Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 194 Kehilangan Jejak


__ADS_3

Sejak menginjakan kakinya di negara ini, Nizam sangat sibuk dengan urusan perusahaan Ayahnya. Ini hari ketiga di Jerman, tapi bermacam pertemuan masih mememuhi agendanya. Nizam datang ke negara ini bersama beberapa orang, tapi mereka menumpangi penerbangan yang berbeda. Asisten laki-laki Nizam terus berjalan mengekorinya.


“Al, apalagi jadwalku hari ini?” tanya Nizam.


“Untuk pertemuan selanjutnya di jadwalkan malam hari, Tuan.”


Nizam melirik arlojinya. "Masih lama."


"Iya, lumayan lama. Lebih baik Tuan istirahat, tiga hari ini Tuan selalu rapat dengan staf perusahaan di sini."


"Selagi masih free aku ingin jalan-jalan sebentar," ucap Nizam.


"Anda ingin kemana? Saya akan persiapkan transportasi untuk Anda."


"Tidak perlu Al, aku mau jalan-jalan sendiri."


"Tapi, Tuan ...."


"Kamu meragukanku?"


"Bukan begitu Tuan, saya hanya ingin memastikan kenyamanan Anda saja."


"Aku ingin sendiri, dan kamu lakukan apa saja selama kita belum sibuk dengan pertemuan selanjutnya, bersenang-senanglah,” ucap Nizam.


"Baik, Tuan."


Nizam meninggalkan Gedung pertemuan saat ini dengan menumpangi sebuah taksi. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan Diana. Bahkan dia tidak mampu melacak keberadaan Diana.


"Semoga saja mereka terus mengawasi Diana," gumam Nizam.


Taksi yang di tumpangi Nizam akhirnya berhenti di sebuah bagunan Apartemen. Nizam berjalan cepat menuju Apartemen itu. Saat Nizam memasuki salah satu kamar, dua orang yang ada di dalam terlihat sangat ketakutan.


"Tutt-Tuan?" Keduanya terlihat gemetar.


“Sudah 3 hari ini, mana laporan kalian tentang Diana?” tanya Nizam.


“Maaf Tuan, setelah keluar dari Bandara, kami kehilangan jejak mereka, Gedung Apartemen itu hanya pengalihan, saat kami melacak CCTV parkiran gedung itu, ternyata mereka hanya mampir untuk mengganti mobil.”

__ADS_1


"Apa?!" Nizam terlihat sangat marah. "Terus kalian selama tiga hari ini diam saja?! Aku membayar mahal kalian untuk mengawasi gadis itu!!"


"Maafkan kami Tuan."


"Maaf! Maaf! Usaha kalian mana?!" Nizam sangat gusar.


"Kami sudah berusaha melacak mobil yang mereka tinggalkan di parkiran Apartemen, tapi sayang itu tidak bisa dilacak?"


"Yakin kalian sudah melacaknya?" tanya Nizam.


Salah satu laki-laki itu memperlihatkan layar laptopnya pada Nizam. "Tidak bisa dilacak Tuan, itu hanya mobil sewaan, data diri sang penyewa juga tidak ada."


“Apa?!"


“Maaf Tuan, kami terkecoh. Tapi tenang Tuan, karena kami masih mengikuti dan mengawasi dua teman kuliahnya, saat ini keduanya masih berada di Universitas kedokteran ternama di negara ini.”


“Lalu kenapa kalian masih di sini?" hardik Nizam.


“Kami melakukan shift, Tuan, agar tidak terlalu mencolok, saat ini dua rekan kami yang berada di Universitas itu untuk memantau dua teman laki-laki Diana.”


"Dalam tiga hari ini, mereka ada bertemu?"


Nizam langsung pergi meninggalkan Gedung itu, dia langsung menuju Universitas yang di maksud dua anak buahnya. Nizam menanyakan keberadaan Tony dan Hazhif pada anak buahnya yang mengikuti mereka.


*Mereka tengah berbelanja di salah satu minimarket di dekat Universitas.


***


Di sisi lain.


Tony dan hadhif selesai berbelanja, mereka berdua bersantai di salah satu meja yang berjejer. Keduanya terlihat sangat menikmati cup mie.


“Mana Diana?”


Pertanyaan itu membuat kenikmatan mereka pada mie yang saat ini mereka kunyah jadi berkurang.


"Anda lagi." Tonny sangat malas melihat wajah Nizam.

__ADS_1


Tony menaruh cup mie diatas meja. “Kenapa Anda sangat bernappsu mengikuti Diana?”


“Aku hanya ingin membantunya,” ucap Nizam.


“Anda hanyalah seorang dokter di Rumah Sakit yang berkaitan dengan Universitas, bukan dosen di Universitas bukan juga Mahasiswa, tapi kenapa Anda sangat ingin tahu apa yang dilakukan oleh Mahasiswa seperti kami?” ucap Hadhif.


Nizam bingung harus menjawab apa.


“Nah, benar sekali. Kenapa Anda terlalu mencampuri urusan teman kami?” sela Tony.


"Aku hanya mengkhawatirkan keselamatannya."


"Tapi melihat Anda seperti ini, aku malah merasa Anda suatu ancaman bagi keselatan Diana," ucap Tonny.


“Kalian meragukanku? Oke aku jujur. Aku juga tidak percaya pada kalian. Bagaimana aku bisa mempercayakan Diana pada kalian berdua?” Nizam memandang sinis Tony dan Hadhif. “Diana itu permata yang sangat berharga, aku tidak yakin mempercayakan keselamatannya pada kalian, apalagi kalian terlihat sangat meragukan. Aku curiga, jangan-jangan Diana kalian culik!” ucap Nizam.


“Jaga bicara Anda Pak Pengacara! Diana sampai sekarang baik-baik saja!” ucap Tony ketus.


“Kalau dia baik-baik saja, tunjukan padaku di mana Diana saat ini,” ucap Nizam.


“Anda saja meragukan kami, bagaimana bisa kami mempercayai Anda? Jujur kami juga jadi curiga pada Anda!” ucap Hadhif.


“Sudah, jangan ladeni dia, lebih baik kita kembali ke Universitas, jangan buat otak kita Lelah meladeni orang aneh ini,” usul Tony.


“Kamu benar, lagian mie kita sudah bengkak gara-gara dia, lebih baik kita kembali.” Hadhif langsung meraih kantong belanjanya dan pergi dari sana. Tony juga mengikutinya.


Nizam sangat kesal, kedua teman Diana tidak mau mengatakan di mana Diana. Dia segera mengirim pesan pada Diana.


**


Perjalanan Tony dan Hadhif.


“Entah mengapa aku sangat mencurigai Nizam,” ucap Tony.


“Sama, aku juga. Aku malah berpikir jangan-jangan dia yang membocorkan kode rahasia yang sering Ketua gunakan, apalagi Nizam sangat dekat dengan Ketua,” ucap Hadhif.


“Aku juga berpikir demikian," ucap Tony.

__ADS_1


"Beruntung ketua orang yang jenius, dia bekerja di tempat yang berbeda dengan kita, jadi susah untuk melacak dia,” ucap Hadhif.


"Iya, aku juga sangat mengagumi rencananya, bahkan saat ini ketua berada di mana, kita juga tidak tahu," ucap Tony.


__ADS_2