diana langsung menghapusnya dan menyimpan handphonenya kembali. Taksi yang membawa Diana pun sampai di depan gerbang Fakultas Bina Jaya, setelah membayar ongkos taksi, Diana berjalan santai memasuki gerbang Universitas tempatnya menimba ilmu.
Di belakang Diana, seorang laki-laki menaiki skateboardnya. Saat dia semakin dekat dengan Diana, dia ingin mengisengi gadis itu. Saat dia ingin mendaratkan telapak tangannya untuk menepuk bahu Diana, ternyata Wanita itu refleks menarik tangannya, sekejap saja Diana mengalungkan pergelengan tangannya di leher laki-laki itu mengunci pergerakkannya.
“Did—Diana, ini aku Thab-by ….” Thabby terbata karena dia susah bernapas.
Perlahan Diana melepaskan Thaby dan mendorongnya agar menjauh darinya.
“Apa yang terjadi padamu Diana? Apakah ada orang yang mengganggumu?”
“Biasanya kamu menjadi sewaspada ini karena seseorang telah mengganggumu.”
Diana tidak menjawab pertanyaan Thaby, dia menginjak sakterboard Thaby dan pergi menggunakan skateboard Thaby.
Brakkk! Brrrrr!
Setelah Diana menjauh dari pandangan matanya, kesadaran Thaby kembali, dia langsung mengejar Wanita yang membawa skateboardnya.
“Diana, skateboardku!” ucap Thaby.
Diana berhenti, dengan lincah dia memutar skateboard itu dan menendangnya kearah Thaby, sehingga skateboard itu meluncur kearah Thaby. Thaby segera memungut skateboardnya dan membawa skateboard itu. Dia berlari kecil menyusul Diana.
“Diana, apakah yang di undang Saras ke group besar kemaren adalah nomor teleponmu?”
Diana menganggukkan kepalanya.
“Boleh aku menyimpan nomormu?”
Diana kembali menganggukkan kepalanya lagi.
Thaby menghentikan langkahnya, lalu mengirim pesan ke nomor telepon Diana.
*Diana, mau kah pergi makan malam denganku?
*Thaby.
__ADS_1
Tink!
Merasa handphonenya berbunyi, Diana pun segera memeriksa handphonenya, dan membaca pesan yang baru masuk. Diana langsung membalas pesan Thaby.
*Maaf, aku tidak bisa.
Thaby mematung membaca pesan balasan Diana, saat dia menegakkan wajahnya, Diana sudah menghilang dari pandangannya.
***
Diana menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di asrama, dia tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya di belakang. Diana mengubah arahnya, dia teringat Saras, dan ingin memastikan keadaan Saras. Diana pun memacu langkahnya menuju kamar Saras.
Tok! Tok! Tok!
Laki-laki yang membuntuti Diana segera bersembunyi saat menyadari yang Diana tuju saat ini bukan kamarnya sendiri. Sesekali dia mengintip kearah Diana. Terlihat di sana Diana mendengari penjelasan Saras.
“Aku baik-baik saja, Diana, terima kasih karena mengkhawatirkanku. Lebih baik kamu istirahat dulu ke kamarmu.”
Diana pun pamit pada Saras, dan segera menuju kamarnya. Orang yang sedari tadi mengikuti Diana pun kembali mengikutinya, hingga Diana masuk ke sebuah kamar.
Di dalam kamarnya, Diana bersiap untuk mandi. Diana segera masuk ke kamar mandi dan memulai kegiatan mandinya.
**
Di kediaman Veronica.
Semua orang yang ada di ruangan itu bungkam, tidak berani mengeluarkan sepatah kata jua pun, karena Danu semakin murka dengan perbuatan veronica. Dia tidak tahu lagi harus memaki putrinya dengan kata-kata apa.
“Perbuatanmu sebelumnya saja sangat berat Veronica! Kini kamu malah menambah lagi kesalahanmu!” Wajah Danu memerah menahan luapan kemarahannya, urat-uratnya pun terlihat sangat jelas.
Danu menoleh kearah istrinya yang masih sesegukan menangis, meratapi nasib putri kesayangannya. “Aku tidak tahu dengan cara apalagi untuk menyelamatkan masa depan Veronica yang diambang kehancuran.”
Veonica hanya menunduk, mencengkram kuat berkas tuntutan yang bertambah.
**
Diana baru selesai mandi, dia memeriksa handphonenya, memastikan tidak ada panggilan darurat yang dia abaikan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Diana segera menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1