Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 193 Masa Lalu Jennifer


__ADS_3

Jennifer menatap Diana dengan tatapan sendu. “Diana, aku mohon bantu aku untuk menemukan Hacker itu.”


"Aku akan tanyakan pada temanku dulu." Diana langsung mengambil handphonenya dan mengetik pesan di sana. Tidak berapa lama handphone Diana berdering. Diana langsung membaca pesan yang masuk itu.


“Temanku yang biasa membantuku, dia bilang, dia tidak bisa menolong untuk mencari siapa No Name. No Name adalah Hacker yang sangat hebat. Selain tidak memiliki nama, dia juga tidak pernah meninggalkan petunjuk di setiap pekerjaannya," jelas Diana.


Mendengar penjelasan Diana, Jenni terlihat sedih.


"Apa Nona Jennifer pernah minta bantuan Angga?" sela Dillah.


"Angga tidak mengurusi hal seperti ini Dillah," ucap Jennifer.


"Jangan salah, Nona. Kalau boleh aku sombong, Agung Jaya memiliki staf yang ahli di berbagai bidang."


Jennifer memikirkan ucapan Dillah. "Benar juga, kenapa aku tidak minta bantuan Angga."


Diana sangat kesal mendengar usul Dillah. “Saranku, kamu tidak usah membuang tenagamu dan waktumu hanya demi melacak seorang No Name, tanpa kamu katakan kamu sangat berterima kasih padanya, dia juga pasti tahu. Biasanya orang yang suka menolong seperti No Name, dia sudah pasti bahagia jika melihatmu bahagia."


“Jika kamu tidak bisa membantuku, aku akan meminta bantuan Angga untuk mencari No Name,” ucap Jenifer.


“Terserah kamu, saranku lebih baik kamu melakukan hal yang lebih bermanfaat untuk dirimu atau menolong orang seperti yang No Name lakukan, bukankah kamu bilang No name suka menolong orang?”


“Bagaimana bisa seorang Hacker menolong dari jauh?” sela Dillah.


“Sepertinya dia meretas keamanan rumah dan keamanan perusahaan papaku, dan dia bisa melihat bagaimana penyiksaan yang dilakukan ibu tiriku padaku. Biasanya ibu tiriku selalu lolos dari jerat hukum, beberapa pelayan yang kasihan padaku melaporkan perbuatan jahatnya pada polisi, tapi hukum terlalu tumpul untuknya, yang ada pelayan itu menderita karena laporan mereka, tahu sendiri hukum selalu tajam pada orang kecil.”


Jenifer menghela napasnya. "Semua pelayan yang bekerja di rumah, kasihan padaku. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa."


Jennifer memandang kearah layar komputer yang masih menyala. "Saat No name turun tangan, keadaanku seketika lebih baik. Karena bantuan No Name, ibu tiriku tidak bisa menghindar dari tuduhan lagi, tayangan penyiksaan yang dia lakukan padaku, tayang di televisi secara live, dan ini karena ulah No Name itu.”


"Tapi hukum tidak bisa lama menjerat ibu tiriku, dia hanya sebentar masuk penjara, kemudian bebas, dan No Name tahu akan hal itu, dan sebelum ibu tiriku bebas, dia sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi," terang Jennifer.

__ADS_1


“Terus bagaimana nasib ibu tiri Anda sekarang?” tanya Dillah.


“Entahlah, yang jelas dia masih berusaha memburuku, sebab itu aku masih merahasiakan siapa diriku pada orang banyak. Mulanya aku tidak tahan harus meneruskan hidup dengan identitas tersembunyi, melihat Diana santai-santai saja menjalani hidupnya, aku berusaha menerima kenyataan ini."


Jennifer menoleh pada Diana. "Dia menjadi panutanku, dan aku belajar banyak dari kesabarannya,” ucap Jenifer.


Jennifer kembali membayangkan No name. "Aku akan menghubungi Angga, dan meminta bantuannya untuk mencari No name. Semoga keadaan Angga saat ini sudah lebih baik."


Suara deringan handphone Jennifer, membuyarkan Jennifer dari lamunan masa lalunya. Dia segera memeriksa handphonenya.


Wajah Jennifer dihiasi senyuman, saat melihat nama yang tertera di layar handohonenya. "Wah panjang umur dia, baru aku sebut, dia sudah menelepon."


Jennifer memperlihatkan layar handphonenya, kalau Angga menghubunginya. "Aku izin sebentar ya, aku menerima panggilan Angga dulu."


Diana dan Dillah menganggukan kepala mereka.


Jennifer menuju tempat yang sepi.


"Apa kabarmu, sayang?"


"Aku juga merindukanmu, kapan kamu kembali ke Jerman?"


"Belum tahu."


"Sampai kapan aku harus menahan rinduku, sayang?" rengek Jennifer.


"Sampai aku benar-benar sembuh."


"Masih lama?" nada suara Jennifer terdengar sangat sedih.


"Jika tidak melihatmu, rasanya waktu membeku dan tidak berjalan." Jennifer menarik napasnya begitu dalam. "Sangat berat hari yang ku jalani karena sangat merindukanmu."

__ADS_1


"Ini sebabnya aku menolak, saat Kakek meminta dokter hebat itu menanganiku, bukan tidak percaya padanya, hanya saja aku lebih bahagia berjalan dengan tiga kaki, asal sebelah tanganku bisa menggandeng dirimu. Hal berat itu berada jauh darimu."


Angga menarik napasnya begitu dalam. "Apalagi fase penyembuhan memakan waktu, dan aku takut, selama penyembuhan aku tersiksa karena rinduku padamu dan kini rasa takut itu nyata. Setiap waktu aku sangat merindukan kamu, Sayang."


"Jaga kesehatan kamu sayang, semoga secepatnya kamu bisa kembali ke Jerman."


"Aku tidak bisa secepatnya ke Jerman, tapi kamu bisa secepatnya menyusulku, saat ini Birma menyiapkan penerbangan untuk kalian."


"Aku ke Negaramu?" Jennifer terlihat syok.


"Negara kamu juga sayang, bukankah kamu juga dari Negara yang sama denganku?"


"Kenapa aku harus ke sana, sayang?" tanya Jennifer.


"Karena aku punya kabar baik untukmu."


"Apa itu?" Jennifer sangat antusias.


"Kakek ku, menyetujui hubungan kita, walau dia tahu kamu memiliki catatan kriminal, dia tidak mempermasalahkan itu. Kamu tau apa pertanyaan dia tentangmu?"


"Apa?"


"Apa aku mencintaimu? Ya aku jawab sangat. Terus Kakek bilang, cepat bawa dia ke sini, dan kenalkan pada Kakek."


"Semudah itu keluargamu menerimaku?"


"Karena rasa cinta itu sudah cukup, sayang."


Jennifer tidak menduga keluarga Angga akan menerimanya begitu mudah.


"Bagaimana kedua orang tuamu?" tanya Jennifer.

__ADS_1


Angga bingung menjawab, setahu dirinya ibunya sangat tidak setuju. Angga mencoba mengalihka pikiran Jennifer. "Di keluarga kami, keputusan Kakek yang kami jalankan. Kakek setuju, maka itulah yang harus kami terima. Jadi ... kamu sudah siap bertemu keluargaku?"


"Atur waktu baiknya saja, aku ikut dengan keputusanmu."


__ADS_2