Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 54 Halus Apa Kasar?


__ADS_3

Saat Diana ingin meninggalkan tempatnya, seketika langkah kakinya terhenti saat dia di cegat oleh beberapa oang laki-laki berbadan besar dan tegap, mereka semua mengenakan pakaian serba hitam.


“Nyonya, kami menemukan gadis itu,” lapor salah satu petugas keamanan pada majikannya via telepon.


“Bawa dia ke markas, pada saat yang tepat habisi nyawanya!”


Mendapat titah dari atasanya, dia memberi kode pada rekannya yang lain, supaya melanjutkan tugas mereka.


“Ingin cara halus apa kasar?!” Salah satunya memberi penawaran pada Diana. “Kalau ingin cara halus, ikuti kami. Jika ingin cara kasar, kami akan seret Anda.”


Diana tersenyum seolah meledek semua bodyguard Wilda. Diana malas membuang tenaganya di sini, dia teringat akan janjinya pada Ivan, kalau tidak akan berkelahi di tempat ramai demi menjaga nama baik keluarga Agung Jaya, dan memastikan tempat berkelahinya sepi juga tidak ada cctv. Diana digiring masuk ke sebuah mobil, dia pun di bawa pergi oleh bodyguard Wilda.


Veronica sangat bahagia mendengar Wilda menculik Diana, dan Wilda sangat berambisi untuk membunuh Wanita itu.


“Tante …, kenapa tante melakukan semua ini? Diana memang salah, tapi aku mohon lepaskan dia,” rengeknya pada Wilda.


“Dia telah berurusan dengan orang yang salah, tidak akan aku biarkan dia melenggang begitu saja.”


“Tante, ku mohon tante …, kasihan Diana, maafkan dia, tante ....”


"Tidak akan!"


Veronica semakin bahagia melihat semangat Wilda.


“Permisi Nyonya.” Salah satu pelayan mendekati Wilda.


“Iya, ada apa?”


“Tuan Besar mencari Anda, Acara Tuan sebentar lagi di mulai.”


“Baiklah, aku segera ke sana.”


Pelayan itu pun undur diri dari hadapan Veronica dan Wilda.


“Sebaiknya aku menemui kakek saja, biar kakek yang menentukan harus mengambil tindakan apa. Biar kakek tahu bagaimana Diana yang sesungguhnya, semoga kakek sadar kalau Diana tidak tepat menjadi istri Ivan.”


Wilda langsung mencengkram lengan Veronica, menahan pergerakan Wanita itu.


“Kenapa Tante?”

__ADS_1


“Jangan beritahu kejadian barusan pada Ayahku!”


“Diana ada di sini karena kakek, dia juga akan pergi jika kakek yang mengusirnya, tindakannya kali ini sangat membahayakan, kita harus laporkan pada kakek! Kakek pasti sangat marah kalau tahu Diana berusaha mencelakai salah satu cucunya.”


“Jangan!”


Wilda memandangi orang-orang yang ada di sekitarnya dengan tatapan peringatan. “Mulai detik ini jangan ada yang membahas kejadian barusan!" Mata Wilda tertuju pada Veronica. “Termasuk juga dirimu, Veronica!”


"Masalah Diana, aku akan membereskannya sendiri."


Veronica kesal, karena tidak bisa melaporkan semuanya pada kakek Agung, padahal ini hal yang sangat tepat untuk menyingkirkan Diana. Tapi mengingat kalau Wilda akan menghabisi nyawa Diana, dia merasa sangat bahagia. Dirinya tidak perlu kerja keras lagi untuk menyingkirkan wanita itu dari sisi Ivan.


***


Perlahan satu per satu anggota keluarga berkumpul di ruangan utama, karena acara jamuan puncak perayaan ulang tahun kakek Agung akan segera di mulai.


Dari sudut rumah yang lain, suara napas yang memburu seakan memenuhi lorong itu. Dengan susah payah Angga terus berusaha menggerakan tongkatnya yang membantunya untuk melangkah, dia menumpukan semua kekuatannya untuk melangkah cepat, namun tidak semudah yang dia bayangkan, dia tidak bisa melangkah cepat seperti keinginan hatinya. Akhirnya kerja kerasnya mempercepat langkahnya berbuah manis, saat dia melihat Ivan di depannya.


“Ivan!”


Ivan pun langsung menoleh, melihat kakaknya yang sangat terburu-buru, Ivan segera berlari menyusul kakaknya. “Kakak, jangan buru-buru, hati-hati kak, kakek pasti menunggu kita.”


“Terus?” Ivan sangat penasaran, hal apa yang membuat kakaknya bersusah payah berusaha berjalan cepat, padahal kakaknya bertumpu pada tongkat.


“Diana.”


“Kenapa dengan Diana?” seketika Ivan panik.


Angga menceritakan semua kejadian yang terjadi di depan rumah, hingga aksi heroik Diana menyelamatkan Qiara. “Saat ini Diana di bawa oleh orang-orang tante Wilda, kamu harus bertindak cepat Ivan, jangan sampai tante Wilda berulah dan menyakiti Diana.”


Ivan segera mengutus orangnya untuk mencari tahu kemana Wilda menyembunyikan Diana.


Tink!


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone Ivan. Melihat pesan itu dari Diana, dia pun segera membukanya.


*Tidak usah mencariku, Aku sudah pulang.


*Maaf ya, aku pulang duluan, aku lupa pamit pada kalian semua. Titip salam buat kakek, sampaikan perminta maafan ku pada kakek, karena meninggalkan acara tanpa pamit, padahal acara kakek juga belum selesai.

__ADS_1


Ivan merasa sedikit lega setelah membaca pesan dari Diana. Dia menoleh pada kakaknya. “Kita fokus pada acara kakek dulu.”


“Diana?”


“Aku sudah mengutus orang untuk mencarinya.”


Angga pun percaya, mereka segera berkumpul dengan anggota keluarga yang lain untuk merayakan acara puncak. Acara ulang tahun kakek Agung pun berjalan lancar. Setelah acara selesai, semua tamu perlahan meninggalkan rumah Kakek Agung, hanya tertinggal anggota keluarga inti saja.


Kakek Agung terlihat begitu fokus melihat video yang dirangkum oleh kepala keamanannya, kemarahan semakin menyala dalam dirinya. “Panggil semua anak, menantu, juga cucuku, suruh mereka menghadapku!”


Semua pelayan pun segera melakukan tugas mereka masing-masing.


Di depan Rumah.


“Tuan Ivan.”


Ivan pun mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil, dia segera berbalik kearah pelayan yang berlari ke arahnya.


“Ada Apa?”


“Tuan diminta kembali, Tuan besar meminta semua anak dan cucunya berkumpul di ruang tamu.”


Ivan pun kembali masuk ke dalam rumah besar kakeknya, saat dia masuk ke dalam rumah, semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Ivan duduk di salah satu sofa bersiap mendengarkan hal apa yang membuat kakeknya mengumpulkan semua anggota keluarga malam-malam begini.


“Jelaskan padaku! Apa yang terjadi di depan rumah tadi siang?”


Semua anggota keluarga diam.


“Kenapa kalian diam?!” Bentakkan kakek Agung semakin membuat anak dan cucunya bungkam.


“Apa kalian semua sengaja menyembunyikan semua kejadian tadi siang dariku?!”


Wilda berdiri, meminta izin pada Ayahnya untuk berbicara. “Ayah … kami diam bukan bermaksud menutupi semuanya dari Ayah. Kami diam, karena kami tidak ingin kejadian memalukan tadi siang diketahui oleh semua tamu. Dengan diam, hanya segelintir orang yang melihat saja yang tahu, ini pun sangat memalukan, Ayah.”


“Kami ingin acara Ayah berjalan lancar, tujuan kami pun berjalan sempurna, kejadian itu tidak mengganggu jalannnya pesta Ayah.”


“Bukan aku tidak menghormati pilihan dan keputusan Ayah, tapi keberadaan Diana di tengah keluarga kita itu adalah suatu kesalahan besar. Hari ini dia menampar Qiara di tengah umum, dan melukainya. Saat ini Qiara masih di rawat di Rumah Sakit.” Wilda menghapus air mata bawangnya.


“Demi kebaikan keluarga besar kita, demi kehormatan keluarga kita, sebaiknya Ayah batalkan perjodohan ini, Diana tidak cocok berada di tengah-tengah kita. Antar dia pada neneknya dengan baik-baik Yah, aku yakin neneknya akan memahami semua ini.”

__ADS_1


__ADS_2