
Diana kembali ke perpustakaan, karena pakaiannya terlalu seksi, dia merasa kurang nyaman untuk tetap berada di sana. Bukan halaman buku lagi yang dipandangi para Mahasiswa yang ada di Perpustakaan, tapi Diana. Kemana Diana berjalan, semua mata mengikutinya.
Diana mengembalikan buku-buku yang dia baca ketempatnya semula, dan dia meninggalkan Perpustakaan.
“Diana!”
Suara teriakkan itu sangat Diana kenali, Diana menoleh kearah suara itu. “Ada apa Saras?”
Saras berlari mendekati Diana. “Diana, kamar Asrama untukmu yang baru sudah siap."
"Kata siapa?" Diana memastikan.
"Tadi ibu Asrama yang mengatakan padaku, dia memberiku dua kunci, 1 kunci kamar tempat barangmu tersimpan. Kedua kunci kamar barumu." Saras menyerahkan dua kunci pada Diana.
"Kapan kamu akan pindah?” tanya Saras lagi.
“Mungkin senin nanti,” sahut Diana.
“Bagaimana kalau kita ke bangunan lama dulu?"
"Untuk apa kesana?"
"Memeriksa barangmu. Beberapa barangmu disimpan di ruangan yang masih bagus,” terang Saras.
“Boleh juga.”
Diana dan Saras berjalan bersama menuju bangunan asrama lama.
"Malam sebelumnya, kamu menginap di mana?" tanya Saras.
"Pertama di rumah seniorku, malam kedua di Apartemennya, dia meminjamkan Apartemennya untukku, selama kamar untukku belum siap."
Saras terlihat memikirkan sesuatu. "Diana."
"Hmm ...."
"Apa aku salah, jika aku berpikir ledakan itu sebuah hal yang direncanakan? Hatiku mengatakan targetnya adalah dirimu. Lihat hanya bangunan itu yang terdampak. Belum lagi saat kejadian, hanya kamu yang ada di bangunan itu."
"Husst! Nggak boleh berpikir begitu, semua ini hanya kecelakaan. Aku sendiri di bangunan lama, karena bangunan lain sudah penuh. Terus ini juga salahku, karena terlalu lama libur, saat orang pembagian kamar baru, aku tidak hadir bukan?"
Saras mencoba mempercayai ucapan Diana. Tidak lama mereka sampai di tujuan mereka. Diana dan Saras memasuki salah satu ruangan yang menyimpan beberapa barang Diana.
“Inilah beberapa barangmu yang masih mempunyai wujud setelah kebakaran,” ucap Saras.
Diana mengamati keadaan barang-barangnya. Satu per satu barangnya dia periksa. “Semua ini sudah tidak bisa dipakai, Saras. Nanti akan aku temui pihak kebersihan, agar semua ini dibuang.”
__ADS_1
Saras menuju sebuah lemari, dia masih mengingat jelas, Sekretaris Ivan menyimpan beberapa lembar kertas di laci itu, Saras mengambil lembaran kertas itu dan memberikannya pada Diana. “Kalau ini? Siapa tahu ini penting.”
Diana mengamati lembaran kertas yang Saras berikan padanya, itu adalah catatannya tentang analisis obat-obatan. Diana melempar lembaran kertas itu ke tong sampah. “Itu bukan apa-apa, dan tidak penting juga.”
“Owh ….” Saras membiarkan kertas-kertas itu mendarat di tong sampah, dia juga tidak ingin tahu coretan apa yang Diana goreskan di sana.
"Benar-benar tidak ada yang penting untukmu?" Saras memastikan.
"Tidak ada, semuanya berubah jadi sampah." Diana memandangi semua barang miliknya yang selamat dari kobaran api.
“Kita lihat asrama baruku, bagaimana?” ajak Diana.
“Usul yang bagus!” Saras langsung menceritakan di mana letak asrama baru untuk Diana.
"Eh pintunya!" ucap Saras.
"Biarkan saja, tidak ada yang berharga di dalam, biar saja seperti itu, agar petugas kebersihan mudah membawa semuanya," jelas Diana.
Keduanya meninggalkan bangunan Asrama lama, sepanjang jalan Saras terus berceloteh banyak hal. Keduanya tidak menyadari ada seseorang yang bersembunyi di dekat ruangan itu dan menguping semua pembicaraan mereka.
Merasa Diana dan Saras sudah pergi, Syila keluar dari tempat persembunyiannya, dia segera memungut lembaran kertas yang Diana buang.
"Kira-kira apa ini?" Syila berusaha memahami rumus dan goresan tintah yang tertulis di sana.
"Sepertinya ini akan sangat berguna nantinya." Syila membawa kertas-kertas itu bersamanya.
Saat Diana dan Saras keluar dari bangunan Asrama lama, mereka berpapasan dengan beberapa Mahasiswi lain.
“Saras, dari mana saja kamu?” sapa salah satu Mahasiswi.
"Sedari tadi kami mencarimu," ucap yang lain.
“Mencariku?” Saras mengarahkan ujung telunjuk tangannya kewajahnya.
“Iya, ada tugas kelompok, dan kita satu kelompok, bagaimana kalau kita kerjakan sekarang?” tanya salah satu Mahasiswi yang lain.
"Sekarang?" Saras merasa tidak enak, dia menoleh kearah Diana.
"Iya sekarang, biar tugas kelompok kita selesai. Kita tidak tahu nantinya tugas lain dari dosen lain ada atau engak, andai ada kita tidak pusing banget."
“Tidak apa-apa, sana kerjakan tugas kuliahmu,” ucap Diana.
“Tapi aku sudah janji padamu untuk menemanimu ke bangunan asrama baru,” rengek Saras.
“Tugas kuliahmu lebih penting dari apapun!” ucap Diana.
__ADS_1
"Tapi ...." Saras bingung sendiri.
"Tugas ini penting bagi mereka juga, jangan hanya demi satu orang, lebih banyak orang kesusahan karena kamu mementingkan satu orang yang lain. Aku sendiri tanpamu tidak masalah. Sedang teman-temanmu?"
Saras memahami ucapan Diana. Walau tidak enak meninggalkan Diana, Saras terpaksa meninggalkan Diana, dan pergi dengan teman-temannya dari mata kuliah yang lain.
Di area parkir yang ada di Universitas Bina Jaya.
Sebuah mobil mewah memasuki wilayah parkir, sesaaat kemudian dari mobil itu keluar dua sosok yang begitu tampan. Seketika semua mata mahasiswi terpana melihat dia ciptaan Tuhan yang sangat menawan itu. Keduanya berjalan bersama memasuki area Gedung Universitas.
“Van, kamu sudah mengabari Diana kalau kita akan menjemputnya?”
“Belum.”
Yudha terlihat sangat kesal. “Universitas ini luas Van, bagaimana kita menemukan dia kalau kamu tidak mengabarinya?"
"Aku bisa mendeteksi keberadaannya dengan hatiku."
Yudha kesal dengan jawaban Ivan. "Dasar bucin!"
"Van, pikirkan dengan akal sehatmu. Bagaiamana kita menemukan Diana ditempat seluas ini tanpa mengetahui posisi pastinya?” gerutu Yudha.
“Di manapun Diana berada, aku pasti akan menemukannya,” ucap Ivan begitu percaya diri.
“Kepedean!” maki Yudha.
“Aku bukan kepedean Yudh, Diana adalah pusat perhatian, di mana pun dia berada, dia selalu menarik perhatian semua orang yang ada di sekitarnya.
Saat yang sama di tempat yang berbeda. Semua orang yang berpapasan dengan Diana, mereka terpana dengan bentuk tubuh Diana. Kemana Diana berjalan, semua pandang mata terus tertuju padanya.
Di tempat yang dilewati Ivan dan Yudha.
“Jadi, di mana pusat perhatian tertuju, maka di sanalah Diana berada.” Ivan melepas kacamata hitamnya. “Itu Diana.” Ivan menunjuk kearah taman yang tidak jauh darinya.
Yudha langsung menoleh kearah yang Ivan tunjuk, benar saja di sana terlihat sosok Diana, dia terlihat sangat menggoda dengan baju yang terikat dipinggang. Kekaguman Yudha buyar, saat dia melihat seorang pemuda melemparkan jaket kearah Diana, Diana malah menangkapnya, dan tidak melempar balik jaket itu.
Yudha langsung melirik kearah Ivan, dia tidak tahu apakah Ivan melihat kejadian itu, saat ini laki-laki itu terlihat sibuk berbicara dengan salah satu pengurus Universitas. Dillah langsung berlari mendekati Diana.
“Yudha?” Diana kaget melihat Yudha berlari kearahnya.
“Diana, siapa pemuda yang memberikan jaket ini?” tanya Yudha langsung.
“Dia Lucas.”
“Siapamu?” Yudha belum puas dengan jawaban Diana.
__ADS_1
“Dia adikku,” sahut Diana.