Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 36 Bodoh


__ADS_3

Karena banyak mata yang melihat Nizam keluar dari ruang operasi dengan seragam operasi kala itu. kebanyakan orang berpikir dialah dokter bedah hebat yang selama ini menjadi misteri. Tatapan mata Nizam dan tatap mata Ivan saling beradu, entah apa yang ada dipikiran keduanya.


Nizam merubah arah pandangannya, dia memdandang kearah perawat dan Diana. Perawat itu mulai membuka perban pada tangan Diana yang mendapat luka lebih parah. “Permisi, sus. Boleh saya melakukannya?" Nizam menawarkan diri untuk mengobati Diana.


Kedua bola mata Ivan seakan melompat dari tempatnya, dia tidak terima kalau Nizam yang menyentuh tangan Diana.


“Owh tentu saja dok, silakan." Perawat berpikir, Nizam lah si tangan ajaib yang menyelamatkan banyak orang dengan kemampuan ilmu bedahnya.


Ivan berusaha menahan dirinya, karena perawat itu malah mengizinkankannya.


Nizam melupakan Ivan sejenak, dia segera melangkah menuju washtafel dan mencuci tangan Di sana. Setelah semua dirasa steril, Nizam mulai mengobati luka Diana.


Melihat tatapan Nizam yang tertuju pada Diana yang penuh makna mendalam, membuat Ivan malas untuk melihat kearah dua orang itu. Ivan berusaha memperhatikan sudut lain dari ruangan tempatnya berada, namun matanya enggan berhenti memandang kearah Diana dan Nizam, walau ada rasa perasaan sesak, tapi dia tidak mampu mengalihkan pandangannya.


Ivan berusaha memasang wajah dinginnya, dan berjalan mendekati Diana dan pengacara Nizam. Telihat Nizam mulai membalut tangan Diana dengan perban yang baru. “Apa hubungan diantara kalian berdua?” Sejenak Ivan terdiam saat menyadari pertanyaan bodoh yang terlanjur dia lontarkan.


Diana meraih handphonenya, dan mengetikkan kata.


^^^Tidak ada hubungan apa-apa, Nizam adalah kakak tingkatku. Kami dulu kuliah di kampus yang sama.^^^


Ivan merasa sangat bodoh, dia pernah menanyakan pertanyaan yang sama sebelumnya pada Diana, dan Diana juga memberi jawaban yang sama.


Bodohh! Bodoh! Bodoh!


Ivan memaki dirinya sendiri dalam hati.


"Yang kamu tunggu sudah ada di ruangan ini, jadi ...." Pengacara Nizam menggantung ucapannya.


“Bisa pergi makan malam denganku, Diana?” tanya Nizam lembut.


Diana mengetik jawaban untuk pengacara Nizam.


^^^Lain kali, ya ..., saat ini saya sangat lelah, dan ingin istirahat.^^^


Sumpah demi apapun, Ivan sangat bahagia membaca penolakan Diana, begitu susah payah dia menyembunyikan raut kebahagiaanya dibalik raut wajah dinginnya. “Sudah selesai dok?” tanya Ivan.


“Sudah,” sahut Nizam.


Diana mengetikkan kata untuk Nizam.


^^^Saya pamit pulang dok, terima kasih atas semua bantuan dan pertolongan dokter.^^^


Diana dan Ivan berjalan bersama meninggalkan UGD. Pengacara Nizam hanya bisa menghela napasnya begitu dalam memandangi pemandangan yang sangat tidak menyenangkan itu.

__ADS_1


***


Diana dan Ivan akhirnya sampai di Apartemen yang mereka tempati. Mata Ivan terus memandangi Diana. “Diana, bisa kita bicara?”


Diana pun menoleh pada Ivan.


“Kamu sudah lama mengenal pengacara Nizam?”


Sebisa yang dia bisa, Diana berusaha mengetik kata.


^^^Kenal lumayan lama, karena satu kampus, tapi tidak terlalu dekat.^^^


Ivan merasa kurang puas dengan jawaban Diana. “Kamu berarti dari dulu kamu tahu dong, kalau pengacara Nizam, selain seorang pengacara yang hebat, dia juga seorang dokter bedah yang sangat handal.”


^^^Aku kurang tahu hal itu.^^^


Ivan menatap Diana dengan tatapan mata penuh selidik, berusaha mencari celah kebohongan dari raut wajah Diana. "Disekitarmu sangat banyak orang-orang hebat. Pak Abimayu, Profesor Russel, bahkan pengacara Nizam, ups ... bahkan Nizam seorang dokter bedah paling hebat di kota ini. Tidak terhitung, sangat banyak orang-orang hebat di sekitamu, kenapa kamu tidak meminta bantuan mereka atau meminta mereka mencarikan dokter yang handal untuk menangani dan menyembuhkan bisumu?"


Diana menatap dingin kearah Ivan.


"Aku sangat yakin, bisumu pasti bisa disembuhkan, aku masih ingat kata yang kau ucap saat pertama kali kamu menginjakkan kaki di tempatku."


"Jangan Narsis!" Ivan terkekeh teringat kejadian itu. "Tapi sayang, ternyata hanya kata itu yang bisa kamu ucapkan."


"Owh ... apakah waktu itu hanya halusinasiku saja? Karena setelah itu kamu tidak pernah bicara lagi."


“Apakah saat kalian satu kampus dulu, prestasi bedah si pengacara belum terlihat jelas”


^^^Aku hanya mahasiswi bodoh, mana ku tahu tentang hal itu.^^^


“Tapi kalian satu kampus loh.”


^^^Beda Angkatan, beda kelas, dan masih banyak lagi perbedaan. Sudah lama juga, jadi aku lupa.^^^


“Yakin kamu tidak tahu apapun tentang pengacara Nizam, kalau dia seorang dokter bedah ternama?”


^^^Tanganku masih sakit. Apa tidak ada pertanyaan lain selain Nizam? Jika Anda ingin tahu tentang Nizam, cari tahu sendiri, ku rasa bukan perkara sulit untuk mencari tahu tentang Nizam, bagi seorang Ivan Hadi Dwipangga.^^^


Ivan terdiam, dirinya melirik pada tangan Diana yang dibalut perban, rasa kesalnya berubah menjadi rasa bersalah, harusnya dirinya mengerti keadaan Diana saat ini. Diana memperlihatkan layar handphonennya dengan kata yang baru.


^^^Ada pertanyaan lain?^^^


Ivan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Merasa Ivan tidak bertanya lagi. Diana pun segera ke kamarnya. Ivan memandangi punggung Diana yang menghilang dibalik pintu kamarnya.


Kenapa sejak perasaan itu muncul aku seperti orang bodoh?! Bahkan aku terus berusaha mencari tau tentang Nizam dari Diana. Semakin bodohnya aku menyembut Russel dan Pak Abi di depan Diana.


Ivan berusaha menenangkan perasaanya, dan langsung menuju kamarnya.


****


Tink!


Tink!


Tink!


Suara notifikasi yang berulang, membuat istirahat Ivan terusik, dia bangkit dan menyambar benda yang terus mengeluarkan suara itu. Melihat beberapa pesan yang masuk, Ivan menghembuskan napasnya, dirinya langsung membuka laptopnya, benar saja banyak laporan yang masuk di sana. Ivan bangkit dia harus mempersiapkan diri untuk memahami berkas-berkas yang dikirim oleh mitra kerjanya. Ivan keluar dari kamarnya, membawa laptop dan handphone menuju dapur, dia meletakkan kedua benda yang dia bawa diatas meja makan yang kosong. Sedang dirinya menyeduh kopi hitam untuk menemaninya.


Sesekali Ivan menyesap kopinya, semangatnya seketika bertambah. Kedua bola mata itu hanya memandangi layar laptopnya, mempelajari file yang masuk.


Drittt ....


Suara pintu kamar yang terbuka, membuat perhatian Ivan pecah, dia menegakkan pandangannya, terlihat Diana berjalan kearahnya membawa gelas kosong. Diana hanya diam dan mengisi gelasnya dengan air putih.


Mata Ivan tertuju pada gelas yang ber-uap, dengan jeli mata Ivan memandangi perban yang membalut telapak tangan Diana. “Tadi kamu mandi?”


Diana mengangguk santai.


Ivan mengabaikan laptopnya yang masih menyala, Diana lebih penting dari proyek yang dia pelajari saat ini. Ivan menarik salah satu kursi yang ada di dekatnya. “Duduk di sini sebentar, biar aku mengganti perbanmu, ku lihat perbanmu basah.” Tanpa menunggu jawaban Diana, Ivan segera beranjak mencari kotak obat. Saat dia kembali membawa kotak obat, Diana sudah duduk di kursi yang dia maksud.


Ivan segera duduk di kursinya, menggeser letak laptopnya, dan menaruh kotak obat di dekatnya. Ada perasaan bahagia yang menyeruat saat melihat Diana sepatuh ini padanya, juga terselip perasaan nyaman dan damai, Ivan terbayang saat meminta Diana masuk mobil dan mengajaknya ke UGD, Wanita itu menurut begitu saja, tidak seperti sebelumnya yang suka membuat emosinya meledak-ledak. Yah … walau ada moment yang sangat menjengkelkan, saat dirinya meminta Diana agar tidak berkelahi, dirinya malah mendapat jawaban kalau akan berkelahi lebih hati-hati, memastikan di tempat dia berkalahi nanti tidak ada cctv.


Tangan Ivan dengan hati-hati membuka perban yang basah, lalu mengobati luka itu, dan membalutnya kembali dengan perban baru. Ada hal yang bergetar dalam dirinya, kala kedua tangannya melilitkan perban di tangan Diana. Apalagi jarak yang sedekat ini, ingin rasanya membekukan waktu, agar waktu berhenti selamanya di detik ini.


Membalut perban pada tangan Diana sudah selesai, tidak ada alasan lagi bagi Ivan untuk dekat dengan Diana. Ivan menegakkan tubuhnya, matanya tertuju pada handphone Diana yang tergeletak diatas meja. Ivan meraih handphone itu, dan menyetel alarm di sana. Sekilas Diana melirik Ivan yang tanpa izinnya menyambar handphonenya.


“Jangan takut, aku tidak akan menganggu privasimu, aku hanya menyetel alarm, jika waktunya minum obat, alarm akan berbunyi, segera minum obatmu. Jangan sampai terlambat.” Ivan menyerahkan lagi handphone itu pada pemiliknya.


Tlink!


Sebuah pesan masuk ke handpone Diana.


Sekilas Ivan membaca isi pesan yang muncul di layar handphone Diana.


...Kamu jangan puas dulu Diana! Kamu pikir kami akan diam saja? Suamiku pemilik saham terbesar kedua di Agung Jaya group. Tentunya Ivan akan lebih memilih membantu kami....

__ADS_1


...Jangan macam-macam dengan kami, Diana! Kalau kami bertindak, kamu tidak bisa membayangkan tindakan apa yang kami ambil! Bahkan dirimu sendiri tidak pernah membayangkan kalau kamu bisa berada di titik penderitaan tiada akhir!...


Diana sekilas membaca pesan yang masuk, dia mengabaikan pesan ancaman itu. Dia mengetikkan kata ‘Terima kasih’ pada Ivan, dan dia segera kembali ke kamarnya.


__ADS_2