
Pagi menyapa.
Ivan terbangun, dia melihat jam dinding sudah menunjukan jam 8 pagi, tapi Diana sampai saat ini belum juga bangun.
"Dia tidur dari jam 5 sore sampai jam 8 pagi? Dan belum bangun?"
"Bagaimana aku bisa percaya dia baik-baik saja."
"Tenang Ivan, Diana wanita special, dia tidak selemah yang kamu bayangkan."
Ivan terus berusaha menenangkan dirinya, berusaha yakin, kalau Diana wanita yang kuat, dia seperti ini hanya Lelah. Ivan keluar dari kamar Diana, dia segera menyegarkan dirinya dan membuat sarapan untuknya dan Diana. Ivan kembali ke kamar Diana, tapi wanita itu juga belum bangun. Ivan kembali keluar dan menikmati sarapannya seorang diri.
Saat Ivan sibuk di ruangan lain, perlahan Diana mengerjapkan matanya, dia merasa aneh dengan plestar putih yang menempel di punggung telapak tangannya, dia melepas benda itu. Diana terus memandangi punggung telapak tangannya. Dia meyakini itu bekas suntikan jarum infus.
Diana mencoba melupakan sejenak punggung telapak tangannya, dia segera meraih handphonenya. Di sana terlihat banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab.
Melihat salah satu pemanggil adalah Profesor Hadju, Diana segera menelepon balik gurunya itu. Mereka bicara banyak hal. Setelah menyudahi panggilannya, Diana fokus pada satu pesan, di sana Archer bertanya padanya, kapan kembali dan apakah Diana siap berkunjung ke rumahnya. Diana mengetikkan pesan balasannya untuk Archer.
\=Aku sudah kembali, kemaren.
Tink!
Pesan dari Archer.
*Kapan kamu siap ke rumahku? Ajak teman dekatmu, dan teman Ivan, izinkan aku mengenal mereka.
\=Baik, aku akan menyampaikan Undangan Anda pada mereka.
Merasa semua pesan sudah di balas, dia segera menuju kamar mandi dan menyegarkan tubuhnya. Walau sudah mandi dan mengenakan baju yang baru, tetap saja rasa kantuk itu tidak mau pergi. Diana kembali menghempaskan bobot tubuhnya diatas tempat tidur.
Ceklak!
Pintu kamar Diana terbuka, Ivan tersenyum melihat Diana sudah mengganti bajunya, apalagi jelas terlihat kalau Diana sudah mandi.
“Sudah mandi kan? Kenapa tiduran lagi?”
Diana tidak menjawab pertanyaan Ivan, dia memperlihatkan punggung telapak tangannya yang sedikit bengkak pada Ivan. “Apa yang kamu suntikkan padaku?”
Ivan tersenyum. “Bukan aku, tapi dokter dan perawat, yang menyuntikmu."
Diana menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti akan jawaban Ivan.
"Aku memanggil seorang dokter untuk memeriksamu, dan sorang perawat untuk menjagamu. Kamu tahu? aku sangat takut melihat keadaanmu, sebab itu aku memanggil dokter, dan mereka memberimu cairan infus dan menyuntikan anti inflamasi.”
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih, sudah tugasku untuk menjagamu."
"Bolehkan aku tidur lagi?"
"Nanti boleh, tapi saat ini sarapan dulu."
"Aku tidak lapar."
"Lapar atau tidak, ayo keluar dan sarapan dulu walau hanya sedikit.”
Diana segera bangun, dan mengikuti Ivan berjalan menuju meja makan. Diana bingung melihat hanya ada satu mangkuk bubur di sana.
"Kenapa hanya satu?"
“Aku sudah sarapan duluan, maaf aku tidak menunggumu."
"Tidak apa-apa." Diana segera menarik kursi dan menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
__ADS_1
"Aku berulang kali membangunkanmu, tapi kamu tetap tidak bangun."
"Maaf."
"Jangan minta maaf terus, kamu tidak salah."
"Maaf karena membuatmu menunggu lama."
"Sudah lupakan, ayo nikmati buburmu."
Diana segera menikmati sarapan yang Ivan siapkan untuknya. Sedang Ivan hanya memandangi Diana menikmati buburnya.
"Suka?"
Diana menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku, karena aku tidak memberimu kehidupan yang indah."
"Keindahan apa lagi? Semua kehidupan ini sangat indah jika kamu bersamaku."
"Tapi aku tidak bersamamu, ketika masalah menghampirimu." Wajah Ivan terlihat begitu sedih.
Mendengar perkataan Ivan, Diana melepaskan sendok buburnya. Diana menyentuh tangan Ivan. "Jangan berkata begitu."
"Tapi begini kenyataannya, setiap masalah yang menimpamu, aku tidak melakukan hal apapun untuk melindungimu." Ivan memegang kedua telapak tangan Diana. “Maafkan aku, karena setiap masalah yang menimpamu, aku tidak pernah berdiri di sampingmu dan membelamu.”
Diana tidak merespon ucapan Ivan, dia hanya diam dan meraih gelas air putih lalu perlahan meneguknya.
“Maafkan aku Diana, mengingat semua kejadian selama aku di luar negri, aku merasa menjadi seperti pecundanng yang tidak mampu melindungi wanitanya.”
"Siapa bilang kau pecundanng, kamu adalah pahlawanku dan dokter hebatku. Tidak ada dokter yang sehebat dirimu."
"Diana, maafkan aku, maafkan keluargaku, mereka sangat jahat padamu."
"Melihat pinggangmu yang memar, aku sangat terluka, Diana. Rasanya aku ingin melakukan hal yang sama seperti tante Wilda lakukan padamu."
“Hei, jangan begitu, itu bukan masalah serius, aku sangat sering mendapatkan memar seperti itu saat latihan bela diri. Sudah Ivan, lupakan semua ini, lagian aku tidak apa-apa, lihat aku, aku baik-baik saja.”
“Memar yang ada di punggungmu itu karena aku, andai kamu bukan tunanganku, luka itu tidak akan pernah ada di tubuhmu.” Ivan terlihat sangat sedih. “Maafkan aku.”
Diana masih memegang tangan Ivan. “Jangan menyalahkan dirimu, tante Wilda melakukan semua ini, karena dia ingin keponakannya menikahi gadis yang baik.”
"Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti tante Wilda, saat melihat keluargaku yang super keren malah akan menikah dengan gadis kampung yang tidak berpendidikan. Aku memahami penolakan mereka, dan aku tidak membenci mereka."
Ivan tidak tahu harus bicara apalagi.
“Kamu pastinya laki-laki terbaik, sebab itu aku mendapat ujian yang sangat indah ini, apakah aku mampu bertahan di sisimu, atau aku menyerah dengan ujian itu.”
Diana menepuk tangan Ivan beberapa kali. "Untuk sampai saat ini, aku masih kuat berdiri bersamamu."
Ivan tidak bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya, dia menggenggam lembut telapak tangan Diana. “Yang luar biasa itu dirimu, dan aku lah yang beruntung karena memilikimu.”
"Meragukan," ledek Diana.
"Kamu adalah permata terindah dari Desa, dan aku beruntung karena Tuhan memberikan permata indah itu untukku."
"Permata ini makhluk hidup, dan saat ini dia lapar, dia ingin makan," rengek Diana.
"Lapar ya makan, makanan sudah ada di depan matamu," sahut Ivan.
“Suapin!” Diana mendorong mangkok buburnya kearah Ivan. “Tanganku Lelah, tapi perutku lapar.”
"Setiap hari menyuapimu makan aku sangat rela, permataku." Ivan tersenyum dan segera menyuapi Diana. "Jangankan menyuapimu dengan sendok, menyuapimu dengan mulutku pun aku bersedia." Ivan meletakkan kerupuk di mulutnya, dan mengantarkan kerupuk itu pada Diana.
__ADS_1
Diana tersenyum, tapi dia tetap menerima suapan horor itu.
“Rasanya lebih enak,” puji Diana.
"Kerupuk plusnya?" ledek Ivan.
"Bukan! Tapi bubur yang kamu suapkan padaku."
“Kalau enak, ayo habiskan.” Ivan kembali menghantarkan satu sendok penuh bubur ke mulut Diana. "Kerupuk plusnya mau?"
Diana membuka mulutnya menerima satu sendok bubur, tapi dia menggelengkan kepalanya begitu cepat menolak kerupuk yang menempel pada mulut Ivan.
Ivan mengunyah langsung kerupuk yang terlanjur dia gigit. “Jika suati hari kamu mengalami masalah, bisakah kamu menghubungiku? Aku ingin membantumu dan melindungimu.”
“Aaaa--” Diana membuka mulutnya, meminta Ivan untuk menyuapinya lagi.
"Diana ...." Ivan kesal karena Diana tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku lapar ...." rengek Diana.
Ivan mengalah, dan lanjut menyuapi Diana. Satu mangkok bubur Diana habiskan, tapi entah kenapa dirinya masih sangat lemas.
"Archer mengundang kita ke rumahnya," ucap Diana.
"Owh iya, itu rencana kami saat dirimu berada di luar negri.
"Aku menyetujuinya, waktunya besok pagi, karena sore dan malamnya aku harus ke kampus."
"Baiklah, besok kita ke sana."
"Ajak Yudha, Dillah, dan Narendra, bukankah mereka orang terdekatmu, pinta Tuan Archer dia ingin kita mengajak teman kita ke sana, dan aku sudah mengundang Nizam ke sana."
Mendengar nama Nizam rasanya kebahagiaan yang baru Ivan rasa pudar seketika, tapi Ivan berusaha tegar, dia segera mengetik pesan untuk Yudha, menyampaikan undangan Tuan Muda Archer.
"Aku ingin keluar sebentar, apa kau ingin sesuatu?” tanya Ivan.
Diana menggelengkan kepalanya.
“Kalau mau sesuatu kabari aku.”
Diana hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Ivan pergi, Diana mencuci mangkuk dan sendok bekas buburnya.
Ting Tong!
Mendengar suara bel, Diana segera berjalan menuju pintu, Diana berjalan menuju pintu. Saat dia membuka pintu, terlihat banyak orang di depannya. Diana bertanya dengan Bahasa isyarat, apa maksud kedatangan mereka.
“Kami mengantarkan paket,” ucap salah satunya.
Diana ingin menolak, tapi kasihan dengan semua kurir itu, Diana meminta mereka menaruh semua paket itu di depan pintu kamarnya. Setelah semua kurir itu pergi, Diana mengambil kartu ucapan yang tersemat pada salah satu paket. Diana kembali ke kamarnya dan mengambil handphonenya, dia segera mengirimkan pesan pada pengirim paket itu.
*Kenapa kamu mengirimiku Paket?
\=Karena kamu tinggal di sana, sebab itu paketnya ku kirim ke sana.
Diana mengirimkan kembali semua paket itu ke pengirimnya.
***
Bersambung.
***
Kalau nanya siapa pengirim paket, dan apa yang dikirim, jawabannya aku tidak tahu 😂
__ADS_1
Aku hanya menulis sesuai apa yang ada dalam kerangka, kalau menambah sendiri yang ada aku tersesat oleh pemahamanku, dan akan kesulitan menyambungkan dengan kerangka selanjutnya.